Mendengar semua itu, kini Clarissa memahami kenapa Raven menikah dengan terburu-buru, semuanya tidak direncanakan dan dilakukan dengan cinta. Clarissa yakin jika Raven juga merasakan hal yang Rio rasakan. Dia berbalik, menyerngitkan dahinya, ada rasa ingin mengatakan kepada Rio dia ingin hubungannya tetap bertahan dengan Rio, namun Clarissa ragu, dia takut juga menyakiti Raventha, cinta itu egois, ingin memiliki seutuhnya, Clarissa tidak akan bahagia ketika berbagi. Hati kecilnya masih ingin bersama dengan Rio, di sisi lain dia juga ingin menghargai Raventha sebagai sahabatnya. Rasanya Clarissa ingin sekali memiliki Rio.
“Apa tidak bisa kali ini saja kamu melihat kesungguhan aku Clar? Bisakah kamu melihat di dalam mataku jika aku sangat mencintaimu? Aku hanya ingin kamu menjadi milikku Clar, Demi Tuhan aku sama sekali tidak mencintai istriku.”
Kali ini kalimat Rio membuat Clarissa yakin jika Rio memang tidak ada rasa untuk Raventha, meski Rio mengatakan dengan lantang seperti itu, hati kecil Clarissa berteriak kenmcang.
Kenapa harus menjelaskan hal itu padaku? Cinta atau tidak, kenapa aku harus tau? Semakin sulit melepasmu, Rio.
Clarissa menunduk, dia melangkahkan kakinya menjauhi Rio, sudah ini saatnya dia mengkahiri semua ini.
“Dua tahun, beri aku waktu dua tahun Clar, kita jalani hubungan ini dua tahun, setelah itu kita menikah,” ucap Rio. Clarissa menyerngitkan dahinya, menatap Rio dengan tatapan tidak suka.
“Maksud kamu?” jawab Clarissa.
Rio meraih kedua tangan Clarissa, menatap matanya lekat-lekat, mencoba mengambil hati Clarissa dan mengatakan isi hatinya sedalam-dalamnya, Clarissa sungguh mencintai Rio juga, tetapi dia menghargai Raventha. Hati dengan otaknya tidak sinkron melawan keadaan yang menjepit mereka.
“Aku bersumpah dua tahun enggak akan nyentuh Raventha, selama itu aku mohon beri aku kesempatan untuk sama kamu Clar, kasih aku kesempatan untuk bersama kamu, aku janji.”
Clarissa terenyuh dengan ungkapan dan kesungguhan Rio, dari mata, sikap dan seluruh yang dia lihat di mata Rio terlihat seperti sungguhan dan membuat Clarissa percaya.
“Maksud kamu, kamu mau kita berhubungan diam-diam dari istri kamu?” tanya Clarissa.
Rio mengangguk, Clarissa nampak seperti berfikir, bingung dengan situasi ini, setengah hatinya tak mau melepas Rio, setengahnya lagi ingin memiliki Rio. Sebentar saja dia ingin memeluk Rio, sebentar saja dia menikmati dicintai Rio, apakah salah? Rasanya semesta telah mempermainkannya dengan pria yang dia percaya sebagai takdir, namun malah bencana yang mengarunginya.
“Iya, selama itu percayalah, aku akan selalu ada di samping kamu.” Rio kembali menjawab dengan tatapan sungguh-sungguh, tatapan yang membuat Clarissa lagi-lagi terenyuh mendengarnya.
“Baiklah.”
Rio memeluk Clarissa dengan erat, tanpa dia sadari, di balik dinding samping kanan, istri sah Rio mendengar semuanya. Raventha shock, seolah dia dipermainkan, marah, cemburu, kesal, rasanya campur aduk. Raventha berbalik, melangkahkan kakinya perlahan menuju kamarnya lagi. Kini dia tau kenapa Rio dan Clarissa sempat menghilang saat acara pernikahan. Tangisnya pecah, hatinya teriris, tetes air matanya jatuh ke atas kasurnya. Raventha tidak baik-baik saja, relungnya telah robek terluka.
Sudah pukul dua malam, Rio juga belum kembali di kamar Raventha, sungguh hati Raventha antara kesal, marah, dia juga tak tau apa yang Rio dan Clarissa lakukan sampai larut malam begini, pikirannya berkelana liar, memikirkan sesuatu yang malah membuat hatinya was-was dan marah.
Raventha tak tahan, dia hendak keluar kembali mencari Rio meski kini keadaannya kacau, matanya membengkak merah, dia tidak bisa menahan semua ini lagi, Rio keterlaluan bagi Raventha, setidaknya Rio harus menjelaskan ini semua.
Baru saja Raven hendak membuka pintu ruangannya, dia terkejut karena Rio juga mau masuk ke kamar.
“Rio, aku mau bicara,” ucap Raven cepat.
Rio lagi-lagi cuek dan menganggap Raven seperti patung. Raven sungguh marah dengan Rio, dia menarik ujung baju Rio, namun Rio melepaskan tangan Raven dengan kasar.
“Rav, kamu ingat kan kata-kataku yang tadi?” ucap Rio dengan tatapan tajam. Raven hendak membuka bibirnya, namun dia urungkan kata-katanya yang hendak keluar, dia membiarkan Rio kali ini.
“Kamu dari mana?” tanya Raven dengan suara pelan.
“Rio, sebenarnya kamu mau pernikahan kita ini bagaimana? Kenapa kamu tidak bisa bersikap lebih lembut?”
“Pernikahan ini hanya perjodohan Rav, aku tidak cinta sama kamu Rav, jadi tolong jangan paksa aku untuk jadi suami yang baik.”
Rio menatap Raven dengan tatapan jengah, dalam hatinya dia resah, kesal dengan sikap Raven yang menurutnya kekanakan dan tidak pengertian dengan dia. Raven merasa sebaliknya, dia merasa ini semua seperti tidak menguntungkan dirinya, kalau Rio tidak mau menikahinya dan mencintai Clarissa, kenapa sejak awal Rio tidak menolak perjodohan ini.
“Terus kenapa kamu enggak menolak perjodohan ini sejak awal?”
“Karena kondisi Papa, aku enggak bisa seenaknya nentang Papa, jawaban aku apa udah buat kamu cukup puas? Aku capek, aku cuma mau tidur.”
Raventha hanya bisa menghela napasnya dan terdiam, dia berusaha bersikap seperti apa yang Rio lakukan kepadanya, cuek, menganggapnya seperti patung. Raventha tidak sudi lagi untuk tidur di samping Rio, dia muak dengan sikap Rio, Raventha memilih tidur di lantai dengan alas karpet dan selimutnya. Meski kasur begitu luas, dia enggan ada di samping Rio. Mengingat bagaimana Rio berbicara perasaannya dengan Clarissa membuatnya merasa terusik, kenapa harus Clarissa? Kenapa harus sahabatnya sendiri.
Raventha mencoba memejamkan mata, melewati malam yang panjang dan berat baginya, seumur hidupnya baru kali ini dia merasakan hal berat seperti ini. Raventha masih bingung kemana dia harus melangkah, haruskah dia membiarkan Rio mengejar Clarissa dan mereka bercerai atau dia juga memperjuangkan cinta Rio. Pikirannya melambung jauh, semakin jauh membawa Raventha ke pulau kapuk. Dia tertidur atas pikiran resahnya.
Rio menggeliat ketika merasa sinar matahari mulai menghangatkan kulitnya, dia terbangun, melihat ke samping kasur tidak ada Raven, dia lalu hendak turun dari kasur namun terkejut melihat Raven yang tidur di bawah. Seharusnya dia yang tidur di lantai, kenapa Raventha malah tidur di bawah. Mau tak mau Rio mengangkat tubuh Raven yang ringan ke atas kasur, menyelimutinya sampai batas dagu. Meski Rio tidak mencintai Raven, dia masih memiliki hati, meski dia tidak mencintai Raven, setidaknya dia tidak mau Raven terlalu menderita karena tidak dia cintai.
“Maaf Raven, aku memang tidak mencintaimu, tetapi aku minta bertahanlah sampai dua tahun, sampai itu aku janji akan melepaskan kamu,” ucap Rio pelan kepada Raven yang masih tertidur.
Rio lalu bangkit menuju kamar mandi, menyiapkan dirinya untuk sarapan. Raventha mendengar itu semua, rasa simpati Rio sempat membuatnya untuk yakin memperjuangkan pernikahannya. Setidaknya Rio masih memiliki sisi kemanusiaan dan tidak bermain tangan dengannya. Terbesit dalam hati Raven, dia ingin memperjuangkan Rio. Dia ingin mendapatkan Rio.