Leonardo Da Vince

538 Words
"Hmm... Sebenarnya, aku mau minjam microwave kamu. Aku mau belajar buat kueh karna semalam aku baru beli buku resepi. Keliatannya sih enak. Jadi aku mau coba buatnya. Hehee," kata Ririn jujur sambil tersenyum malu. "Ouh.. Ok. Kamu liat aja di dapur. Kalau udah jadi kuehnya jangan lupain aku yah. Rasanya nggak sabar mau rasa kueh buatan kamu," kata Ficqa sambil mencandai Ririn. "Jangan risau. Kamu pasti bakalan ketagihan setelah merasakan kueh buatanku. Hahaa," Ririn menyambut candaan Ficqa sambil tertawa. "Hahaa aku tunggu ya," balas Ficqa sambil tertawa juga. "Ok pasti. Aku pinjam ya. Sekarang silakan lanjutkan pekerjaanmu. Kebanyakan ngobrol nanti kerjaan kamu ngak akan selesai,"kata Ririn. "Hmm.. Ok" balas Ficqa seadanya. Ririn keluar dan menuju ke arah dapur. Sementara Ficqa melangkah ke arah bangku di dekat jendela kaca. 'Lanjut lagi,' kata Ficqa dalam hatinya sebelum naik ke atas bangku, ia berjingkit untuk memasang kain jenis linen dan kapas itu. "Ficqa, thanks!" Ficqa menoleh ke belakang. Melihat Ririn yang sedang memegang microwavenya. Lapisan gorden masih tergantung separuh. Gorden tersebut digesernya ke tepi. Sinar matahari pagi terus memancarkan cahaya menembusi ruang kamarnya. "Ok,"balas ficqa lalu melanjutkan kerjanya. "Ficqa..." panggil Ririn lagi "Hmm.." sahut Ficqa malas tanpa berpaling. "Kamu keliatan seksi banget. Kalau Leonardo Da Vinci masih hidup pasti dia bakal ngelukis gambar kamu sekarang." Ficqa berpaling untuk membalas. Tapi Ririn sudah keburu keluar dari kamarnya sambil tertawa keras. "Gila!" Ficqa berteriak. "Hei Rin, jangan lupa pintunya dikunci ya," Ficqa berteriak keras agar suaranya terdengar oleh Ririn. Dia kemudiannya menggeleng-geleng kepalanya sambil tersenyum sendiri. Berdiri di atas bangku ketika itu membawa banyak inspirasi baru dalam fikiran Ficqa untuk menghiasi rumahnya itu. Mungkin dengan meletakkan lebih banyak pokok hidup di dalam rumah dan juga kamar mandi bisa meredupkan suasana. Memelihara ikan emas juga mungkin bisa memberi ketenangan bagi penghuninya. Untuk beberapa saat, Ficqa begitu fokus pada kerja dan rencananya untuk menghias rumah, sehinggalah.. "Ficqa..." satu suara memanggil namanya dari arah belakang. Yang pasti, itu bukanlah suara wanita atau suara Ririn. Ficqa memutarkan tubuhnya dengan gorden yang masih ditangannya. Malangnya, kakinya tidak stabil karna kaget melihat wajah dibelakangnya itu. "Aaa..aaahh...!" Bedebuk! Renando berlari ke arah Ficqa. "Aduh! Sakitnya..." ada darah mengalir dari kulit putih Ficqa. Bajunya yang pendek malah terangkat naik ke paras paha. Renando menyentuh bagian paha Ficqa yang luka itu. "Hei! lo gila ya!" Ficqa menepis tangan Nando dengan kasar. Dia menekan-nekan bagian pahanya yang luka itu sambil menahan sakit. "Kamu punya first aid?" tanya Nando "Atas lemari tu." Ficqa menunjuk dengan ekor matanya. Keningnya berkerut karna menahan sakitnya. Entah apalah dosanya pagi itu sampai-sampai bisa terjatuh. Paha kanannya sudah merah karna darah. Ficqa mengubah posisi duduknya. "Aduh! Sakitnya," Rintih Ficqa lagi. Nando datang dengan membawa first aid kit. "Jangan banyak gerak. Kaki kamu mungkin terseliuh," katanya. Ficqa tak bisa berbuat apa-apa. Perlahan-lahan, Renando memegang kakinya. Dia terpaksa membiarkannya. Renando membersihkan luka yang ada di kakinya menggunakan kapas dengan berhati-hati. 'Seksi banget ni' kata Ficqa dalam hati. Ficqa mau menutup pahanya yang terlihat. Tapi tidak mungkin karna Nando sedang membersihkan lukanya. mau tidak mau, ia membiarkannya saja. Sebenarnya ia merasa sangat malu dengan keadaannya yang sekarang. Akhirnya, ia hanya bisa menurunkan lengan bajunya saja. Walaupun baginya itu belum cukup. "Ah.." Ficqa terjerit kecil saat merasa ada cairan yang mengenai lukanya tadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD