gaga berdiri lalu segera mengenakan pakaiannya aku segera merapihkan diri, kami tidak berani saling tatap melihat sekilas lalu kembali melihat kearah lainnya.
tiba-tiba dari luar terdengar suara ketukan memanggil aku dan gaga. siapa lagi kalau bukan panji. aku segera membukanya.
"kita makan makan hayo" katanya
aku hanya diam kemudian langsung keluar mengikuti panji dari belakang, gaga menyusul ku. dia tepat berada di belakangku.
"ma ambil barang-barang yang tadi gue beli sama laras" kata panji
aku mengiyakan perintah panji, lalu meninggalkan gaga dan panji berdua yang sedang menyusun kompor listrik yang akan kita pakai.
perasaanku tidak enak apa yang akan mereka obrolkan kali ini. aku sesegera mungkin kembali namun langkah kakiku terhenti, saat panji mengajukan pertanyaan kepada gaga.
"sejak kapan lo sedekat ini sama alma?
gaga tidak menjawab dia hanya fokus menyusun kompor yang sedang dia kerjakan.
"alma itu sering banget bawa cowok kerumahnya, lo mau emang?" tanya panji lagi
kali ini gaga mengangkat kepalanya dia bersiap mengeluarkan jawaban yang sedari tadi dia simpan.
"bagus lah, jadi gue ga perlu ngajarin dia lagi tinggal gas,main atas bawah main samping dia pasti udah jago" gaga mengakhiri pernyataannya dengan senyum sinis
wajah panji menjadi masam, dia menghentikan aktivitasnya lalu masuk kedalam villa. aku langsung bersembunyi, sampai akhirnya aku menemui gaga yang sedang berdiri.
"ko sendiri" tanyaku yang pura-pura ga tau apa apa
"panji mau manggil laras" katanya
aku hanya diam, lalu duduk di dekat gaga yang sedang memasang peralatan
untuk memasak
"gaaa" aku memanggilnya dengan ragu
"kenapa ma?" katanya
"kalau gue bilang gue suka sama lo gimana?" tanyaku
"maaa kayanya kita bahas ini nanti aja dikamar, pembahasan ini berat" katanya
aku tersenyum tipis.
"ok"
"aku ga nolak kamu ya" katanya
aku tertawa terbahak.
"mending lo bantu gue pasang deh dari pada duduk ga jelas disitu"
aku membantu gaga memasang peralatan itu, kami berbincang hangat tidak ada hal yang menyinggung perasaan. sejak dulu rasanya lelaki yang hari ini di hadapanku adalah lelaki yang masa bodoh prihal perasaan, jika ku ingat kembali rasanya dia memang tidak pernah mempunyai pacar satupun. tunggu mungkin punya tapi di jogja dan aku tidak tahu. kenapa aku yakin, mungkin karena saat itu gaga melumat bibirku di begitu hebat dan mahir aku yakin dia sudah pernah melakukannya berulang kali. namun aku tidak tahu dengan pasti. ah sialan aku memikirkan hal yang kurang waras kali ini, aku berpikir apa mungkin gaga mempunyai pacar.
panji dan laras tiba-tiba datang menghampiri kami. mereka membawa semua hal yang dibutuhkan untuk memasak. aku melihat wajah panji dengan ekspresi yang masam, laras yang tetap stabil seperti biasa. aku sesekali melihat ke perut laras menebak, sudah berapa bulan ya? haha sialan rahasia ini kenapa hanya aku yang tahu.
kami semua memulai membakar bahan bahan yang sudah di beli, dan kemudian kami mengobrol bersama menikmati senja di petang itu. mata panji sesekali mengekori ku, aku sedikit risih namun selalu ku abaikan. aku izin masuk kedalam berniat ingin ke kamar mandi, dan aku tidak tahu jika ternyata panji juga masuk kedalam villa, dia mengikuti ku, dan menarik aku ke dalam pelukannya. dia menahan tubuhku dengan tubuhnya. kali ini matanya memburu ku, dia seolah menahan amarah yang sedari tadi sudah mengusiknya.
"gue ga suka lo deket gaga" katanya
"hah" kataku
"lo milik gue" katanya
"g****k" kataku membentak
panji mencium bibir ku, aku reflek menamparnya. untuk seseorang yang sudah beristri bahkan sedang bersama dengan istrinya, dia terlalu berani melakukan ini. segera aku melepas cengkraman panji lalu merapihkan diri dan kembali ke gaga.
aku langsung duduk di samping gaga.
berharap gaga tidak mengetahui apa yang telah aku lakukan dengan panji di dapur barusan. aku mencoba mengatur nafasku juga mengatur irama jantungku. entahlah jantungku ini terasa sesak.
"abis dari mana?" tanyanya
"dikamar rebahan bentar ga" kataku
aku mencoba menunjukan ekspresi yang biasa saja, supaya gaga tidak mencurigai ku. selang 20 menit panji baru kembali dari dalam rumah, dia mengganti pakainya kemudian duduk di samping laras, aku mencoba sedikit berjarak dari panji, aku semakin mendekatkan diriku kedalam pelukan Gaga. tentang tadi mengapa aku jadi sebenci ini pada Panji.
"ayo ma makan" kata gaga, dia sembari memberikan aku sePiring seafood yang tadi dia bakar.
aku mencicipinya lalu tersenyum pada gaga mengisyaratkan bawah ini enak.
gaga mengambil semangkok tomyang dan sepiring seafood bakar lagi, lalu mengajak aku sedikit menjauh dari panji dan laras. kami duduk berdua dan berbincang segala hal. namun pikiran ku masih teringat tetang kejadian sore tadi, saat panji memaksaku untuk melakukan hubungan suami istri di dekat laras dan gaga. aku menolaknya karena ini sama saja dengan membunuh ku dan membunuhnya, dia terang-terangan bermain api di depan istrinya sendiri. meski aku tahu perasannya panji masih bercabang. namun aku, aku sedang berusaha menjadi baik di hadapan gaga. maka tidak mungkin jika aku langsung mencoreng diriku sebelum gaga sendiri menilai aku seperti apa di matanya.
aku berpura-pura menengok kearah belakang ingin melihat apa yang sedang panji dan laras kerjakan. namun ternyata mereka sedang asik makan dan mengobrol santai di teras rumah, aku sedikit kesal namun tidak bisa ku tunjukan lagi pula untuk sekarang aku terkontrak dengan gaga. hari ini hari terakhir gaga di sini sebelum akhirnya dia berangkat ke jogja lagi, aku benci harus berjauhan lagi dengannya, karena dia tidak akan pernah ingat dengan aku disini, apakah aku boleh menyusulnya? haha aku benar benar ingin mengubur panji dan mencoba mengalihkan segalanya kepada gaga, namun panji terlalu komplek memberi warna di hidupku banyak hal yang sudah ku lalui bersama panji dari mulai berbagi makan, berbagi minum, sampai ke berbagi tempat tidur, apakah aku semurah ini? membiarkan Gaga menjadi pelampiasan atas aku yang ingin berubah, aku tidak ingin terus terikat dengan Panji, maka satu satunya cara adalah mengejar Gaga, mendekap Gaga. bagaimanapun caranya aku tidak ingin kembali kepada Panji.
"maaa, masuk yuk tidur" katanya
aku mengangguk, gaga mengandeng pergelangan tanganku, melewati panji dan laras yang masih duduk santai di teras rumah.
"aku dulu atau kamu dulu yang mandi?" tanyanya
aku terdiam sesaat, sebelum akhirnya dia memutuskan sepihak
"aku dulu ya" katanya
aku mengiyakan dan gaga masuk ke kamar mandi tanpa membawa baju ganti hanya handuk mini yang disediakan oleh pihak villa. jantungku tak karuan dan aku mencoba menenangkan pikiranku