Di lokasi syuting, Clarissa nampak terburu-buru mengemasi barangnya setelah pemotreran, Damian yang melihatnya menyerngitkan dahinya, heran dengan sikap Clarissa yang terburu-buru.
"Mau kemana Clar?" tanya Damian, tangannya menyodorkan air mineral kepada Clarissa.
"Aku harus ke Bandung, Raven kan nikah," ucap Clarissa. Seketika dia mentup bibirnya, dia lupa jika Raven belum memberitahu yang lain karena ini hanya acara akad nikah, belum ada rencana resepsi.
"Apa?! Raven? Menikah?" Damian terkejut mendengar ucapan Clarissa, yang Damian tau Raven kemarin izin pulang ke Bandung karena ada acara keluarga. Ternyata Raven menikah, hati Damian seolah terbakar mendengar ucapan Clarissa. Akhir-akhir ini Damian menaruh rasa kepada Raven walau perasaannya belum terlalu besar.
"Nikah? Serius?" tanya Damian lagi karena Clarissa hanya diam.
Clarissa menggulum bibirnya, mengangguk kecil. Bagaimanapun juga dia tidak sengaja mengucapkan itu semua.
"Dimana Raven menikah? Aku ikut," ucap Damian.
"Tapi Dam ... masalahnya Raven memang mau diam-diam nikahnya," cicit Clarissa.
"Shut up! Aku ini udah kerja sama kalian tujuh tahun! Terus kenapa harus nutupin soal pernikahan Raven sih? Lagipula pernikahan kan hari besar, kenapa harus disembunyikan? Lagian aku juga ga bakal mengacau, aku cuma mau kasih selamat ke Raven!" bentak Damian.
Rasanya Clarissa bisa melihat dengan jelas bagaimana Damian sebeneranya marah dengan Raven.
"Apa Raven melakukan sesuatu yang membuatmu marah?" tanya Clarissa. Damian menggeleng, dia lalu ikut mengemasi barangnya segera mengambil kunci mobilnya.
"Kita berangkat sekarang," kata Damian dengan ekspresi wajahnya yang tegas dan tak mau dibantah. Clarissa lumayan bergidik ngeri menatap wajag Damian.
Dia masuk ke mobil Damian bagian belakang, Damian menghela napasnya melihat sikap Clarissa.
"Di lokasi syuting, kamu emang artis aku, you can act like a princess, but now we're just friends. Maju, duduk di samping aku."
Damian mengucapkan dengan menatap Clarissa lewat kaca di tengah. Clarissa hanya meringis dan pindah ke depan, dia langsung melangkah tanpa dosa lewat dashboard tengah.
"Sorry, aku males buka pintu," ucap Clarissa.
Tanpa sengaja Damian melihat dengan jelas lekuk tubuh Clarissa yang begitu menggoda, namun dia berdehem menghilangkan pikiran liarnya.
"Bacain lokasi nikahan Raven," perintah Damian.
"Balai Sartika," jawab Clarissa singkat.
"Oke."
Damian lalu membuka handphonenya membuka gmaps, mengikuti arahan navigasi itu.
Sepanjang perjalanan mereka tidak banyak bicara, sesekali Clarissa menceritakan bagaimana lelahnya dia menjadi artis, jadwal yang padat dan terkadang Clarissa juga kelelahan mengikuti semua pemotretan setelah syuting. Sama halnya dengan Damian, awalnya dia tidak pernah berniat menjadi sutradara, tetapi berkat sepupunya yang bekerja di bidang perfilman, dia menjadi tertarik untuk ikut juga. Semenjak SMA mereka berdua jarang berbicara walau sempat satu kelas, Damian lebih suka dengan dunia buku tidak banyak bergaul, lain halnya dengan Clarissa yang memang suka bergaul dengan teman-temannya.
Hangout, shopping, semua hal itu hampir Clarissa lakukan dengan teman sebayanya.
Rintik hujan tiba-tiba membasahi mobil Damian, mereka tetap melanjutkan perjalanan meski rintikan kecil berubah menjadi besar.
"Di sini dingin ya, mulai kerasa udaranya dingin," ucap Clarissa. Damian melirik Clarissa sejenak, gadis di sampingnya hanya menggunakan dress selutut. Damian lalu menepi dan keluar menuju bagasi, mengambil jaket kulitnya dan selimut yang baru saja dia ambil dari laundry tadi pagi.
Damian buru-buru masuk ke mobil dan memberikan kepada Clarissa.
"Pakai ini," ucap Damian. Dia memberikan jaket dan selimutnya.
"Eh enggak usah, aku gakpapa kok," ucap Clarissa. Damian tapi menatap Clarissa menaikkan alisnya, menyuruh Clarissa menerima jaketnya.
"Oke deh, aku pakai ya, thanks Dam."
"Sans," balas Damian.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan, tadinya mereka berniat langsung datang ke lokasi Raven menikah, namun Clarissa menolak, masih ada waktu empat jam untuk istirahat, akhirnya pilihan mereka jatuh pada hotel yang tak jauh dari Balai Sartika.
"Nanti jam empat sore aku jemput kamu," ucap Damian.
Clarissa mengangguk lalu masuk ke kamarnya, sedangkan Damian kamarnya tepat di seberang kamar Clarissa.
Kondisi Clarissa masih tidak begitu fit, dia langsung merebahkan diri di atas kasur dan memejamkam matanya. Sejenak berusaha melepas rasa lelahnya. Denting ponsel Clarissa membuatnya terbangun, dia meraba-raba mencari ponselnya melihat ada notifikasi dari Raventha, Clarissa tersenyum membaca notifikasi pesan dari Raven yang menanyakan kabarnya dan bertanya apakah jadi ke acara pernikahannya, tentu saja Clarissa menjawabnya dengan tersenyum dan mengiyakan pertanyaan Raven. Setelah itu Clarissa kembali memejamkan matanya, dia sudah sangat lelah untuk menatap layar ponselnya lagi.
Empat jam kemudian ...
Suara ketukan di depan pintu kamar Clarissa membuatnya menggeliat, dia lelah, matanya terasa berat untuk dibuka.
“Clarissa? Clar? Clarissa?” panggil Damian mengetuk pintu kamar Clarissa.
Mendengar suara Damian, mau tak mau Clarissa bangun dari tidurnya dan berjalan dengan lemas lalu membuka pintu kamarnya.
“Astaga kamu belum mandi? Setengah jam lagi akad nikah Raven dimulai Clar!” pekik Damian
Clarissa membulatkan matanya lalu melihat jam di hotel, dia tekejut tertidur selama itu.
“Yaampun Dam, aku bener-bener engga tau kalau udah jam segini, yaudah aku mandi dulu,” ucap Clarissa. Dia menutup pintunya dan segera mandi lalu berdandan, pilihannya jatuh pada dress merah, Clarissa menggelung ke atas rambut panjangnya, membuat leher jenjangnya terlihat cantik dan mulus.
“Cantik,” puji Clarissa menatap pantulan wajahnya di cermin. Dia terlihat sempurna di cermin dan tersenyum. Clarissa lalu keluar dari kamarnya, dia mundur selangkah terkejut melihat Damian yang bersandar di tembok samping kamarnya memejamkan mata.
“Dam?” panggil Clarissa.
“Dami?”
Damian membuka matanya, dia menguap mengantuk menunggu Clarissa yang lama berdandan. Dia menatap Clarissa yang begitu anggun dan cantik terpaku dengan pesona Clarissa.
“Udah? Udah liatin aku yang cantik gini?” ucap Clarissa penuh dengan percaya dirinya.
Damian mengerjapkan matanya dan berdehem.
“Iya ayo.”
Mereka lalu menuju tempat acara pernikahan Raven, meski diadakan di gedung yang megah, tetapi terlihat tak banyak tamu yang datang, hanya teman dan saudara.
Clarissa lalu duduk tepat di hadapan Raventha yang duduk bersimpuh siap melaksanakan akad nikah. Mata Clarissa tak hentinya menatap Raven yang sangat cantik dan menawan. Mata Clarissa beralih ke samping Raven, mempelai pria, dia terkejut bukan main, matanya membulat hampir lepas.
“Rio?” ucap Clarissa pelan.
Dia terkejut yang menikah dengan Raven adalah Rio, lelaki yang pernah melakukan one night stand dengannya. Hati Clarissa seperti teriris, baru saja dia menaruh hati dengan Rio, ternyata suami sahabatnya.
Mata Clarissa tak henti menatap Rio, ketika mereka saling bertatapan, keduanya sama-sama terkejut.