"Bagi, ayo jalan. Rasa tidak enak seperti ini." Gibran melanjutkan langkahnya. Dia menurunkan istrinya di ranjang di kamar wanita itu. Ini pertama kalinya Gibran masuk ke sini, warna Biru tosca memenuhi dinding, dan warna putih sebagai pelengkapnya. "Kakak, cepat turunin aku. Tubuh ku terasa pegal." Gibran menurunkan Dira dengan hati-hati. Tanpa sengaja tangannya menyentuh perut besar istrinya. Ada desiran halus merasuki relung hatinya, tak ada kata untuk menggambarkan suasana yang terjadi di dalam hatinya. "Bagi, kamu keluar dulu." Suara Arlin menyadarkannya, dia masih diam. Kaki-nya seolah terpaku kuat, hatinya menyuruhnya diam di sana. Arlin berjalan menghampiri Dira, wanita itu meletakan tas kerjanya di meja kecil di samping tempat tidur. Arlin membuka tas kerja itu, ta

