Clarissa menahan napasnya, hampir tak bisa berkata-kata, sungguh ini hal paling menyakitan seumur hidupnya, Clarissa tidak bisa menahan lagi hal ini. Di saat semua pengunjung hadir dengan senyuman ikut bahagia, Clarissa malah meneteskan air matanya, dia berusaha untuk kuat dan menutupi tetesan air matanya. Perlahan diantara acara yang khidmat itu dia bangkit, menjauhi kerumunan mencari tempat yang tenang dan bisa membuatnya merasa lebih tenang. Diam-diam Damian mengikuti Clarissa, mereka berdua duduk di halaman taman samping gedung, sungguh Clarissa tak bisa menahan sesak di dadanya, begitu menyakitkan. Kenangan one night stand itu kembali berputar di kepala Clarissa, dia sungguh tidak sanggup jika harus menatap Rio dia samping sahabatnya sendiri.
Tangan Clarissa sibuk mengusap air matanya yang jatuh, dia meraup wajahnya yang memerah karena menangis, dia sungguh tak menyangka jika Raventha dijodohkan dengan orang yang dia cinta. Ketika semua mengatakan ‘sah’ di dalam ruangan, hati Clarissa semakin terasa perih. Suara tangisannya membuat beberapa juru masak yang melewatinya menjadi heran.
“Clar? Udah jangan nangis di sini, aku tau kamu terharu Raven nikah, tapi malu tuh diliatin sama banyak orang,” ucap Damian. Clarissa masih tak sanggup untuk berdiri, kakinya gemetar, pikirannya masih shock sekaligus kacau.
“Clarissa?” panggil Damian lagi. Clarissa masih tak bergeming, dia hanya ingin sendiri, mengabaikan panggilan Damian, berharap Damian segera pergi membiarkannya sendirian di sini.
Damian menghela napasnya, dia tidak tau apa yang membuat Clarissa menangis seperti ini, dia menggendong Clarissa dan membawa Clarissa pergi dari pernikahan Raventha, menggendongnya seperti bayi, tubuh Clarissa yang kurus begitu ringan dan tipis dalam gendongan Damian, dia meletakkannya ke atas mobil dan membawa Clarissa ke kedai gelato.
Clarissa cukup terkejut dengan ucapan Damian, tetapi dia hanya diam tidak berkomentar apapun, raut wajahnya datar, pandangannya kosong, dia sungguh tidak sanggup untuk berbicara sepatah kata apapun. Wajah Rio masih menguasai pikirannya, dia masih menginginkan berbicara dengan Rio, meminta semua penjelasan. Clarissa merasa bodoh, merasa dikhianati, merasa dibohongi, dia kira sikap Rio yang manis dan lembut memang serius dengannya.
“Ayo turun,” ucap Damian ketika mobilnya telah sampai di depan kedai gelato. Tidak banyak pengunjung hari ini, dari luar terlihat hanya ada empat orang di dalam. Kedai gelato ini memiliki ruangan yang cukup luas, suasananya hening dan tenang, setidaknya Damian ingin Clarissa menenangkan pikirannya di sini.
“Sebentar,” ucap Clarissa.
Damian lalu membawa Clarissa untuk keluar dari mobilnya, namun Clarissa melepaskan tangannya, menyentak tangan Damian, menunduk lemah. Sungguh dia sangat tidak ingin bertemu dengan siapapun, Clarissa hanya butuh sendiri.
“Why? Ada gelato di dalam, setidaknya bisa mendinginkan pikiranmu sejenak,” ucap Damian.
Clarissa menggeleng, “Enggak, aku gak mau. Aku masih mau sendiri,” ucap Clarissa.
Damian menatap Clarissa dengan tatapan bingung, tidak suka dengan ucapan Damian, seolah Damian tidak mengerti perasaan Clarissa.
“Clar, kenapa kamu hanya diam saja?” tanya Damian.
“Bisakah aku hanya sendiri saja?” ucap Clarissa.
Damian tidak mengerti kenapa Clarissa begini, Damian tidak mengerti maksud Clarissa. Kalau hanya terharu karena pernikahan Raven, tidak seharusnya Clarissa menangis sekeras ini, dia seharusnya menjadi senang karena sahabatnya menjadi baik.
“Baiklah kalau itu maumu, aku antar ke hotel kembali saja ya,” ucap Damian.
Clarissa mengangguk, dia lalu kembali naik ke mobil. Damian melajukan mobilnya menuju hotel, dia menatap Clarissa sesekali melirik dari kaca spion, raut wajah Clarissa seperti frustasi dan kebingungan.
“Istirahatlah Clar,” ucap Damian. Clarissa mengangguk lemah dan masuk ke dalam lift, matanya masih seperti kosong.
Damian khawatir melihat Clarissa, sepertinya syuting besok harus ditunda. Handphone Clarissa terus berbunyi, panggilan dari Raventha. Dia mengabaikannya, membiarkan ponselnya terus berdering, jantungnya berdegup kencang, Clarissa tak kuasa menahan diri, dia jatuh terduduk dan luruh, sungguh dia sangat lelah akan hari ini.
Raventha di acara pernikahannya tak hentinya berhenti tersenyum, dia sangat bahagia hari ini, dia kira suaminya lelaki tua yang memiliki perut buncit tetapi kaya raya. Namun kenyataannya dia mendapatkan suami yang tampan, mapan dan kaya raya. Raventha sangat bersyukur dengan nasib baiknya, dia sangat bahagia menikah dengan Rio.
Seusai acara akad nikah yang khidmat itu, Raventha mencari-cari dimana Clarissa, tadinya saat acara berlangsung, dia jelas melihat Clarissa ada di depan matanya, namun kini entah kemana, Raventha tidak menemukan keberadaan Clarissa, dia menelfonnya berulang kali tidak ada telfonnya yang dijawab. Raventha masih duduk bersama dengan keluarganya menikmati hidangan. Sedangkan Rio sudah pergi entah kemana sejak tadi, dia seolah tak mempedulikan pernikahan ini. Rio melangkahkan kakinya keluar gedung, mencari-cari sosok Clarissa, hingga akhirnya Raven memanggil Rio.
“Mas, mau kemana? Enggak makan dulu Mas?” tanya Raventha dengan lembut dan senyuman manisnya, sungguh Raventha sangat bahagia dengan pernikahannya, dia merasa beruntung mendapatkan Rio yang hampir sempurna.
“Gak selera.”
Rio menjawab hampir tak menatap Raventha, wajahnya cuek, dia lalu meninggalkan Raventha pergi tanpa meninggalkan sepatah kata apapun. Raventha terkejut dengan sikap Rio yang berbeda, tidak seperti saat tadi pertama bertemu.
Raventha hendak memanggil Rio, namun dia mengurungkan niatnya, menggulum bibirnya, membiarkan Rio keluar gedung.
Semua keluarga sedang bersiap untuk pulang karena hari telah malam, sedangkan Rio sedari tadi belum kembali, mereka semua mencari Rio, namun Rio tidak membawa ponsel, tidak bisa dihubungi, tidak ada cara lain bagi mereka semua selain menunggu Rio.
“Rav, kamu enggak tau dimana Rio?” tanya mertua Raventha.
“Enggak tau Ma, Rio enggak bilang mau kemana tadi,” balas Raventha.
“Iyasuda, kalau begitu kamu ke hotel duluan aja ya, biar Mama yang antar, nanti biar Rio menyusul.”
Raventha sebenarnya masih gelisah atas kepergian Rio, dia juga masih memikirkan kemana perginya Clarissa, dia ingin menemui sahabatnya.
Sedangkan Rio masih setia duduk di pinggir jalan menatap lalu lalang setiap orang yang melewatinya, dia berharap menemukan Clarissa, sungguh dia merasa bersalah menyakiti hati perempuan yang dia cintai.
Rio merasa jengah sedari tadi ibunya menelponnya apalagi sadar akan ayahnya yang memiliki penyakit jantung. Mau tak mau Rio kembali pulang, dia langsung menuju hotel tempat dimana Raventha menunggunya. Bagi pengantin yang saling mencintai, ini momen yang indah, namun tidak bagi Rio. Justru pernikahan ini bagai duri tajam bagi hidupnya, dia berpisah dari orang yang dia cintai. Rio mengetuk pintu hotel, tak lama Raventha keluar dengan baju piyama lengan panjangnya.
“Akhirnya Mas, kamu pulang, mas dari mana aja mas?” ucap Raventha dengan nada khawatir.
“Bukan urusan kamu, minggir.”
Raventha hanya menyerngitkan dahinya dan membiarkan Rio melewatinya. Rio langsung masuk kamar mandi dan Raventha menyiapkan diri untuk melayani Rio di malam pertamanya ini.