Sudah hampir pukul tujuh, Tifa masih sibuk dengan baju seragam warna hijau tua miliknya yang sedang ia setrika. Ia lupa, kemarin baru pulang kegiatan lomba di kecamatan. Ia pulang sore, sedangkan tumpukan baju kering belum sempat ia setrika.
"Ma, Adik mana?" tanya Tifa yang sudah siap dengan baju dinas hijaunya, sedang menikmati lontong sayur buatan mamanya. Setiap senin, sang adik akan mengantar Tifa ke sekolah dengan sepeda motor. Hanya di hari Senin, karena setiap Senin adik lelakinya itu bebas dari jadwal kuliah. Agar tidak menganggur saja, alasannya. Selain Senin, Tifa akan berangkat sendiri dengan sepeda motor matic miliknya ke sekolah. Ah iya, Tifa adalah guru Sekolah Dasar. Ia menjadi wali kelas empat, sampai akhir tahun pelajaran ini berakhir.
"Masih mandi kayaknya. Kamu lihat di kamar, Tif!" saran Rere setengah berteriak dari dapur. Tita melirik jam di pergelangan tangan kirinya, menunjukkan pukul tujuh kurang sepuluh menit. Tifa berdecak kesal, selalu saja adiknya itu membuat jam kedatangannya tidak bisa tepat waktu. Diusapnya perlahan sebuah gelang anyaman dengan besi di tengah yang bertuliskan namanya dan nama seseorang yang entah siapa. Gelang itu selalu terpasang di pergelangan tangannya. Entah kenapa rasanya sangat aneh kalau terlepas.
Namanya dan nama seseorang yang Tifa merasa tak pernah mengenalnya. Nama itu terdengar asing sebagai salah satu teman sekolah maupun tetangga dekatnya. Namun, nama itu terasa selalu dekat di hati.
♡♡♡
"Sayang, aku udah di depan nih. Kamu udah selesai?"
Tifa segera memberesi buku-bukunya. Memasukkan tempat pensil dan dompet berbandul besi—dengan ukiran namanya dan lagi-lagi ada nama asing itu—usangnya ke dalam tas. Malik sudah datang. Hari senin pagi ia diantar Mahar, dan pulangnya sudah pasti Malik akan menjemputnya. Dengan gerakan cepat ia meraih tas, berdiri dari tempat duduknya dan berpamitan pada teman-teman sesama pengajar lain sebelum ia meletakkan jarinya sebagai absen kepulangan.
"Makan dulu apa langsung pulang?" tanya Malik seraya membawakan tas Tifa. Diusapnya rambut Tifa yang sedikit berantakan begitu masuk ke dalam mobil.
"Makan dulu deh. Aku laper, hari ini jamku full!" keluh Tifa. Hari senin memang ia kebagian delapan jam mengajar.
"Oke, Sayang. Senyum dulu dong ... biar cantik. Dapet pahala loh, nyenengin aku." Tifa terkekeh dan menepuk lengan Malik yang mencubit pipinya gemas. Mau tak mau ucapan Malik membuatnya tersenyum.
♡♡♡
Rumah kontrakan sudah Iko bayar dua hari lalu. Jadi, uang untuk kebutuhan awal bulan sudah bisa ia gunakan.
Iko menyisir rambut pendeknya yang terlihat basah. Semalam ia mimpi kehujanan, dan berakhir dengan hujan betulan yang menetesi rambutnya. Yah ... atapnya ada yang bocor ternyata.
Sebulan yang lalu, ia masih tidur nyaman di kamarnya. Setiap pagi akan ada sarapan lengkap disediakan pembantu rumah tangga yang datang setiap pagi dan akan pulang saat malam. Semua sudah siap. Itu sebulan yang lalu. Sekarang ... ia tinggal sendiri di rumah kontrakan dekat sekolah tempatnya mengajar.
Dua tahun lalu ia sudah lulus dengan gelas Sarjana Pendidikan. Kemudian ia menjadi guru mata pelajaran Bahasa Indonesia serta merangkap menjadi Pembina Pramuka di salah satu SMA swasta. Itulah impian Iko sejak dulu. Menjadi guru seperti Dinda, ibunya. Terlebih dengan hobi yang ia tekuni dalam bidang kepanduan, menjadikannya seorang pembina yang berkali-kali mengantarkan sekolah SMA tersebut menjadi juara dalam ajang kegiatan jambore.
Alasan ia menetap di rumah kontrakan, sendirian pula, hanya karena lokasi sekolah lebih dekat dibanding dari rumah. Lagipula, rumahnya sudah ramai dengan keponakan kembarnya yang mulai sekolah. Ah, andai Iko tak melajang. Andai ia tak kehilangan kontak seseorang yang begitu penting. Mungkin rumah kontrakan tersebut sedikit berwarna.
♡♡♡
"Pak Iko ada jam?" tanya Shella pada Iko yang sedang mengoreksi pekerjaan murid kelas X. Kepala Iko menoleh dan mendapati Shella, teman sejak SMA-nya hingga perguruan tinggi itu sedang berjalan mendekat ke mejanya. Iko sadar bahqa Shella menaruh hati padanya. Bukan maksud tak bersyukur mendapati seorang perempuan ikhlas menyerahkan hati padanya, namun hati Iko sendiri sudah ia serahkan pada orang lain. Haruskah urusan hati begitu lancang dipaksakan?
"Nanti, jam terakhir. Ada apa ya, Bu?" tanya Iko balik. Iko mengenal Shella dengan baik. Namun, panggilan Bu dan Pak di sekolah mereka, tetap berlaku sebagai wujud profesionalisme. Setidaknya hal itu berlaku jika keduanya berada di lingkungan sekolah. Jika sudah di luar, terserah saja.
"Mau ajak makan di kantin. Mumpung saya juga lagi kosong. Cuma empat jam saja hari ini. Bagaimana, Pak?" Guru mata pelajaran Biologi tersebut berharap tinggi.
"Maaf, Bu. Saya bawa bekal sendiri. Barusan saya makan juga, masih kenyang." Raut kecewa terpancar di wajah cantik Shella. Iko mengulas senyum diiringi penolakan. Shella pamit kembali ke mejanya yang ada di ruangan sebelah. Ruang guru memang dibuat dua bagian. Karena kantor dan ruang guru masih bangunan lama dan kurang luas, akhirnya sebagian guru ada yang ditempatkan di ruangan sebelah yang dulunya digunakan sebagai ruang kelas. Menunggu semester depan untuk merenovasi agar tidak mengganggu jalannya KBM.
Iko tidak bohong soal bekal. Ia memang membawa bekal sendiri. Hasil masakannya sendiri, meski rasa jauh dari chef restoran. Penting bisa diterima dengan baik di lidah dan perutnya. Begitu Shella yang balik badan dengan raut muram dan kecewa, Iko melirik kantong plastik warna hitam bergambar logo sebuah toko kain. Ada bekal yang ia siapkan sejak subuh. Tatapan Iko masih terpaku pada warna hitam bungkus kotak bekalnya. Seolah ia mengenang sesuatu akan warna gelap tersebut. Bukan, itu bukan kenangan yang suram. Melainkan kenangan manis. Permulaan dari kisah manisnya bersama seseorang yang entah di mana.
____________Next__________