Bab 20

1052 Words
BAB 20 Sebenarnya hati Clarissa agak was-was karena tinggal di samping rumah Dewa, sungguh dia masih takut jika Dewa membahas masalah ini dengan Fabian. Tetapi Clarissa berharap, Dewa tidak akan mengatakan kepada Fabian. Clarissa kini hidup bahagia, semua serba mewah dan Fabian selalu memanjakannya, mencintainya sepenuh hati meski pertemuan yang singkat, ini seperti takdir bagi Clarissa. Dewa merasa bosan weekend kali ini di rumah barunya, kakaknya membelikan dia rumah besar dan mewah tepat di samping rumah Fabian, jujur Dewa sangat senang sebenarnya bisa tinggal dekat dengan kakaknya, tetapi rumah sebesar ini baginya sangat tidak menyenangkan jika sendirian. Kalau mencari istri, Dewa juga belum menemukan tambatan hatinya. Dewa lalu bangkit dari kasurnya dan menelpon kakaknya, mengabari mengajak kakaknya untuk olahraga bersama. Fabian pun setuju dengan ajakan Dewa, dia mengajak Clarissa untuk ikut, tapi entah kenapa pagi ini Clarissa mual-mual. “Sayang kamu enggak papa? Bagaimana kalau ke dokter saja?” tanya Fabian. “Enggak usah sayang, aku hanya mual-mual biasa kok, enggak papa, kamu keluar aja, olahraga sama Dewa gapapa kok, aku biar tiduran aja di kamar.” Fabian sebenarnya ingin menjaga Clarissa, tetapi dia sendiri juga lama tidak bertemu berbincang deep talk dengan adiknya sendiri. Fabian lalu mengecup kening Clarissa dan bersiap untuk berolahraga. Dewa sudah menunggu di bawah dan Fabian dengan berat hati membiarkan Clarissa sendirian. Bagaimana lagi, adiknya sudah lama tidak berbincang dengannya, rasanya Fabian juga rindu waktu berdua dengan Dewa. Usia kandungan Clarissa sudah hampir 5 bulan, tetapi Fabian juga baru mengetahuinya empat bulan. Clarissa merasa pusing dan mual, hal yang wajar, dia juga sering mengidam makanan tertentu, tetapi Fabian dengan sabar membeli bahan dan memasak untuknya. “Kak Clarissa enggak ikut?” tanya Dewa. Fabian menjawabnya dengan menggeleng sembari mengambil raketnya yang ada di garasi. “Enggak, dia lagi mual sama pusing, tapi ya biasa morning sick aja kok, enggak kenapa-napa.” Fabian mengambil kunci, melemparkannya kepada Dewa. Kali ini biar Dewa saja yang menyetir. Dewa menyerngitkan dahinya, sejujurnya dia tidak menyangka jika Fabian bisa meninggalkan Clarissa sendirian, dia sendiri jika tau Clarissa sakit juga tidak tega membiarkannya sendiri. “Kak, mending temenin istri dulu baru olahraga, masa kak Clarissa mual-mual kakak biarin si kak?” ucap Dewa. “Enggak papa kok, aku udah izin,” ucap Fabian. “Oh yaudah,” ucap Dewa. Dewa sebenarnya kasihan jika meninggalkan kakak iparnya, inginnya mereka bersenang-senang dan olahraga bersama sebagai keluarga, tetapi rupanya Fabian ingin berdua saja dengan Dewa. “Kak, sebenernya aku gamau bahas masalah ini sih, cuma ya mau tanya aja, gatau kenapa rasanya ngeganjel aja,” ucap Dewa. Bimbang, Dewa rasanya bimbang antara mengatakan atau tidak, dia juga sebenarnya tidak mau ikut campur masalah Fabian. “Kakak sama Kak Clarissa sebenernya ketemu dimana awalnya? Kok bisa sampai MBA sih?” tanya Dewa sembari fokus menyetir. “Hah? MBA? Maksud kamu apa?” tanya Fabian. “Loh? Bukannya kak Fabian nikah sama kak Clarissa gara-gara MBA?” tanya Dewa lagi. Sungguh ini membingungkan baginya, tetapi jika tidak bertanya dia merasa penasaran kepada Fabian. Fabian bingung atas pernyataan adikbya, masalahnya dia tidak pernah menghamili Clarissa di luar pernikahan. "Loh aku kira kakak yang hamilin kak Clarissa di luar pernikahan," ucap Dewa. Seketika pembicaraan ini semakin serius, Dewa disuruh Fabian menepikan mobilnya. "Maksud kamu ngomong apasih Wa?" Fabian menyerngitkan dahinya menatap Dewa. "Jadi sebelum kakak nikah sama kak Clarissa, aku udah pernah ketemu sebelumnya di Bandara Juanda, waktu itu kak Clarissa keram dan aku langsung bawa ke rumah sakit, dia perdarahan kak, waktu itu sudah hamil dua minggu." Fabian masih mencerna kata-kata Dewa, bagaimana bisa? "Tunggu, berarti sebelum nikah sama aku, Clarissa udah hamil?" tanya Fabian. "Iya Kak, aku sendiri yang antar ke dokter kandungan, kalau kakak enggak percaya, coba deh ke dokter kandungan di dekat Juanda," ucap Dewa. Fabian mengusap wajahnya dengan kasar, sungguh dia tidak menyangka dengan hal ini, itu artinya Clarissa tidak hamil anaknya. Fabian merasa terluka, dibohongi, dan tidak percaya lagi. Tetapi dia masih ragu dengan ucapan adiknya, untuk memastikan, Fabian ke dokter kandungan yang dimaksud Dewa. Mereka berdua ke dokter kandungan itu, tentu saja dokter itu masih ingat dengan Dewa karena ibu dari teman Dewa. Setelah menanyakan kepastian, ternyata benar, Clarissa hamil sebelum menikah dengan Fabian, tentu saja hal ini melukai hati Fabian. Dia setengah tak percaya dengan semua ini, tangannya mengepal, dia benar-benar marah kepada Clarissa. Dewa mengusap lengan kakaknya, dia juga tak tau kalau ini yang sebenarnya terjadi. "Kak, udah kak jangan emosi, kasian kak Clarissa kalau nanti kakak marahin, dia pasti punya alasan kenapa," ucap Dewa. "Aku ga pernah tau dia seberani ini berbohong sama aku, padahal aku udah ngasih semua yang dia inginkan, tapi dia kaya gini Wa, terus itu anak siapa?" ucap Fabian. Dia terluka, benar-benar kecewa dan tidak bisa tenang begitu saja. Sungguh Fabian tidak mengerti kenapa bisa begini, dia sendiri merasa bingung. “Kak sabar, Kak Clarissa juga lagi hamil, jangan sampai kakak melukai kak Clarissa.” Dewa mencoba terus menenangkan kakaknya, dia juga tidak mau sampai pernikahan kakaknya dengan Clarissa ada masalah. Dewa sangat menginginkan mereka selalu damai dan penuh kasih sayang apalagi Clarissa sedang mengandung. Fabian hanya terdiam, dia masih tak tau harus mengatakan apa kepada Clarissa. Kebaikannya seolah tak dihargai oleh Clarissa. Sesampainya di rumah, Dewa sebenarnya ingin masuk karena takut kakaknya akan bersikap keras, tapi Fabian menolak. Dia meminta Dewa pulang ke rumahnya, dia tidka mau Dewa ikut campur urusan rumah tangganya. Wajah Fabian benar-benar berubah, pakaian olahraganya sama sekali tak berkeringat, dia langsung pulang dan menuju ke atas, ke kamar Clarissa. Istrinya sedang bergelung, dia pusing dan mual. Fabian tidak tega sebenarnya, tetapi dia merasa Clarissa keterlalu. “Clar? Kamu tidur?” panggil Fabian. “Mas? Sudah pulang? Maaf aku belum memasak,” ucap Clarissa lemas. “Masih sakit?” tanya Fabian. Clarissa mengangguk lemah, Fabian menatap perut Clarissa yang sudah mulai membesar. Dia memeluk Clarissa dan membantu istrinya untuk duduk. “Sebenarnya, dalam kandunganmu ... itu anak siapa?” tanya Fabian. Clarissa terkejut saat Fabian menanyakan hal ini. “Maksudnya? Anak kamu lah sayang,” ucap Clarissa berbohong. “Aku sudah tau semuanya, aku minta kamu jujur, anak siapa ini?” ucap Fabian. Clarissa seketika lemas, dia menunduk dan menangis. “Clar? Jawab!” bentak Fabian. Clarissa hanya bisa menangis mendengar bentakan Fabian. “Clarissa Tiffaniy Inggrid! Jawab aku!” bentak Fabian lagi. Sungguh Clarissa tak sanggup menjawab apa, dia gemetaran sekarang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD