Sarjana Nganggur

551 Words
Flashback on Haris adalah kakak sulung Ficqa. Pada saat itu, Haris baru saja menyelesaikan kuliahnya. Setelah bekerja pada perusahaan yang telah membiayainya pada saat kuliah, Haris memutuskan untuk Ficqa melanjutkan kuliahnya dalam jurusan Quantity Surveyor. "Ficqa, peluang kerja untuk Ukur Bahan sangat luas. It's a demanding course right now," kata Haris saat menghubungi Ficqa. "Tapi Ficqa lebih suka jadi designer. Interior designing profession is starting to grow!" sahut Ficqa. "Keadaan ekonomi sekarang udah nggak stabil. Jadi lebih baik Ficqa nurut sama kakak. Ficqa liat aja sekarang, udah berapa banyak sarjana yang ngangur. Itu karna peluang kerja dalam jurusan yang mereka ambil itu sedikit," Haris mengatakan alasannya. "Kak.. Tolong kasih kesempatan buat Ficqa menentukan masa depan Ficqa sendiri," kata Ficqa dengan tegas. Hati Ficqa tetap kukuh dengan pilihannya. "Kakak ngak masalah kalau Ficqa memang mau nentuin masa depan Ficqa sendiri. Tapi jalan yang Ficqa pilih harus betul. Kakak ngak mau kalau suatu hari nanti Ficqa jadi salah satu dari sarjana yang ngangur itu," Kata Haris tenang. Pada saat itu, Ficqa hanya merasa kalau sebenarnya Haris hanya ingin mengatur jalan hidupnya. Sengaja mau menunjuk kalau dialah yang tau tentang segalanya. Setelah mengakhiri panggilan telefon dengan Haris, Ficqa menghubungi ibunya di kampung, meminta restu tentang jurusan yang akan didaftarnya pada keesokan harinya. Tapi, tanpa disangka Haris bertindak lebih cepat. Dia telah menghubungi ayah dan ibunya di kampung. Mau tidak mau Ficqa terpaksa mengikuti kemauan mereka. "Ficqa, dengar nasihat ayah dan ibu. Ayah dan ibu tidak mau kalau sampai Ficqa selesai kuliah tapi malah tidak punya pekerjaan nantinya," nasihat ayah. Ficqa diam,tapi dalam hati ia ingin sekali memberontak. Tapi ia sedar setiap yang dikatakan oleh ayahnya adalah keputusan akhir. Apalagi dalam keluarganya, tidak ada yang berani membantah perkataan ayahnya. Ayahnya juga adalah kepala kampung di kampungnya. Sebagai seorang kakak yang telah membuktikan kemampuannya pada keluarga, sudah pasti ayah dan ibu menaruh kepercayaan yang besar terhadap Haris. Mau tidak mau Ficqa terpaksa akur dengan keputusan keluarganya. Ternyata rezekinya memang sebagai Juruukur Bahan atau lebih dikenali sebagai Quantity Surveyor(QS). Setelah menyelesaikan kuliahnya, ia langsung diterima di sebuah perusahaan yang besar dan terkenal. Walaupun tidak mengambil jurusan Interior Designing, Ficqa tetap memiliki talenta untuk menghias rumah. Flashbak off "Rasanya kalau pasang border wallpaper juga cantik kan Ficqa. Warna krim sama hijau. Atau ngak coklat gelap dengan corak klasik. Lagipula kamar kamu kan udah ada warna pastel," Ririn berkomentar menarik Ficqa keluar dari lamunannya. "Hmm.. Ide yang menarik," puji Ficqa. Cuba mengembalikan dirinya pada dunia nyata. "Bisa letakan vas bunga yang besar dekat jendelanya juga. Terus kamu hias dengan ranting-ranting kering. Pasti cantik. Sekarangkan lagi ngetrend yang begituan. Praktikal dan simple juga," lanjut Ririn lagi. Ficqa mencoba membayangkan ide-ide yang diberikan oleh Ririn. "Gimana kalau dindingnya di cat aja?" Ririn melanjutkan idenya sambil matanya masih mengamati seluruh ruangan dalam rumah sewa Ficqa. "Cat? Aduh pasti pengeluarannya banyak banget. Apalagi kalau harus minta orang yang ngecatnya. Pasti lebih mahal. Kalau buat sendiri aku kan ngak punya waktu," balas Ficqa. Itulah Ficqa. Apapun yang dirancangnya pasti yang difikirkannya pertama kali adalah biayanya. Itu sudah menjadi kebiasaannya, karna itulah pekerjaannya di kantor. Karna itu jugalah dia selalu menerapkannya dalam kehidupan pribadinya. "Lagipula, ini kan cuma rumah sementara," Ficqa memberikan alasan yang lain. "Well.. You got your point, Ficqa!" balas Ririn sambil mengangguk tanda ia setuju. "Oya, sebenarnya kamu tadi ngapain ke sini?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD