Bab 6

1036 Words
Rio keluar dari kamar mandi dengan wajah masam, dia langsung mengambil tidur di samping Raventha dengan cueknya, tidak menatap Raventha sama sekali dengan pakaian yang berusaha menggodanya. Rio langsung memejamkan matanya, tanpa sepatah kata apapun, seolah menganggap Raventha hanyalah patung di sampingnya. Raven hendak membuka bibirnya, memanggil kembali Rio, sedetik kemudian dia mengatupkan lagi bibirnya, membiarkan Rio untuk tidur, dia berpikir mungkin saja Rio sedang lelah dan tidak ingin diganggu atau lelah. Raventha ikut memejamkan matanya, menyembunyikan dirinya di dalam selimut, menatap punggung Rio. Ingin sekali berbincang dengan Rio, namun Raven ragu. “Rio?” panggil Raven pelan, namun tidak ada tanggapan dari Rio sedikitpun, Raven tetap bicara, bagaimanapun juga Rio adalah suami sahnya. Masalah apapun, Raven juga harus tau. “Kamu tadi pergi kemana?” Masih sama tidak ada jawaban, Raven hanya berusaha untuk sabar dan berusaha berbicara lagi dengan lembut. “Tadi aku sama orang tua kamu nyariin kemana-mana di sekitar gedung, tapi kamu gak ada, kalau kamu ada masalah kamu cerita aja sama aku, aku udah jadi istri kamu Rio, pendamping hidup kamu seumur hidupmu,” ucap Raven pelan. “Sejak awal aku nikah, cuma menuhin keinginan Mama, satu hal yang harus kamu ketahui dari sekarang sampai nanti, aku gak akan cinta sama kamu, aku cinta sama perempuan lain. Jadi jangan berusaha terlalu keras untuk jadi istri yang baik,” ucap Rio tanpa menatap Raven, masih memunggunginya. Ucapan Rio begitu menyakitkan bagi Raven, apalagi ketika mendengar Rio telah mencintai perempuan lain, sungguh menyakitkan bagi Raven, dia tidak menduga hal ini karena awal acara pernikahan melihat Rio biasa saja, seolah tidak keberatan dengan perjodohan ini. Hati Raven seperti teriris, dia tidak memiliki sepatah kata untuk diucapkan kembali, dia hanya bisa diam membisu, sungguh dia tidak sanggup menatap Rio lagi. Lelehan air mata yang hangat membasahi pipi Raven, dia juga tidak mengharapkan pernikahan ini, namun Raven sangat ingin mengenal Rio dan membuat pernikahan ini harmonis sampai selamanya. Raven hanya bisa menangis dalam diam sambil menatap punggung Rio. Ingin rasanya tangannya menyentuh punggung Rio, namun dia menahan dirinya. Merasa tak ada jawaban dari Raven, Rio kembali memejamkan matanya, dia menghiraukan Raven dan tak mempedulikan Raven yang menangis. Samar-samar, Rio juga mendengar suara isak tangis Raven yang pelan, namun dia tidak peduli, pikirannya kini hanya berfokus kepada Clarissa. Sampai akhirnya Rio tak bisa tidur dengan tenang, dia bangkit dan pergi ketika mendengar suara napas Raven yang telah teratur tertidur pulas. Gelisah tak karuan, Clarissa tak sanggup memejamkan matanya, dia memilih untuk keluar mencari angin malam, kakinya melangkah menuju lobby hotel dan menatap ke luar, dia ingin keluar, namun kakinya terhenti ketika melihat sosok yang dia benci muncul di depan matanya, Rio. Clarissa memutar badannya, hendak melangkah berbalik, namun Rio sudah menangkap sosoknya, siapa sangka Clarissa dan Damian menginap di hotel yang sama dengan Rio dan Raven. Rio mengejar Clarissa, memanggil namanya, meski Clarissa sudah berlari kencang, Rio berhasil meraih pinggang Clarissa dan merengkuhnya dalam pelukan Rio. “LEPAS!” teriak Clarissa, meronta meminta dilepaskan dari pelukan Rio, dia benci dengan sikap Rio, sungguh dia tidak ingin jika Rio ada di sini, dia meminta dilepaskan. “Tenanglah Clar, biar aku menjelaskan semuanya!” Clarissa terdiam, tanpa dia sadari air matanya kembali menetes, Rio sangat keterlaluan baginya, tidak mengatakan jika Rio akan menikah dengan Raven. “Apa? Apa yang mau kamu katakan?” ucap Clarissa. Sial, batin Clarissa. Sungguh dia kesal harus bertemu dengan Rio di sini, dia tidak menyangka Rio akan ada di hadapannya saat ini, kenapa takdir selalu mempertemukan mereka dalam keadaan rumit. Clarissa menatap Rio dengan berani, menatap kedua bola matanya dengan tatapan menyalang meski matanya dipenuhi dengan gelinang air mata. Jemari Rio mengusap perlahan air mata Clarissa. “Maaf.” Satu kata itu meluncur di bibir Rio, hanya satu kata, kalimat yang Clarissa tidak harapkan Rio ucapkan saat ini. “Untuk apa? Hubungan kita tidak ada artinya bagimu kan? Aku hanya wanita malam yang kau anggap bisa kau gunakan kapan saja kan?” Clarissa sungguh marah dengan Rio, kenapa harus membohongi sejak awal? Apalah arti cinta yang Rio ucapkan beberapa waktu lalu? Manis di mulut, kenyataannya pahit tak semanis madu. “Bukan, bukan itu Clar, aku di situasi yang tidak bisa aku tolak atas perjodohan ini—,” “Cukup Rio! Kita sudah selesai, jangan pernah cari aku lagi,” potong Clarissa cepat. “Tapi aku cinta sama kamu Clarissa,” ucap Rio. Clarissa tersenyum miring mendengar ucapan Rio, dia menatap Rio dengan tidak percaya. “Cinta? Kamu sudah memiliki istri masih berani mengatakan cinta?” tanya Clarissa. Lagi-lagi air mata Clarissa kembali menetes dan Rio dengan cepat menghapusnya, dia menarik Clarissa lebih dekat, mengusap pipi Clarissa, mata mereka saling menatap, keduanya tidak bisa membohongi perasaan satu sama lain, mereka memang saling mencintai satu sama lain. Rio menempelkan bibirnya pada bibir Clarissa, merasa Clarissa diam saja, dia melumat halus perlahan, menghantarkan perasaan cintanya yang sesungguhnya. Detik kemudian Clarissa menyadari satu hal, ini semua salah. Dia mendorong Rio melepaskan panggutannya. “Ingat Rio, kamu punya istri,” ucap Clarissa pelan. “Tapi aku enggak cinta sama dia Clar,” ucap Rio “Cinta atau tidak, itu enggak menghapuskan kenyataan dia istri SAH kamu.” Clarissa lalu berbalik tanpa pamit, namun Rio menarik Clarissa kembali, memeluknya dari belakang. “Apa kita enggak bisa seperti ini sebentar? Aku sangat cinta sama kamu Clarissa, dan hanya kamu di hati aku,” ucap Rio berusaha meyakinkan Clarissa lagi. Terlambat, kalimat itu semua tidak bisa membuat Clarissa berpaling kepada Rio, dia tidak bisa menerima cinta Rio demi Raventha. Dia tidak ingin mengkhianati sahabatnya sendiri. “Sementara waktu jangan pernah temui aku lagi Rio, sudah cukup.” Clarissa melepaskan pelukan Rio dan berjalan keluar hotel, dia tidak bisa seperti ini, dia harus melupakan Rio. Meski malam yang indah itu terus berputar dalam memori Clarissa, namun dia tidak bisa mengedepankan keinginannya, semua telah terjadi, dia merasa bodoh atas kesalahan yang dia perbuat. Hanya satu harapannya, dia bisa hidup bahagia setelah meninggalkan Rio. “Aku sama sekali enggak cinta sama istriku Clar, kita dijodohin, papa aku sekarat dan aku harus mau menuruti orang tuaku, apa itu enggak cukup menjelaskan ke kamu kenapa aku menikah sama orang yang enggak aku cintai sama sekali?” ucap Rio dengan lantang yang menghentikan langkah Clarissa, menggoyahkan perasaannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD