Bab 15 - 16

4624 Words
BAB 15 Setelah pemotretan selesai, Clarissa masih merasa gundah karena Raventha belum juga datang, sungguh dia bingung karena kehilangan sahabat. Makanan tadi yang dibuatkan oleh Damian juga rasanya hambar, berbeda dengan Raven yang membuat, dia menjadi rindu masakan Raven. “Clar, setelah selesai pemotretan kamu bisa langsung ganti baju dan syuting ya, minta tolong aja sama Jessica buat bantu-bantu kamu.” Clarissa hanya menjawab dengan anggukan kecil lalu ke kamar ganti. Setelah ini lokasinya berbeda, di mall. Clarissa sebenarnya tidak mood hari ini. Sayangnya dia sudah menekan kontrak dan menjalani semua syutingnya. Tinggal 2 take syuting lagi kontraknya akan habis, jalan cerita film yang dia jalani akan ending. “Ada yang bisa aku bantu kak?” tanya Jessica kepada Clarissa. “Belum ada, aku bisa sendiri kok. By the way, kamu adik Damian kan? Kuliah dimana?” tanya Clarissa. “Udah lulus kok kak, cuma lagi ambil kursus MUA aja,” jawab Clarissa. “Oh bagus itu, bisa buka bisnis sendiri. Well, kamu bisa tunggu aku diluar aja, aku mau ganti baju dulu.” Jessica lalu keluar meninggalkan Clarissa sendiri. Clarissa menghela napasnya, entah kenapa dia masih merasa absurd dengan kedatangan Jessica, jujur saja Clarissa tidak terlalu suka dengan cara Damian asal memberinya manajer baru. Clarissa sebenarnya lebih menyukai Raventha karena telah mengenalnya bertahun-tahun. Hari ini, Clarissa mencoba melepaskan egonya, dia berusaha untuk menuruti Damian dan menghargai pilihannya. “Jess, bisa minta tolong cek in email aku?” pinta Clarissa. Biasanya di emailnya ada penawaran endorse baru, benar saja. Baru saja Jessica membuka email Clarissa, matanya membulat sempurna. Dia terkejut melihatnya, banyak sekali email yang masuk, bahkan sampai ribuan. “Ada banyak ini kak, pilih yang mana?” tanya Jessica. “Kamu acc semua yang nawarin produk tas, sepatu, dan sekiranya product yang nguntungin, terus tawaran syuting aku cuma mau yang genrenya romance.” Jessica mengangguk, dia lalu membuka satu persatu email Clarissa dan menjawabnya. Clarissa lalu menatap Jessica lagi. “Jangan lupa kamu catat jadwalnya ya Jess, dan jangan sampai ada yang terlewat.” Jessica mengangguk lalu mengambil buku catatan di mobil dan mencatatnya satu persatu. Hari ini melelahkan bagi Clarissa, tetapi setidaknya ada Jessica yang sudah membantunya. Damian mengantar Clarissa pulang, mulai besok yang mengantar jemputnya adalah Jessica. Clarissa langsung merebahkan tubuhnya ke atas kasur, kepalanya agak pening dan mual. Entah kenapa dia sangat lelah hari ini. Dia lalu memesan bubur untuk dia makan, beruntungnya di jam tujuh malam ini ada yang jual. Saat Clarissa membuka pintu untuk mengambil pesanan makananya dia terkejut ada Raventha di depan pintu. Tangannya meggantung hendak mengetuk pintu dan tangan kirinya membawa kantung kresek berisi pizza. “Raven?” ucap Clarissa hampir tak percaya Raven di hadapannya. “Hai Clar, aku boleh masuk?” tanya Raventha. Raut wajah Raventha tidak seperti biasanya yang ceria, wajahnya lebih datar tetapi berusaha tersenyum palsu. Clarissa mengangguk, mengambil pesanan buburnya mengajak Raven masuk. “Sorry aku cuma pesen satu bubur, enggak tau kalau kamu ada di sini. Kamu kembali buat kerja lagi?” tanya Clarissa. “Duduk dulu Clar, ada masalah yang lebih penting selain pekerjaan.” Clarissa tau betul pasti Raven hendak membicarakan tentang dirinya dengan Rio. “Makan aja dulu Clar, keburu dingin buburnya.” Sikap Raventha berusaha keras untuk bersikap normal layaknya sahabat Clarissa. Raven mengalah dan memustuskan ke apartemen Clarissa karena dia sangat menyayangi Clarissa meski Clarissa mencintai suaminya. Entah bagaimana ini semua bisa terjadi, tetapi Raven membenci perpisahan yang menyakitkan dengan Clarissa. Persahabatan mereka selama bertahun-tahun tidak seharusnya kandas begitu saja. Raven membuka pizza yang dia bawa, memakannya bersama Clarissa. Meski menjadi model Clarissa tidak terlalu memperhatikan makanannya, asal dia lapar, dia makan. Raventha masih terdiam, sesekali membuka tutup layar ponselnya karena gelisah, sejujurnya dia tidak tau harus mengatakan apa kepada Clarissa tentang hal ini, dia juga bingung. “Kamu mau bicara apa Rav? Masih kerja di sini kan?” tanya Clarissa. Seketika bayangan Raven terlempar jauh pada masa lalu, dia ingat bagaimana Clarissa dengan dirinya pernah bermimpi membangun usaha bersama dan sukses bersama. Kini dia tidak mengerti harus bagaimana menghadapi masalah ini, setidaknya Raven ingin mendengar dengan baik dari Clarissa. “Kalau soal jadi manajer kamu, sepertinya enggak bisa Clar, karena aku mungkin akan kerja di tempat lain.” Semenjak pernikahan kemarin orang tua Rio menyarankan Raventha untuk bekerja di perusahaan Rio, kalau semua sudah diatur oleh orang tua Rio, Raventha tidak bisa lagi menolak. Mau tak mau dia harus menurut, sebenarnya dia juga masih ingin bekerja dengan Clarissa. “Benarkah? Sayang sekali padahal aku sudah nyaman sama kamu Rav,” ucap Clarissa sembari memakan buburnya. Raven hanya tersenyum tipis. Jujur saja perasaan Clarissa saat ini tidak menentu, dia merasa bersalah dan juga bingung bagaimana menghadapi situasi ini. “Clar?” panggil Raven pelan. “Iya?” tanya Clarissa. Raven menarik napasnya, dia hendak mengatakan sesuatu pada Clarissa, ini saatnya dia membicarakan tentang Rio. “Kamu sungguh-sungguh cinta dengan Rio?” tanya Raventha. Clarissa seketika bungkam dan bingung harus menjawab apa. “Iya. Maaf Rav, aku merasa bersalah sekarang.” “Aku istri Rio, tapi aku tidak dicintai dia, kamu sangat beruntung bisa berada di dalam hatinya. Aku sama saja hanya mendapatkan raga Rio, tapi tidak hatinya. Maaf Clarissa, aku tau kamu mencintai Rio, tetapi jika aku disuruh memilih, aku memilih berjuang untuk Rio, jadi aku mohon untuk kamu tidak mengganggu pernikahan aku dengan dia, aku mohon Clar, ikhlaskan Rio untuk aku, sekali ini saja, aku mohon sama kamu.” Clarissa terenyuh mendengar permintaan Raventha, dia menghela napasnya dan tersenyum mencoba untuk tidak meneteskan air mata sedikit pun. Berat rasanya, namun Clarissa harus menghadapi kenyataan. “Iya Rav, maaf. Aku memang salah, aku tidak seharusnya melanjutkan hubungan dengan Rio ketika tau kamu adalah istri sahnya, maaf ya Rav,” ucap Clarissa dengan suara bergetar. Mereka berdua sama-sama sakit, sama-sama terluka. Clarissa menarik Raventha dan memeluknya erat. Dia menangis sepuasnya di bahu Raventha. Sungguh, ini hal terberat yang dia alami. Clarissa menangis dan tak tau harus menjawab apalagi. Keduanya saling terdiam. Raventha meminta Clarissa tetap menganggapnya sahabat dan menemukan pria sejatinya untuk menemani Clarissa hidup, untuk sementara waktu, Raventha tidak bisa berada di sini dan harus pergi dari kehidupan Clarissa. “Aku akan segera pulang Clar, dan mungkin aku lama tidak ke sini lagi, Maaf.” Clarissa sangat mengerti maksud Clarissa, dia akhirnya melambaikan tangannya dan membiarkan Raventha untuk pergi. Dia yakin, mereka berdua akan menemukan kebahagiaan masing-masing. BAB 16 Pagi ini seharusnya Clarissa melakukan pemotretan kembali dan syuting iklan shampoo. Sayangnya Clarissa tidak bisa melakukannya sekarang, dia benar-benar terlihat kacau, matanya bengkak dan hidungnya memerah karena menangis, mengingat semalam Raventha yang mengunjunginya. Clarissa masih bergelung dengan selimutnya, sedangkan Jessica—manajer barunya sudah menunggunya sejak dua puluh menit yang lalu di depan apartemen. Jessica masih sabar menunggu di depan apartemen meski tidak ada jawaban dari dalam. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menelpon Clarissa, dia harus membawa Clarissa ke taman untuk pemotretan hari ini. Clarissa melenguh ketika mendengar ponselnya yang berbunyi, dia menatap sekilas layar ponselnya dan menutupnya kembali. Tetapi kemudian kembali berbunyi, sampai akhirnya Clarissa kesal dan mengangkat teleponnya. “Kak, ini aku Jessica, udah jam setengah delapan, kakak siap sama pemotretannya?” tanya Jessica. Clarissa seketika bangun dan membulatkan matanya, benar juga dia hari ini harus segera melakukan pemotretan. Dia menyibakkan selimut dan berjalan lemas membuka pintu untuk Jessica. “Masuk Jes,” ucap Clarissa. Jessica terkejut melihat penampilan Jessica yang acak-acakan dan masih baru bangun tidur. Jessica hendak mengomel tapi dia mengurungkan niatnya, dia ingin Clarissa segera mandi dan berangkat, namun Clarissa saat ini sepertinya sangat kacau. “Kak, mau aku bantu apa?” tanya Jessica. Clarissa menggeleng lalu mengikat rambutnya ekor kuda lalu menyuruh Jessica duduk di sampingnya. “Boleh aku batal semua kontrak hari ini?” tanya Clarissa. “Semua ada denda masing-masing Kak,” ucap Jessica. Dia membuka handphonenya dan membaca kembali satu persatu kontrak yang ada. Clarissa menghela napas, sebenarnya dia sanggup membayar penalti, tetapi dia juga harus menghemat. Akhir-akhir ini dia malas untuk bekerja. “Yasudah, setelah pemotretan kira-kira jam berapa aku bisa istirahat?” tanya Clarissa. “Mungkin jam dua siang semua sudah selesai Kak,” ucap Jessica. “Well, aku kurang nyaman si kamu manggil aku ‘Kak’, mending panggil aku Clarissa aja ya? Lagi pula umur kita hanya beda setahun, make it easy ajalah.” Jessica tersenyum dan mengangguk, dia setidaknya senang bisa mulai akrab dengan Clarissa. Entah kenapa melihat wajah Clarissa yang kacau saat ini, dia kasihan, dia tau Clarissa pasti semalam begadang dan menangis karena kurang tidur. Terlihat jelas lingkar matanya yang menghitam dan kantung matanya yang membengkak, pasti Clarissa kelelahan. “Sekarang aku bisa bantu kamu apa Clar?” tanya Jessica. “Bantu aku buat mikirin gimana caranya ngilangin kantung mata ini,” ucap Clarissa. “Okeh siap, aku ambilin es batu dulu.” Clarissa mengangguk berterima kasih lalu dia ke kamar mandi menyiapkan dirinya. Hari yang sibuk dan lelah, dia harus bangkit!, batin Clarissa *** Baru saja selesai pemotretan yang kedua, tiba-tiba Clarissa merasakan pusing. Dia memegang bahu Jessica sembari berkata lirih, “Jess, bisa bawa aku langsung ke mobil? Sumpah aku enggak kuat.” Jessica langsung sigap membantu Clarissa masuk ke dalam mobil dibantu dengan bodyguarnya. Clarissa sepertinya tak sanggup lagi untuk bekerja, entah kenapa akhir-akhir ini tubuhnya semakin lemas, dia tidak sanggup berjalan dengan baik. Sampai di mobil, dia tiba-tiba ambruk dan memejamkan matanya. Melihat Clarissa yang lemas begitu, Jessica panik, dia lalu membawa ke dokter untuk memeriksakan keadaannya. Begitu sampai di rumah sakit, Jessica sangat terkejut mendengar ucapan dokter mengenai Clarissa, Jessica hampir setengah tak percaya mendengarnya. “Ibu Clarissa sedang hamil, tolong menjaga kandungannya dengan baik,” ucap dokter. Jessica membulatkan matanya mendengar kalimat itu. Satu hal yang Jessica pikirkan, dengan siapa Clarissa hamil? Jessica juga bingung harus mengatakan apa kepada semua pihak yang telah mengkontrak Clarissa. Publik figure, sangat sulit jika masyarakat tau Clarissa hamil diluar nikah. Jessica memijat pelipisnya pelan sembari menatap Clarissa yang masih terbaring lemas di ranjang rumah sakit. Dia mengingat-ingat kata dokter jika kandungan Clarissa lemah karena ada riwayat darah rendah. Usia kandungannya juga masih muda, masih dua minggu. Pantas saja Clarissa sering terlihat mudah lelah dan lemas. Jessica masih memikirkan bagaimana mengatakan hal ini kepada Clarissa, dia hanya takut jika Clarissa belum tau soal ini dan berani melakukan hal-hal nekat. Tangan Jessica terulur meraih tangan Clarissa dan mengoleskan minyak kayu putih di sana. Tak lama, Clarissa terbangun, dia melihat ruangan yang tak asing dan aroma obat-obatan. “Aku dimana Jes?” tanya Clarissa. Perlahan dia berusaha untuk duduk dengan tenang dan memperhatikan sekitar. “Kamu ada di rumah sakit,” ucap Jessica. “Rumah sakit? Aku memangnya kenapa?” tanya Clarissa. “Clar, aku mau bilang sesuatu tapi aku takut kamu akan shock, aku harap kamu tenang dan tidak melakukan hal yang diluar nalar,” ucap Jessica. Clarissa menyerngitkan dahinya, jujur saja dia sangat bingung apa maksud Jessica, dia tidak mengerti dia sakit apa sampai Jessica mengatakan hal ini. “Iya, aku janji akan baik-baik saja, memangnya dokter mengatakan aku sakit apa?” tanya Clarissa. Jessica menarik napasnya, menatap Clarissa dengan ragu, dia bingung bagaimana mengawali pernyataan ini. “Kamu ... hamil,” ucap Jessica. Clarissa seketika membulatkan matanya mendengar hal itu, dia menatap Jessica dengan kebingungan, sungguh Clarissa tidak tahu harus mengatakan apa, ini juga kesalahannya ketika dia melakukan hubungan diluar pernikahan dengan Rio. Clarissa sangat ingat waktu itu memang dia tanpa pengaman apapun dan dalam masa subur. Stupid, satu kata itu teriang di kepala Clarissa, dia sungguh tidak mengerti harus bagaimana. Clarissa lalu menatap murung, wajahnya sendu, bibirnya membisu. Antara malu dan bingung, dia tidak tau harus menjawab Jessica apa. Melihat raut wajah Clarissa, Jessica bisa menangkap jika memang kehamilan ini bukan hal yang diinginkan. Jessica lalu menarik tangan Clarissa dengan lembut dan mengusapnya dengan perlahan. “Clar, kita bisa pikirkan baik-baik jalan keluarnya,” ucap Jessica. Clarissa mengangguk kecil, matanya masih kosong dan memikirkan bagaimana membesarkan anak ini sendirian. Clarissa masih bingung dan tak tau harus bagaimana. Belum lagi tentang karirnya, dia harus menanggung melepas karirnya atas kehamilannya. Dia tidak tau bagaimana lagi, apalagi jika orang tuanya tau akan hal ini. Clarissa sama sekali tidak ada niatan untuk menggugurkan kandungan ini, ini memang sudah keputusannya sejak awal, dia dulu mengira akan kembali dengan Rio, bisa memilikinya, tetapi semua itu salah. Clarissa benar-benar malu dan merasa bodoh sekarang. “Jess, aku minta hal ini tolong rahasiakan dari siapapun, tolong jangan beritahu siapapun tentang kehamilan aku. Untuk semua kontrak yang belum di acc, aku minta semua dihentikan, aku akan berhenti menjadi artis,” ucap Clarissa. Keputusan Clarissa membuat Jessica tercengang, tetapi dia berusaha memahami bagaimana posisinya menjadi Clarissa. Jessica hanya bisa tersenyum menatap Clarissa, namun seketika terbesit suatu keanehan, dia mengira kakaknya—Damian yang sudah menghamili Clarissa, mengingat sikap kakaknya selalu perhatian kepada Clarissa. “Maaf Clar, tetapi apa kakakku yang membuatmu hamil?” tanya Jessica dengan memilin tangannya. Dia gugup dan takut jika menyinggung Clarissa. “Hah? Damian maksudmu? Tentu saja tidak, kami tidak memiliki hubungan seperti itu, ini bukan anak Damian.” Clarissa menjawab dengan senyuman tipis, sungguh dia sekarang bingung harus bagaimana. Clarissa lalu meminta Jessica mengantarkannya ke apartemen, seperti biasa Jessica sudah mulai hafal dengan Clarissa yang makan tidak teratur, sejak tadi dia sudah membelikan makanan untuk Clarissa, apalagi dalam perut Clarissa ada calon bayi. Jessica tak langsung pulang, dia membantu Clarissa menyiapkan makannnya. “Ini obat untukmu Clar, jangan lupa diminum.” “Thanks Jess, kamu boleh pulang sekarang, aku baik-baik saja kok. Oh ya mulai besok aku tidak bekerja lagi, jadi mungkin aku akan pulang ke Surabaya, ke rumah nenek aku. Aku pikir hanya nenek aku yang bisa mengerti aku Jess,” ucap Clarissa. “Jadi kamu akan pindah ke Surabaya? Baiklah kalau begitu aku akan mengantarmu ke bandara besok.” Clarissa tersenyum dan mengangguk, setidaknya dia senang karena Jessica benar-benar memahami situasinya saat ini, Clarissa menatap jam dinding, pukul delapan malam, dia lalu menyuruh Jessica untuk pulang. “Pulanglah Jess, dan jangan katakan ini kepada siapapun termasuk kakakmu, katakan saja kepada semua orang aku berhenti menjadi selebriti dan ingin berdagang di Surabaya.” Jessica mengagguk menatap manik mata Clarissa, dia bisa melihat raut wajah Clarissa yang kusut dan penuh kekhawatiran, dia juga takut jika Clarissa nekat. “Kalau membutuhkan bantuanku, jangan sungkan-sungkan ya Clar, besok pagi aku akan datang. Tenang Clar, aku ada di sini untukmu.” Meski baru mengenal, Jessica rasanya menjadi akrab dan dekat dengan Clarissa. “Iya, terima kasih.” Jessica berpamitan pergi sembari menatap Clarissa penuh iba, gadis itu terbaring dengan menutup selimutnya sampai dagu. Meski Jessica telah keluar kamar Clarissa, dia bisa melihat lelehan air mata Clarissa yang masih menetes. Melihat hal itu, Jessica ikut sakit hati. Clarissa malam ini sibuk dengan pikirannya, dia sibuk memikirkan bagaimana dia bisa mengatasi hal ini dalam waktu panjang. Clarissa tertekan, takut dan bingung. Semua campur aduk di kepalanya, dia tidak tau harus bagaimana saat ini. Neneknya—Dewi Larasati memiliki butik batik di Surabaya, tetapi neneknya memilih tinggal di desa agar sejuk dan menikmati hari tua. Mual, pusing, bimbang dan bingung, Clarissa mencoba memejamkan matanya meski sulit. Dia saat ini tidak tau kemana tempat untuk berlabuhnya. Clar, kamu harus bisa menghadapi semua ini, bati Clarissa. Dia lalu mencoba memejamkan matanya mencoba untuk tidur malam ini, dia mengingat bayi dalam kandungannya, setidaknya dia harus istirahat untuk saat ini. Rasanya Clarissa ingin mengatakan hal ini semua kepada Rio, dia ingin meminta pendapat Rio tentang hal ini, tetapi Clarissa ingat jika dia sudah berjanji dengan Raventha untuk tidak lagi bertemu kepada Rio. Semua ini, untuk sekarang dan kedepannya, Clarissa akan mengurus anak ini sendirian. Pagi harinya Hendak pergi ke rumah neneknya, Clarissa menatap apartemen miliknya sekali lagi, dia melihat sekeliling dan mencoba melupakan segala kenangan dengan dia dan Raven. Persahabatan mereka hancur, hubungan mereka merenggang dan canggung. Mulai saat ini Clarissa tidak akan pernah hadir kembali di kehidupan Raventha. Satu tetes air mata jatuh ke pipi Clarissa, dia mencoba tetap bersyukur dan menikmati apapun yang terjadi. Walau sakit dan sulit menghadapi semua ini, Clarissa yakin dia akan bisa bertahan untuk bayi dalam kandungannya. “Clar, apa kamu mau berangkat sekarang?” tanya Jessica yang sudah siap di depan Clarissa menjemputnya. “Oh iya, aku sudah packing semua baju aku, buat barang-barang lainnya, biar saja di sini. Thanks ya Jess sudah mau antar aku ke bandara. Kakak kamu enggak tanya apa-apa soal aku kan?” Jessica menggulum bibirnya, tangannya masuk ke dalam saku celana jeansnya. “Mmm ... gimana ya, kakak jelas tau sih kalau kamu mau ke Surabaya, tapi kayanya dia sibuk sama project barunya, dia cuma mau titip salam aja katanya, aku juga baru ceritanya pagi ini jadi ndadak banget.” Clarissa menelan ludahnya, entah kenapa dia gugup kalau Damian tau soal masalahnya, antara malu dan bingung harus mengatakan apa. “Well, okay. Thanks Jess. Yuk kita berangkat. By the way, sorry ya Jess kalau misalnya kamu cuma kerja sama aku dua hari, aku bisa gaji kam—..” “Udah, enggak usah Clarissa, lagipula aku cuma bekerja selama dua hari, enggak papa kalau kamu enggak bayar aku dulu,” ucap Jessica. Clarissa tersenyum mengangguk mendengarnya, dia bersyukur Jessica memahami keadaannya sekarang. Setelah berbincang dan sarapan bersama sebentar, Jessica langsung mengantar Clarissa ke bandara. Baru saja Clarissa sampai di bandara, dia terkejut Damian tepat ada di depannya. “Clar?” panggil Damian. “Loh? Kamu ada di sini?” tanya Clarissa kikuk, dia lalu melirik ke arah Jessica dan menaikkan alisnya, Jessica menjawabnya dengan gelengan kecil, Jess juga tidak tau kenapa Damian ada di sini. “Yap, kamu katanya mau ke Surabaya? Why? Kenapa tiba-tiba? Ada masalah?” tanya Damian. “Iya bisa dibilang begitu, lebih tepatnya aku ingin tinggal di rumah nenek aku, menemani hari tua nenek,” ucap Clarissa “Benarkan? Bukannya setiap anak memiliki masalah baru pulang ke rumah orang tua?” tanya Damian. Clarissa menghela napasnya, Damian tidak bisa dia bohongi, dia lelaki perfeksionis dan teliti. “Ya begitulah, ada hal yang tidak bisa aku katakan denganmu,” ucap Clarissa. Damian hanya mengangguk dan memeluk Clarissa, Damian tau Clarissa ada masalah yang rumit, masalah dengan Raven dan suaminya. Masalah besar yang tidak bisa Clarissa selesaikan sendiri. “Hati-hati Clar, call me if you need me,” ucap Damian. Clarissa tersenyum berterima kasih kepada Damian dan melangkah masuk ke Bandara, sesekali dia berbalik dan tersenyum sembari melambaikan tangannya. Dia sungguh bahagia saat ini karena memiliki teman sebaik Damian dan adiknya—Jessica. *** Baru saja Clarissa duduk di dalam pesawat, entah takdir apa yang sudah mengikatnya, dia melihat Rio duduk tepat di sampingnya. “Rio?” “Clarissa?” Keduanya sama-sama terkejut saling melihat, Clarissa menatap dengan serius, dia tidak menyangka Rio tepat ada di sampingnya. Clarissa lalu menunduk, tak berani menatap wajah Rio. “Hey, we need to talk sayang,” ucap Rio, dia meraih dagu Clarissa untuk menatap wajah Clarissa, namun Clarissa hanya menunduk, matanya tak mau membalas tatapan Rio. “Clar?” panggil Rio lagi. Clarissa masih bungkam, sungguh dia tidak nyaman dengan keadaan sekarang, dia rasanya gelisah ada di dekat Rio, rasanya semua semakin hancur, lidahnya kelu. Dia ingin mengatakan bahwa dia sedang menganduk anak Rio, tetapi bagaimana dengan Raventha? Dia sendiri harus memikirkan tentang sahabatnya. “Iya? Apa yang ingin kau bicarakan? Aku sedikit lelah dan ingin tidur,” ucap Clarissa. Rio menatap Clarissa dengan iba, dia melihat kantung mata yang jelas di mata Clarissa. Dia lalu diam, membiarkan Clarissa tidur sejenak. Rio mengusap kepala Clarissa dan membiarkan Clarissa bersandar padanya. Jujur Clarissa sangat nyaman dan bahagia saat ini, dia ingin mengatakan bahwa dia sangat mencintai Rio, namun lidahnya kelu. Satu jam saja, selama penerbangan ini biar Clarissa sedikit bahagia dengan Rio. "Kamu syuting di Surabaya?" tanya Rio "Enggak, aku sudah berhenti. Aku mau mengurus butik nenek," ucap Clarissa berbohong. Clarissa lalu melepaskan genggaman tangan Rio dan menatapnya dengan lurus, sungguh ada Raventha yang harus dia hargai. "Rio, aku mohon sama kamu untuk berhenti menemui aku, karena aku sudah seharusnya tidak lagi bersamamu Rio, sudah seharusnya hubungan kita benar-benar selesai, cobalah pikirkan bagaimana Raventha. Dia sahabatku sejak bertahun-tahun lamanya. Aku mohon kepadamu Rio, lupakan semua tentang kita, jika kita bertemu lagi, anggaplah aku orang asing. Cinta kita sudah tidak bisa diperjuangkan, maaf.” Clarissa lalu menatap ke arah jendela, menyandarkan kepalanya dan menutup matanya. Lelah, mencintai seseorang yang tidak dapat kamu miliki. **** Rio terus berusaha mengajak berbicara Clarissa, namun Clarissa memilih berlari dan kabur dari Rio. Dia telah sampai di Juanda, dan segera menuju butik neneknya. Clarissa belum sempat menelfon neneknya mengabari bahwa dia telah ada di Surabaya. Rio menatap sekilas Clarissa yang makin menjauh, dia menghela napasnya, Clarissa ternyata kuat berlari. Lama kelamaan punggung Clarissa menghilang dan tidak ada pada pandangan Rio. Clarissa tersenyum lega sembari napasnya tersengal karena berlari, seketika perutnya keram. Clarissa merasakan keram yang tak tertahankan, dia lalu duduk dan memegang sandaran besi pada kursi yang dia duduki. Sungguh dia sangat keram, niat ingin meminta tolong, tetapi dia melihat semua orang sedang sibuk rupanya. Sampai ada seorang pemuda duduk di samping Clarissa. Dia awalnya hanya menyerngitkan kening, lelaki itu menatap Clarissa dengan kebingungan, dia terkejut melihat Clarissa. “Mbak? ENggak papa?” tanya lelaki itu menatap Clarissa dari atas sampai bawah. Clarissa menggeleng, keringat mulai membasahi keningnya, dia benar-benar tidak sanggup saat ini. “Tolong ... tolong Mas, tolong saya,” ucap Clarissa. Lelaki itu sebenarnya harus masuk ke check in karena hendak berangkat ke Jakarta, tetapi melihat Clarissa yang kesakitan, dia menjadi tidak tega. Lelaki itu lalu menggendong Clarissa dan membawanya masuk ke dalam taksi dan segera membawanya ke rumah sakit. Clarissa cukup terkejut ketika lelaki itu menggendongnya, tetapi dia bersyukur dalam hatinya ada yang mau menolongnya. Clarissa lalu menatap ke lelaki itu dan berterima kasih. “Seharusnya saya check in karena ada penerbangan ke Jakarta, tapi enggak papa, nyawa seseorang lebih penting,” ucapnya. Pria itu kembali menatapa perut Clarissa. “Pak! Pak bisa lebih cepat?” ucapnya kepada supir taksi. Lima belas menit setelah itu mereka sampai di rumah sakit, pria itu tanpa basa basi kembali menggendong Clarissa dan membawanya ke IGD. Sebenarnya dia memikirkan dua hal, antara Clarissa hamil atau menstruasi, dia melihat bercak darah tepat di celana Clarissa. Dokter segera menangani Clarissa, beruntungnya Clarissa dengan kandungannya baik-baik saja. “Ibu Clarissa, ibu sedang hamil, jadi saya minta ibu sangat berhati-hati, kandungan ibu masih muda, jadi saya sarankan untuk tidak melakukan aktivitas berat,” ucap dokter laki-laki itu. “Bapak suaminya kan? Saya minta istrinya dijaga dengan baik ya Pak,” ucap dokter kepada Pria yang menolong Clarissa tadi. Clarissa hanya bisa diam menunduk menatap perutnya, mungkin jika aku keguguran, ini lebih baik. Masih sempat Clarissa berpikir seperti itu karena dia sebenarnya berat menjalani ini sendirian. Jujur dia tidak sanggup harus membesarkan anak ini sendirian. Clarissa lalu menatap pria yang menolongnya. “Iya dok, saya akan menjaga istri saya dengan baik.” Clarissa membulatkan matanya, dia sungguh terkejut dengan ucapan pria itu. Setelah meyakinkan bahwa Clarissa sudah baik-baik saja, Clarissa menyuruh pria itu pulang, karena Clarissa akan ke butik neneknya. Lelaki itu menolak, dia meminta membantu Clarissa dan mengantar ke rumah neneknya. “Nama kamu Clarissa?” tanya pria itu. Clarissa mengangguk, dia memperhatikan setiap inchi wajah pria di hadapannya, wajahnya terlihat tampan, bersih, rahangnya terlihat tegas, hidungnya mancung, alisnya bak burung camar dan mata coklatnya begitu menenangkan. Clarissa sangat bersyukur bisa bertemu dengan orang sebaik ini. “Iya, nama aku Clarissa, kalau anda?” “Saya Dewangga.” “Terima kasih sudah membantu saya.” Clarissa tersenyum lalu pamit keluar dari taksi, namun Dewangga menahannya. “Maaf jika saya lancang, suami anda kenapa tidak menemani anda?” tanya Dewangga. Clarissa tidak menjawab, dia lalu menunduk berterima kasih dan keluar. Di depan butik neneknya, Clarissa menatap ke dalam, menarik napasnya, mencoba untuk berpikir jernih, antara malu dan takut jika neneknya akan marah mengetahui ini semua. Pria itu sebenarnya belum pergi, dia memperhatikan Clarissa yang berdiri di depan butik dan nampak ragu. Entah kenapa Dewangga merasa iba dengan Clarissa, dari gelagatnya, Dewangga tau jika Clarissa mungkin saja hamil diluar pernikahan. Sangat jelas terlihat di matanya. Clarissa nampak sendu dan kebingungan. Dewa tidak langsung pulang, dia masih berdiri di depan butik itu, rasanya ia ingin mengikuti perginya gadis itu karena penasaran, Dewa juga tau Clarissa seorang model. Ya, jujur saja dia suka melihat Clarissa di majalah fashion. Clarissa masih ragu melangkahkan kakinya, antara takut dan ragu. Sungguh dia tidak bisa mengatakan apapun, bibirnya mengatup rapat. Beberapa orang yang melewatinya menatapnya dengan tatapan bingung juga. Clarissa pundung, membungkuk menunduk dan seperti ketakutan. Detik selanjutnya dia memberanikan diri untuk melangkah masuk ke butik neneknya. “Permisi, apa saya bisa bertemu dengan Nyonya Larasati? Saya cucunya Clarissa,” ucap Clarissa. Sang penjaga toko hampir tak percaya bisa melihat Clarissa di sini, artis terkenal sedang ada di depannya. “Mbak Clarissa?” ucap pemilik toko itu. Clarissa hanya tersenyum tipis, dia tidak seharusnya dikagumi, dia telah melakukan banyak kesalahan, bati Clarissa menyalahkan dirinya sendiri. “Iya saya Clarissa, nenek saya ada?” tanya Clarissa lagi. “Oh iya ada Mbak, eyang putri ada di lantai dua,” ucap penjaga toko itu. Ada rasa sedikit lega di hati Clarissa mendengar neneknya ada di sini. Dia tidak perlu repot-repot ke rumah neneknya yang ada di desa. Clarissa lalu berterima kasih kepada penjaga butik neneknya lalu naik ke atas. Neneknya sedang sibuk memilah-milah baju batik yang baru saja datang dari tim desainer. Clarissa tersenyum manis melihat neneknya yang begitu anggun dan masih cantik. Kalau saja neneknya tau akan hal ini, Clarissa pasti akan dimarahi besar. Sejujurnya dia takut jika neneknya marah atau bahkan mengusirnya, tetapi setidaknya Clarissa sudah jujur. Kejujuran membuat seseorang lebih nyaman dalam hidup bukan? Clarissa perlahan mendekat ke neneknya dan memeluk neneknya dari belakang. Sungguh dia merindukan nenek kesayangannya. Sudah lama rasanya Clarissa tidak bertemu neneknya, terakhir kali saat dia baru lulus kuliah. “Nenek,” panggil Clarissa. “Yaampun Icha! Kenapa kamu enggak bilang kalau mau ke sini?” ucap neneknya membalas pelukannya. “Iya Nek, aku kangen sama nenek.” Mereka berdua saling berpelukan dan berbincang bersama sembari ditemani teh hangat dan sekotak biskuit. Clarissa sangat rindu suasana ini. “Bagaimana sayang dengan karir kamu? Apa ini sedang libur? Makanya bisa mengunjungi nenek?” tanya Neneknya dengan semnyuman manis. Dia sangat bahagia melihat Clarissa ada di sini. Neneknya senang cucunya ada di sampingnya. “Iya Nek, kalau soal karir ... Icha keluar, Icha enggak mau lagi jadi artis karena satu alasan Nek,” ucap Clarissa dengan tatapan sendu. Neneknya itu memeluk Clarissa kembali, pasti ada masalah yang membuat cucunya seperti ini. Clarissa lalu menatap neneknya dengan ragu, dia bingung harus memulai bagaimana. “Nek, Clarissa mau jujur tapi Clarissa mohon sama nenek untuk enggak marah sama Icha, Icha takut nenek marah. Nenek sedang baik-baik saja kan? Tidak sedang sakit?” tanya Clarissa khawatir. “Iya Icha, nenek janji akan baik-baik saja, memangnya ada apa Nak?” tanya neneknya. Icha menarik napasnya panjang lalu menatap ke ke neneknya, jujur berat mengatakan semua ini, tetapi dia harus bisa menceritakan semua ini ke neneknya. “Nek sebenarnya aku ... hamil,” ucap Clarissa dengan tatapan sendu. Neneknya membulatkan matanya hampir tidak percaya dengan ucapan Clarissa. Sungguh ini bukan hal yang baik. Clarissa sama sekali tidak bisa mengatakan ini sejujurnya kepada neneknya, dia sendiri takut untuk mengatakan yang sebenarnya, namun Clarissa tidak memiliki pilihan lain. Clarissa tidak lagi memiliki tempat untuk berbincang selain neneknya. “Apa? Hamil? Icha jangan kaya gini kalau bercanda sama nenek,” ucap neneknya sembari tertawa. Clarissa lalu menggeleng, dia merogoh tasnya dan memberikan foto hasil USGnya kepada neneknya. “Icha hamil betulan nek,” ucap Icha. Tangan nenek gemetar melihat foto USG itu, dia menatap ada foto bulatan kecil di rahim Clarissa. Calon bayinya. “Clar, nenek tidak tau bagaimana pergaulanmu di luar sana, nenek sungguh tidak menyangka jika kamu tega melakukan hal ini,” ucap neneknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD