Bab 3

1067 Words
“Clar? Clarissa?” panggil Damian dari luar. Masih tidak ada jawaban. Damian semakin khawatir sekarang, dia mencoba menerka-nerka pin untuk masuk ke dalam. Dia berpikir keras berapa pin apartemen Clarissa, awalnya dia mencoba memasukkan ulang tahun Clarissa, tetapi tidak bisa, tiba-tiba terlintas plat nomor mobil Clarissa, dia memasukkan nomor plat Clarissa dan pintunya terbuka. Damian bernafas lega lalu segera masuk, memang tidak sopan masuk ke dalam apartemen seseorang tanpa izin, namun Damian khawatir terjadi sesuatu dengan Clarissa, dia teringat pada ibunya yang juga mengalami vertigo dan jatuh terpeleset di kamar mandi saat dia tak ada di rumah, ibunya meninggal di kamar mandi dan tidak ada yang tau. Sejak saat itu Damian merasa menyesal ketika meremehkan seseorang mengeluh sedah sakit. “Clar? Clarissa?” Damian membuka setiap pintu ruangan, mencari Clarissa, gadis itu meringkuk di bawah selimut. Clarissa mencoba membuka matanya yang berat, dia mendengar suara Damian yang memanggilnya, namun tubuhnya tidak kuat untuk berdiri. Clarissa semakin mengeratkan pelukannya dengan selimut, langkah kaki Damian semakin terdengar jelas. “Clarissa?” panggil Damian lagi. Clarissa membuka sedikit selimutnya dan menampakkan wajahnya yang pucat dan berkeringat. Damian menempelkan punggung tangannya di dahi Clarissa, gadis itu demam. Damian segera menyibakkan selimut Clarissa dan menggendongnya, namun Clarissa meronta. “Mau dibawa kemana aku ini?” ucap Clarissa kesal. Damian akhirnya meletakkan Clarissa kembali ke atas kasur. “Ke dokter, kamu sakit, badan kamu panas, harus segera diobati Clar,” ucap Damian gemas dengan sikap Clarissa. “Enggak usah, lagipula cuma demam kok, kamu gimana bisa masuk ke sini, terus ngapain peduli sama aku? Aku kan udah bilang minta libur.” Damian menghela nafas kasar, sudah sakit begini Clarissa masih saja sanggup melawannya, tenanganya tidak terlalu lemah, masih bisa membalas ucapan Damian. “Clar, kamu itu artis aku. Jelas aku khawatir kalau kamu sakit, yaudah kalau enggak mau ke dokter, biar aku yang merawat kamu.” Damian menggulung lengan kemejanya lalu ke dapur Clarissa, dia memasak bubur. Terbiasa hidup sendirian, Damian sangat ahli memasak, dia dengan cekatan membuat bubur ayam, lalu menyajikannya untuk Clarissa. Damian juga memberikan paracetamol untuk Clarissa. “Kamu habiskan makanan ini terus minum obat,” ucap Damian. Clarissa sedikit terpukau dengan sikap Damian yang tidak biasa, sikapnya yang biasanya dingin dan tegas kini sirna di mata Clarissa. “Iya, makasih.” Clarissa memakan bubur ayam buatan Damian dan meminum paracetamolnya, setelah semuanya habis, Damian lalu beranjak pamit pergi, namun tangan Clarissa mencegahnya. “Hm? Kenapa?” tanya Damian melihat tangan Clarissa yang meraih pergelangan tangannya. Clarissa gadis yang manja dan tidak terbiasa hidup sendiri, selama ini Raven yang selalu mengurusnya, dia tidak bisa melakukan apapun sendirian. “Tolong di sini dulu bisa?” pinta Clarissa. Damian menatap Clarissa sejenak, dia sebenarnya harus mengurus beberapa naskah yang diajukan dan memilahnya, Damian lalu mengangguk dan kembali duduk di pinggir ranjang Clarissa. “Iya, aku di sini, kamu istirahat saja dulu.” Clarissa tersenyum senang, setidaknya dia tidak merasa sendiri walau Damian hanya diam dan sibuk memandangi kertas-kertas skenario di hadapannya. Damian juga tak tau kenapa dia bersikap simpati kepada Clarissa, tetapi dia membuatkan makan siang dan makan malam juga untuk Clarissa. Setelah melihat Clarissa lebih baik, barulah Damian pulang. “Kamu sudah baikan?” tanya Damian. Dia melirik jam yang ada di meja, sudah pukul delapan malam, dia hendak pamit kepada Clarissa. “Sudah, sepertinya sudah baikan karenamu, terima kasih sudah mau merawatku Damian, maaf kalau aku merepotkanmu, aku berhutang budi kepadamu,” ucap Clarissa. Damian hanya tersenyum menanggapi Clarissa, dia sendiri juga tidak tau mengapa dirinya seperti ini kepad Clarissa, dia hanya merasa bertanggung jawab kepada Clarissa karena dia artisnya. “Kalau begitu aku pulang dulu Clar,” pamit Damian. Clarissa mengangguk dan melambaikan tangannya. Dia kembali naik ke ranjang, memejamkan matanya, sedetik kemudian dia membuka kembali matanya, mencari ponselnya dan menghela nafas, tidak ada pesan sama sekali dari Rio. Entah kenapa Clarissa rindu namun gengsi untuk memulai chat duluan, dia akhirnya kembali memejamkan matanya, hari ini dia mau mengistirahatkan tubuhnya agar bugar kembali *** Pagi yang cerah namun cukup membuat Raven gelisah, hari ini hari bahagianya, hari dimana dia melepaskan status singlenya. Raven mengikat rambutnya dan beranjak mandi, dia sangat gugup hari ini, berulang kali dia menghubungi Clarissa namun sama sekali tidak diangkat oleh sahabatnya. Clarissa jika berkendara dia terbiasa mematikan ponselnya. “Sayang, ayo segera mandi, perias sudah datang,” ucap ibunya dari balik pintu. “Iya Ma, ini aku mau mandi.” Raven bergegas menyiapkan diri, menurutnya pernikahan ini adalah hal yang mustahil tapi nyata, dia sama sekali tidak pernah bertemu dengan calon suaminya, bahkan melihat wajahnya saja tidak pernah, terakhir kali yang dia tau fotonya saat masih kecil. Raven berharap suaminya adalah orang yang baik, perjodohan ini telah diatur orang tuanya sejak awal. Mau tidak mau Raven harus menerima, dia hanya pernah bertukar pesan dengan calon suaminya sekali, itupun mendiskusikan tentang catering, tak lebih. Raven menatap gaun pernikahan yang tergantung di kamarnya, sungguh dia tidak pernah menduga tentang hari ini, dia tidak menyangka ini benar terjadi. Dia membawanya lalu ke bawah, satu hal yang Raven lupakan, ponselnya yang dia letakkan di bawah bantal, dia lupa tidak membawanya. Semua orang sedang sibuk mempersiapkan pernikahan pagi ini. “Astaga Raven, kamu lama sekali mandinya, ayo sini.” Tante Raven menggandengnya untuk segera ke ruang ganti dan menyuruh perias untuk merias wajahnya. Satu hal yang masih mengelilingi Raven, apa pernikahan ini akan bisa berlangsung lama? Dia tidak yakin, apa pernikahan ini akan mekar seindah bunga sakura atau bertahan bagai kaktus, hidup selamanya namun berduri. Raven hanya menurut ketika perias mengaplikasikan make up di wajahnya, hatinya terasa tidak nyaman, namun dia harus menenangkan emosinya. Banyak pertanyaan yang muncul dalam benaknya, apakah lelaki yang menikahinya nanti akan bahagia bersamanya? Dua jam lamanya Raven di make up, dia membuka matanya dan takjub, dia bisa menjadi secantik ini, seperti bintang hari ini. “Wah cantiknya anak bunda,” puji ibunya. Takjub melihat putrinya yang sangat cantik. Raven biasanya jarang sekali memoleskan make up ke wajahnya, namun kali ini dia terlihat begitu mempesona dan berbeda. Apalagi gaun putih pernikahan yang dia pakai, sangat pas dan cocok dia kenakan. “Syukurlah semua sudah siap, ayo Raven kita ke gedung sekarang,” ucap tantenya. Nafas Raven rasanya tercekat, dadanya terasa sesak, rasanya masih belum sanggup melihat siapa calon suaminya. Bagaimana jika nantinya Raven tidak menyukainya? Apakah dia sanggup menjalani hidup dengannya? Sungguh sebenarnya Raven belum siap menikah, namun dia terpaksa melakukan hal ini, sungguh menyebalkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD