Setelah Alex kembali masuk ke rumah Alya, Ana masih terpaku di tempatnya. Ia tidak percaya jika Alex akan setega itu padanya. Air matanya makin deras. Ana bingung apa yang kini harus dilakukannya.
Ana memutuskan untuk pulang. Dia butuh ketenangan. Ia akan menemui Alex kembali besok. Ana akan bicara dari hati ke hati dengan Alex.
Alex masuk kembali ke rumah Alya. Dilihatnya perempuan itu sedang menangis. Pemuda itu berjalan mendekat. Kemudian memeluknya.
“Sssttt, udah ... dia udah pulang. Kamu tenang aja, ya. Aku udah putusin dia. Mulai sekarang, kita sama-sama bebas.”
“Aku udah nyakitin Ana, Lex.”
“Enggak, Al ... aku yang milih kamu.”
***
Sesampainya di rumah, senyum mengembang di bibir Ana. Mobil orang tuanya sudah terparkir rapi di garasi. Setidaknya, ia bisa berkumpul dengan orang tuanya malam ini. Melupakan sedikit rasa sedih, kecewa, juga rasa takutnya.
Perempuan itu melangkahkan kaki ke dalam rumah. Saat melewati ruang tengah, tampak Bik Tinah sedang berada di sana. Duduk di sofa dengan kepala tertunduk dalam. Di sofa berbeda di depan Bik Tinah, ada mama Ana yang juga sedang duduk. Terlihat air mata mengalir di pipinya. Sedangkan papa Ana duduk di samping istrinya. Wajahnya terlihat kaku, penuh kemarahan.
"Ma ... Pa ... kalian sudah pulang? Apa yang terjadi? Sepertinya ada masalah?" tanya Ana. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang menjawab.
Ana berjalan mendekat. "Ma ... Pa ... apa yang terjadi?"
Bukannya menjawab, papa Ana hanya menunjuk dengan tegas ke arah meja dengan tangannya. Di sana ada tespack bekas pakai, juga ada beberapa k****m yang masih terbungkus rapi.
"I ... itu apa, Pa?" Bukannya benar-benar tidak tahu. Ana hanya cukup terkejut dengan apa yang dilihatnya.
"Kamu bertanya itu apa? Itu yang seharusnya saya tanyakan ke kamu! Apa itu?! Seperti ini kelakuan kamu sebenarnya? Seperti ini cara kamu berterima kasih kepada orang tua kamu, hah!"
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Ana. Hal itu membuat papa Ana yakin, jika Ana memang telah melakukan kesalahan fatal itu.
"Saya bekerja banting tulang agar anak saya bisa sekolah tinggi! Bisa membanggakan orang tuanya! Tapi apa yang kamu lakukan?! Bukannya piagam penghargaan yang saya temukan, justru barang yang lazimnya dimiliki oleh seorang jalang. Kenapa kamu melakukan ini? Apa uang yang saya berikan kurang, jika memang kamu melakukannya demi uang. Atau, memang selama ini saya telah salah menilai kamu?"
"Maafkan Ana, Pa ...," ucap Ana sambil menangis terisak.
"Jangan pernah panggil saya papa! Saya tidak pernah memiliki anak seperti kamu. Malam ini juga, silakan kamu pergi dari rumah saya! Saya tidak peduli apa pun yang akan kamu lakukan setelah ini. Malam ini juga, saya anggap putri saya sudah mati." Suara lantang papa Ana membuat ketiga wanita beda generasi yang sama-sama sedang menunduk, mendongakkan kepala.
"Pa ...." Mama Ana mencoba melunakkan hati suaminya.
"Sudahlah. Biarkan anak ini pergi dari rumah ini. Biar dia tahu, hidup itu bukan semata-mata untuk memikirkan nafsu. Nafsu bejad yang akhirnya akan mencoreng keluarga kita jika anak ini dibiarkan tetap tinggal di sini." Papa Ana bersiap melangkah pergi untuk masuk ke kamar. Setelah ia berpesan pada Ana, "Tinggalkan rumah ini! Jangan bawa apa pun barang milik saya! Ayo, Ma! Kita harus menyiapkan barang-barang kita untuk besok, kalau kamu tidak ingin aku usir. Oh, ya! Saya harap, saat saya bangun besok, kamu sudah pergi dari sini!"
Mama Ana ingin sekali membela Ana. Namun, ia tidak ingin gegabah. Ia putuskan untuk menuruti perintah suaminya. Ia akan bicara pelan-pelan pada pria yang sudah dua puluh tahun menikahinya itu.
Tangis Ana pecah. Ia menyesal. Sangat menyesal. Setelah Alex membuangnya, kini papanya juga melakukan hal yang sama.
Bik Tinah yang sedari tadi duduk, berdiri kemudian mendekati Ana. Dipeluknya anak majikannya itu.
"Maafkan Ana, Bik. Maafkan Ana ...." Air mata Bik Tinah juga semakin deras mendengar tangis Ana yang berada dalam pelukannya.
***
Saat Ana pergi ke rumah Alya, tak berselang lama mama dan papanya pulang dari luar kota. Seperti biasa, mereka membawa oleh-oleh untuk putri satu-satunya itu. Berniat menaruhnya di kamar Ana, mama Ana menemukan tespack dengan dua garis merah di ranjang Ana. Kepanikan menyergapnya. Ia segera memberitahukan hal itu pada suaminya. Akhirnya mereka memutuskan untuk menggeledah kamar Ana. Hingga beberapa buah k****m mereka temukan di laci lemari Ana.
Papa Ana sungguh murka. Ia kecewa, ia marah. Ternyata putri yang dibanggakannya tidak sebaik yang dia pikirkan. Ia kecolongan.
***
"Mbak, Mbak Ana tidak usah pergi. Bapak hanya sedang marah. Pasti setelah marah beliau reda, beliau akan menyesali ucapannya," hibur Bik Tinah mencoba menahan Ana.
"Nggak, Bik. Ana tahu Papa sangat kecewa sama Ana. Bibik tahu sendiri, sekalipun sedang marah, Papa tidak pernah main-main dengan ucapannya."
"Lalu sekarang Mbak Ana mau ke mana?"
"Belum tahu, Bik."
"Apa Mbak Ana benar-benar hamil?"
Ana mengangguk ragu.
"Apa Mas Alex yang melakukannya?"
Ana mengangguk lagi.
"Apa dia sudah tahu, Mbak?"
"Sudah, Bik. Aku akan minta Alex untuk bertanggung jawab." Pikiran Ana menerawang. Ia kembali pada kejadian beberapa jam lalu. Mungkinkah Alex akan mau tanggung jawab, setelah Alex tahu ia telah diusir?
Air mata Ana kembali menetes. "Titip Mama sama Papa ya, Bik."
"Mbak Ana juga harus jaga diri baik-baik."
"Iya, Bik."
Bik Tinah berjalan ke arah lemari pakaiannya. Mereka memang sedang berada di kamar Bik Tinah.
Wanita itu mengambil sebuah bungkusan. Dibukanya bungkusan itu. "Ini, Mbak, siapa tahu Mbak membutuhkannya."
"Apa ini, Bik?"
"Perhiasan. Mbak bisa menjualnya jika Mbak butuh."
"Nggak perlu, Bik. Ini tabungan Bibik. Aku nggak berhak memakainya," tolak Ana halus.
"Tolong jangan ditolak, Mbak. Mbak bawa saja. Jika tidak dipakai, Mbak bisa mengembalikannya pada Bibik kalau kita bertemu."
Bik Tinah terus memaksa Ana sampai Ana mau menerimanya. Bungkusan berisi satu kalung emas lima gram, dua gelang masing-masing tiga gram, juga dua cincin masing-masing satu gram, dimasukkannya ke dalam tas Ana. Tas yang berisi tiga stel baju, dan satu handuk bersih. Hanya itu yang akan Ana bawa. Selain ponsel dan dompet yang hanya berisi KTP yang baru dibuatnya beberapa bulan lalu.
Ana akhirnya pergi dari rumah yang menjadi saksi hidupnya. Saksi kebahagiaanya, kesedihannya, kesepiannya, juga kehancurannya. Bik Tinah mengantarnya sampai di gerbang rumah, sampai Ana mendapatkan taksi. Air mata terus mengucur di pipi wanita paruh baya itu melepas kepergian Ana.