Akhirnya Ana pergi dari rumah yang menjadi saksi hidupnya. Saksi kebahagiaanya, kesedihan, kesepian, juga kehancurannya. Bik Tinah mengantarnya sampai di gerbang rumah, sampai Ana mendapatkan taksi. Air mata terus mengucur di pipi wanita paruh baya itu melepas kepergian putri majikannya. Di dalam taksi, air mata Ana terus menetes. Saat sang sopir bertanya ke mana tujuan Ana, rumah Alex-lah yang terucap dari bibir perempuan itu. Dia akan pikirkan ke mana ia harus pergi, nanti. Setelah bertemu Alex. Harapannya, semoga Alex berubah pikiran. Sampai di depan rumah Alex, Ana turun dari taksi setelah membayarnya. Ia berdiri di depan gerbang. Dengan ragu, ia memencet bel yang berada di samping pintu besi itu. Beberapa saat kemudian, tampak Bik Asih menghampiri gerbang dan membukanya. "Non Ana?

