Bag. 4 : Sebuah Fakta

969 Words
Antara yakin dan tidak yakin. Namun, semakin lama, semakin aneh. Entah kenapa, setiap malam ia selalu gelisah. Memikirkan sesuatu yang seharusnya tidak di pikirkan. Menginginkan sesuatu yang aneh, unik dan sulit di cari. Nafsu makannya yang kadang naik turun. Dan yang paling membuatnya takut adalah. Masa Menstruasi yang sedikit merosot dari tanggal biasanya. Sudah empat minggu. April membiarkan semuanya terjadi. Seakan tidak pernah ada apa-apa. Padahal dalam lubuk hatinya ia sedang kebingungan sekarang. Semangkuk bakso sudah tersaji di atas meja. Sekarang mulai masuk jam istirahat kedua. Arion merangkul pundak April. Sesekali mencium rambut April yang beraroma stroberi. Meskipun risih, namun April tak menolak. Beberapa adik kelas yang melintas juga banyak melempari mereka dengan tatapan bermacam-macam. Cemburu, Shock dan Aneh. "Kita kayanya dijadiin nyamuk, deh, Yo!" Ghita menyenggol lengan Mario yang sedang menyuapkan Pudding Cokelat penuh krim s**u ke mulutnya. "Nah! b**o, kan!" Umpat Mario, jengah. "Apaan, sih?" Ghita mulai sensi. "Elo! Ini gua lagi makan juga! Liat, nih! Kena idung kan krim susunya! t*i lo, Ghit!" "YA MAAP ELAAH! LO NGAJAK RIBUT?!" "YUK! RIBUT!" "RIBUT DIMANA?! GUE TUNGGU DI LAPANGAN, MAU?" "RIBUT DI KASUR!" Yang terakhir itu, separuh bercanda. Mario langsung menyeringai lebar, kemudian mengambil Tissue untuk membersihkan hidungnya yang terkena krim s**u. Sedangkan pipi Ghita mulai memanas mendengar kalimat terakhir Mario tadi. Jijik. Ilfeel gimanaa.. gitu. "Giliran udah ngomongin itu aja, Diem lo! Banyak bacot sih lo jadi cewek!" "Ihh! RIO!! Diem, kek lo! Nggak usah di bahas lagi!" Ghita mengambil mangkuk sambal, dan dengan tampang gereget, ia menuangkan sesendok sambal tadi ke Pudding milik Mario yang baru termakan setengah. Bisa dibayangkan. Pudding Cokelat Ekstra Sambal? "Makan Tuh!!" "Nahh! b***t KAN ELO?! LO b**o ATAU AUTIS, SIH, NYETT?! AWAS LO!" "Heii! Ini selera makan gue ilang, nih gara-gara ini anak dua!" Arion mengetuk mangkuk baksonya dengan sendok, menimbulkan suara nyaring. Untuk sesaat hening seketika. April yang sudah sering melihat mereka bertengkar seperti kucing dan tikus juga sudah terbiasa. Entahlah, mereka ini Couple jenis apa. Kadang bertengkar, namun kadang bisa bersikap manis. "Dia tuh! i***t!" Sungut Mario. "Nyadar umur nggak, sih? Udah pada bangkotan juga! Kek gitu masih di permasalahin. Kaya anak kecil." Rupanya Arion mulai sok Dewasa. "Lah! Dia, nih yang kaya anak kecil. Makan aja di ecek-ecek." "Helloww! Yang ngecek-ngecek Pudding gue siapa, yaaa?" Ghita bergidik jijik. "Jibang lo! Banci!" Setelah itu, Ghita langsung bangkit dari kursi. April yang sejak tadi memperhatikan Ghita langsung bertanya, "Mau kemana, Ghit?!" "Mau ke Toilet! Eneg gue liat muka dia!" "Gue ikut!" Mario juga ikut bangkit dari tempat duduknya. "Lo mau ikut gue ke Toilet Cewek? DIHHH! RIOOOO!! RUPANYAAA..." Ghita memasang tampang sok kagetnya. "Toilet cowok, lah Gilaa!!" "Udah sana, sana!" Usir Arion. ~ Dan disinilah mereka berdua sekarang. Di Meja kantin paling pojok. Duduk berdua dengan Arion yang sibuk memakan semangkuk bakso. Sedangkan diseberangnya, masih ada Pudding Cokelat dengan sambal bakso yang tidak ada pemiliknya. "Kamu ngga makan?" Arion menolehkan kepalanya sejenak sebelum menyudahi kegiatan makannya. April tersenyum, lalu menggeleng. "Enggak. By the way..." April menahan kalimatnya, ragu. "Kenapa?" "Kamu... udah berhenti ngerokok, kan?" Arion mengulas senyum. Lalu mengelus punggung April. "Iyaa, jangan khawatir." April mengangguk mengerti, meskipun ada rasa tidak yakin sedikit. "Aku.. cuma nggak mau kamu kebawa-bawa sama temen kamu itu. Inget, loh! Kamu itu jadi panutan disini. Janji sama aku? Nggak pernah coba-coba sama hal kaya gitu, ya? Apalagi obat-obatan!" Arion terkekeh, lalu mencubit hidung April. "Enggak... Kalem aja..." "Ya udah, aku mau ke belakang dulu." "Kemana?" "Anywhere." ~ Begitu sampai di Toilet Perempuan. Tangannya mulai bergetar lagi. Sesekali, April menelan ludahnya. Antara yakin dan tidak yakin. "Prill?" April langsung berjengit. Ghita ada disana, sedang berdiri di depan cermin wastafel, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. "Heii, Ghit!" Sapanya singkat, lalu memasuki Toilet. April memejamkan matanya. Harap-harap cemas. Setelah dirasa cukup waktu, April mengangkat benda panjang dan tipis di tangannya. Jantungnya berdegup kencang. Saling berpacu dengan nafas yang memburu. Matanya langsung memanas ketika melihat garis-garis yang tertera di testpack. Air matanya langsung menetes tanpa bisa ditahan. Bayang-bayang akan masa depannya, Bayang-bayang wajah Mama, Papa dan Ghita juga orang-orang yang ia sayangi langsung berputar di otaknya. Bagaimana jika mereka tau? Bagaimana jika mereka kecewa? Bagaimana jika mereka nanti akan membencinya? April menutup mulutnya agar tidak terlalu kentara, kalau Ia sedang menangis. Namun nyatanya, isakan itu tetap ada, walaupun terdengar kecil. "Prill? Lo... nggak papa?" Terdengar suara Ghita di depan pintu toilet. Ada jeda sebentar sebelum April menjawab. "N-nggak, Nggak pa-pa." "Lo nangis?" April menghapus air matanya, "Enggak, kok! Gue nggak papa!" Walaupun ragu, Ghita mengangguk. "O-oke, gue.. duluan, ya?" Tak ada jawaban, tapi Ghita langsung menyingkir dari sana. Terkadang setiap orang selalu punya rahasia yang hanya boleh Tuhan dan dirinya sendiri yang tau. ~ "Prill? Lo mau kemana?" Ghita terlihat panik melihat April dengan mata sembab langsung memasuki kelas dan membereskan bukunya. "Prill, are you okay?" Tidak ada jawaban dan April terus membereskan buku juga tasnya. "Ghit, bilangin ke Guru Piket, gue izin pulang, nggak enak badan!" Setelah kalimat itu, April pergi, meninggalkan kelas dan membiarkan sejuta tanda tanya muncul di otak Ghita. "Tapi, lo kenapa?" "Gue baik-baik aja. Oke?" Dia sedang tidak baik-baik saja. Ghita tau. Seberapa jauh mereka saling mengenal? Tentu saja, April sedang menyimpan sebuah masalah besar. Mario yang hampir bertabrakan dengan April di ambang pintu kelas sambil membawa Pudding cokelat baru, memandang Ghita penuh tanya. "April mau kemana?" Tanpa menjawab pertanyaan Mario, Ghita dengan cekatan membereskan bukunya. "Yo! Bilangin ke Guru Piket, Gue sama April izin mau ada acara keluarga mendadak! Please." Mario tertawa remeh, meletakkan Pudding Cokelat yang baru di belinya di atas meja. "Setelah lo nyambelin Pudding gue? Sorry! Nggak! Itu mah cuma alesan lo aja mau ikut-ikutan bolos." "Please, deh Mario! Gue nggak punya waktu untuk berantem sama lo. April lagi ada masalah. Kalau dia kenapa-napa gimana? Lo nggak bisa liat situasi apa?" "Serah lu." ~ Dengan langkah terburu-buru Ghita langsung naik ke lantai atas. Dan benar saja, Suara lagu di putar keras-keras langsung menggema. Ketika Ghita memutar knop pintu. Hasilnya.. Hebat! Terkunci. "Prill?! Lo kenapa, sih? Buka pintunya!" Ghita menggedor pintu keras-keras. Yakin, deh. Suara pintunya kalah dengan suara lagu Galau yang saat ini sedang April putar kencang. "Prill! Lo kenapa, sih? Lo aneh tau nggak?" "Prill.. buka pintunya. Lo bisa cerita sama gue.." Setelah beberapa kali membujuk. Lama-lama, Ghita menyerah juga. Gadis itu bersandar pada Pintu. Suaranya mulai serak karena beberapa kali berteriak. Rasanya sedih, aja. Biasanya April nggak begini. Selalu bercerita tentang apapun. Tidak pernah menangis. "Seberapa lama, sih gue kenal sama lo? Gue tau lo Prill. Lo sahabat gue. Kalau lo kaya gini, lo sama aja nggak nganggap gue." Perlahan. Suara musik itu mereda, tergantikan dengan suara isak tangis yang cukup keras. Tanpa Ghita ketahui, Pintu mulai terbuka, membuat tubuhnya terhuyung kebelakang karena tidak tau Pintu sudah terbuka. Ghita bangkit. Melihat April begitu kacau. "Prill." Tangannya menyentuh pundak April. Namun, dengan cepat tangan April menepisnya. "Jangan sentuh gue!" ~ (TBC)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD