Episode 14

1097 Words
Malam menjelang, beberapa orang tengah beristirahat.  Tiba-tiba saja ada seorang tentara berlari ke tenda Dokter. Dimana semua Dokter tengah berkumpul. Tentara itu memberitahu kalau ada satu orang lagi yang di temukan di tempat kejadian. Beberapa Dokter menghampiri seorang pasien wanita muda, terlihat seperti keturunan Tionghoa. Tak lama Dhika datang bersama Lita, Okta dan Chacha. Karena kebetulan sekali tadi Chacha dan Lita tengah menikmati pop mie dan Dhika dan Okta tengah membuat kopi di tenda dapur. Membuat mereka berempat sama-sama menghampiri pasien. Keempatnya melotot sempurna melihat gadis di atas brankar itu. “Amel…!!!!” pekik Chacha dan Lita. “Ini kan si Nenek Sihir titisan Penyihir Jahat temennya si Nela,” ujar Okta membuat Chacha mencibir. “Dia kenapa?” tanya Dhika. “Kami menemukan dia di sebuah gedung yang kami tahu sebuah kantor. Dia sudah pingsan di sana, tetapi detak jantungnya masih ada. Kami pikir dia dehidrasi,” jelas tentara itu.           “Dia bukan mengalami dehidrasi,” ujar Dhika tiba-tiba membuat semuanya melihat ke arah Dhika. Dhika menyimpan telapak tangannya di d**a Amel dan memejamkan matanya cukup lama. Setelah itu Dhika kembali membuka matanya dan memeriksa denyut nadi di tangan Amel dan memegang kedua telapak tangan Amel. “Dokter Reza, Dokter Khairul, Dokter Claudya tolong bawa pasien ini ke dalam klinik. Dokter Lita, Clarisa dan Okta ikut aku,” ujar Dhika beranjak membuat semuanya bingung tetapi akhirnya menuruti perintah Dhika. Dan di sinilah sekarang  Dhika, Thalita, Chacha dan Okta berdiri di belakang tenda Dokter. “Ada apa, Dhik?” tanya Okta bingung. “Amel mengalami serangan jantung. Dia mengidap penyakit jantung coroner,” ujar Dhika. “Apa????” pekik Thalita kaget.  “Penyakit jantung koroner itu penyakit jantung yang terjadi karena kerusakan pada dinding pembuluh darah. Kolestrol yang menimbun di dinding bagian dalam pembuluh darah, dapat mengakibatkan pembuluh darah mengalami penyempitan dan aliran darah pun menjadi tersumbat. Akibatnya fungsi jantung terganggu karena harus bekerja lebih keras untuk memompa aliran darah. Seiring berjalannya waktu, arteri-arteri koroner makin sempit dan mengeras. Inilah yang disebut aterosklerosis.” jelas Dhika. “Sumber penyakit ini biasanya dari radikal bebas seperti asap rokok, polusi udara, polusi kimiawi/lingkungan, polusi elektromagnetik. dan dari polusi di dalam tubuh sendiri. Pembuluh darah akan mengalami penyempitan dan akan cepat mati dan mengeras. Sel-sel ini juga yang biasanya disebut sel kanker,” jelas Dhika membuat semuanya terdiam. “Di kasus Amel ini, penyakit gagal jantungnya ini sudah sangat parah. Kita bisa saja melakukan operasi padanya tetapi kondisinya harus benar-benar sehat dan baik-baik saja. Tetapi saat aku periksa tadi, kondisinya jauh dari kata baik-baik saja.” “Jadi bagaimana?” tanya Thalita. “Ada dua pilihan, membiarkannya seperti ini dan menunggu perkembangan kesehatannya. Atau memaksakan diri untuk tetap melakukan operasi,” ujar Dhika. “Tetapi kalau di biarkan saja dia bisa saja meninggal dalam hitungan jam,” ucap Lita. “Ya itu benar, tetapi dengan kita mengoperasinya juga, itu tetap akan beresiko kematian padanya apalagi fasilitas di sini sangat minim untuk melakukan operasi besar,” ujar Dhika. “Tapi setidaknya dengan operasi, masih ada harapan untuk menolongnya daripada harus membiarkannya seperti ini,” ujar Thalita. “Lita,, kenapa lu pengen nolongin dia? Kenapa tidak biarkan saja. Dia musuh lu, Lita. Dia yang menyebabkan kehancuran hidup lu 10 tahun yang lalu,” ujar Chacha. “Iya Lita, apalagi sama saja di biarkan atau di operasipun keadaannya tetap sama,” ujar Okta. “Tetapi Okta setidaknya masih ada harapan dengan operasi,” ujar Lita. “Lita sadarlah, Amel itu musuh kita. Dia sangat jahat sama lu dan gue juga,” ujar Chacha sedikit kesal. “Gue tidak melihatnya sebagai musuh, Cha. Gue  melihatnya sebagai pasien. Dan gue tidak bisa membiarkan pasien meninggal tanpa berbuat sesuatu,” ujar Lita ngotot. ‘Sudah ku duga, inilah Thalita.  Dia tidak bisa diam saja dan melihat seseorang meninggal, bahkan musuhnya sekalipun,’ batin Dhika tersenyum melihat ke arah Lita yang masih berdebat dengan Chacha. “Lita, gue tau lu baik. Tapi tidak dengan melakukan ini, inget apa yang sudah di lakukan Amel,” ujar Chacha. “Tidak Chacha, gue tidak bisa diam saja. Dhika, apa kamu yakin masih ada harapan untuk menolongnya?” tanya Lita. “Ya” jawab Dhika. “Kalau begitu lakukan operasinya sekarang juga,” ujar Lita membuat Dhika tersenyum kecil. “Baiklah” jawab Dhika. “Dhika, kenapa lu juga? Dhika, Amel yang sudah buat lu sengsara selama 10 tahun ini,” ujar Okta tidak terima. “Kalau Lita sudah memutuskan seperti ini, gue tidak bisa berbuat apa-apa,” ujar Dhika santai membuat Okta dan Chacha melongo. ‘Apa-apaan ini, apa mereka sudah gila? Amel yang udah membuat mereka berdua terluka dan tersiksa dan sekarang mereka mau berjuang menyelamatkannya?’ batin Okta. ‘Ahh Lita, kenapa lu selalu seperti ini,’ batin Chacha. Lita beranjak pergi meninggalkan semuanya diikuti Dhika. “Kenapa dia selalu seperti ini. Gue bahkan masih dendam sama si Amel,” gumam Chacha mengusap wajahnya. “Menjadi orang yang sangat baik itu benar-benar mengganggu kesehatanku,” gumam Okta. ◄► Di luar ruangan operasi, Okta dan Chacha duduk menunggu dalam diam. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. “Gue akan buat perhitungan kalau si Amel kembali nyakitin Thalita lagi,” ujar Chacha kesal yang teramat mengingat perbuatan Amel di masa lalu. “Gue juga heran, si Dhika langsung mengiyakan saja. Sepertinya sikap baik Lita menular ke si Dhika, padahal gitu-gitu juga si Dhika orangnya paling sulit untuk memaafkan orang,” ujar Okta mengingat saat kejadian Angga.  “Bahkan untuk maafin si Angga dan si Daniel saja harus menghabiskan waktu bertahun-tahun. Itu pun dengan usaha yang sangat keras,” ujar Okta. “Mereka berdua memang pasangan yang sangat cocok,” ujar Chacha. “Ya lu benar,,,” ujar Okta. “Ah kesehatan gue terganggu kalau ngeliat orang jahat di tolongin begini.” Chacha menatap ke arah Okta. “Lu tipe orang yang bagaimana, Crocodile? Apa lu juga tipe orang yang pendendam?” tanya Chacha. “Tergantung,” ucap Okta mengedikkan bahunya. “Tergantung apa?” “Tergantung dia cakep apa enggaknya,” kekeh Okta. “Ck, dasar buaya,” seru Chacha kesal. “Tidak kok Nela. Maksudku tergantung seberapa besar orang itu menyakitiku,” seru Okta dan seketikan tatapan matanya berubah menjadi begitu tajam dan Chacha tanpa sengaja menatap tatapan penuh kebencian dan dendam di mata Okta. Tatapan matanya berbeda dengan tatapan Okta biasanya. Chacha merasa penasaran dan ingin memastikannya. Tetapi ia merasa Okta membangun bentengnya sendiri yang tak ada seorangpun mampu menembusnya. ‘Apa kamu pernah di sakiti seseorang sampai menyimpan dendam dan rasa benci yang besar?’ batin Chacha. ◄►
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD