Eps 3

2143 Words
Tokk Tokk Tokk… lamunan Asya buyar mendengar ketukan dari arah pintu Apartemennya. Ia mendapati tubuh tinggi Sabian berada didepan pintunya.                 “kak Bian? Silahkan masuk kak” ajak Asya                 “tidak perlu Sya, aku hanya ingin mengajakmu makan diluar, apa kau sudah makan?” tanya Sabian. Asya menggelengkan kepalanya sembari memegang perutnya. Ia merasa sangat lapar karena belum memasukkan apapun ke perutnya yang rata.                 “bagus, ayo ikut denganku, aku juga belum makan apapun” Ajak Sabian, senyumnya merekah karena Asya tidak menolak ajakannya.                 “kamu mau makan apa Sya?” tanya Sabian yang tengah fokus menyetir mobilnya.                 “emm, apa saja boleh kok kak, aku bisa makan apa saja” Asya menjawab, ia menoleh kearah Sabian yang sedang menyetir dengan fokus. Sabian terlihat tampan, bahkan sangat mirip dengan almarhum kekasihnya, ya, adiknya Sabian. Sabian yang merasa diperhatikan wajahnya mulai memerah, mencoba tidak terlihat salah tingkah didekat wanita disampingnya. Mereka berdua telah sampai di depan sebuah restaurant mewah yang dipilih Sabian. Asya tidak begitu terkejut telah dibawa Sabian menuju restaurant mewah yang sekarang ia datangi, karena Alvian beberapa kali pernah membawanya kesana.                 “sudah pernah coba menu ini Asya?” tanya Sabian menunjuk buku menu yang tengah dipegang Asya.                 “belum kak, apakah enak?” tanyanya penuh rasa penasaran.                 “sangat enak! Kau harus mencobanya Sya, sausnya benar benar unik” jelas Sabian sambil tersenyum menawan mendekatkan bahunya disebelah Asya, hampir tidak ada jarak antara keduanya. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih dimata orang lain.                 “Aaahh,, kalau kakak sudah pernah coba yg ini?” tunjuk Asya pada menu olahan udang di buku menunya dan dan menoleh ke Sabian. Kedua nya sama sama menoleh dan wajah mereka bertemu. Keduanya pun terkejut dan wajah mereka memerah malu. Sabian menjauhkan wajah dan bahunya sedikit dan berganti duduk berhadapan dengan Asya.                 “ehm.. belum, apakah enak Sya?” tanya Sabian sedikit salah tingkah. Jantungnya masih berdegub lebih kencang dari biasanya.                 “en.. enak kok kak, kak Bian bisa mencobanya” ujar Asya sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Tak disangka ditempat yang sama, Samuel sedang mengunjungi restaurant tersebut dan melihat Asya bersama Sabian dari meja yang tidak terlalu jauh dari mereka.                 “waaahhh,, menu ini benar benar enaakk” Asya memekik, matanya terpejam merasakan makanan yang ia santap sangat enak. Sabian tersenyum manis menatapi wajah cantik Asya.                 “makanan rekomendasimu juga enak Sya, aku menyukainya” Kata Sabian, tangannya menyodorkan satu sendok penuh berisi makanan yang ia pesan pada Asya. Mata Asya membulat.                 “buka mulutmu, kau boleh mencicipinya” ujar Sabian. Asya tak menolak dan melahap suapan yang diberikan Sabian. Dipikirannya Sabian perhatian padanya karena ia kekasih adiknya. Melihat apa yang terjadi membuat Samuel mengepalkan tangannya. *b*****t, Sabian tidak tau diri, apa yang dipikirkannya, wanita itu kan kekasih mendiang adiknya* batin Samuel. Samuel berdiri dan menghampiri kedua orang yang dikenalnya itu.                 “Hai, Sabian Hari Harjanta? Sudah lama tidak bertemu” ujar Samuel. Kedua tangannya sengaja dimasukkan ke dalam saku celananya. Sabian mengenal suara yang sudah lama tak ia dengar lagi dan mengusap bibir sexynya dengan napkin milik restaurant tersebut. Sabian berdiri dan menghadap lelaki yang ia kenal. Asya yang melihat Sabian berdiri lantas tersedak mengetahui pria yang memanggil Sabian adalah orang yang berkenalan dengannya dimakam kekasihnya tadi pagi.                 “kau baik baik saja Asya? Minumlah” Ujar Sabian menyodorkan air milik Asya dan kembali menatap Samuel kembali.                 “lama tidak bertemu, aku baru tau jika kau tinggal di Negara ini… Sabian?” kata Samuel. Samuel memang tidak pernah menetap di Negara yang kini ia tinggali itu. Ia berada di Negara lain untuk membangun bisnis Ayahnya menjadi lebih maju, perusahaannya disini dipegang langsung oleh Ayahnya dan sekarang menjadi miliknya setelah Ayahnya memilih pensiun.                 “Lama tidak bertemu denganmu juga Sam, entah mengapa kita harus dipertemukan lagi. Bukankah lebih baik untuk kita jika tidak bertemu?” Jawab Sabian dengan wajah yang dingin dipenuhi kebencian.                 “hahhahaha. Apa yang kau katakan itu Sabian… kau lucu sekali” ujar penuh tawa dan Sabian tetap berdiri dengan wajah dinginnya.                 “hai cantik? Kita bertemu lagi? Aku rasa kita berjodoh” ujar Samuel lagi dan mendekati Asya. Tangan Sabian mencengkram kerah baju Samuel “jangan pernah menyentuhnya!!” Sabian menghempas tubuh Samuel hingga lelaki itu hampir terjatuh.                 “heeiii,, santai buddy” Samuel bersuara sembari merapikan kerahnya.                 “Asya, kita pergi” Sabian mengambil tangan Asya dan sedikit mencengkram tangan Asya tak sengaja. Samuel yang melihat keduanya pergi hanya tersenyum miring *sialan* Batin Samuel.                 “Ahhh,, kak Bian, sakit” pekik Asya menghentikan langkah Sabian yang terburu buru. Asya melepas tangannya dari Sabian dan mengelus tangannya yang kesakitan.                 “maaf Asya, aku tidak sengaja” Ujar Sabian menyesal. Keduanya memasuki mobil dan pergi meninggalkan tempat itu. Suasana mobil Sabian hening, keduanya tidak mengucapkan sepatah katapun hingga Sabian meliat Asya yang kesakitan dan masih mengelus tangannya.                 “maafkan aku Sya, aku sangat keterlaluan padamu” ucapan Sabian membuat Asya menoleh padanya dan tersenyum manis, “tidak apa apa kak, nanti juga tidak sakit” jawab Asya.                 “kau mengenal lelaki itu?”                 “iya kak, tadi pagi aku bertemu dengannya”                 “dimana?”                 “saat aku mengunjungi makam Alvian tadi pagi kak, oh ya kakak mengenalnya?” tanya Asya penasaran                 “berhati hatilah dengannya Sya” jawab Sabian tanpa menjawab pertanyaan Asya lebih lanjut. Asya hanya mengangguk dan tak terlalu menggubris Sabian. Tak lama mereka pun sampai di apartemen Asya. Asya mengajak Sabian masuk ke dalam apartemen kecilnya. Sabian menuju dapur Asya untuk mengambil air hangat dari wastafel Asya. Ya Apartemen Asya walau terlihat kecil tapi memiliki fasilitas yang cukup lengkap.                 “Sya, kemarikan tanganmu” Sabian mengambil Sapu tangan didalam jasnya dan menarik tangan Asya pelan. Asya sedikit menyeringai kesakitan saat tangannya yang memerah karena cengkraman Sabian tadi tersentuh saputangan Sabian yang hangat.                 “tahan sebentar” Ujar sabian yang fokus matanya hanya tertuju pada pergelangan tangan Asya.                 “jika masih sakit kamu harus segera mengompresnya,, paham?” kata Sabian                 “iya kak paham” Anggukan dan senyuman Asya merekah. Keduanya lantas terdiam hanya saling berpandangan. Tangan Sabian masih memegang pergelangan tangan Asya yang tadinya ia kompres. Entah apa yang ada di benak Sabian tubunya mulai mendekati Asya dan mendekatkan wajahnya hingga keduanya sangat dekat. Sabian menatap wajah Asya sayu dan mulai mendaratkan bibir nya pada bibir manis Asya. Entah mengapa Asya merasakan tubuhnya bergetar, ada rasa ingin menolak namun terhalang rasa yang tak ia ketahui hingga tubuhnya malah menginginkan hal itu terjadi. Asya yang tadinya terdiam saat bibir indah Sabian melumat bibirnya mulai membalas perlakuan manis Sabian. Tak lama Asya mendorong Sabian pelan menjauhi tubuhnya, merasa bersalah telah melakukan hal tersebut dengan Sabian.                 “eee… maaf kak, aku tidak bermaksud…” belum selesai berbicara Sabian memeluk Asya erat.                 “Asya, aku mencintaimu” terang Sabian. Bak disambar petir tubuh Asya membeku, otaknya mencerna pernyataan yang baru saja di ucapkan Sabian.Sabian melepas pelukannya dan berdiri menatap Asya yang membeku disofa kecilnya.                 “aku tau kau pasti akan terkejut dan banyak hal yang akan kau pikirkan. Bahkan mungkin kau akan menganggapku b******n yang menyukai kekasih adiknya. Tapi yang harus kau tahu Sya, aku mencintaimu sebelum Alvian. Aku sudah sangat menyukaimu disaat pertama kali kita bertemu. Hanya saja aku terlambat. Aku terlambat mengutarakannya hingga Alvian mendahuluiku dan mengatakan bahwa dia mencintaimu. Aku meminta maaf padamu Sya” Alvian kemudian pergi meninggalkan Asya sendiri di Apartement kecilnya tersebut. Asya terdiam tak bergeming, ia mencerna kata demi kata yang Sabian lontarkan padanya. Ia mengingat kembali saat bertemu dengan Sabian dan Alvian saat mereka berkuliah dulu.                 *Selama ini dia menyukaiku? Bagaimana bisa?* batin Asya berkecamuk. Tangannya memegang dadanya yang sedikit terasa perih. Disisi lain Sabian mengendarai mobilnya kembali menuju kediamannya. Rasa penyesalan ia rasakan tak kala ingat sudah mengutarakan perasaannya pada Asya yang selama ini ia pendam. Penyesalan mengapa ia harus mengutarakan perasaan itu diwaktu yang mungkin menurutnya tidak tepat. Bahkan Ketika Asya sudah kehilangan Alvian. “Asya akan membenciku sekarang, F*ck” umpat Sabian meremas rambutnya sendiri. Hari beranjak gelap, Sabian sangat murung atas apa yang terjadi padanya hari ini. Ia megendarai mobilnya menuju salah satu club malam ternama di kota. Sabian dengan pakaian casualnya masuk kedalam dan duduk sembari memesan minuman beralkohol. Sabian memang bukan pria yang suka berada di tempat seperti itu, namun hari adalah pengecualian untuknya. Hari ini ia ingin melepas semua kekelasan yang ia perbuat sendiri pada dirinya. Dalam keadaan setengah mabuk Sabian membuka ponselnya dan mencari sebuah foto yang ia simpan diponselnya. Terlihat fotonya Bersama Asya. Foto tersebut diambil saat ia datang pada hari kelulusan Asya. Asya semat meminta dirinya untuk foto Bersama saat itu. Sabian tersenyum Ketika melihat wajah manis dan senyum indah Asya difoto tersebut. “cantik sekali” geming Sabian sembari meneguk habis isi gelas kesekiannya dengan cepat. Entah berapa gelas minuman memabukkan yang sudah ia tenggak. Membuat Sabian yang tadinya masih setengah sadar menjadi sangat mabuk. Sabian yang sudah sangat mabuk itu lantas dengan tidak sadar menelfon Asya. Dikediaman Asya Asya tengah merapikan tempat tidurnya dan kemudian akan bersiap untuk tidur. Ponselnya bergetar dan tertulis bahwa Sabian menelfonnya. Ada sedikit keraguan dihatinya saat ingin mengangkat telfon Sabian *sepertinya kak Sabian ingin meminta maaf, aku juga harus meminta maaf padanya karena sudah keterlaluan padanya*                 “Hallooo kak Sa…” Asya terhenti dan menjauhkan ponselnya dari telinganya                 “heeei Allessyaaaa…. Kenapa kau ini selalu ada dipikiranku? Kenapa kau ini tidak bisa kuhilangkan saja dari hati dan otakku? Kau tau aku sangat sangat sangat hiiks mencintaimu. Aaah sudahlah! Kau taakkan pernah tau dan tak akan ingin tau hiiks” teriak Sabian yang cegukan memekik. Alesya yang segera sadar bahwa Sabian tengah berada di club  malam dan mabuk berat menghela nafasnya.                 “kak, pulanglah, kau sudah sangat mabuk” ucapnya kesal. Namun tak ada jawaban dari Sabian, yang Asya dengar hanya suara music yang berisik. “halo kak? Kau mendengarku?” lanjutnya. Asya mematikan ponselnya dan segera mencari nomor seseorang diponselnya. “haaiissshhh… aku lupa, aku tidak pernah punya nomor asistennya” Asya berbicara pada dirinya sendiri. Seketika Asya sadar bahwa ia dulu bisa menemukan lokasi Alvian di ponselnya. “apa mungkin kak Sabian memakai aplikasi yang sama?” ia berpikir cepat dan langsung membuka ponselnya kembali dan seperti yang ia sangka, Sabian memiliki hal yang sama dengan Alvian diponselnya hingga memudahkan Asya mengetahui lokasi club malam yang Sabian kunjungi malam ini.  Lokasi Sabian yang tidak terlalu jauh dari kediamannya membuat Asya mengurungkan niatnya untuk tidur dan segera berpakaian untuk mencari Sabian. Tak lama ia pun keluar dan memesan taksi menuju club dimana Sabian berada. Tak sampai 20 menit Asya sampai dan langsung masuk kedalam. Matanya mencari kesemua sudut club tersebut untuk mencari Sabian                 “aahh, akhirnya ketemu” ucap Asya lega. Matanya tertuju pada sofa besar diujung, seorang pria yg ia kenal menempelkan kepalanya diatas meja dan terlihat tak sadar. Asya menghampirinya lalu mencoba membangunkan pria tersebut namun Sabian terlalu mabuk untuk bisa tersadar. Asya mulai membopong tubuh Sabian yang tidak ringan karena badan kekarnya yg terbentuk sempurna. Alesya berjalan tertatih menuju taksi yang tadi sudah ia minta untuk menunggunya.                 “aah,, berat sekali” omel Asya                 “eemmm… Alesya? Hehehe, hiiks aku mencintaimu hiiks,, kau sangat cantik dan aku suka” oceh Sabian yang cegukan dan sangat mabuk.                 “haissh, diamlah, ayo pulang” omel Asya. Jantungnya berdegub saat mendengar kata kata yang ducapkan Sabian. Supir taksi yang menunggu Asya ikut membantu membopong tubuh Sabian masuk kedalam taksi.                 “ini kita kemana bu?” tanya supir taksi yang sudah siap mengantar keduanya                 “ke….” Asya berpikir dan mlai mengingat bahwa ia tidak mengetahui dimana Sabian tinggal. Sabian selama ini memang hidup terpisah dengan kekasih dan keluarganya entah kenapa. *Dimana kak sabian tinggal? Haiss kenapa bodoh sekali* batin Asya                 “kembali ke apartemen saya ya pak.” Pinta Asya dilanjut dengan taksi yang melaju kearah Apartemennya. Seesampainya Asya dikediamannya, Asya membayar supir taksi itu dan meminta tolong untuk membantunya membopong Sabian masuk kedalam kamarnya. “terimakasih banyak pak” Asya mengantar supir taksi itu sampai didepan pintu apartemennya disambut anggukan dan senyum dari supir taksi yang membantunya. “aah, badanku terasa pegal, kenapa kau berat sekali kak, kau mungkin terlalu bnyak pergi berolahraga” omel Asya pada Sabian yang tertidur dikasurnya. Asya duduk dipinggir kasur dan melihat Sabian dengan rasa iba. Asya mulai menaruh ponsel dan barang milik sabian yang ia sempat temukan di club dan membuka sepatu sabian yang masih terpasang dikakinya. Asya juga menggeser tubuh Sabian khawatir pria tersebut terjatuh dari kasurnya. Sabian terbangun dan memeluk Asya yang sedang berusaha memindahkannya agar tidak terjatuh. Asya terkejut bukan main, tubuhnya kini berada diatas tubuh kekar Sabian. Ia mencoba untuk bangkit namun tubuhnya tak bisa melawan kekuatan tangan Sabian yang memeluknya. Asya terus mencoba bangun namun Sabian tetap tidak melonggarkan tangannya. Asya mulai Lelah memberontak dan terdiam, jantungnya berdegub kencang. Entah apa yang ada dibenakknya namun ia mulai merasa nyaman berada dipelukan Sabian. Aroma parfum Sabian membuatnya merasa seperti menginginkan tubuh Sabian. *berpikirlah jernih Asya* batin Asya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD