BAB 17
Clarissa menghela napasnya. Dia menunduk menangis, dia tau neneknya kecewa atas apa yang dia perbuat. Dia pun merasa bersalah karena sudah melakukan hal buruk dengan Rio.
“Maaf Nek, maafin Icha.” Clarissa menunduk dalam-dalam dan
menangis sedalam-dalamnya.
Neneknya memeluk Clarissa dan mengecup puncak kepala cucunya.
“Ya sudah, semua sudah terjadi, kita harus mengatasinya
bersama-sama Nak,” ucap Neneknya.
Clarissa tersenyum dan mengusap air matanya, dia senang neneknya
sangat pengertian.
“Sudah bilang Papi sama Mami?” tanya nenek
“Belum, Icha takut.”
Neneknya menghela napasnya dan memeluk cucunya, cucu perempuan
yang sangat dia sayangi. Dia sangat memahami bagaimana perasaan Clarissa, orang
tua yang tidak pernah peduli tentangnya. Bahkan ketika besar Clarissa pun tidak
pernah ditengok.
“Yasudah Nak, kalau begitu kamu harus cepat menikah, bilang sama
nenek, siapa ayah bayi kamu?”
“Icha gabisa nikah sama ayah bayi ini Nek, karena dia sudah
menikah dengan orang lain, sahabat Icha sendiri, Raven.”
Neneknya terkejut mendengarnya, Raventha, gadis baik dan manis
itu, neneknya sering bertemu saat berkunjung ke apartemen Clarissa dulu.
“Yaampun Icha, kamu hamil anak suami sahabatmu sendiri? Kenapa
kamu tega sama Raven?” ucap neneknya.
“Enggak Nek, Nenek salah paham, Icha melakukannya sebelum mereka
menikah, Icha enggak tau Nek kalau mereka dijodohkan. Icha tau Icha salah, Icha
ONS dengan Rio, tapi waktu itu Rio masih single, dua minggu setelah Rio menikah
dengan Raven, Icha baru tau kalau Icha hamil. Dan waktu Icha ngelakuin sama
Rio, Icha enggak tau kalau Rio calonnya Raven.”
Clarissa menjelaskan dengan suara bergetar, dia sangat takut
dengan semua ini, dia bersalah atas semuanya dan mau tak mau dia harus
bertanggung jawab dengan semua ini. Clarissa telah berjanji pada dirinya
sendiri bahwa dia akan mencoba untuk kuat merawat bayi ini meski harus
sendirian.
“Astaga Icha, malang sekali nasibmu sayang,” ucap neneknya
memeluk Icha.
“Icha cinta sama Rio Nek, tapi Icha gabisa memiliki Rio, Rio
punya Raven,” ucap Icha sembari menangis seenggukan.
“Raven tau kamu hamil anak Rio?” tanya neneknya. Raven
menggeleng.
“Yasudah, kalau begitu seharusnya kamu katakan sama mereka yang
sebenarnya, Rio harus tetap menikahi kamu.” Neneknya menatap Clarissa dengan
tatapan lurus. Sedangkan Clarissa menggeleng.
“Enggak Nek, aku gamau pernikahan mereka hancur, Raven udah
cukup banyak membantu aku, Raven sangat sayang sama aku.”
Clarissa menarik napasnya, dia harus kuat dan bisa melewati ini
semua meski melangkah sendirian.
“Tapi bagaimana dengan Papi Mami kalau mereka tau kamu hamil?”
tanya neneknya dengan tatapan penuh tanya. Clarissa terdiam sejenak, belum tau
harus bagaimana. Yang jelas mungkin saja papa dan mamanya akan memarahinya atau
bahkan mungkin mengusirnya. Kedua orang tuanya sejak dulu sangat mencintai
uang, travelling dan tidak terlalu mempedulikan Clarissa. Sejak kecil bahkan
hingga sekarang.
Anak yang kurang disayangi biasanya akan berulah, ya seperti
Clarissa, dia tidak tau bagaimana arah tujuan hidupnya jika kasih sayang saja
dia jarang mendapatkannya.
“Enggak tau Nek, apa Clarissa pergi yang jauh saja ya selama
sembilan bulan sampai anak ini lahir?” tanya Clarissa.
“Jangan, jangan pernah lari dari masalah, hadapi masalahnya,
tanggung jawab dengan apa yang sudah kamu perbuat,” ucap neneknya.
“Lalu bagaimana nek?”
“Kamu harus tetap menikah, entah menikah dengan siapapun, yang
penting mau bertanggung jawab.”
Clarissa cukup terkejut dengan keputusan yang diambil neneknya,
tapi ada benarnya, kalau ada lelaki yang mau mneikahinya, mungkin dia tidak
akan merasa berat. Tapi ... apa ada lelaki yang mau menikahinya? Padahal dia
hamil anak lelaki lain?
“Apa ada Nek lelaki yang mau seperti itu?” tanya Clarissa bingung. Dia menunduk lemah. Sungguh dia tidak tau harus bagaimana saat ini.
“Entahlah, tetapi nenek ada satu pemuda yang sangat baik dan juga tampan, semoga saja dia mau denganmu,” ucap neneknya tersenyum.
Clarissa dan neneknya masih beristirahat sejenak di rumah, rencananya besok mereka akan pergi ke Pasuruan, tepatnya desa Ketan Ireng, dimana di sana ada rumah neneknya yang luas dan besar. Niatnya, neneknya akan menjodohkan dengan pemuda di sana. Clarissa awalnya menolak, membayangkan menikah dengan pemuda desa saja sudah membuatnya mual, pasti pola berpikirnya sangat berbeda dengan Clarissa.
“Kenapa nenek sangat ingin menjodohkan dengan pemuda desa sana?” tanya Clarissa.
“Di sana ada keluarga terpandang, pemilik sawah dan kebun, dua anaknya laki-laki sangat sukses, yang pertama seorang dokter, dan anak keduanya seorang arsitek. Nenek yakin, kamu pasti sangat suka nantinya. Sayangnya tahun lalu ayah dan ibunya sudah meninggal, jadi semua yang mengelola anak pertamanya yang dokter itu.”
Clarissa hanya melongo mendengar ucapan neneknya.
“Kalau kamu menolak perjodohan ini, nenek akan melepas kamu, nenek sudah tidak tau lagi bagaimana cara mengatasi ini semua. Nenek sudah lelah, kalau kamu mau menjalani hidup sendiri, silahkan, tapi jangan kembali ke nenek kalau ada masalah lagi,” ucap neneknya.
“Astaga nenek, kenapa berkata seperti itu? Baiklah, Clarissa akan menurut. Semoga pilihan nenek tidak akan salah.”
Esok paginya, mereka menaiki mobil diantar dengan supir menuju desa, Clarissa sempat istirahat dan tidur di mobil. Ketika mereka sampai di rumah neneknya, Clarissa terperangah, rumah neneknya sangat hijau nan asri, semua bunga dan tanaman dihias, dirawat dengan baik, sangat sejuk dan Clarissa menyukai suasana ini.
“Nanti siang kita ke rumah Pak Joko ya, semoga saja dua anak lelakinya ada di rumah,” ucap nenek.
Clarissa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, jujur ini terlalu cepat bagi Clarissa, hatinya was-was. Seperti mimpi buruk yang harus dia jalani. Sungguh dia tidak tau harus bagaimana, dia hanya bisa menuruti kata-kata neneknya saat ini. Clarissa antara ragu, takut, marah, campur aduk. Gelisah, dia takut juga jika dijodohkan dan tidak cocok nantinya.
Namun Clarissa lelah, sangat lelah dan tak tau harus bagaimana lagi. Dia ingin istirahat dulu, tetapi saat merebahkan diri di kasur dia malah gelisah dan berguling kanan kiri tak karuan.
“Icha, ayo kamu dandan yang cantik.”
Clarissa menatap jam di dinding, sudah pukul satu siang, namun cuaca mendung, persis seperti hatinya. Di sini memang hening dan jauh dari keramaian. Ada suasana tersendiri untuk membawa kedaiaman. Desa yang asri sedikit menenangkan Clarissa.
Setelah berdandan cantik dengan pakaian dress selutut berwarna hitam dengan motif bunga kecil, dia nampak cantik dan anggun. Walau memakai riasan sederhana, Clarissa sudah sangat cantik, dia menarik napas dan menghembuskannya lewat mulut, mencoba untuk tenang sejenak.
“Ayo Icha,” panggil neneknya.
Clarissa akhirnya berangkat dengan neneknya, rumahnya tak jauh, sekitar dua ratus meter dari rumah neneknya. Dia menatap rumah besar ini, sama besarnya dengan rumah neneknya, hanya saja di bagian samping ada klinik dokter. Neneknya lalu mengetuk pintu, tak lama seorang pemuda tampan berjas dokter keluar.
“Nenek? Apa kabar nek? Apa nenek sedang sakit? Kalau mau berobat tunggu sebentar ya Nek, saya masih makan siang.”
Tampan, tinggi dan bertubuh tegap, wajahnya sangat tampan, kini Clarissa tau mengapa neneknya sangat bersi keras menjodohkan Clarissa dengan lelaki di hadapannya yang dia tidak tau siapa namanya. Clarissa mengakui lelaki di hadapannya sangat tampan, bahkan hidungnya pun mancung, tubuhnya sangat atletis.
Clarissa melirik sejenak nama yang melekat di jas dokter lelaki itu. Fabian Dewangga Putra. Namanya terasa tidak asing, dia mengingat ingat nama itu, nama itu hampir sama dengan lelaki yang menolongnya kemarin ... Arya Dewangga Putra. Astaga benar. Jangan-jangan ...
Clarissa meneguk ludahnya, kalau benar mereka bersaudara, apalagi jika diingat-ingat wajah mereka hampir sama.
“Enggak nak Fabian, nenek kemari mau menjodohkan kamu sama cucu nenek, tapi kalau kamu masih makan siang, kita bicarakan nanti saja ya Fabian, kamu silahkan lanjut makan saja dulu.”
Fabian cukup terkejut dengan ucapan nenek, dia melihat gadis cantik yang di sampingnya. Fabian menatapnya dengan seksama, cantik, manis. Lelaki manapun pasti mau bersanding dengan Clarissa Tiffany, tetapi masalahnya Fabian bukan lelaki yang hanya memandang fisik, dia juga mementingkan sikap dan tinggah laku.
“Kalau begitu silahkan masuk Nek,” ucap Fabian. Dia membukakan pintu rumahnya dan membiarkan nenek masuk. Jujur, Fabian tidak mungkin bisa menolak jika nenek hendak menjodohkannya, Fabian banyak berhutang budi dengan beliau, apalagi saat Fabian menyelesaikan studi kedokterannya, nenek ikut membantunya memberi biaya besar saat orang tuanya memiliki kerugian dalam panen. Fabian sebenarnya mau-mau saja menerima jika dia dijodohkan, tetapi dia juga harus tahan dengan apapun yang terjadi.
“Kamu selesaikan saja makan siangmu Fab,” ucap nenek.
“Ah iya, tidak apa-apa nek, nanti saja. Jadi tadi nenek mau membahas apa? Ini ada sedikit camilan dan minum, silahkan Nek,” ucap Fabian menyuguhkan gelas air mineral dengan camilan seadanya.
“Terima kasih.”
Clarissa masih canggung dan diam, jujur dia tidak tau harus berkata apa, dia masih bingung dengan situasi ini. Mata Clarissa tiba-tiba tertuju pada foto keluarga yang terpasang di meja samping, dia membulatkan matanya ketika melihat benar, lelaki yang menolongnya kemarin, Dewa adalah adik Fabian.
“Jadi nak, Nenek mau menjodohkan kamu dengan cucu nenek, namanya Clarissa, kalian boleh berkenalan dulu, tapi ya jangan lama-lama, satu bulan lah paling tidak, kalau cocok nenek akan menikahkan kalian.”
Fabian masih mengatupkan bibirnya, hanya tersenyum manis sampai lesung pipinya terlihat. Dia tidak tau harus menjawab apa saat ini. Lagipula memang belum ada gadis yang dia sukai, jujur saja dia tidak berfokus menyukai gadis manapun karena masa lalunya yang kelam. Fabian dulu pernah sangat mencintai seorang perempuan, seorang gadis yang cantik bernama Bunga, dia berasal dari desa ini, tapi sayangnya Bunga malah hamil diluar pernikahan. Mengkhianati dia dengan alasan khilaf melakukannya. Fabian sangat terluka, sejak saat itu dia berjanji tidak mau menikahi gadis manapun dan berfokus pada karirnya.
“Kenalan dong kalian, masa cuma lirik-lirik an,” ucap nenek tertawa.
“Aku Fabian Dewangga Putra,” ucap Fabian dengan sopan sembari tersenyum.
“Aku Clarissa Tiffany,” jawab Clarissa sembari menjabat tangan Fabian. Tatapan Fabian yang tegas namun lembut membuat Clarissa yakin jika Fabian adalah lelaki baik dan sopan, apalagi profesinya sangat terpuji.
“Kalian silahkan berbincang, nenek tinggal keluar dulu ya.”
Clarissa menggeleng keras kepada neneknya dan mengedipkan mata berulang kali, namun neneknya tidak bisa dikode, malah keluar rumah Fabian.
“Jadi, kamu artis kan pekerjaannya?” tanya Fabian.
“EH? Iya, kamu tau aku?” tanya Clarissa bingung.
“Iya jelas tau lah, wajah kamu kan ada di televisi, kamu juga terkenal di sosial media,” ucap Fabian.
Clarissa hanya tersenyum menunduk malu saat dipuji seperti itu.
“Menurut kamu perjodohan ini bagaimana?” tanya Fabian.
Jujur, Clarissa ingin mengungkapkan bahwa dia membutuhkan sosok lelaki dalam hidupnya untuk anaknya kelak, bukan karena cinta, tetapi dia mau anaknya memiliki seorang ayah yang baik dan bertanggung jawab. Clarissa ingin mengatakan kepada Fabian tentang hal ini, namun neneknya memaksa Clarissa untuk tidak mengatakan ini sebelum menikah. Jelas Clarissa tau ini salah, Fabian pasti nantinya akan marah dan merasa ditipu. Namun Clarissa menutupinya, menuruti semua perkataan neneknya.
“Bagaimana ya mengatakannya? Yang jelas aku membutuhkan lelaki yang bisa membina aku dengan baik, aku ingin rumah tangga yang harmonis dan bisa saling mengalah, bisa saling mengerti, saling perhatian, dan mencintai satu sama lain. Aku ingin rumah tangga yang rukun,” ucap Clarissa.
Fabian tersenyum mengangguk, ya semua orang menginginkan hal yang sama, begitu juga dengan Fabian. Dia telah mengenal nenek dengan baik, dia yakin Clarissa juga pasti gadis yang baik.
“Semisalnya aku menerima perjodohan ini, kamu mau menikah denganku kapan?” tanya Fabian.
Deg. Clarissa hampir setengah tak percaya dengan ucapan Fabian, lelaki di hadapannya menyetujuinya dan mau menikahinya.
“Kamu yakin? Kamu belum mengenalku dengan baik, apalagi aku bukan gadis baik-baik yang kamu kira,” ucap Clarissa memperingatkan, dia tidak mau jika Fabian nantinya akan kecewa dengan sikap Clarissa apalagi Clarissa menutupi kehamilannya.
“Aku yakin,” ucap Fabian dengan tegas. Mendapatkan istri secantik Clarissa, mana mungkin Fabian tolak, apalagi dia juga telah berhutang budi kepada nenek.
“Sungguh? Kamu mau menyetujui perjodohan ini?” tanya Clarissa lagi.
Fabian tersenyum sangat manis dan mengangguk.
“Ya, aku sangat yakin.”
Clarissa sungguh sangat senang mendengarnya, dia sungguh ada rasa bahagia ketika ada lelaki yang mau menikahinya saat ini.
“Terima kasih.”
Seminggu setelah pertemuan itu, waktu yang cukup singkat atas perkenalan mereka, dan kini mereka menikah untuk merajut kehidupan bersama. Clarissa sungguh tidak mengerti kenapa Fabian langsung menyetujui dan mau menikah dengannya. Clarissa sangat bahagia, tetapi dia masih ada rasa gelisah dan was-was ketika nanti Fabian tau dia tengah hamil.
Ketika akad nikah telah selesai berlangsung, Clarissa baru melihat Arya Dewangga kembali, lelaki yang menolongnya beberapa waktu yang lalu. Dewa seorang arsitek, dia baru bisa pulang sekarang, meski terlambat menyaksikan pernikahan kakaknya. Dewa terkejut bukan main ketika tau calon istri kakaknya Clarissa Tiffany. Dewa kini tau, berpikir bahwa kakaknya yang mungkin menghamili Clarissa diluar nikah. Tapi, pertanyaan besar Dewa, kapan mereka mulai berhubungan? Lalu bagaimana bisa kakaknya yang selalu di desa menghamili seorang artis yang selalu tinggal di Jakarta? Dewa masih tidak mengerti bagaimana mereka bisa saling menyukai. Padahal Dewa mengerti jika kakaknya masih tertutup dengan gadis manapun apalagi sejak kakaknya putus dengan Bunga, seperti ada trauma besar. Dewa tak mau bertanya sekarang, takutnya merusak suasana khidmat, biar kakaknya yang menjalani kehidupan dengan Clarissa mulai sekarang.
Pernikahan yang cukup mendadak ini membuat satu desa gempar, ya apalagi Fabian seorang dokter muda yang umurnya tiga tahun lebih muda daripada Clarissa. Usianya tiga puluh tahun, sudah cukup matang untuk menikah, namun para warga Desa tidak pernah melihat Fabian berdekatan dengan wanita manapun, jelas saja semua orang terkejut melihat Fabian menikah dengan Clarissa.
Acara pernikahan berjalan dengan lancar, Clarissa sangat lega sekaligus bahagia karena kelancaran pernikahannya. Sayangnya dia hanya bisa bertemu dengan orang tuanya sebentar, setelah acara pernikahan selesai, orang tua Clarissa segera kembali ke luar negeri.
“Mah, Pah, apa enggak bisa di sini dulu?” pinta Clarissa.
“Maaf sayang, Papa sama Mama enggak bisa ninggalin butik dan restoran di sana, kami harus segera kembali ya,” ucap ayahnya sembari mengecup kening putrinya.
Memang sejak dulu Clarissa selalu begini, ditinggal jauh dari orang tuanya. Berat, Clarissa merasakan pedih dan luka yang mendalam karena merasa kurang kasih sayang, namun dia tau ini semua demi Clarissa juga, orang tuanya bekerja keras menghasilkan uang untuk Clarissa.
Setelah kepergian orang tuanya, nenek Clarissa meminta Clarissa untuk tinggal dengan Fabian di desa, maksud neneknya membantu Fabian di rumah dan juga agar dekat dengan neneknya. Awalnya Clarissa enggan, tetapi bagaimanapun juga dia harus menurut agar neneknya menyimpan rahasianya, Clarissa bingung harus berkata apa kepada Fabian atas kehamilannya. Jujur saja, Clarissa tidak pandai berbohong dan beralasan apapun, Clarissa hanya bisa terdiam demi menjaga rahasianya. Harapannya, Fabian bisa menerima semuanya ketika nanti terbongkar. Sungguh, Clarissa takut akan semua ini.
Damian juga datang ke acara pernikahan Clarissa bersama Jessica, namun Clarssa tidak mengundang Raventha karena dia tak mau melihat Rio lagi. Clarissa hanya mengabari Raventha melalu sosial media.
Kini Clarissa sudah berada di rumah Fabian, jantungnya berdegup tak karuan, dia duduk di pinggir ranjang Fabian. Kamar Fabian rupanya memang sudah dihias dan dirapikan khusus untuk pengatin baru, untuk ukuran rumah di pedesaan, tentu saja rumah Fabian sangat mewah sama seperti di perkotaan. Clarissa sebenarnya nyaman jika tinggal di sini, hanya saja dia kurang suka dengan adat pedesaaan yang harus guyub rukun, dia tidak terlalu suka untuk berkumpul dengan orang lain.
Clarissa menunggu Fabian selesai mandi sembari menggulum bibirnya, wajahnya setengah gugup saat ini, dia takut jika Fabian meminta kewajiban malam pertamanya sekarang juga, masalahnya Clarissa belum mengatakan kepada Fabian jika dia sudah bukan gadis lagi, rasanya campur aduk. Ide dari neneknya dulu bukanlah hal bagus, menutupi kehamilannya dan menyogok bidan untuk mengatakan kehamilan Clarissa masih baru. Sungguh, ini membuat Clarissa panik.
Suara derit pintu yang dibuka membuat Clarissa menoleh ke arah belakang, di sana Fabian sudah selesai mandi, dia keluar dengan shirtless dan celana boxer. Roti sobek milik Fabian terlihat jelas di mata Clarissa, dia memalingkan wajahnya karena malu. Fabian tertawa kecil melihat Clarissa yang gugup, dia lalu meletakkan handuknya dan duduk di samping Clarissa.
“Kamu mau melakukannya malam ini?” tanya Fabian.
Clarissa meneguk ludahnya, bohong sekali jika dia menolak Fabian yang sangat menggoda saat ini, tetapi dia bingung bagaimana mengatakannya.
“Maaf, tapi aku bukan gadis lagi, apa kamu tetap menerimanya?” tanya Clarissa.
Diluar dugaan Clarissa, Fabian malah tersenyum menatapnya.
“Kenapa memangnya? Aku bukan lelaki yang seperti itu, aku menikah denganmu menerima apa adanya,” ucap Fabian. Clarissa terenyuh ketika mendengar ucapan Fabian, dia sungguh bahagia mendengarnya.
Tatapan mereka yang saling menginginkan kini berubah menjadi pergulatan panas, hingga mereka terbawa ke surga dunia. Clarissa jatuh cinta pada Fabian, untuk pertama kali dalam hidupnya, dia benar-benar merasa spesial dan bahagia.
***
BAB 18
Mata Fabian menatap Clarissa dengan seksama, entah bagaimana, dia menyukai Clarissa dari atas sampai bawah, manis, sikapnya, lembutnya. Fabian berharap pernikahannya bisa terus romantis dengan Clarissa. Clarissa terbangun ketika merasakan ada tangan bergerak mengusap pipinya. Dia membuka matanya dan tersenyum menatap Fabian. Clarissa lalu menarik Fabian dan memeluknya erat.
“I love you,” bisik Fabian.
“I love you too.”
Clarissa sungguh bahagia, dia tidak pernah menyangka pemuda desa yang merupakan seorang dokter di sini membuatnya jatuh hati. Dulu dia mengidamkan memiliki suami pebisnis seperti Rio, tetapi ternyata takdir berkata lain dan dia bersyukur mendapatkan Fabian. Clarissa sungguh bahagia menjadi istri sah Fabian.
“Clar, apa aku bisa meminta satu hal kepadamu?” ucap Fabian.
Clarissa menaikkan alisnya, dia menatap Fabian penuh dengan tanda tanya.
“Iya? Apa sayang?” balas Clarissa.
Dipanggil sayang dengan suara Clarissa membuat Fabian semakin menggencarkan aksinya untuk melakukan olahraga dengan Clarissa.
“Aku minta, kamu bisa meninggalkan karirmu sebagai artis Clar, dan juga aku minta kamu bisa membuka usaha di sini, aku tidak menuntutmu untuk bekerja, tetapi aku hanya ingin kamu memiliki uang untuk kamu simpan ketika aku tiada, aku memang lebih dari cukup untuk membiayai kita semua, tapi uang kan cepat habisnya, aku meminta kamu untuk belajar memiliki usaha rumahan juga, itupun kalau kamu mau.”
Clarissa menyerngitkan dahinya, kenapa Fabian mengatakan hal ini? Padahal mereka baru saja menikah. Jujur, Clarissa tak tau harus membalas dengan bagaimana. Dia sendiri tidak tau membuka usaha apa, keterampilan Clarissa hanyalah akting dan modelling, dia tidak tau soal bisnis apapun, memasak saja dia tidak bisa.
“Bagaimana ya? Boleh aku melakukannya nanti-nanti? Aku memasak saja tidak bisa,” ucap Clarissa sembari menunduk dalam-dalam.
Fabian tersenyum kecil mendengar ucapan Clarissa, dia mengangguk dan memeluk Clarissa kembali, tak apa, dia mengerti istrinya berasal dari keluarga yang berada, dia harus bisa terbiasa dengan Clarissa. Sejak dia melakukan ijab kabul, dalam hati Fabian, dia akan menerima Clarissa apapun itu. Sebenarnya dia sudah menduga sejak awal jika Clarissa bukan lagi seorang gadis, karena Clarissa mungkin saja hidupnya dipenuhi dengan pergaulan bebas.
“Boleh sayang, aku tidak memaksamu sekarang,” ucap Fabian mengecup kening Clarissa. Merengkuhnya ke dalam pelukan Clarissa.
***
Arya Dewangga Putra—adik Fabian sedang menguping di depan kamar kakaknya, sayangnya dia sama sekali tidak mendengar apapun, niatnya ingin membangunkan kakaknya karena dia sudah selesai memasak. Ada rasa kesal dalam hati Dewa sebenarnya, dia kesal karena kakaknya yang menikah dengan Clarissa, padahal Dewa juga menyukai Clarissa. Seharusnya setelah pernikahan Fabian dengan Clarissa, Dewa tidak seharusnya tinggal di rumah ini lagi, dia seharusnya mencari tempat tinggal baru, namun sayangnya pernikahan kakaknya terlalu mendadak, dia juga tidak semudah itu mencari tempat tinggal yang baru.
“Kak? Sorry nih ganggu, masakan udah jadi,” ucap Dewa mengetuk pintu kamar Fabian. Sudah pukul sembilan pagi, tetapi pengantin baru masih di dalam kamar.
“Oh iya oke Wa, thanks.”
Fabian menjawab dengan penuh ceria, mereka berdua lalu keluar dari kamar dan makan bersama dengan Dewa. Jujur, Clarissa masih canggung melihat Dewa, namun terkejut bukan main jika benar lelaki yang telah menolongnya adalah Dewa, dan untungnya Dewa tidak membahas soal kehamilannya.
Mereka bertiga makan dalam diam, Fabian begitu mencintai Clarissa sampai matanya pun tak terlepas dari Clarissa, dia sangat sayang kepadanya. Dewa bisa melihat itu semua dari mata kakaknya, sebenarnya Dewa masih ragu, apa benar Clarissa mengandung anak kakaknya?
“Kak, nanti malem aku ke Jakarta ya, ada proyek panggilan lagi, dan juga besok udah mulai kerja di perusahaan,” ucap Dewa.
“Serius? Kamu udah mulai kerja? Wah hebat kamu Dew,” ucap Fabian memuji adik semata wayangnya. Sejak dulu Fabian dengan Dewa memiliki hobi yang berbeda, Fabian sangat menyukai menolong orang yang sakit, sedangkan Dewa suka menggambar bangunan. Hanya saja baru kali ini Dewa akan resmi dipanggil sebagai arsitek. Sungguh ini adalah hal yang membahagiakan dan membuat Fabian bangga. Sejujurnya, Dewa berbohong, seharusnya mulai lusa dia bekerja, namun rasanya tidak enak jika mengganggu kakaknya dengan Clarissa, apalagi mereka pengantin baru.
Clarissa sebenarnya ingin berbicara empat mata dengan Dewa, namun rasanya dia masih bingung memulai pembicaraan. Hingga akhirnya tercipta suasa untuk mereka berdua bisa berbincang tanpa ada orang lain. Clarissa dan Dewa sama sama di dapur, tanpa adanya Fabian.
"Kak, aku gak salah lihat kan? Kakak Clarissa Tiffany yang waktu itu sakit di bandara kan?" tanya Dewa.
"I-iya," jawab Clarissa terbata-bata.
"Yaampun berarti kakak ngandung anak kak Fabian?" tanya Dewa. Clarissa hanya menjawabnya dengan tersenyum.
"Itu masa lalu yang buruk, kamu jangan mengikuti jejak kita ya, dan juga jangan lagi membahasnya di depan kakak kamu, soalnya kita udah janji enggak akan bilang aib ini ke siapapun," ucap Clarissa.
Dewa hanya tersenyum ringan, jujur dia tidak menyangka kakaknya bisa berbuat hal seperti itu, tapi ya kenyataannya Dewa melihat sendiri bagaimana kakaknya. Dewa tak mau ambil pusing tentang hal ini, toh ya Clarissa sudah menikah dengan kakaknya.
Clarissa sendiri sebenarnya gugup mengatakan hal ini, usia kandungannya yang masih tiga minggu sama sekali belum terlihat. Dia berharap seterusnya bisa menyembunyikan hal ini walau dia resah.
Setelah malam tiba, Dewa pamit kepada mereka berdua, dia membawa dua koper besar untuk pindah meski belum tau akan tinggal dimana.
"Dewa, kantor kamu dimana?" tanya Clarissa.
"Di Bekasi kak."
"Loh kamu udah car Clarissa sebenarnya ingin berbicara empat mata dengan Dewa, namun rasanya dia masih bingung memulai pembicaraan. Hingga akhirnya tercipta suasa untuk mereka berdua bisa berbincang tanpa ada orang lain. Clarissa dan Dewa sama sama di dapur, tanpa adanya Fabian.
"Kak, aku gak salah lihat kan? Kakak Clarissa Tiffany yang waktu itu sakit di bandara kan?" tanya Dewa.
"I-iya," jawab Clarissa terbata-bata.
"Yaampun berarti kakak ngandung anak kak Fabian?" tanya Dewa. Clarissa hanya menjawabnya dengan tersenyum.
"Itu masa lalu yang buruk, kamu jangan mengikuti jejak kita ya, dan juga jangan lagi membahasnya di depan kakak kamu, soalnya kita udah janji enggak akan bilang aib ini ke siapapun," ucap Clarissa.
Dewa hanya tersenyum ringan, jujur dia tidak menyangka kakaknya bisa berbuat hal seperti itu, tapi ya kenyataannya Dewa melihat sendiri bagaimana kakaknya. Dewa tak mau ambil pusing tentang hal ini, toh ya Clarissa sudah menikah dengan kakaknya.
Clarissa sendiri sebenarnya gugup mengatakan hal ini, usia kandungannya yang masih tiga minggu sama sekali belum terlihat. Dia berharap seterusnya bisa menyembunyikan hal ini walau dia resah.
Setelah malam tiba, Dewa pamit kepada mereka berdua, dia membawa dua koper besar untuk pindah meski belum tau akan tinggal dimana.
"Dewa, kantor kamu dimana?" tanya Clarissa.
"Di Bekasi kak."
"Loh kamu udah cari tempat tinggal di sana?” tanya Clarissa.
“Belum si, tapi ada temen di sana, jadi ya bisa nginep di sana dulu,” ucap Fabian.
“Oh oke kalau gitu, kalau mau si di Bekasi aku ada apartemen, kamu bisa pakai,” ucap Clarissa.
Dewa tersenyum menggeleng kepada Clarissa, dia tidak mau merepotkan kakak iparnya.
“Engga kak, udah ada kok, lagipula temenku juga nyariin tempat buat aku, nanti aku kabari kalau kalian mau berkunjung, kalau begitu aku berangkat dulu ya,” ucap Dewa melambaikan tangannya. Ada rasa lega dalam hati Clarissa, dia sangat bersyukur Dewa sama sekali tidak membahas mengenai kehamilannya. Sungguh dia pasti akan membuat Fabian kecewa jika Fabian tau.
Mereka berdua melambaikan tangan, Fabian sebenarnya ingin mengantar Dewa, tetapi dia juga tidak tega meninggalkan Clarissa sendirian di rumah, apalagi desa semakin malam juga semakin sepi.
***
BAB 19
Satu Bulan Setelah Pernikahan
Fabian terbangun di tengah malam, ketika dia mendengar ada suara di dapur, hanya suara kecil, dia menoleh ke samping tempat tidurnya, Clarissa tidak ada di sana, entah kemana istrinya. Fabian menyibakkan selimut dan berjalan ke dapur, dia diam-diam berjalan menuju dapur dan terkejut melihat Clarissa yang duduk di balik meja seolah bersembunyi sedang memakan mangga muda. Iya, mangga muda yang tadi dia petik di halaman belakang, mangga milik Fabian.
Suara kunyahan Clarissa namun bukan kecapan, membuat Fabian terkejut, dia tertawa kecil melihat tingkah istrinya, tetapi rasanya janggal kenapa Clarissa bersikap seperti diam-diam memakan mangga.
“Clar?” panggil Damian.
Clarissa menoleh dan hampir tersedak melihat wajah Fabian tepat diatasnya. Clarissa lalu segera bangkit berdiri dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Kamu sedang apa di sini?” tanya Fabian heran.
“Ini ... makan mangga, hehe kelihatannya enak,” ucap Clarissa.
Fabian hanya tersenyum melihat Clarissa lalu menariknya, dia menggendong Clarissa dan membiarkan istrinya duduk di pangkuannya.
“Clar, kamu kenapa makan sembunyi-sembunyi huh?” ucap Fabian gemas sembari mencubit pelan hidung Clarissa.
“E ... aku takut membangunkanmu,” ucap Clarissa berbohong. Usia kehamilan dia sebenarnya adalah dua bulan, tetapi neneknya telah menyuap seorang bidan untuk tutup mulut dan mengatakan bahwa kandungan Clarissa masih satu bulan. Selama ini Fabian pun belum pernah melihat hasil USG. Clarissa selalu beralasan jika diajak mencetak hasil USG karena Clarissa takut Fabian mengetahui kebohongannya.
Fabian sangat senang menatap Clarissa yang semakin lahap makan, dia mengusap perut Clarissa dan berbisik, “Sayang papa di sini, kamu jangan nakal ya sama Mama, besok Papa mau ke Jakarta mau nengok Om Dewa, jagain mama ya,” ucap Fabian.
Clarissa tertawa kecil melihat tingkah Fabian. Sungguh dia tidak menyangka jika dia akan sebahagia ini dengan Fabian.
Hari ini Fabian hendak menuju ke rumah baru Dewa, dia ingin melihat adiknya di sana tetapi sendirian, tidak ditemani oleh Clarissa. Fabian khawatir di usia kandungan Clarissa yang masih muda membuat Clarissa nanti rentan keguguran jika berpergian jauh. Fabian membawa Clarissa untuk ke rumah nenek sementara, Fabian tidak lama, hanya sekitar dua hari. Dia akan pulang secepatnya.
Dua minggu setelah pernikahan, dia mendengar kabar Clarissa hamil, sungguh membuat Fabian bahagia, dia sangat senang, apalagi dia tidak menyangka Clarissa akan cepat hamil.
“Clar, ayo tidur lagi kalau sudah selesai makannya,” ucap Fabian.
Clarissa tersenyum dan mengangguk, Fabian kembali menggendongnya menuju kamar. Entah kenapa semenjak mengetahui Fabian soal kehamilannya, Fabian menjadi overprotective dan posesif kepada Clarissa. Sebenarnya ada rasa bersalah dalam diri Clarissa karena dia sudah membohongi suaminya sendiri. Tetapi bagaimana lagi? Dia terpaksa melakukan hal ini.
Pagi harinya, mereka menuju ke rumah nenek, Clarissa terkejut berteriak ketika melihat neneknya jatuh di kamar mandi dan banyak darah berceceran di kepala neneknya. Fabian pun sama terkejutnya, dia lalu menggendong nenek dan menyuruh Clarissa memanggil bapak RT dan RW. Neneknya telah meninggal.
Sedari tadi Clarissa tak hentinya menangis, nenek yang dia cintai tanpa memberikan pesan apapun, tiba-tiba meninggalkannya. Padahal hanya neneknya yang membuat Clarissa menjadi tenang. Bahkan saat pemakan telah usai, air mata Clarissa masih tak berhenti, seketika kenangan masa kecilnya kembali berputar, masa dimana neneknya sangat menyayanginya. Clarissa teringat saat sulit, neneknya yang selalu membantunya. Jujur, ini sangat berat bagi Clarissa. Dia sangat sulit menerima kenyataan jika neneknya meninggal.
“Clar, apa kamu baik-baik saja?” tanya Fabian sembari memeluk Clarissa. Dia mengangguk pelan. Fabian tidak bisa meneruskan keinginannya menjenguk Dewa, dia harus tetap ada di sisi Clarissa.
“Semua masalah aku, hanya nenek yang bisa membantu aku, di saat orang tua aku pergi jauh, nenek aku yang membantu aku semuanya, kenapa aku kehilangan nenek?” ucap Clarissa sembari menangis.
“Ssst, iya sudah, ikhlaskan nenek ya, kan ada aku di sini, tenang Clarissa,” ucap Fabian.
Clarissa mengangguk, dia memeluk Fabian dengan erat, rasa cintanya kepada nenek tidak akan tergantikan sepanjang masa, nenek bagi Clarissa sudah seperti ibu dan ayah baginya. Perempuan yang kuat dan selalu memberikan solusi terbaik bagi Clarissa.
“Kamu yang tenang ya Clar, aku yakin nenek pasti bahagia melihat kamu di sini denganku, Nenek pasti diberi tempat terindah oleh Sang Pencipta,” ucap Fabian mengecup kening Clarissa.
Ada hal yang mengganjal dalam hati Clarissa, tentang kebohongannya. Bagaimana jika Fabian nantinya tau jika sejak awal Clarissa membohonginya? Sungguh Clarissa takut, karena Dewa pun sebenarnya tau hal ini.
Tiga bulan setelah nenek meninggal, Fabian sengaja mencari suasana baru dan mengajak Clarissa untuk pindah rumah, dia tidak ingin Clarissa terus bersedih, Fabian membeli dua rumah di kawasan pondok indah, sengaja agar rumah satunya bisa digunakan untuk adiknya.
Dewa awalnya menolak pemberian rumah dari kakaknya, tetapi karena Fabian memaksa dan ingin bertetangga dengan adiknya sendiri, Dewa akhirnya berterima kasih dengan Fabian. Kini Fabian pun membuka prakter di rumah barunya. Clarissa memang menyukai perkotaan, suasananya dia sudah familiar dan menyukainya karena sejak kecil Clarissa memang tinggal di Jakarta.
Clarissa bersyukur dia memiliki suami seperti Fabian, setiap ada pertengakaran kecil, keduanya bisa mengalah dan menghargai satu sama lain.