Episode 13

1176 Words
Satu minggu sudah berlalu dari kejadian itu, semua korban yang menghilang sudah di temukan dan jumlah korban meninggal mencapai 500 orang dan ada 70 orang yang cedera cukup parah. Yang dinyatakan masih kritis hanya tinggal 10 orang saja. Banyak bantuan yang datang dan relawan yang datang untuk mengunjungi para korban gempa dan tsunami. Bahkan banyak wartawan yang mewawancarai mereka semua. Termasuk mewawancarai Okta yang memang sudah terkenal sebelumnya sebagai pengusaha muda yang sukses dan terkenal playboy. Dan juga Dhika yang terkenal  sebagai Dokter ahli bedah terbaik di Indonesia. Saat ini Chacha tengah menggantikan perban di lengan pasien yang terluka. Pandangannya terarah ke arah Okta yang tengah diwawancarai beberapa wartawan surat kabar dan wartawan dari acara televisi.  “Ternyata Pak Okta sangat terkenal yah, Dokter,” ujar Sally memperhatikan Okta. Sally tengah mendampingi Chacha memeriksa pasien. “Hmmm” jawab Chacha tidak perduli. “Beruntung sekali kalau bisa jadi pacarnya, dia sudah tampan, baik, ramah, berjiwa sosial dan juga seorang pengusaha. Perfect sekali,” ujar Sally dengan pandangan kagum membuat Chacha tidak menyukainya. “Tapi dia itu seorang playboy,” ujar Chacha ketus dengan masih sibuk memakaikan perban. “Tapi aku akan tetap beruntung dan bersyukur walau hanya menjadi teman one night standnya,” ujar Ana menatap Okta dengan tatapan terkagum-kagum. “Ck,, jangan mau jatuh pada pesona buaya seperti itu,” ujar Chacha menyelesaikan aktivitasnya. “Tapikan dia sangat tampan,” ujar Sally dengan ngotot. “Kalau kamu masih mau mengaguminya silahkan saja. Biar aku yang periksa pasien sendirian,” ujar Chacha ketus hendak merebut map berwarna hijau dari tangan Sally. “Eh tidak Dokter, aku kan asistennya Dokter,” kekeh Sally. “Kalau begitu berhenti bergosip dan ayo kita periksa pasien lain,” ujar Chacha membuat Sally mengangguk. Satu Minggu sudah berlalu, keadaan di pengungsian mulai jauh lebih baik. Bantuan semakin banyak, dan keadaan korban gempa pun mulai membaik. Yang cedera saat ini hanya ada 30 orang dengan 5 orang masih dalam keadaan kritis. Setiap sore, mereka semua selalu menghabiskan waktu untuk bermain bersama anak-anak di sana dan menghibur para pengungsi yang lain. Saat ini Dhika, Okta, Reza dan 3 orang tentara bersama anak-anak dari pengungsian tengah melakukan olahraga basket. Kebetulan di belakang klinik ada lapangan basket yang sudah lama tak terpakai. Beberapa orang menonton di pinggir lapangan untuk memberi semangat ke tim Dhika dan tentara. Tim Dhika adalah Dhika, Okta, Reza dan 3 orang anak laki-laki dan lawannya adalah 3 orang tentara berbadan besar dengan 3 orang anak laki-laki lainnya juga. Para Dokter, Suster, tentara dan beberapa warga sibuk menonton di pinggir lapangan dengan saling menyoraki tim idola mereka. Okta tetaplah Okta yang narsis, bukannya bermain basket. Malah tebar pesona ke penonton terutama ke Chacha yang duduk di tempat yang cukup jauh dari lapangan bersama Lita. Dhika yang memang ketua club basket saat kuliah, tidak membuatnya kesulitan melawan 3 tentara berbadan besar itu. DUK Thalita terpekik kaget saat melihat kepala Dhika terbentur bola basket. Semua penonton juga kaget melihatnya dan ada yang tertawa. “Astaga Dokter Dhika,” ujar Suster Meliana. Dhika terkekeh sambil mengusap kepalanya. “Jangan melamun dong Dhik” ujar Okta menyikut Dhika. “Untung tuh bola kagak kenapa-kenapa” ujar Okta dengan santai. “Isshh,, ” cibir Dhika kembali bermain. “Makanya jangan liatin Lita terus, dia nggak bakalan kemana-mana kok,” ujar Okta terkekeh. “Berisik lu Gator.” ◄► Okta tengah mencari Chacha kemana-mana, hingga Okta melihat Chacha tengah berada di tenda dapur sambil memegang mug, dan membaca berkas yang ada di map hijau. “Lu di sini ternyata, gue cari kemana-mana,” ujar Okta membuat Chacha menengadahkan kepalanya. “Ada apa?” tanya Chacha bingung. “Kenapa lu pergi gitu aja sih, liat nih gue keringetan banget,” ujar Okta. “Terus gue harus ngapain?” tanya Chacha menyimpan mug yang dia pegang ke atas meja. “Ya lap-in dong, nggak perhatian banget sih lu.” “Emang siapa lu, harus gue lap-in?” tanya Chacha dengan ketus. “Gue kan orang yang berarti di dalam hidup lu,” ujar Okta seraya mengerlingkan matanya, membuat Chacha menaikkan sebelah alisnya. “Berarti dari hongkong.” ujar Chacha ketus. “Bukan, tapi dari hatimu,” goda Okta terkekeh membuat Chacha memutar bola matanya malas. “Kenapa nggak minta lap-in saja sama fans lu yang tadi sorak-sorakin manggil nama lu” ujar Chacha ketus. “Cie ilah, si Nela cemburu,” goda Okta. “Siapa yang cemburu, enak saja,” ujar Chacha. “Jujur saja kali Nela Sayang, kalau lu cemburu tadi lihat gue banyak fansnya,” ujar Okta membuat Chacha memanas mendengar Okta memanggilnya sayang. Sayang???? ah pasti gue salah dengar. “Kenapa bengong?” tanya Okta mencolek pipi Chacha. “Nggak apa-apa, udah sana jangan ganggu gue. Gue lagi sibuk,” ujar Chacha. “Ya ilah jutek amat,” gerutu Okta mengambil mug milik Chacha dan menghabiskan teh yang ada di dalamnya. “Dasar Crocodile jelek, main serobot saja minuman orang,” gerutu Chacha. “Manis, seperti orangnya,” ujar Okta mengedipkan sebelah matanya dan keluar dari tenda membuat pipi Chacha semakin memanas. “Astaga, kenapa si Crocodile itu selalu buat gue merinding dan memanas sih,” gumam Chacha mengipas-ngipaskan sebelah tangannya di depan wajahnya. ◄►Okta tengah mencari Chacha kemana-mana, hingga Okta melihat Chacha tengah berada di tenda dapur sambil memegang mug, dan membaca berkas yang ada di map hijau. “Lu di sini ternyata, gue cari kemana-mana,” ujar Okta membuat Chacha menengadahkan kepalanya. “Ada apa?” tanya Chacha bingung. “Kenapa lu pergi gitu aja sih, liat nih gue keringetan banget,” ujar Okta. “Terus gue harus ngapain?” tanya Chacha menyimpan mug yang dia pegang ke atas meja. “Ya lap-in dong, nggak perhatian banget sih lu.” “Emang siapa lu, harus gue lap-in?” tanya Chacha dengan ketus. “Gue kan orang yang berarti di dalam hidup lu,” ujar Okta seraya mengerlingkan matanya, membuat Chacha menaikkan sebelah alisnya. “Berarti dari hongkong.” ujar Chacha ketus. “Bukan, tapi dari hatimu,” goda Okta terkekeh membuat Chacha memutar bola matanya malas. “Kenapa nggak minta lap-in saja sama fans lu yang tadi sorak-sorakin manggil nama lu” ujar Chacha ketus. “Cie ilah, si Nela cemburu,” goda Okta. “Siapa yang cemburu, enak saja,” ujar Chacha. “Jujur saja kali Nela Sayang, kalau lu cemburu tadi lihat gue banyak fansnya,” ujar Okta membuat Chacha memanas mendengar Okta memanggilnya sayang. Sayang???? ah pasti gue salah dengar. “Kenapa bengong?” tanya Okta mencolek pipi Chacha. “Nggak apa-apa, udah sana jangan ganggu gue. Gue lagi sibuk,” ujar Chacha. “Ya ilah jutek amat,” gerutu Okta mengambil mug milik Chacha dan menghabiskan teh yang ada di dalamnya. “Dasar Crocodile jelek, main serobot saja minuman orang,” gerutu Chacha. “Manis, seperti orangnya,” ujar Okta mengedipkan sebelah matanya dan keluar dari tenda membuat pipi Chacha semakin memanas. “Astaga, kenapa si Crocodile itu selalu buat gue merinding dan memanas sih,” gumam Chacha mengipas-ngipaskan sebelah tangannya di depan wajahnya. ◄►
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD