Bab 10 - 14

4593 Words
BAB 10 Terkadang, kamu harus memilih jalan yang lebih sulit untuk membahagiakan orang tuamu. -Rio- Damian lalu kembali ke kamar Raventha setelah selesai berbincang dengan Freya, dia melihat Raventha yang masih terbaring lemah, ada rasa kasihan dengan Raven yang nampak begitu kelelahan. Damian mengecilkan suhu AC dan mengusap telapak tangan Raven yang dingin dengan minyak angin agar hangat. Tak lama, Raven mulai sadar, hal pertama yang dia rasakan adalah aroma obat-obatan yang memenuhi indra penciumannya. Raven menatap Damian, dia menyerngitkan dahinya, jelas dia tau sedang ada di rumah sakit saat ini. Tetapi bagaimana bisa? Ingatan beberapa menit yang lalu membuat Raven menyadari dia baru saja sadar dari pingsannya. Raven memijat pelipisnya pelan, dia merasa masih pusing. “Rav? Masih pusing? Mau makan dulu?” tanya Damian. Raventha menggeleng, dia masih lemas sekaligus shock melihat Rio yang dengan beraninya mencium Clarissa di parkiran apartemen. Raventha tidak bisa tinggal diam dengan hal ini, dia tidak bisa hanya pasrah begitu saja. Dia tidak bisa diam dan melihat keduanya bermesraan terus-terusan di depan umum. “Damian, boleh pinjam ponselmu?” Damian menyerahkan ponselnya, lalu Raven segera mengetuk layar untuk menelpon Rio. Sekali ini saja dia mau Rio hadir menemuinya di rumah sakit, istri sahnya sedang sakit, apa Rio masih mau mengabaikan Raven? Detik demi detik Raven menanti, tidak ada jawaban atas panggilan yang dia tunggu. Rio tidak menjawab. Sungguh Rio lelaki paling tega di dunia ini, baru saja sah kemarin, tetapi sikapnya sudah seperti ini, padahal Raven berharap Rio bisa berubah walau sebentar saja. Raven juga sudah mengirimkan pesan untuk Rio, namun tidak dibalas juga. “Dam, kata dokter aku bagaimana?” tanya Raventha. “Kata dokter, kamu baik-baik saja. Tidak ada yang parah, hanya kelelahan saja. Setelah merasa baikan, kamu boleh pulang. Dokter menyuruh makan dan minum obat, jika sudah tidak ada keluhan lainnya kamu boleh pulang.” Damian menjelaskan sembari membuka kotak makan untuk Raven lalu memberikan kepada Raven. Dalam hati Raven terbesit jika aja Damian yang menjadi suaminya, dia mungkin akan sangat bahagia memiliki suami yang pengertian dan perhatian kepadanya. Apalagi Raven sangat senang jika dipedulikan seperti ini. “Dam, bagaimana menurutmu jika pasanganmu cuek?” tanya Raven. Damian menaikkan alisnya bingung, namun sedetik kemudian dia memperhatikan wajah Raven, apakah suaminya cuek kepadanya. “Mungkin aku akan bertanya kenapa dia cuek, apa dia bosan atau tidak suka denganku.” “Oh begitu.” Jawaban Raven yang seperti itu membuat Damian semakin berpikir ada apa sebenarnya dengan pernikahan Raven, kenapa gadis itu nampak murung dan sepertinya ada masalah. “Ada apa Rav? Apa suamimu melakukan hal yang kamu benci?” tanya Damian. Raventha menggeleng, dia tidak tau pasti apa yang terjadi dengan pernikahannya. Dia tidak tau kenapa Rio tidak mau jujur jika mencintai Clarissa. “Entahlah Dam, ada hal yang tidak bisa aku ceritakan kepadamu.” Damian mengatupkan bibirnya dan mengangguk, dia mengerti jika masalah rumah tangga adalah privasi dan Raven pintar menyembunyikannya. Tak lama ada suara ketukan dari pintu luar. Rio datang. Raventha tidak menyangka jika Rio benar-benar datang ke rumah sakit untuk menjenguknya. “Dam, apa boleh tinggalkan kita berdua dulu?” pinta Raven kepada Damian. Tanpa perlu diminta, Damian akhirnya bangkit lalu membiarkan keduanya saling berbicara empat mata. Sebenarnya Damian juga penasaran dengan masalah Raven dan Rio, namun dia akhirnya mengalah, menjaga privasi Raventha. Damian berjalan keluar dan meninggalkan keduanya. Rio dan Raventha saling bertatapan, mata mereka saling bertemu, ada rasa sedikit bahagia di hati Raven saat suaminya datang menjenguknya, dia tersenyum lega menatap Rio. “Akhirnya kamu datang,” ucap Raven. “Sakit apa?” tanya Rio langsung tanpa basa basi. Dia masih berdiri, dengan kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku, matanya menatap Raven lurus. “Aku hanya kelelahan.” Rio menghela napasnya dan mengambil kursi lalu duduk di samping Raven, menyuruh Raven menghabiskan makanannya dulu. “Habiskan makananmu lalu kita bicara lagi.” Raventha menurut dengan Rio, dia makan dalam diam, sedangkan Rio entah sibuk dengan ponselnya mengisi kekosongan. Setelah selesai dengan makanannya Raven meletakkan piring dan sendoknya ke atas nakas. “Rio,” panggil Raven pelan. Raven bingung memulai pembicaraan darimana, sungguh dia bingung. “Hm?” jawab Rio singkat. “Aku ingin bertanya, apa ada wanita lain yang kamu cintai?” tanya Raven dengan hati-hati. “Ada.” Rio langsung menjawabnya dengan cepat tanpa memikirkan perasaan Raventha, dia tidak sedikitpun memikirkan perasaan Raventha. Rio malah terang-terangan kepada Raven. “Boleh aku tau siapa?” tanya Raven. “Dia model terkenal, mungkin kamu tidak mengenalnya.” Rio menjawab seolah merendahkan Raven. “Clarissa Tiffanny Inggrid, iya kan?” jawab Raven dengan tatapan tajam. Dia tidak bisa lagi menyembunyikan perasaannya antara marah, kesal, cemburu menguasainya. Rio cukup terkejut dengan ucapan Raventha, dia sungguh tidak menyangka jika Raventha mengetahuinya, Rio mengatupkan bibirnya. “Aku tau Rio, kamu kira aku tidak tau hubunganmu dengan Clarissa? Aku manajer Clarissa. Aku juga sahabat Clarissa, apa kamu enggak pernah memikirkan perasaanku sedikit saja? Hargai aku, aku istrimu walaupun kamu tidak mencintaiku, tapi kita sah secara hukum dan agama. Aku tau kamu sangat mencintai Clarissa, kalau tau begitu, kenapa enggak sejak awal kamu menolak perjodohan ini dan kamu menikah dengan Clarissa? Kenapa kamu malah memperlakukan aku seperti sampah? Nama aku jelas tertera di buku nikah di samping nama kamu Rio!” Raven mengucapkan penuh dengan emosi menguasainya, tak kuasa dia menahan air mata yang jatuh, satu persatu buliran air mata itu membasahi pipi Raven. “Aku tidak bisa menolak perjodohan Rav! Kamu tau sendiri kan orang tuaku seperti apa? Papa aku punya penyakit jantung! Aku sama sekali enggak bisa Rav menolak perjodohan ini, kalau aku menolak aku takut papa akan sakit,” ucap Rio. Raventha hanya bisa menunduk, kedua tangannya mengusap air matanya yang jatuh. “Seenggaknya kamu bisa bilang sama aku Rio, biar orang tua aku mencegah pernikahan ini terjadi. Apa kamu tau? Aku selalu memimpikan pernikahan sekali seumur hidup. Semua sudah terlanjur, lalu kamu meminta dua tahun pernikahan, sungguh aku enggak bisa Rio, dua tahun aku harus menahan perasaan melihat kamu berciuman dengan sahabat aku sendiri. Kamu kira aku sanggup? Aku punya dua pilihan buat kamu sekarang. Pilih aku atau Clarissa, kalau kamu memilih Clarissa, kalau kamu memilih Clarissa, aku enggak bisa menunggu dua tahun, sekarang juga aku meminta orang tuaku untuk membawaku pulang dan mengatakan semuanya. Aku tau Rio, aku tidak secantik Clarissa, tapi aku akan berusaha untuk menjadi istri yang baik bagimu. Aku akan menerima segala kekuranganmu. Silahkan kamu memilih. Bukan hanya kamu yang bisa menentukan jalan hubungan ini, aku juga berhak untuk memberikan pilihan.” Raven mengucapkan dengan suara bergetar, dia bersusah payah mengucapkan sederet kalimat itu. Rio menarik napasnya, menghembuskan dengan kasar. “Entahlah Rav, urusan perasaan aku tidak bisa memaksakan diri dan membohongi diriku. Aku yakin, sekeras apapun usahamu, yang aku cintai tetaplah Clarissa.” Raven tersenyum miring mendengar ucapan Rio. “Baiklah kalau begitu, aku anggap pernikahan ini selesai Rio. Aku akan pulang, jalani hidup kita masing-masing.” Raven sengaja mengatakan hal ini kepada Rio sekarang juga, dia tidak mau menyembunyikan terlalu lama. Sedangkan Rio masih gundah, entah kenapa hatinya resah saat dia nekat memilih Clarissa. Rio sosok penurut, dia anak tunggal yang pasti menuruti keinginan orang tuanya. Rio tidak bisa melihat orang tuanya kecewa dengannya. Melihat Raven yang mulai berkemas setelah meminum obat, membuat Rio menghentikan Raven. “Aku belum mengatakan memilih Clarissa. Aku memilihmu Raventha.” Raventha cukup terkejut dengan ucapan Rio, dia tidak menyangka Rio akan mengucapkan hal itu. “Benarkah? Kenapa tiba-tiba kamu memilih aku?” “Karena orang tuaku, aku tidak mau membuat mereka kecewa. Baiklah aku akan memilihmu.” Raven yang tadinya senang, tiba-tiba alisnya menurun, pandangannya kembali sedih, ternyata Rio tidak memilihnya karena menghargainya, tetapi karena orang tuanya. Raven juga memahami, kalau saja mereka berpisah sekarang, pasti orang tua Rio akan shock dan bisa juga saham perusahaan Rio akan merosot jatuh. BAB 12 Untuk memulai mencintai, kamu harus terbiasa dengannya meski awalnya menyakitkan. -Raventha- Rio meminta Raventha memberinya waktu untuk menjelaskan semua ini kepada Clarissa. Raven memberi Rio waktu, tetapi tidak banyak. Setelah Rio mengatakan putus kepada Clarissa, Raven mau mengundurkan diri dan menjauh dengan Clarissa, dia tidak bisa bersikap biasa dan baik-baik saja saat melihat Clarissa. Raven kini di kamar hotel, sudah kembali dari rumah sakit, dia memberikan Rio waktu dengan Clarissa sampai hari ini saja. Raven menunggu di kamar. Sedangkan Rio kembali ke ruang kamar Clarissa. Rio datang dan mengetuk pintu kamar Clarissa. “Kamu sudah kangen kepadaku Rio? Padahal baru saja berpisah beberapa jam yang lalu,” ucap Clarissa. Dia mengalungkan tangannya kepada Rio dan menarik Rio masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya. “Clar, aku mau bicara,” ucap Rio dengan tatapan serius. Clarissa mengabaikan ucapan Rio, dia malah mendekat dan mengusap pipi Rio, mengecupnya perlahan, ciuman Clarissa turun ke leher Rio, kembali naik ke telinga Rio, sesekali dia menghembuskan napasnya memberikan kehangatan dan sensasi yang berbeda untuk Rio. Awalnya Rio berusaha menolak Clarissa, menjauhkan tangan Clarissa, namun Clarissa malah semakin liar dan agresif, dia menarik Rio ke atas ranjang dan kembali menggoda Rio. Bak kucing diberi ikan, Rio tak lagi bisa menolak Clarissa, dia tak kuasa dan ikut memberi sentuhan kepada Clarissa, tangannya ikut menggerayangi tubuh Clarissa dan mereka kembali melakukan hubungan terlarang itu. Entah kenapa Clarissa sangat menyukai bagaimana Rio menyentuhnya setiap inchi, dia seperti terbang ke awan dan ingin kembali memiliki Rio seutuhnya. “Clar,” ucap Rio di sela-sela sentuhannya. “Iya sayang,” ucap Clarissa sembari menahan setiap kenikmatan yang Rio berikan. Clarissa dan Rio saling mencintai, mereka selalu menikmati setiap momen dan Clarissa ingin Rio selalu ada untuknya, tanpa mereka sadari, semua ini adalah suatu kesalahan, mereka melakukan hubungan diluar pernikahan dan terlarang. Usai mencapi puncak kenikmatan, Rio menarik Clarissa dan memeluknya erat. Dia mengecup dahi Clarissa, satu lelehan air mata turun dari mata Rio. “Kau tau Clar? Aku sungguh mencintaimu.” “Aku juga Rio.” Rasanya tidak tega bagi Rio mengatakan kepada Clarissa jika dia harus menjauhinya, Rio tidak sanggup jika Clarissa akan menjauhi dirinya. “Clar, aku memohon kepadamu, tolong Clar jangan marah. Aku ingin mengatakan sesuatu hal yang penting.” Clarissa menatap Rio dengan dalam-dalam, dia menatap Rio lekat-lekat. “Ada apa Rio?” “Maaf, mungkin ini terakhir kalinya aku harus berhenti bertemu denganmu, Raventha sudah tau semuanya.” Clarissa terkejut dengan ucapan Rio saat Raven mengetahui hubungan gelap mereka. Belum sampai dua hari mereka menyembunyikan hubungan ini, tetapi Raventha sudah mengetahui semuanya. Clarissa cepat-cepat mengenakan bajunya. “Di kamar nomor berapa Raventha? Aku harus menemuinya sekarang! Astaga dia sahabatku Rio, aku harus menjelaskan semua ini dengannya.” Rio bingung harus bagaimana, dia membiarkan Clarissa untuk ke kamar Raventha. “Kamar dia nomor 621.” Tanpa berpamitan, Clarissa segera naik ke atas ke kamar Raventha. Sungguh perasaannya kacau dan merasa bersalah dengan sahabatnya sendiri. Mendengar suara ketukan pintu itu Raventha segera keluar dan menatap Clarissa. “Clarissa?” sapa Raventha. Wajah keduanya sama-sama shock. “Rav, apa kamu marah denganku? Aku sudah mengenal Rio sebelum kalian menikah.” Raventha hanya menunduk kesal, dia tak tau harus mengatakan apa. Dia istri sah Rio dan Clarissa tau jika Raven juga istri Rio. “Entahlah.” Raventha menjawab dengan jawaban singkat, dia tidak mau mengatakan hal lainnya, namun bagaimanapun juga Clarissa sahabatnya. “Apa aku salah kalau aku mencintai Rio?” ucap Clarissa dengan lantang. “Aku mengenalnya lebih dulu Rav!” tambah Clarissa. “Lalu? Kalau aku tau kalian saling menyukai, aku tidak mungkin mau menikah dengan Rio. Aku sudah memberi pilihan kepada Rio, melepasmu atau melepasku. Bukan salahku Clar, kau harusnya berkaca pada dirimu sendiri, kenapa kamu malah masih mengharapkan Rio saat dia telah menjadi milik orang lain.” Clarissa tersenyum miring menatap Raventha. Karena masalah ini rupanya mereka tidak bisa lagi dibilang sebagai sahabat. Raventha sangat kecewa dengan Clarissa yang tak mau mengalah dengannya. Raven kecewa, semua perilaku baiknya di masa sekolah sampai sekarang hanya dianggap Clarissa seperti hal yang tidak berguna dan tidak menguntungkan dia. Ravetha kecewa Clarissa bersikap seperti itu. “Baiklah. Jika Rio memilihmu, aku pergi.” Clarissa lalu berbalik dan pergi, dia semakin kesal ketika hanya menatap Rio yang berdiri dan tidak mau mencegahnya pergi. Seharusnya dia tidak melakukan hubungan terlarang dengan Rio yang kini seperti candu baginya. Clarissa harus bisa menjauhi Rio selagi bisa, dia tak mau lagi berurusan dengan mereka berdua. Bagaimanapun juga Raven akan tetap menang karena dia istri sah Rio. Sedangkan Clarissa malah akan seperti duri dalam pernikahan mereka. Clarissa mengemasi barang-barangnya lalu ke kamar Damian, dia mengetuk pintu kamar Damian dan mengajak Damian pulang. “Clar sudah bertemu dengan Raven? Dia juga mengin--,” “Sudah, ayo pulang.” Clarissa hanya mengatakan hal itu kepada Damian, memotong kalimat Damian dan mengajaknya pulang. Dia sungguh kesal dan menyimpan api amarah kepada Raventha. Dari sisi manapun Clarissa akan selalu salah karena merebut milik orang lain. Di perjalanan Clarissa berusaha keras tidak menjatuhkan air matanya, sejak awal seharusnya dia tidak mau menerima tawaran Rio, seharusnya Clarissa tidak menyetujui hubungan gelap ini. Clarissa merasa bodoh dan kecewa dengan dirinya sendiri. Dia juga merasa bersalah mengkhianati sahabatnya. Clarissa melamun, menatap jalanan dari balik jendela kaca mobil. “Tidur aja Clar kalau capek,” ucap Damian. “Iya.” Clarissa berusaha memejamkan matanya melupakan semua hal ini, melupakan Rio dan kesalahannya. Damian menyelimuti Clarissa dengan jaketnya, dia tidak tega jika melihat Clarissa kedinginan. Rupanya Clarissa terbangun saat Damian menyelimutinya. “Thanks Dam.” “Ada masalah Clar?” tanya Damian. Clarissa hanya menggeleng pelan, dia tidak tau harus menceritakan darimana, tetapi masalah ini sangat berat bagi Clarissa, dia sungguh mencintai Rio. Mengingat semua hal yang pernah Clarissa lakukan dengan Rio, membuat gadis itu kembali meneteskan air matanya. Clarissa mengusap air matanya dengan cepat, tidak mau sampai Damian melihatnya menangis. “Clar, cerita aja kalau berat,” ucap Damian sambil masih menyetir mobil. Clarissa hanya tersenyum. Sayangnya tangis Clarissa semakin deras, Damian akhirnya menepikan mobilnya, dia menarik Clarissa dan memeluknya, tangannya menepuk-nepuk bahu Clarissa dan mencium puncak keningnya. “Clar, apapun masalahnya, aku harap kamu tegar dan bisa menghadapinya. Aku yakin kamu pasti bisa melewati masalahmu.” Damian tidak tau apa masalah Clarissa, tetapi dia hanya bisa menenangkan Clarissa. Meski hati Damian juga sedang tidak baik-baik saja, Damian berusaha untuk membuat Clarissa tetap tenang. BAB 13 Sesampainya di Jakarta, Clarissa banyak melamun di apartemennya, pikirannya kosong dan lemas, dia tidak sanggup lagi jika harus keluar rumah saat ini. Damian baru saja keluar dari apartemen Clarissa, tetapi dia menghentikan langkah kakinya, dia khawatir dengan Clarissa yang sendirian di apartemen. Damian kembali masuk ke apartemen Clarissa tanpa mengetuk, karena dia hafal dengan passwordnya, memang tidak etis, tetapi Damian khawatir terjadi sesuatu dengan Clarissa. Damian masuk dan benar dugaannya, dia melihat Clarissa memeluk dirinya sendiri di lantai ruang tamu. Damian mendekati Clarissa, menyibakkan rambutnya dan mengusap pelan pundaknya. “Sebenarnya ada masalah apa Clar sampai kamu seperti ini?” tanya Damian kepada Clarissa. Gadis itu masih membisu, dia tidak bisa mengucapkan apapun. Damian pun tidak mendesak pertanyaannya. Dia hanya memeluk Clarissa. Dia mengerti jika Clarissa kesulitan saat ini. “Clar, kamu butuh makan dan istirahat.” Clarissa mengagguk, dia memang lapar. Damian lalu menggendong Clarissa untuk duduk di sofa. Dia lalu duduk di sampingnya. Clarissa menahan tawa melihat Damian yang mengangkatnya ke sofa. “Sebenarnya ada masalah apa Clar?” tanya Damian. “Aku mencintai suami Raven,” ucap Clarissa pelan. Hampir seperti petir menyambar Damian, kini dia tak bergerak sama sekali, kikuk tak menjawab, dia sungguh terkejut dengan ucapan Clarissa. “Lebay kamu tuh,” ucap Clarissa sembari menyentuh pipi Damian dengan ujung jarinya. “Tapi serius? Kamu suka sama suaminya Raven? Aku belum ketemu si, but why? Enggak ada apa laki-laki lain di dunia ini yang lebih menawan?” “Ada, banyak. But I already sleep with him.” Damian melongo, seolah tak berkata-kata lagi menatap sahabatnya ini, dia tidak menyangka Clarissa sudah berani berbuat nekat. “Bentar, jadi kamu suka sama ... siapa itu nama suaminya?” “Rio.” Damian sungguh terkejut dengan pengakuan Clarissa, dia tidak pernah menduga jika Clarissa akan berani begini kepada Raventha. Apalagi Damian juga mengingat bagaimana Clarissa dengan Raven sahabat dekat sejak SMA. “Terus gimana? Kenapa kamu ngerebut laki orang sih Clar.” Clarissa menarik napasnya, benar dugaannya, dari sisi manapun dia yang salah, bukan Raventha. Padahal yang lebih dulu bertemu dengan Rio adalah Clarissa, seharusnya Clarissa yang menjadi milik Rio. “Aku duluan yang bertemu dengan Rio, aku tidur dengannya setelah clubbing, enggak lama, kemarin aku melihat dia menikah dengan Raventha.” “WTF! Itu artinya Rio cuma mainin kamu Clar!” bentak Damian. Sungguh Damian kesal saat ini, dia merasa Rio benar-benar laki-laki yang jahat untuk Clarissa. “Dia janji kepadaku akan menikahi aku setelah dua tahun menceraikan Raven, pernikahan mereka hanya perjodohan yang tidak diinginkan. Aku percaya dengan Rio, tetapi ternyata dia mengkhianati perasaanku dan Raven telah mengetahui semuanya.” Damian sangat mengerti perasaan Clarissa, dia berusaha untuk tidak mengucapkan kalimat yang salah agar Clarissa terluka, bagaimanapun juga Clarissa pasti ingin juga memiliki Rio. Namun seketika Damian melongo dan bingung karena menyadari kalimat Clarissa yang mengatakan ‘pernah tidur’ dengan Rio. “Clar, aku mau bertanya sesuatu denganmu, apa benar kamu tidur dengan Rio? Maksudku berhubungan s*x?” tanya Damian. “Aku malu mengakuinya, tapi ya memang pernah.” Damian seketika panik mendengarnya, ini bisa jadi bencana. “Kamu enggak lupa kan pakai pengaman?” tanya Damian dengan hati-hati. “Tentu saja tidak, kenapa kau bertanya Dam? Bukankah itu privasiku?” ucap Clarissa. Damian menghela napasnya kasar, bagaimana jika Clarissa hamil dan diketahui oleh publik? “Clar, plis, are you crazy?” Clarissa mengusap wajahnya kasar, ucapan Damian membuat Clarissa teringat satu hal, dia melakukan dengan Rio pada masa subur, bisa jadi dia akan hamil. Seketika Clarissa menegakkan duduknya, raut wajahnya berubah menjadi cemas, dia tidak tau harus bagaimana saat ini. “Dam, benar juga katamu, bagaimana ini!” ucap Clarissa tiba-tiba panik. Dia bingung saat ini, bagaimana dia bisa sebodoh ini, melakukan hal diluar kendalinya. “Sudahlah, sudah terlanjur, lain kali kalau mau bersenang-senang, kau harus mengerti batas, karena bagaimanapun juga, kamu itu artis Clar, satu reputasi kamu hancur, susah mencari karir. Ini Indonesia Clar, bukan Hollywood.” Clarissa hanya mengangguk sembari menggigit jemarinya, dia tidak tau harus bagaimana, dalam hati dia hanya berdoa tidak hamil anak Rio. Kasihan Raven jika mengetahui hal ini. Damian lalu mengambil makanan yang ada di depan apartemen Clarissa, pengantar makanan baru saja datang. Dia lalu menyajikannya di piring dan memberikan kepada Clarissa. “Makanlah, besok kan ada pemotretan, kamu harus makan Clar,” ucap Damian memberikan Clarissa makanan dari catering diet. Clarissa mengangguk dan mereka berdua mulai makan dengan perlahan. Hanya saling diam dan bunyi denting piring yang berbunyi. “Soal Raventha, bagaimana? Apa dia bersedia untuk tetap masih bekerja denganmu?” tanya Damian lagi. “Entahlah, soal itu biar keputusan Raventha sendiri.” “Kalau Raven mengundurkan diri, adik aku Jessica mungkin bisa membantumu. Dia memahami industri ini, dan kalau cocok, Jessica bisa menjadi manajer kamu.” “Kau punya adik? Setauku kau anak tunggal,” sahut Clarissa sembari menikmati suapan terakhir kalinya. Catering diet memang makanan yang palong cocok untuk Clarissa. “Punya, adik tiri. Bukan kandung, yah tapi kami akrab seperti saudara.” “Oh begitu, dari ayahmu?” tanya Clarissa hati-hati. “Yap, kau benar.” Clarissa mencoba menenangkan diri, setidaknya dia harus menghubungi Raven untuk meminta maaf dan menanyakan soal kejelasan kontrak kerja Raven. Setidaknya untuk saat ini Clarissa ingin tau apakah Raven dengan Rio baik-baik saja. Clarissa mengambil ponselnya, hendak menghubungi Raven, namun Damian mencegah Clarissa dan menyuruh Clarissa memberikan Raven waktu. Damian mengerti pasti Raven kesulitan dan shock sampai kemarin pingsan. Meski mereka bersahabat, tetapi tidak mungkin bisa berbagi kekasih bukan? Damian lalu pamit pulang dan berharap Clarissa baik-baik saja. Dia tidak ingin jika Clarissa terjadi sesuatu, karena bagi Damian Clarissa adalah asetnya, jika Clarissa terjadi sesuatu, Damian mungkin akan kehilangan segala proyek filmnya. Setelah melihat Clarissa tenang, Damian lalu pulang. Rumah Damian ada di Pondok Indah, termasuk rumah megah dan elit, ayahnya seorang pengusaha besar dan ibunya desainer terkenal. Banyak artis Damian yang menggunakan desainer ibunya. Damian masuk ke dalam rumah, namun nampaknya keadaan rumah sepi. Ibu Damian—Laras yang sedang menonton televisi menyambut Damian pulang dan memberikan secangkir teh untuk anaknya. “Mah, Jessica mana?” tanya Damian. Meski Jessica dengan Damian adalah saudara tiri, tetapi mereka tetap berhubungan baik, Damian selalu menganggap Jessica adiknya sendiri, di setiap kesulitan yang Jessica hadapi, Damian selalu ada untuknya, sama halnya dengan Jessica, setiap kesulitan yang Damian hadapi, Jessica selalu ada untuk membantu. “Dia lagi keluar sama cowok barunya, Alex namanya.” “Alex Anggodo? Anak Anggodo Putra?” tanya Damian. “Iya, kok kamu tau Dam?” tanya ibunya mengerjapkan mata, terkejut Damian mengetahui semua tentang Jessica. “Kemarin lusa aku gak sengaja liat hp dia,” ucap Damian. “Yah semoga aja ini yang terakhir, Mama itu pusing liat adek kamu gonta ganti cowok, kamu juga belum ada perempuan sama sekali, kalian berdua ini kapan mau nikah membangun rumah tangga? Mama udah kasih mudah kan padahal, Mama udah siapin rumah, biaya, jadi kamu tinggal cari calon. By the way, Mama lihat proyek baru kamu, artisnya cantik itu, siapa namanya ya ... mm... kalau enggak salah, Clarissa Tiffany Inggrid, kenapa kamu enggak deketin dia aja sih Dam? Udah cantik, dia juga sepadan dengan kita,” ucap ibu Damian. Mendengar semua nasihat ibunya, Damian hanya menghela napas, sungguh dia tidak tau harus menanggapi apa, semua yang ada di dalam pikiran Damian saat ini hanyalah satu, menjadi sutradara sukses dan terkenal. Damian mencoba untuk melepas semua pikiran tentang hal lain, dia hanya ingin sukses. “Ma, can we talk it later please?” pinta Damian. Laras hanya bisa tersenyum menggeleng menatap anaknya, kalau Damian sudah mengatakan hal ini, mau bagaimana lagi, Laras hanya bisa pasrah, dia tidak bisa mengatakan apa-apa lagi jika itu kemauan Damian. Usia Damian masih dua puluh lima, tetapi ibunya sangat berharap Damian bisa menikah muda. “Okay then. Kamu istirahat aja sana, kayanya capek ya dari Bandung? Raven jadi nikah sama siapa?” “Rio, cucu pewaris Agung Corporation.” Laras tak menanggapi lagi dan membiarkan Damian naik ke atas membiarkan Damian untuk sendiri. Laras jelas tau Damian sedang patah hati. Laras tau jika sejak dulu Damian menyukai Raventha, sejak SMA Damian selalu menceritakan tentang Raventha. *** BAB 14 “Kak bangun! Kakak!!” teriak Jessica dengan suara khas cemprengnya. Sudah pukul delapan pagi namun Damian masih asik memeluk guling dengan mata tertutup. “KAK!” bentak Jessica lagi. Damian mengerang pelan, mengucek matanya dengan perlahan lalu melihat Jessica samar-samar. “Kata Mama kakak nyariin aku? Kenapa?” tanya Jessica. Damian melihat Jessica masih belum terlalu jelas, masih mengantuk, dia belum sempat menjawab lalu kembali tidur. “Astaga dragon! Kak bangun woi! Jam delapan ini.” Seketika Damian terperanjat dan membuka matanya, pukul delapan sudah terlalu lambat baginya untuk melakukan morning activity, Damian biasanya bangun subuh dan melakukan olahraga di pagi hari, namun khusus hari ini tidak, dia sudah terlalu terlambat. Damian bergegas ke kamar mandi, namun Jessica mencegahnya. “Kak, bilang sama aku dulu!! Ada apa sih sebenernya?” tanya Jessica dengan gemas. Biasanya Damian langsung menelfon Jessica atau sekedar mengirim pesan singkat kepada Jessica jika ada keperluan. Jessica setelah lulus dari Desain Komunikasi Visual, dia sekarang sedang fokus untuk les MUA. Entah kenapa Jessica ingin membuka usaha MUA akhir-akhir ini. “Enggakpapa, kamu ikut kakak kerja hari ini,” ucap Damian. Jessica menghela napasnya sembari mengerucutkan bibirnya, entah kenapa kalau Jessica ikuy kakaknya syuting dia selalu merasa lelah, biasanya Damian akan menyuruh Jessica ini itu, sama seperti kru yang lain. “Ish ogah! Kenapa sih harus ikut, ntar jadi babu!” teriak Jessica kesal. “Udah ikut aja dulu.” Jessica mengentakkan kakinya kesal dan turun, Damian hanya terkekeh melihat tingkah Jessica yang kekanakan, usia mereka berbeda 5 tahun, itulaoh mengapa Damian selalu sabar dengan sifat Jessica. Beberapa menit kemudian di ruang makan Jessica telah siap dengan dress cantiknya yang rapi. Damian tersenyum ketika melihat Jessica, dia sudah hafal. Walaupun adiknya menolak tetapi pasti akan menurutinya. Damian merapikan kemejanya lalu duduk di ruang makan. “Papa mana Ma?” tanya Damian sembari mengambil roti gandum yang tersaji di ruang makan. “Udah berangkat dari tadi sayang.” Jessica hanya mengangguk lalu menggigit kecil roti gandum selai kacangnya. “Ma, aku bawa Jessica kerja sama aku hari ini,” ucap Damian. “Okay, I wish good news will become.” Damian lalu mengajak Jessica untuk masuk ke mobil dengan cepat, walau adiknya masih sibuk mengunyah roti gandumnya. Awalnya Damian langsung ke tempat syuting, tetapi dia teringat sesuatu, Clarissa tidak memiliki manager, gadis manja itu pasti kebingungan nanti saat hendak berangkat, Clarissa bisa saja naik taksi dan menghabiskan banyak uang. Damn it. Damian benci jika Clarissa hidup boros. Tanpa pikir panjang, Damian langsung memutar arah, menjemput Clarissa dulu. “Kak? Kita mau kemana sih? Muter-muter dari tadi,” ucap Jessica bingung. Matanya sibuk menatap jalanan, menerka-nerka kali ini kakaknya akan kemana. “Udah ikut aja.” Jessica ikut Damian ke apartemen Clarissa dan menjemput Clarissa, saat Damian membuka pintu apartemen tanpa mengetuk dan langsung masuk karena mengetahui kode rahasianya. “Kak? Ini apartemen siapa? Kok aku baru tau ya kalau kakak punya apartemen?” tanya Jessica lagi. Damian hanya menaik turunkan alisnya tanpa menjawab dan masuk ke dalam apartemen. Jessica heran, rahasia apalagi yang kakaknya sembunyikan kali ini. “Clarissa?” panggil Damian. Jessica langsung membekap mulutnya karena terkejut Clarissa yang dipanggil Damian, ini pasti Clarissa artis kakak! Pekik Jessica dalam hatinya. Salah satu impiannya bertemu dengan Clarissa. Dia sangat mengidolakan Clarissa. Damian masuk ke dalam kamar Clarissa dan menghela napasnya, dia tidak menyangka Clarissa masih bergelung dengan selimut. “Clarissa! Bangun Clar?” ucap Damian menyenggol kaki Clarissa dengan lembut, Clarissa hanya mengerang kesal, dia paling tidak suka dibangunkan. Dia lalu mengucek matanya dan terkejut melihat Damian di depannya. “EH astaga Damian! Kamu kenapa sih kaya asal aja masuk rumah orang, pamit dulu kek, ketuk pintunya kek, asal aja masuk!” bentak Clarissa. Damian hanya tersenyum terkekeh mendengar Clarissa yang mengerang kesal dibangunkan. Bagaimana lagi, Clarissa akhirnya bangun, walau sebenarnya dia sangat lelah. Clarissa benar-benar lelah tetapi bagaimanapun juga dia harus mencari uang. Clarissa menaikkan alisnya ketika melihat sosok perempuan di belakang Damian. “Who is she?” tanya Clarissa bingung. “Dia manajer kamu yang baru, dia Jessica, adik aku.” “Tapi Raventha kan belum mengundurkan diri Dam?” ucap Clarissa sambil menyibakkan selimut tebalnya. “Iya, tapi melihat masalahmu yang rumit dengannya, aku yakin pasti akan menjadi masalah.” Clarissa menghela napasnya lalu mengangguk. Dia bergegas menuju kamar mandi. “Kak, punya hubungan sama Clarissa?” tanya Jessica. Damian hanya tersenyum menggeleng. “Dia itu artis aku yang paling laris dan punya banyak fans, tapi dia manja, dia juga temen kakak SMA, lagi ada masalah dia sama manajernya, kamu ganti urusin dia. Teken kontrak paling enggak 6 bulan, kalau kalian ga cocok, lepasin aja kontraknya.” Damian lalu menuju dapur setelah mengucapkan semua itu, dia menatap satu persatu isi makanan yang ada di dapur Clarissa, kosong. Hanya ada oatmeal yang tersisa. Damian menghela napas, tidak mengerti mengapa Clarissa tidak pernah memikirkan soal makanannya. Tubuhnya memang kurus kering dan cocok menjadi model ataupun artis, tetapi rupanya Clarissa tidak bisa gemuk, karena nafsu makannya sangat kurang, jarang sekali Clarissa merasakan lapar. Karena hanya ada oatmeal, terpaksa Damian memasak oatmeal untuk Clarissa. Lalu menyajikannya di atas meja. Jessica hanya terperangah melihat sikap kakaknya yang begitu perhatian dengan Clarissa, Jessica menduga jika Damian jatuh hati kepada Clarissa. Jessica sengaja tidak menggoda Damian karena dia tau kakaknya terkadang pemalu dengan orang yang dia sukai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD