aku bergegas mengambil busway terakhir yang melewati jalan sudirman, sengaja menggunakan angkutan umum karena aku ingin menikmati udara malam itu, selain ada sesak aku juga sedikit berdebar. gaga pulang dan aku ingin tahu, dia membawa cerita sebanyak apa, yang akan gaga bagikan kepadaku. aku rindu menikmati malam panjang bersamanya, meski diantara kami hanya sebatas ini saja namun aku merasa ini lebih dari cukup. meski sesekali cerita dari gaga ada yang mengenai wanita lain, yang menyukai dia atau yang dia sukai, meski aku sudah mencoba mendengarkan segala ceritanya, entah mengapa dia selalu tahu bahwa aku tidak ingin mendengarnya. maka dari itu dia tidak akan meneruskan cerita tersebut. dia sangat memahami setiap gerak gerik diriku, entahlah mungkin karena terlalu sering bersama, makanya garis itu saling bersinggungan.
aku menatapi jalan raya yang ramai sekali, banyak muda mudi berkencan, haha malam minggu adalah malam yang panjang untuk orang-orang yang sedang mabuk kepayang. aku tersenyum getir. momen-momen saat aku mengingat gaga mengembang dalam imajinasi satu persatu berkaitan membuat simpul di bibir semakin lebar.
"apa yang harus ku ceritakan pada gaga?" aku bertanya pada diriku
"apa kalimat pertama yang terucap dari bibir gaga saat melihatku" kataku lagi
sialan jantungku berdebar tak karuan.
"tunggu bukan kah kamu mencintai panji, bukan kah tubuhmu hanya menginginkan panji lantas mengapa kamu juga berdebar saat mengingat gaga"
aku kembali bertanya pada diriku, semerawut tentang gaga dan tentang panji. ah sial aku hanya ingin menikmati semuanya tanpa diketahui satu sama lainnya.
pemberhentian terakhir sebentar lagi, aku sudah bersiap untuk turun dan bahkan ojek langganan ku pun sudah berada di sana.
"mang turun di rumah mamah gaga ya" kataku
"iya mba, mau nginep di rumah mas gaga?" tanyanya
"ngga tau mang, katanya mas gaga pulang jam 11 nyampe rumah" kataku
"mba alma seneng dong ketemu pujaan hati" katanya
pakde oji ini salah satu orang yang sering sekali aku obrolin prihal gaga, dari SD saat antar jemput, yang ku bahas hanya gaga. pakde oji pikir itu hanya cinta monyet jaman SD, tapi ternyata sampai kuliah hanya gaga yang aku ceritakan kepadanya. tentang gaga yang dapet beasiswa di kampus, tentang gaga yang ipk nya lebih besar dari aku, tentang gaga yang bentar lagi pulang saat liburan semester. wah pakde oji hafal sekali semua cerita-ceritaku.
"pakde oji tau ngga, dia bilang aku cantik?" kataku
"emang mba alma cantik kan!" katanya
"iyah maksudnya kalau dibilang cantik sama orang yang kita suka itu beda loh" kataku
"iyah mba alma, mas gaga juga cakep banget malah, btw emang mas gaga ga suka sama mba alma? " tanyanya logat jawanya kental sekali alhasil lucu saat dia mengucapkan bay the way.
" kayanya ngga deh pakde. kenapa ngga pakde oji tanya ajaaa, kan kadang pakde oji suka bantuin beresin kebun di rumah gaga" kataku
"kan mba alma ga bolehin pakde cerita ke siapa-siapa"
aku tersenyum.
"pakde, a panji nikah pakde tau?"
"tau mba, emang kenapa kan udah lama pacarannya jadi wajar"
"menurut pakde oji, a panji tuh kelihatanya suka ga sama aku?"
"ini ceritanya, cinta segitiga mba?"
"ngga aku tanya aja!"
"waktu SD mba ga inget? dulu pas mba selalu belain mas gaga, a panji suka isengin mba alma sampe mba alma marah"
aku terdiam dan mencoba menggali memori memori yang sudah kusam dalam imajinasi.
"masa?"
"ah dasar, yaudah udah sampe nanti lagi ngobrol nya"
"pakde seperti biasa jangan bilang-bilang" aku meneriaki pakde oji, sambil berlari masuk ke gerbang rumah gaga. ibu gaga sedang duduk di teras rumah, sambil ditemani air teh yang tersuguh cantik di meja kecil bulat berdiameter 75cm. aku bergegas menghampiri nya, mencium tangannya dan segera duduk di bangku sampingnya.
"mba mau teh ngga, sana bikin, temenin ibu sambil nunggu mas gaga pulang" tawarnya
aku hanya menggeleng lalu kembali menatap kosong gerbang rumah gaga.
"mba ibu kangen banget loh sama mas gaga, masa dia ga pernah chat ibu malah ga pernah bales chat ibu" katanya membuka obrolan
"sabar bu, kaya nya mas gaga lagi banyak tugas bu, jadi ngga sempet bales WA ibu" kataku
"dia cuma ngabarin ibu katanya, mas udah mau terbang tunggu ya, mas pulang" gitu doang
"ibu pengen marah tapi seneng" katanya
aku tersenyum lebar kemudian tertawa bersama.
"kangen ya bu" kataku
"iyaaa"
kami mengobrol ke sana kemari tak sadar, bahwa waktu menunjukan pukul 22.30 wib. dari balik pagar rumah gaga terdengar suara motor yang baru saja menghentikan lajunya, kami saling tatap dan segera mengecek ponsel masing-masing
"gaga mba" tanya ibu gaga
"iyah bu"
lelaki itu membuka gerbang rumah, perlahan tubuhnya menampakan diri, dia tersenyum padaku, lalu mengalihkan matanya pada wanita paruh baya yang ada di samping ku. dia berlari kecil lalu memeluk ibunya dengan erat. senyum diwajahnya adalah hal yang aku rindukan. aku tak kuasa menahan haru malam itu. aku membalikan badan untuk sekedar menyeka air mataku. terdengar lirih tangisan ibu gaga ditelinga ku. aku mencoba menahan tangis ku namun rupanya sulit sekali.
"mas sehat?" tanya ibu gaga
"sehat ibu, makasih udah nungguin gaga. ibu boleh masuk istirahat, udah malem besok kita ngobrol lagi" katanya..
"ibu masuk ya mas, sini barang-barang mas. sok mas ngobrol sama alma katanya kangen"
aku terdiam menunduk, masih memikirkan mengapa aku ikut menangis melihat gaga.
"iyah ibu selamat istirahat"
gaga duduk di tempat duduk yang tadi ibunya duduki, aku masih melihat kearah lainnya mencoba mengontrol suaraku yang sedikit parau dan bergetir.
"udah lama?" tanyanya
"tepat saat pesan itu masuk aku bergegas kemari"
dia hanya tersenyum.
"kenapa ga pernah pulang?" tanyaku
"kamu sehat ma" tanyanya
aku terdiam sejenak.
"sehat seperti yang kamu lihat" kataku
"aku sibuk sekali, banyak proyek yang harus aku kerjakan" katanya
"kenapa WA aku ga pernah di bales" tanyaku
"ga ada WA siapapun yang aku balas termasuk ibuku" katanya
aku terdiam lagi, bingung apa yang harus ku katakan.
"setidaknya kabari" kataku
"iya" jawabnya singkat
"berapa hari disini?" tanyaku
"seminggu" jawabnya
aku mulai tidak menemukan obrolan yang bisa membuat asik malam itu, beda dengan panji aku bisa memaki dan memarahinya, jika dia tidak membalas chat ku, bahkan aku bisa meminta A atau B untuk sekedar mengembalikan mood ku. namun mengapa, selalu seperti ini ketika bersama gaga. kaku tidak bisa mengekspresikan diriku seperti saat bersama Panji.
"besok jangan jauh-jauh dariku" katanya
"iya" kataku
"tidur disini ya" katanya
"tidur dimana? dikamar kamu kan ada kamu" kataku
"aku diruang tamu" katanya
"tidur berdua aja" kataku
gaga terdiam saat mendengar pernyataan ku, ah sial apa yang akan gaga fikirkan tentangku. mengapa aku bisa mengatakan hal yang seharusnya aku tidak katakan. Kata-kata ini hanya berlaku pada panji bukan pada gaga.
"boleh tidur berdua, tapi ga di rumah ini, next time di hotel atau di vila" jawabnya
aku terdiam sejenak, jantungku berdetak sangat cepat. ah sialan aku ingin sekali memeluk gaga dan mencium bibirnya yang selama ini selalu menggoda imanku.
ponsel ku berdering, aku mencoba mengambil ponselku dari tas mungilku.
satu pesan mengembang dari panji.
gue jam 12 kerumah lo ya.
aku tidak membalasnya. antara gaga dan panji mana yang lebih aku pentingkan. jika aku tetap disini dan bagaimana jika aku menunggu panji dirumah ku. wah aku tahu apa yang akan terjadi jika aku bertemu panji. lebih-lebih sebab melihat gaga dan ingin memeluk serta menciumnya aku merasa membutuhkan sentuhan yang sesungguhnya namun bagaimana jika gaga melihat aku sedang bersama panji dalam satu ruangan. ah sialan aku benar-benar harus mencari alasan untuk keduanya.