Memang Nandolah orang yang paling ditunggu-tunggunya setiap liburan sewaktu masih SMA dulu. Nando dulunya tinggal di asrama karna sekolah di kota, sedangkan Ficqa hanya bersekolah di kampungnya. Dalam diam Ficqa menyukai Nando. Dia sangat senang setiap kali ibunya memintanya untuk menghantarkan makanan ke rumah Nando. Tapi tidak ada seorangpun yang tau tentang perasaannya itu.
Ficqa merasa malu terhadap keluarga Nando. Ficqa tidak tahu mengapa. Tapi mungkin karna rasa rendah diri. Sosialnya lain dengan soaial Nando. Perasaan malu Ficqa timbul pada saat dirinya mulai memasuki alam persekolahan menengah yaitu SMP. Sedangkan waktu masih SD, tahap sosial mereka sama saja.
Pada saat SMP, Ficqa mulai mengenal batas pergaulan antara perempuan dan laki-laki. Apalagi pada saat SMP, Ficqa bersekolah di sekolah yang khusus perempuan.
"Seorang yang sudah akil baligh akan menanggung dosanya sendiri. Tidak kira dosa apa, sama ada berkaitan dengan aurat maupun pergaulan," kata ustazah pada saat pelajaran agama dulu. Itulah yang selalu diingat oleh Ficqa hingga pada saat ini.
Setiap kali ia ke rumah Nando, Nando hanya akan memakai celana pendek tanpa mengenakan baju. Nando terlihat santai tanpa merasa malu tapi sebaliknya, dialah yang akan merasa malu. Lain halnya jika Nando yang datang ke rumahnya. Ficqa akan berlari, kelang kabut untuk mencari dan memakai kerudung.
Pernah sekali Ficqa keluar bersama adik bungsu Nando ke pantai. Mereka bersantai sambil bercerita di atas pasir putih. Mereka sedikit akrab walaupun umur mereka berjarak 5 tahun.
Rissa pernah bercerita bahwa tagihan telefon yang mendadak naik melambung. Menurutnya, Nando sering kali melakukan panggilan telefon pada seorang wanita yang ada di luar kota. Ficqa merasa kaget pada saat itu. Tapi untung saja tidak kelihatan di mata Rissa.
'Sudah berpunya ternyata...' Bisik hati Ficqa. Sejak saat itu, Ficqa bertekaf untuk mengubur dalam-dalam perasaannya itu terhadap Nando. Walaupun jauh di sudut hatinya, dia masih memiliki perasaan itu terhadap Nando, tapi ia tetap dengan kuat menafinya.
Biarlah... Dia juga merasa tidak layak pada lelaki itu. Ditambah lagi dengan keadaannya sekarang yang sudah memiliki kehidupan sendiri dan memiliki pacar. Menurutnya, Nando bukan apa-apa jika dibandingkan dengan pacarnya yang sekarang. Dia tersenyum sendiri memikirkan hal itu.
"Ehem... Jauh melamun,Ficqa?" Nando berdehem membuyarkan lamunan Ficqa. Pandangan mata Ficqa lalu tertuju pada Nando. Aduh, malunya! Wajahnya terasa panas untuk yang kesekian kalinya. Ia lalu memalingkan wajahnya dari Nando.
Tidak terasa waktu terus berjalan. Entah sudah berapa lama kakinya diurut Nando. Ficqa mulai merasa ngantuk. Sudah berapa kali dirinya terus menguap.
Ficqa terus memaksa untuk menahan rasa kantuk yang menyerangnya. Tapi matanya terasa sangat berat. Entah sudah berapa kali dia terus menguap. Dalam semenit saja sudah tidak terhitung berapa kali dia menguap. Rasanya Ficqa sudah tidak bisa lahi menahan kantuknya itu.
Nando yang melihat keadaan Ficqa itu lalu menghentikan urutannya pada kaki Ficqa lalu meletakkan kaki Ficqa di atas lantai dengan berhati-hati. Kelihatannya bengkak pada kaki Ficqa suda berkurang. Ficqa beralih naik ke atas ranjangnya dengan bantuan Nando.
'Ya Allah, aku berlindung hanya pada-Mu..' doa Ficqa dalam hatinya. Rasanya malas untuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan berlaku. Tapi ia tetap berdoa saja kepada Allah.
"Nando, nanti kalau lo keluar jangan lupa tolong kunciin pintunya." pesan Ficqa.
"Gimana kalau aku bawa kamu ke rumah sakit dulu?" tanya Nando. Sama halnya seperti tafi, Nando sama sekali tidak melihat wajah Ficqa. Mulutnya saja yang bersuara. Tapi Ficqa pasti, soalan itu ditujukan padanya. Hanya saja pandangan Nando terarah ke tempat lain.
"Hah? Rumah sakit? Thanks, but no thanks." Dengan cepat Ficqa menolak. Ficqa memang tidak suka mendengar kata "rumah sakit". Bau obat saja bisa membuatnya merasa mual. Bayangan jarum cukup untuk membuat lututnya bergetar. Belum lagi pasiennya. Bisa-bisa ficqa muntah.
"Gue rasa iodin yang lo sapu tadi itu udah cukup. Mungkin lepas tidur nanti akan lebih baik," kata Ficqa lagi sambil menutup mulutnya untuk yang ke sekian kalinya. Menguap lagi.
"Well, up to you then," balas Nando. Masih tanpa melihat wajah Ficqa.
Rasanya kurang sopan bila ada yang berbicara tanpa melihat pada lawan bicaranya. Tapi mungkin saja Nando menjaga pandangannya? Ficqa tidak terlalu pasti tentang hal itu.