Gibran masih berdiri mematung di ruang tengah, dadanya masing terilihat kembang kempis. Dia membalikan tubuhnya, udara segar. Dia butuh udara segar di dalam rumahnya dia merasa sesak, hatinya merasa panas dan perih tanpa luka nyata maupun darah. "Bagi! Titi Kangen!" Suara wanita menyambutnya saat membuka pintu rumahnya. Udara segar, good bye. "Kamu tambah ganteng aja Bagi." Wanita itu mencubit pipi Gibran, membuat Gibran merasakan sakit di kedua pipinya. "Sa-kit tante... " Raut muka Arlin berubah menjadi cemberut. Spontan tangannya menjatuhkan pukulan di kepala Gibran. "Jangan panggil Aku tante, panggil Titi, singkatan dari aunty. Bagi!" Gibran menggumam pelan. "Titi itu jembatan tante, dan jangan panggil Aku Bagi! Tante seenaknya menyingkat nama orang." Arlin terkekeh. "K

