Bag. 10 : Mistake

1528 Words
"Terus kenapa? Lo nyesel udah ngandung anak gue?! Nyesel?" Kini giliran Arion yang menaikkan nada suaranya. April tertegun. Entah kenapa tenggorokannya terasa kering, lidahnya berubah kelu. Jujur saja, mengandung seorang janin itu artinya berkomitmen. Berkomitmen untuk melahirkannya, menerima resiko apa di kemudian hari, merawat dan mendidiknya supaya menjadi anak baik-baik. Tapi, di umur 17 tahun, siapa yang mampu? Umur 17 tahun adalah umur fantasy setiap orang. Yang harusnya di isi dengan masa muda yang nggak mungkin terlulang kesekian kalinya. Dan sekarang, April bahkan tidak bisa membayangkan masa depannya. Bagaimana ia di usia 17 harus menjadi seorang orang tua yang baik? "Nggak gitu..." April mencicit. Suaranya berubah kecil. Wajahnya tertunduk dalam-dalam. Siapa yang harus gue salahin? Gue atau elo? Gue yang nggak bisa jaga diri baik-baik, atau elo yang justru ngerusak apa yang selama ini gue jaga? Terdengar, Arion menghela nafas keras. Lalu mengusap wajahnya dan berdiri memunggungi April. "Gue minta maaf kalau gue udah ngerusak diri lo." Dirasakannya, sebuah tangan melingkar di pinggang Arion. Punggungnya terasa hangat karena April bersandar di punggungnya, memeluknya dari belakang. "Gue yang minta maaf." "Gue cuma takut kehilangan lo. Karena selama ini yang gue harapin, lo tetep di samping gue, nggak kemana-mana sampe baby kita lahir. Lo sendiri yang bilang kalau kita bakal hadapin ini sama-sama, Gue cuma takut, lo pergi,.. lalu ingkar janji." Arion membeku. Perutnya sedikit sesak karena tangan April yang melingkar begitu kuat. "Itu cuma ketakutan lo. Ketakutan yang nggak akan pernah terjadi." Perlahan, April merasakan tangan Arion yang melepas lingkaran tangangnya pelan-pelan. Seolah menolak di peluk lebih lama. "Gue anterin lo pulang." April mengangguk, meskipun sedikit peka dengan gesture Arion yang sedikit berbeda. *** "Oke, Bye." April melepas seatbelt, lalu menatap Arion nanar. "Sorry." "Nggak usah bilang, maaf." Arion membalas dengan senyum tipis. April mengurungkan niatnya untuk buru-buru keluar dari mobil.  Gadis itu mencondongkan tubuhnya ke arah Arion untuk berniat mencium pipinya. Namun, telak. Arion menjauh, lebih tepatnya menghindar. Dan membuat April menarik diri perlahan-lahan. "Kamu kenapa, sih?" "Udahlah, Prill. Aku males berantem sama kamu." "Kamu kenapa?!" "Nggak papa." "Kamu kenapa?! Jawab jujur! Kamu marah?" "..." Arion tak bergeming, tangannya mengepal kuat pada setir, dan pandangannya tertuju ke jalanan. "Arion.." "..." "Arion! Lo b***k, ya!" "Apaan, sih?" "Lo marah sama  gue?" "... enggak." "Bohong." Arion memutar mata jengah. "Udahlah, gue nggak mau berantem. Ini udah malem. Mendingan lo pulang—" "Jangan ngalihin pembicaraan!! Kalau gue bilang jawab, ya jawab!!" April setengah berteriak membuat Arion langsung memukul setir kemudi keras. "Gue tersinggung sama kata-kata lo! Puas?!" "Tapi—" "Lo pikir lo ngomong sama siapa? Lo sama aja ngerendahin harga diri gue! Semua itu kecelakaan! Lo seolah nganggep gue cowok b******n! Cowok b*****t yang udah ngehamilin cewek terus kabur gitu, aja!" Mata April terasa memanas. Dadanya seakan di pukul palu godam berkali-kali, meninggalkan luka dan rasa bersalah. "Gue—minta maaf..." "Buktinya? Apa gue kabur? Apa gue main cewek lain? Apa gue ninggalin lo dan nggak tanggung jawab kaya cowok b******n yang lo omongin itu?!" d**a Arion yang naik turun, juga matanya yang menyala membuat April gemetar hebat. "Lo tau darimana gue suka ngajak tidur cewek?! Hah?!" "Arion Stop!" April menutup telingannya. Matanya terpejam dalam-dalam dan terus meneteskam air mata yang sejak tadi ia tahan. Rasanya butiran kristal itu terlalu berat untuk di tunda. Hingga mereka menetes dan mengalir begitu saja di pipi April. Terlalu sesak untuk menahan tangis. "Aku minta maaf.. Aku—aku tadi marah sama kamu. Please." Arion memalingkan wajahnya dari April. "Lo perempuan, Prill. Jaga omongan lo. Lo hampir bikin gue malu di depan Mara. Seolah-olah lo bilang ke Mara kalau gue cowok b*****t!" Tamara. Tamara. Tamara. Kenapa dengan Tamara? Apa Arion ingin terlihat memiliki image baik di depan gadis itu? Sesaat, tanpa menjawab, April langsung keluar dari mobil dengan air mata berlinang, bahunya naik turun menangis sesegukan. Dalam hitungan detik, mobil Arion langsung meluncur. Dan April bisa merasakan bahwa Arion marah dengan mengendarai mobilnya ugal-ugalan. *** "Kenapa? Berantem sama Arion?" Ghita langsung menerka-nerka, begitu April masuk dan langsung meniti tangga ke kamar atas. Kemudian suara pintu di banting langsung menggema ke penjuru ruangan. Namun Ghita tidak ingin terlalu menanggapinya, dan kembali melenggang ke dapur. Tadinya, ia akan merebus Mie Instan untuk makan malam mereka berdua. Kebiasaan sederhana mereka sejak tinggal bersama. *** April langsung melemparkan tubuh ke pulau kapuk. Tangannya memeluk guling erat-erat dan wajahnya di sembunyikan. April paling benci menangis, apalagi menangisi seorang laki-laki. Namun, ini bukan perilah itu. Yang ia tangisi adalah rasa bersalah yang sejak tadi memukul hatinya. April menyesal. Menyesal telah membuat Arion tersinggung, marah dan pada ujungnya hubungan mereka merenggang. Dan akhirnya, ketakutan itu bisa saja terjadi. Setelah beberapa menit berusaha menghapus air mata dan menenangkan diri sekuat tenaga. April melepaskan Dress yang ia pakai. Menyisakan kaus putih polos yang membuat bahu putihnya terekspos. Juga celana pendek di atas lutut. Ia berjalan ke arah lemari, mengambil setelan celana pendek selutut dan kaus biru muda. Sebelum memakai kausnya, entah mengapa April mengurungkan niatnya. Ia beralih menghampiri cermin. Menatap refleksi tubuhnya yang berbeda. "Ih.. kok gue gendutan, ya?" April memutar-mutar tubuhnya di depaj cermin. Lalu tangannya merayap ke daerah perut, menaikkan kaus putihnya. Perutnya mulai sedikit membesar.  Meskipun masih belum kentara, namun tetap saja, April tidak bisa menyembunyikannya. Dari Ghita, Dari Papa dan dari semua orang. Perutnya lama kelamaan akan membesar dan akhirnya mengungkap semuanya. Endingnya, April putus sekolah dan menjadi seorang Ibu Muda. Yah, bahkan April sudah bisa menebakknya sekarang. Suara pintu terbuka langsung mengejutkan April. Ia buru-buru memakai kaus yang sejak tadi hanya di pegangnya. Ghita membawa dua mangkuk Mie Instan yang cukup menggoda. "Ngapain, tadi?" "Hah? Enggak, kok. Cuma iseng ngaca doang." April terkekeh garing. "Ngelus-ngelus perut kaya emak-emak. Kenapa, lo? Masuk angin?" "Itu." Ghita melirik ke bawah. "Itu apa?" "Ih! Anjrit! Itu mangkoknya panas di tangan gue! Ambil cepetaaan!!" April buru-buru mengambil mangkuk Mie yang asapnya mengepul. Ghita terus saja mengumpat dan berakhir ketika mereka memulai kegiatan makan sambil menonton TV. "Ngomong-ngomong, tadi kenapa nangis?" Tanya Ghita. Ya, Ghita selalu begini. Meskipun kadar kepo nya kelewat batas, Ghita tau dimana ia harus bertanya. Tepatnya, dimana saat April sudah mulai tenang. "Biasa. Berantem sama Arion." "Tumben berantem, biasanya jarang." April tersenyum, lalu mengangkat garpu Mie di depan mulut. "Kalau nggak pernah berantem nggak akan awet. Karena berantem itu proses penyesuaian diri, biar tau sifat masing-masing. Kadang, ada yang putus asa waktu ngelewatin masa ini. Kebanyakan dari mereka langsung putus pas masa berantem ini. Padahal tanpa berantem, lo nggak bakalan pernah tau sifat pasangan lo." "Ceramah ae." "Ih! Ngasih tau juga! Gue, kan sama Arion bisa jadi pengalaman. Siapa tau lo sama Mario berantem mulu bisa jadian." "Najong. Udah makan, ah!" *** Hampir jam tujuh kurang sepuluh menit. April terus menunggu Arion dengan duduk di teras rumah. Biasanya, setengah tujuh pun mobil Arion sudah memasuki pekarangan rumahnya, menyapanya dengan hangat. Atau lebih manisnya, cowok itu akan mengecup pipinya dan membukakan pintu mobil untuk April. Arion masih marah? Iya, kah? April memgecek ponselnya lagi. Tidak ada balasan. Untuk kesekian kalinya, April mengirimi Arion pesan. April : Arion, sekolah ngga? Namun, hanya dalam beberapa menit langsung ada balasan. Sedangkan sms yang ia kirimkan dari tadi sama sekali tak di jawab. Arion : Sklh. April : Ohh, oke. Arion : Ya. April : Kamu dimana? Mau jemput ngga? Arion : Gk. Gw udh di sklh. April : kok ngga ngasih tau, sih? Aku nunggu dari tadi! Betee!! Arion : Oh. Setelah balasan terakhir. April langsung mematikan ponselnya. Hampir setengah jam menunggu ternyata hanya buang-buang waktu. April langsung dongkol seketika. Namun, sebuah mobil hitam mulai memasuki pekarangan rumahnya. Yang ia kira itu adalah Arion, nyantanya bukan. "Prill? Belom berangkat? Arion nggak sekolah?" Mario dengan tampang polosnya keluar dari mobil. "Tau. Jangan nanya!" Mario hanya mengerutkan dahinya. "Ghitaaaaaaaaaa!! Cabut, yuk!" "Ih apasi? Kaya nyamperin anak kecil aja! Ghita masih di dalem! Timbang masuk doang, ngga perlu teriak-teriak." "Susuwe." "Hah?" "Suka-suka gue." "Serah lu!" April mengerucutkan bibirnya. Sampai Ghita keluar dari dalam dan menepuk pundaknya dari belakang. "Loh? Kok masih disini? Lo belum berangkat? Arion mana?" "Keliatannya?" "Serius, Arion nggak jemput?" Mario menimpali. "Punya cowok, rasa jomblo, ya? Gaada yang jemput!" "t*i. Udah gue nebeng kalian, ya?" "Sip!" *** April membereskan bukunya ketika Bell istirahat berseru. Ghita dan Mario langsung meninggalkan kelas berdua. "Ntar nyusul, ya?" Ghita mengekor di belakang Mario yang langsung keluar menuju pintu. "Sip!" April memasukkan pulpen dan beberapa alat tulis lainnya ke kotak pensil. Ia menghela nafas, lalu bangkit dan berjalan lesu meninggalkan kelas. Banyak anak cowok yang sekedar menyapanya juga adik kelas yang emang hobby banget cari perhatian. Namun, April tidak terlalu menanggapi mereka, hanya tersenyum saja. Ketika sampai di depan kelas XII IPS 2. Tepat sekali Arion sedang berjalan hendak keluar. Namun April mencegatnya di pintu. "Kantin, yuk!" Arion berhenti sejenak. Lalu terdiam, dan menggeleng. Selang beberapa detik, Arion langsung melenggang begitu saja. April terhenyak. Sikapnya begitu dingin seperti es. Hatinya mungkin beku? Rasa kesal itu muncul begitu saja, dengan langkah menghentak April mengejar Arion yang hampir belok ke koridor lain. Begitu jarak tinggal beberapa langkah, April menarik lengan cowok itu. "Arion!" Arion berhenti, memutar bandannya, lalu mencoba melepaskan tangan April pelan. "Segitu marahnya lo sama gue, cuma gara-gara kalimat gue kemarin?" Arion berdecih. "Menurut lo?" "O-oke, gue ngaku salah. Gue minta maaf." Arion tersenyum tipis. "Sip." "Arion!! Lo ini kenapa, sih? Gue minta maaf." "Ya udah." April merengut. Lalu menundukkan kepala. "Lo masih mau tanggung jawab, kan?" Untuk beberapa saat, Arion diam. Gesture-nya seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu yang sulit. Lalu beberapa detik kemudian, Arion mengangkat bahu. "Nggak tau." Deg. "Arion lo b******k!" April memukul d**a Arion bertubi-tubi. "Nah! Gue emang b******k! Lo tau sendiri gue b******k, kan? Dimata lo gue emang b******k, kan?!" "Arion!!!" "Apa?!" "Gue bakal bilang ke semua orang! Kalau lo—" "Tutup mulut lo!!" Arion langsung menunjuk April dengan jari telunjuk. Tepat di depan matanya, membuat April sedikit menarik wajahnya. "Disini. Nggak cuma gue yang salah! Lo juga salah! Kejadian ini nggak bakal pernah terjadi kalau lo nggak murahan. Pada dasarnya lo emang cewek murahan, kan?!" Plak. Setelah itu hening. Tamparan yang cukup keras mendarat di pipi Arion. Membuat Arion, mengeram, mengepalkan tangannya seperti tinju yang siap mendarat di wajah siapapun yang berhasil membuat Arion marah. Sayangnya, Arion tak bisa memukul perempuan. "Selama ini apa?! Lo selalu nyalahin gue! Seolah-olah disini gue yang paling salah. Seolah-olah gue adalah—" Plakk. Yang ini sangatlah keras. Sampai-sampai Arion hampir tak kuat menahan perih di pipinya. "Cowok b******k!!" April memaki sekali lagi. Matanya sudah terlanjur berkaca-kaca, kemudian, air mata itu akhirnya tumpah. "Yah, lo adalah cowok b******k!" Arion tersenyum kecut. "Nah, lo tau." Untuk selanjutnya, Arion meninggalkan April disana. Di persimpangan koridor sekolah. Hampir semua mata yang menyaksikan adegan pertengkaran dua the most wanted guy tadi. Namun, setelah Arion pergi, semuanya langsung membubarkan diri. Pura-pura sibuk pada kegiatan masing-masing. April mati-matian menahan air matanya agar tidak keluar. Namun gagal. Pada akhirnya, ia menangis sesegukan, hingga bahunya naik turun. Kedua tangannya di telungkupkan untuk menutup wajah. *** . (TBC)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD