Interior Yang Ngak Jadi
Syaficqa menaikkan lengan bajunya yang pendek itu ke bahu, menampakkan keseluruhan lengannya. T-shirt berwarna kuning terang itu memang sesuai dengan warna kulitnya yang putih.
Gambar PowerPuff Girl memenuhi keseluruhan bagian depan bajunya. Baju separas lutut itu memang menjadi baju kesukaannya.
Rambutnya yang sebahu juga ditatanya dengan menggunakan penyepit rambut PowerPuff Girls. Ficqa memang menyukai kartun itu.
Imut dan melambangkan kuasa gadis modern. kelihatannya memang tidak sesuai dengan usianya yang sudah 27 tahun.
Tapi itulah dirinya yang sebenar..... Kartun menceriakan hidupnya.
Bel pintu yang tiba-tiba berbunyi memecahkan suasana pagi yang tenang itu.
"Alahhh....." keluhnya.
Dia lantas melepaskan gorden yang ada ditangannya dan membiarkannya separuh tergantung di jendela.
Turun dari bangku dengan berhati-hati. Ada banyak peralatan tajam yang bertaburan di lantai kamarnya itu. Pisau, gunting, gantungan gorden dan banyak lagi.
Bel berbunyi untuk yang kedua kalinya.
"Iya,iya, bentar," sahut Ficqa sambil bergegas ke arah pintu utama.
Dia mengintai melalui lubang pintu. Ririn!
Sebaik saja pintu dibuka, Ririn sudah tersenyum tanpa rasa bersalah padanya.
"Morning!" Ririn menyapa Ficqa.
" Kamu ni, taunya nyusahin aku aja. Kamu kan punya kunci cadangan rumahku. Kenapa juga harus bunyiin bel?" Kata Ficqa.
Ririn tidak membalas tapi malah langsung masuk. Senyuman tidak lepas dari bibirnya.
Ririn memang orang yang murah dengan senyuman.
"Oh... Kamu kesini pasti mau numpang breakfast ya?" tebak Ficqa sambil mengangkat sebelah keningnya.
Dia memandang Ririn yang masih terus tersenyum. Ririn hanya memakai T-shirt tanpa lengan dipadukan dengan celana hitam.
"Sorry ya Rin, pagi ni aku nggak masak apa-apa. Soalnya dari pagi udah sibuk beresin rumah dan gantiin kain gorden. Jadi nggak sempat masak. Tapi kalau kamu mau s**u, itu ada dalam kulkas" sambung Ficqa lagi.
"Pantasan aja lama! Ganti gorden ternyata," kata Ririn. Tapi tak menghiraukan usulan yang diberikan oleh Ficqa tadi.
Sebaliknya, dia terus berjalan ke arah kamar Ficqa seperti biasanya.
"Cantik!" puji Ririn.
"Apa yang cantik, belum selesai lagilah!" Kata Ficqa.
Tapi dalam hati dia senang karna kerjanya yang separuh jalan itu dipuji oleh Ririn.
Ficqa memang menyukai warna putih sejak kecil. Kasurnya yang berwarna putih belum dibereskannya lagi. Kamarnya agak berantakan.
"Bukan kamar kamu yang kaya kapal pecah ini. Tapi warna putih ni lah yang cantik, curry puff girl!" kata Ririn.
Ficqa tersengih. Bantal-bantal dengan sarung berwarna putih dihiasi dengan bunga kecil-kecil berwarna merah hati masih bertaburan di atas kasur yang sederhana besar itu.
Barang-barang yang bertaburan di lantai menambahkan lagi kesan berantakan di dalam kamarnya.
"Semuanya putih. Kelihatan lebih luas" Ririn terus memuji.
"Hmm, siapa dulu dong orangnya," canda Ficqa.
"Iyalah interior designer yang ngak jadi! Tulah! Asik nonton PowerPuff Girls. Gimana bisa lulus!" Ririn mentertawakan Ficqa.
Ficqa tersengih. Kata-kata Ririn memang ada benarnya juga.
Sejak memasuki bangku perkuliahan, Ririn dan Ficqa memang mempunyai cita-cita yang sama.
Selalu memastikan untuk bisa mendapatkan nilai yang tinggi. Mereka juga memasuki jurusan Disign rumah.
Tapi cuma Ririnlah yang bisa meneruskan cita-cita dalam jurusan itu. Sementara Ficqa, dia harus melanjutkan kuliahnya dalam jurusan Quantity Survayor atas desakan keluarganya dan terlebih kakak sulungnya.