Bab 8

1012 Words
Clarissa terbangun dari tidur paginya yang indah, dia duduk di kasur dan tersenyum sendiri, mengingat semalam apa yang Rio lakukan kepadanya. Clarissa lalu membersihkan dirinya dan keluar kamar untuk sarapan di restoran bawah. Damian juga keluar di waktu yang sama ketika Clarissa membuka pintunya. Keduanya saling bertatapan satu sama lain. “Semalam, apa kamu bersama pria lain?” tanya Damian. Clarissa cukup terkejut dengan pertanyaan Damian, dia tidak mau sampai hubungannya dengan Rio diketahui siapapun, apalagi Clarissa seorang artis dan model, dia harus pintar menyembunyikan hubungan ini, sungguh Clarissa masih juga ingin berkarir dan tak mau karirnya hancur karena hubungannya dengan Rio. “Maksudmu? Tentu saja aku sendiri. Oh ya kau sudah sarapan Dam? Ayo kita makan, aku lapar.” Damian memperhatikan sikap Clarissa, sangat berbeda dengan kemarin yang murung, kini lebih ceria dari biasanya. “Aku mendengar suara desahan wanita semalam, rasanya seperti suaramu, tapi mungkin suara wanita lain, yasudah ayo kita sarapan.” Clarissa menelan ludahnya, hampir saja ketahuan, untungnya dia pintar berbohong, pintar menyembunyikan semuanya dari Damian. “Bagaimana? Hari ini apa kita ke rumah Raventha saja? Kita belum sempat memberikan selamat,” ucap Damian. Clarissa masih berpikir, namun sedetik kemudian dia mengangguk kecil. Mengingat pernikahan Raven dengan Rio membuat Clarissa kembali was-was dan takut jika hubungannya diketahui. Clarissa merapatkan selendangnya, dia menunduk lemah. Memikirkan nasib kedepannya, tetapi Clarissa antara bingung dengan senang. Clarissa berusaha menepis rasa bersalahnya, dia juga cinta dengan Rio, apa salahnya jika dia meginginkan Rio selamanya? Mereka menunggu lift yang terbuka, hanya menunggu beberapa menit, saat pintu besi itu terbuka, membuat Clarissa tersenyum senang sampai lesung pipinya terlihat jelas. Hanya saja karena ada Damian di samping Clarissa, dia merasa harus menutupi hubungannya dengan Rio. Clarissa mencoba menetralkan ekspresi wajahnya dan masuk ke dalam lift. Dia berdiri di samping Rio. Rio menggenggam tangan Clarissa, untungnya Damian tidak melihat itu semua. “Dam, sepertinya aku ingin mencari angin, aku ingin naik ke atas, kamu makan aja dulu.” Clarissa sengaja menghindari Damian, dia masih ingin berdua dengan Rio. “Oh, baiklah kalau begitu, aku duluan Clar, kamu hati-hati, atau mau aku temani?” tanya Damian. Clarissa menggeleng, menatap Damian dengan tatapan seolah tidak mau ditemani dengannya. Clarissa ingin hanya bersama Rio. Mata Damian beralih ke Rio, dia memperhatikan dengan seksama, Rio sepertinya tidak asing, dia bisa mengenali wajahnya. Tetapi Damian lupa dimana dia melihat Rio. Setelah lift turun dan Damian keluar, Clarissa kembali naik bersama dengan Rio. “Akhirnya kita hanya berdua,” ucap Rio tersenyum menatap Clarissa. “Iya, aku senang bersamamu Rio,” bisik Clarissa lalu mengecup pipi Rio. Clarissa menggenggam tangan Rio erat. Rio menatap Clarissa lekat-lekat menatapnya dengan sungguh-sungguh. “Mau pergi denganku? Atau hanya ke rooftop saja?” tanya Rio. Clarissa terdiam sejenak, dia menopangkan dagu di bahu Rio dengan manja, dia sangat senang dengan sikap Rio yang perhatian dan sejalan pikirannya dengan dia. “Pergi saja bagaimana?” Mereka berdua lalu menaiki mobil dan pergi berdua bersama, sungguh Clarissa sangat bahagia saat ini. Rio tersenyum senang ketika melihat senyum Clarissa yang merekah, dia juga bahagia melihat Clarissa ada di sampingnya. Hanya Clarissa yang Rio cintai. Dering notifikasi ponsel Rio membuat Clarissa menyerngitkan dahinya, sedari tadi tidak ada satupun telepon yang Rio angkat, Clarissa melirik handphone Rio, tidak ada nama kontak di sana, hanya sederet nomor yang Clarissa lihat, Clarissa terkejut ketika memperhatikan nomor itu, nomor Raventha. “Raventha?” ucap Clarissa pelan yang membuat Rio terkejut, dia tidak tau jika Clarissa mengetahui Raventha. “Kamu tau Raventha?” tanya Rio. Clarissa lalu me reject telfon dari Raventha dan mematikan handphone Rio. Entah kenapa perasaannya kesal dan cemburu padahal dia tau Raventha istri sah Rio. “Iya aku kenal, tentu saja aku kenal Raven. Dia manajer dan sahabat aku sejak SMA.” Clarissa mengucapkan dengan suara bergetar, tanpa dia sadari, air matanya menetes, Rio mengusap air mata yang mengalir di pipi Clarissa itu dan mengusap kepalanya, kini Rio tau kenapa Clarissa cemburu besar dengan Raven. “Sahabat? Jadi sudah mengenal Raven sejak dulu?” tanya Rio. Clarissa mengangguk, melihat Clarissa yang masih menangis, Rio menepikan mobilnya, menarik Clarissa dalam pelukannya, mengecup puncak kepala Clarissa. “Iya,” lirih Clarissa. “Tenang Clar, aku hanya cinta sama kamu, aku sama sekali enggak ada rasa sama Raventha, cuma kamu Clar yang ada di hati aku.” Clarissa menangis lagi mendengar ucapan Rio, sungguh dia tidak menyangka Rio berani senekat ini karena perasaan cintanya kepada Clarissa. “Iya, aku minta hubungan kita dirahasiakan saja dari semua orang, termasuk Raven.” Mereka kembali melakukan perjalanan menuju restoran, Rio dan Clarissa sama-sama menikmati liburan mereka. Sedangkan Raventha masih terdiam di kamar, lagi-lagi Rio menghilang, dalam hatinya Raven mencari-cari Rio, tetapi Raven jelas tau kemana Rio pergi, sudah pasti menemui Clarissa. Raven tersenyum kecut melihat wallpaper ponselnya, dia mengganti wallpaper pernikahannya dengan Rio, mulai detik ini dia bersumpah dalam dirinya akan membenci Rio dan bersikap dingin. Raven sangat labil, dia masih bingung harus bagaimana, Rio juga lelaki pertama yang dia miliki, sebelumnya Raven belum pernah memiliki kekasih siapapun. Raven lalu menelpon Clarissa, namun hasilnya sama, tidak diangkat lalu mati. Raven yakin Rio dan Clarissa sekarang sedang bersama. Dengan wajah kusut dan marah Raven menuju ke restoran hotel di bawah, meski amarahnya memuncak, dia juga merasakan lapar. Raven ke restoran bawah dan duduk di satu-satunya meja yang kosong tanpa melihat siapa lelaki di seberangnya, dia hanya menunduk. “Raventha?” sapa Damian. Raven mendongak dan terkejut melihat Damian, dia tidak menyangka akan bertemu dengan Damian di sini. “Hai, kamu di sini? Sedang apa?” tanya Raventha. “Sebenarnya aku mengunjungi pernikahan kamu, tapi Clarissa ... sakit dan dia pergi sebelum mengucapkan selamat atas pernikahanmu. Tapi dia masih ada di hotel ini, aku juga enggak tau dia ada masalah apa Rav, tapi dia kaya agak kepikiran sama sesuatu.” Raventha jelas tau apa yang dimaksud Damian, Clarissa hanya mengangguk tersenyum. “Maaf karena tidak mengundang, pernikahanku mendadak,” ucap Raventha. Damian berusaha menyembunyikan perasaan galau dan marahnya kepada Raven, sejujurnya diam-diam Damian menyimpan rasa dengan Raventha. “Iya, tidak apa-apa, selamat ya atas pernikahannya. Kamu sendiri? Suamimu kemana?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD