Eps 4

3194 Words
Tak berselang lama, pelukan Sabian yang mulai merenggang membuat Asya bangun perlahan agar tidak membangunkan Sabian. Asya menyelimuti tubuh Sabian dan menatapnya lembut. *wajah mereka memang mirip* batin Asya, ia mulai tersenyum dan mengingat raut wajah Alvian yang sangat mirip dengan Sabian. Asya mengambil beberapa bantal spare dan selimut kemudian berjalan menuju sofa dan mulai tertidur. Sinar mentari pagi membangunkan Asya dari tidurnya yang lelap. Asya mengernyitkan dahinya, matanyanya silau melihat cahaya dari jendela yang terbuka dan mulai tersadar bahwa ia sudah tidak tidur di sofa melainkan di tempat tidurnya. Ia terkejut dan segera duduk sambil melihat baju yang ia pakai.                 “haaahh, masih baju semalam… kenapa aku bisa tidur disini?” gumam Asya bersyukur pakaian semalam masih melekat ditubuhnya. Asya teringat akan Sabian yang harusnya berada di tempat tidurnya. Ia mulai bangkit dari kasurnya dan berjalan terhuyung mencari keberadaan Sabian di Appartemennya. Langkahnya terhenti saat ia melihat Sabian berdiri di dapur minimalisnya. Matanya membulat melihat perawakan Sabian dihadapannya yg setengah telanjang sedang menuangkan kopi dicangkirnya. Tubuh bagian atas Sabian tidak tertutup kain sehelaipun hanya sebuah celana training menggantung dipinggang dan menampakkan perutnya yang indah terlihat seperti kue sobek dan rambutnya yang sedikit basah membuatnya nampak sangat sexy.                 “kau sudah bangun? Bagaimana tidurmu?” Sabian menyadari Asya yang melamun berdiri memperhatikannya.                 “ah itu, iya, aku baru bangun, kau ju.. juga?” jawab Asya gugup pipinya memerah, ia tak ingin Sabian berpikir bahwa ia memandangi tubuh Sabian walaupun kenyataan berkata demikian.                 “aku memindahkanmu ke tempat tidur baru tadi pagi, jangan khawatir” ungkap sabian tersenyum pada Asya. “oh ya, aku juga meminjam kamar mandimu, kau tidak keberatan kan?” sambung sabian. “ah ya, itu, tentu, kaka bisa pakai kamar mandinya, iya” jawab Asya, tangannya menggaruk rambutnya yang tidak gatal. Sabian yang tau Asya salah tingkah mulai berjalan menghampiri Asya. Tindakannya membuat Asya makin salah tingkah dan membuat tubuh Asya bersandar ditembok. Sabian menurunkan wajahnya agar sejajar dengan wajah cantik gadis idamannya selama ini. Wajah keduanya sangat dekat, tidak ada penghalang diantara mereka, Sabian bahkan bisa mendengar nafas Asya yang tak beraturan. Sabian menatap Asya lama, meneliti seluruh wajah manis Asya. Dagu runcing pipi sedikit tirus dan bibir pink sedikit pucat milik Asya membuat Sabian merasa ingin mendaratkan bibirnya disana. “Kamu sudah lapar belum?” tanya Sabian, suaranya yang berat membuat bulu kuduk Asya berdiri. “aku sudah membuat sarapan untuk kita berdua” lanjut Sabian perlahan mulai menjauhkan wajahnya. Jantung Asya berdegub sangat kencang melihat perlakuan Sabian barusan. *aku bisa mati mendadak kalau begini* batin Asya. Sabian memegang tangan Asya dan mulai menuntunnya perlahan menuju meja makan berisi sarapan yang telah ia siapkan untuk keduanya. Keduanya duduk berhadapan dan mulai memakan hidangan yang tersaji dimeja. Rambut Asya tergerai saat makan membuat dirinya harus selalu memegang rambutnya agar tidak ikut termakan ataupun kotor. Melihat hal tersebut Sabian sedikit gemas, Sabian memperhatikan sekeliling dan menemukan beberapa karet diatas lemari es milik Asya. Sabian bangkit dari tempatnya dan mengambil karet tersebut dan menghampiri Asya. Sabian yang berada dibelakang tubuh Asya mulai merapikan dan mengikat pelan rambut Asya. Asya terkejut lagi, kali ini ia merasakan tangan dingin Sabian menyentuh lehernya yang hangat dengan lembut yang membuat bulu bulu sekitar lehernya naik. “ikat rambutmu saat makan” ujar sabian dan kembali duduk untuk melahap makanannya. Pipi Asya memerah dan iapun mengangguk. *jangan baper Asya,jangann* batin Asya. Keduanya kembali melahap makanan masing masing. Setelah makanan habis, Sabian menuju sofa kemudian duduk untuk menelfon supirnya untuk menjemputnya. Asya baru saja selesai mandi menghampiri Sabian.                 “kak bian sudah mau pulang?” tanyanya                 “iya, aku ada sedikit urusan di kantor” jawab Sabian tersenyum                 “bukannya ini hari minggu kak?”                 “iya, kebetulan klien ku ini minta meeting di hari ini. Oh ya, Sya, terimakasih ya karena sudah menolongku kemarin dan membawaku kesini” ucap Sabian tersenyum.                 “ah, itu, aku juga ingin mengucapkan terimakasih ya kak untuk sarapannya” jawab Asya manis.                 “Sya, kamu bisa memanggil aku Sabian saja. Usi akita hanya berbeda 4 tahun” ungkap Sabian                 “tappi..” belum sempat Asya menjawab Sabian memotongnya “tidak ada tapi, aku mohon, panggil saja namaku tanpa sematan lain. Oke?”                 “baiklah” jawa Asya bingung. “good” Sabian tersenyum sumringah menambah ketampanannya. Tak lama supir Sabian mulai mengetuk pintu, Sabian berpamitan pada Asya, dan menepuk kepala gadis cantik dihadapannya seperti kucing kecil. Asya menutup pintunya saat Sabian sudah tidak terlihat dilorong apartemennya. Hari itu Asya bingung akan perasaannya sendiri. Ada rasa yang tak bisa ia jelaskan atas perlakuan Sabian padanya. Ia seakan akan menyukai hal hal yang sudah Sabian lakukan padanya. Hari berganti, Asya bersiap diri dan mengendarai motornya menuju ke tempat ia bekerja.                 “selamat pagi sahabat karibkuuu” sapa Wanita tak lain dan tak bukan Sahabatnya, Icha. Icha bergelayut dilengan Asya manja.                 “pagii,, kenapa nih? Kayanya lagi seneng ya?” tanya Asya curiga                 “iiisshhh,, jelas seneng dong, ngliat kamu udah ga murung kaya bulan lalu” jawab Icha mantap                 “hahaha, ada ada saja” Asya menggandeng tangan sahabatnya itu dan mulai menuju meja tempat ia bekerja. Hari ini dimulai dengan sangat baik, Asya memulai bekerja seperti biasa, mengurus nasabah nasabahnya dengan baik, makan siang bersama sahabatnya dan pulang tepat waktu. Hari demi hari yang dilalui Asya berjalan dengan sempurna tanpa ada halangan apapun. Asya benar benar merasa hidup kembali setelah sekian lama sejak kepergian Alvian dihidupnya. Hubungan pertemanannya dengan Sabian juga semakin membaik. 3 Bulan berlalu…. Disuatu sore, Asya yang tengah sibuk menulis rincian pekerjaannya mendapati seorang pria tengah berdiri dihadapannya. Pria yang tak asing yang ia sempat kenal beberapa bulan lalu kini ada dihadapannya.                 “oh, selamat sore pak Samuel” Asya menyapa pria itu dengan sedikit terkejut.                 “sore Asya, apakabar?” tanya Samuel sembari tesenyum padanya “Kabar baik pak, ada yang bisa saya bantu pak? Apakah bapak dalam antrian counter saya?” tanya asya bingung, karena sejak 10 menit lalu memang antriannya sudah ditutup. “tidak tidak, saya hanya ingin ketemu kamu saja, hari ini kamu pulang sama siapa?” ujar Samuel “ohh,, saya selau bawa kendaraan sendiri pak,” jawab Asya bingung. Dipikirannya mengapa Samuel ingin bertemu dengannya. “begini, tentang kejadian bulan bulan lalu……. Di restaurant…. Aku mau minta maaf soal  kejadian itu, maaf karena sudah lama dan belum sempat meminta maaf langsung” “oh, itu bukan hal besar pak Samuel, bapak tidak perlu meminta maaf, malah saya yang harus meminta maaf karena teman saya....” belum sempat melanjutkan Samue memotong pembicaraan Asya “iya, Sabian? Kamu tidak perlu meminta maaf, Sabian memang orang yang sedikit sensitive. Hmmm,, padahal kalu di ingat ingat, dulu dia teman dekat saya, tapiii,, yah sampaikan salam saya buat dia ya” ungkap Samuel dengan senyum miring yang membuat Asya makin bingung, *Sabian orang yang sensitive? Mereka dulu temen deket? Tapi waktu mereka bertemu kenapa sepertii..* pikiran Asya mencoba mengaitkan semua kejadian yang pernah ia saksikan. “nanti malam kamu sibuk Asya?” tanya Samuel membuyarkan kebingungan Asya “Ah, tidak pak Sam, kenapa ya?” Asya menggeleng perlahan “nanti malam aku mau mengajak kamu makan malam bersama, sebagai permohonan maaf dariku Sya. Kumohon jangan menolak, jika kau menolaknya aku akan terus menghantuimu untuk bersikeras mengajakmu sampai kau mau” ujar Samuel, alisnya terangkat, kedua tangannya dikepalkan seperti orang memohon. Asya yang kebingungan dan juga berpikir jika ia tak menerima ajakan Samuel, bisa jadi hari harinya akan penuh dengan kehadiran Samuel untuk bersikeras mengajaknya. “baiklah pak, Sam” Asya mengangguk dan tersenyum terseringai. “Good answer, Asya. I’ll pick you up at 8pm. (jawaban yang bagus Asya, aku akan menjemputmu jam 8 malam)” dengan anggukan kecil Asya, Samuel terlihat pergi dari hadapannya dan melambaikan tangan.                 Malam Hari Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, Asya tengah berdiri di depan meja riasnya, memoles bibirnya dengan lipstick berwarna merah yang terlihat cocok dengan dandanan wajahnya malam ini. Asya mengenakan gaun berwarna hitam selutut dengan belahan disisi kanan yang menampakkan paha mulusnya. Gaun tersebut bermodel off shoulders menampakkan bahu mulus Asya dengan sempurna. Asya membiarkan rambutnya tergerai rapih menutupi sebagian punggungnya. Tak lama ponselnya berbunyi oleh panggilan suara dari Samuel yang sudah sampai dan tengah menunggunya didepan. Bergegas Asya mengambil purse miliknya dan menuju keluar menemui Samuel didepan gedung apartemennya.                 Asya berjalan menuju mobil Samuel, dilihatnya pria itu sedang setengah duduk menyilangkan tangan didada bidangnya diatas kap mobil miliknya. Samuel terlihat tampan malam itu, ia mengenakan setelan celana dan kemeja hitam lengan panjang yang lengannya sengaja dilipat. Samuel memakai jam tangan mewah ditangannya, rambutnya tersisir rapih menambah ketampanannya malam itu membuat bola mata Asya membulat penuh. *dia terlihat tampan berpakaian seperti itu* Asya membatin                 “hei, you look so preety, I like that dress… (hei, kamu cantik sekali, aku suka gaunmu)” ungkap Samuel sambil menelan ludah kagum melihat Wanita yang berdiri dihadapannya begitu cantik. “thankyou” jawab Aysa malu “come in” (masuklah) Samuel membukakan pintu mobilnya untuk Asya dan bergegas melajukan mobilnya ke tempat yang akan mereka tuju. Didalam mobil, Samuel terlihat mencuri curi pandang pada Asya. *damn, she looks awesome* batinnya. Tak lama Samuel mulai memutar music classic dari penyanyi cody francis kesukaannya untuk memecah suasana canggung diantara keduanya. Benar saja yang ia lakukan mendapatkan perhatian dari Asya. “pak Sam suka lagu klasik ya?” tanya Asya “emm, ya, bisa dibilang begitu, kalau kamu? Apa kesukaanmu?” Samuel balik menanyai Asya “aku suka menonton film dibanding mendengarkan lagu, memasak, tidur, bernafas juga kesukaanku pak. Hahaha” jawab Asya dengan bercanda “hahaha, kau ini lucu sekali” Samuel tertawa atas candaan yang dibuat Asya. “kalau begitu aku akan segera mengajakmu menonton lain kali. Ingaat, tidak ada penolakan” sambung Samuel.                 “ish, pak Samuel curang, hahaha” Asya menjawab tertawa, entah mengapa hari ini ia terlihat bahagia.                 “Sya, hilangkan kata pak saat kamu memanggilku ketika sedang tidak bekerja. Kumohon. Dan tidak ada penolakan” Samuel terlihat serius.                 “tapi pak,” belum sempat Asya menjawab, tangan Samuel memegang tangannya yang membuat ia terkejut dan jantungnya berdegub kencang. Samuel tersenyum padanya, Asya hanya bisa mengiyakan permintaan Samuel. 10 menit berlalu, keduanya sampai di tempat yang mereka tuju. Sebuah restaurant mewah ditengah kota yang belum pernah Asya datangi sebelumnya. Terlihat ornament dan pillar pillar berwarna silver memenuhi setiap penjuru gedung mewah itu. *wooah, restaurant ini mewah sekali* batin Asya, matanya membulat penuh menelusuri setiap sudut Gedung itu dengan matanya.                 “kamu suka tempatnya?” tanya Samuel yang dijawab dengan anggukan oleh Asya yang masih memperhatikan Gedung tersebut dengan takjub.                 “let’s go in” tangan Samuel memegang pinggang Asya, menggiringnya masuk. Sentuhan tangan Samuel dipinggangnya membuat Asya bergidik.                 “silahkan cantik” Samuel menarik kursi dan mempersilahkannya duduk. “pesanlah sesuatu” sambung Samuel tersenyum pada Asya. Tak lama seorang pelayan menghampiri keduanya, dengan ramah menanyakan makanan yang ingin dipesan. Keduanya selesai memesan makanan dan menunggu.                 “pak, eeh maaf Sam, apa kamu sering kesini?” tanya Asya                 “emmm, tidak sesering yang kamu bayangkan, tapi tidak jarang juga aku makan disini, makanannya enak, kau juga pasti suka” jawab Samuel menatap Asya                 “apa kamu tidak keberatan jika aku bertanya beberapa hal pribdai? Bukan apa apa, aku hanya ingin mengenal orang yang mengajakku makan ke restaurant mewah seperti ini” tanya Asya sedikit canggung                 “hahaha, tidak masalah, bertanyalah” jawab Samuel santai                 “apa pekerjaanmu dan bagaimana kau kenal Sabian?”                 “hmm? Sabian tidak pernah memberitahumu?” tanya Samuel penasaran di sambut dengan gelengan kepala Asya                 “okheeyy,, sepertinya harus aku yang memberitahumu. Aku adalah CEO AB Group, kau pasti sudah tau Sabian adalah CEO dan pewaris tunggal 2H Group bukan?” pertanyaan Samuel dijawab dengan anggukan Asya. “aku dan Sabian dulunya adalah teman baik, teman dekat, kita sama sama menempuh pendidikan di jurusan dan universitas yang sama saat mengambil gelar S2 dulu. Kita berdua juga membangun perusahaan pertama milik kita dibantu oleh ayah kita berdua. Tak lama berselang aku dan ayahku memutuskan untuk membelah perusahaan itu menjadi 2 bagian karena suatu hal yang tidak bisa kuceritakan padamu. Sabian tidak bisa menerima hal tersebut dan meninggalkan semua asset penuh perusahaan itu padaku. Dan mungkin itu kenapa ia membenciku sekarang” jelas Samuel dengan tersenyum mirip tersirat diwajahnya. Asya mengangguk pelan ingin rasanya ia bertanya mengapa Samuel dan keluarganya ingin membelah perusahaan tersebut. Namun ketika ia mulai ingin melontarkan pertanyaan tambahan, ia melihat Sabian berada disebuah meja direstaurant tersebut. Sabian terlihat duduk sendiri memakan hidangannya. Entah mengapa Asya sangat Bahagia melihat Sabian, wajahnya tersenyum manis, hal itu membuat Samuel yang mengetahuinya muak. Senyum Asya seketika memudar, ia melihat seorang Wanita muda cantik menghampiri Sabian dan duduk bersamanya. Senyum Asya yang menghilang lantas membuat Samuel melihat kea rah Sabian dan tersenyum licik.                 “wah ternyata disini juga ada Sabian, apakah itu kekasihnya? Aku tidak tau dia memiliki kekasih selama ini” ujar Samuel membuat keruh suasana hati Asya. *kalau dia sudah punya kekasih, ngapain kemarin kemarin ngungkapin perasaannya ke aku? Dasar cowo gajelas* batin Asya .                 “hei makanan kita sudah datang, ayo makan” ajak Samuel. Asya tak menjawabnya dan mulai memakan hidangannya. Asya terus menerus memperhatikan Sabian sesekali. Nampak Sabian tidak mengetahui bahwa ada dirinya yang sedang memperhatikan dari kejauhan. Sabian mulai bangkit dari kursinya dan pergi bersama Wanita yang tak Asya kenal tersebut.                 “Sya, kamu mau nambah sesuatu?” tanya Samuel memecah perhatian Asya                 “ah, tidak tidak, aku sudah penuh” jawab Asya singkat.                 “emm,, baiklah, kau mau pulang?” tanya Samuel lagi                 “tidak tidak, mungkin kitab isa beranjak 10 menit lagi Sam” ujar Asya. Ia tak ingin pulang bersamaan dengan Samuel bebarengan dengan Sabian yang baru saja meninggalkan tempat itu.                 “hei, kamu cemburu ya?” tanya Samuel mengernyitkan dahinya                 “cemburu? Tidak, aku hanya terkejut ternyata kita ditempat yang sama” jawab Asya. *ternyata dia sudah memiliki rasa pada Sabian, kurang ajar! aku gak akan memperbolehkanmu melanjutkan rasa yang kau punya pada Sabian Sya, kamu hanya boleh dimiliki olehku, hanya aku! Sabian tidak akan pernah memilikimu. Aku akan membuatmu mujadi milikku saja apapun caranya* batin Samuel. “hmm, tapi mereka terlihat serasi, yakan?” tanya Samuel dan Asya hanya mengangguk.                 Samuel dan Asya beranjak pergi dari tempat tersebut tak lama setelah mengobrol. Samuel membukakan pintu mobilnya untuk Asya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Terlihat Asya sedang menatap jalanan dengan kosong.                 “Sya, are you okay?” tanya Samuel.                 “iya, aku baik baik saja, hanya sedikit Lelah” jawab Asya singkat.                 “mau mampir beli sesuatu?” tanya Samuel lagi                 “tidak usah Sam, antar aku pulang saja” Asya tersenyum manis pada Samuel membuat hatinya makin menyukai Asya.                 20 menit berselang keduanya telah sampai di apartemen Asya. Samuel kemudian membukakan pintu Asya dan membantunya turun. “terimakasih Sam, sudah mengantarku” “no problem, sudah tugasku, masuklah” “baik, aku masuk dulu ya Sam” “bye, mimpi indah ya, tidur yang nyenyak” Samuel melambaikan tangannya pada Asya yang sekarang sudah tidak nampak lagi. Samuel masuk kembali kedalam mobil dan menelfon asistennya. “kerjamu bagus sekali Farhan. Keep that good work. Kita harus segera merencanakan langkah selanjutnya” Ujar Samuel dan mematikan panggilan di ponselnya. Ia melajukan mobil mewahnya pulang. Dirumah Samuel                 Samuel tiba dirumah megahnya disambut oleh Farhan Asistennya dan beberapa pelayan. Samuel beranjak pergi menuju ruang kerjanya diikuti Farhan yang berjalan dibelakngnya.                 “Ambilkan wishkey ku dan bawa keruanganku” ucap Samuel pada salah satu pelayannya.                   “bagaimana malam anda Pak?” tanya Farhan.                 “tidak terlalu buruk, juga tidak terlalu baik. Wanita itu mulai menyukai Sabian. Aku bisa melihatnya dengan mataku” jawab Samuel sembari menegak minuman beralkohol digelasnya.                 “lalu bagaimana selanjutnya pak?” tanya Farhan lagi                 “kita harus bertindak cepat Farhan. Aku hatus mengambil hati Asya sebelum Sabian. Aku tidak ingin Asya jatuh kepelukan Sabian. Dia sangat berbeda dengan Tania walau wajah mereka hampir mirip. Cara ia menyapaku, caranya tersenyum, keramahannya, tutur katanya 180 derajat berbeda dengan Tania. Ia sangat sederhana dan aku menyukai hal tersebut. Walau aku tidak bisa melupakan Tania dalam hidupku. Namun, Asyaaa..” Samuel berhenti menjelaskan. Ia membayangkan betapa cantik dan sexy nya Asya mala mini yang membuatnya tergila gila. Samuel mengingat betul kaki Asya yang jenjang menampakkan pahanya yang mulus, ia ingat betul bagaimana belahan d**a kencang Asya yang terlihat pada gaun yang Asya pakai malam itu. aku sangat tergila gila padanya* batin Samuel.                 “aku ingin tidur Farhan. Bereskan ruanganku” ujar Samuel pergi dan meninggalkan Farhan   2 hari berlalu Dikantornya, Sabian terlihat gelisah. Ia memengang ponselnya dan memanggil kontak yang sama berulang ulang tanpa ada jawaban.                 “s**t! Kenapa dia tidak pernah mengangkat telfonku?” umpat Sabian. Ya, ia terus menerus menelfon dan tidak mendapat Jawaban.                 “kamu kemana sih Sya! Angkat telfonku!” Sabian berteriak, ia terus berjalan mengitari isi ruangannya tak kala telfonnya lagi lagi tidak mendapatkan jawaban. Sudah 2 hari ia mengirim pesan pada Wanita idamannya tanpa direspon, ya Alesya Altanaya. Terdengar suara ketukan pintu dari luar menghentikan langkahnya                 “masuk” ucap Sabian                 “pak, meeting bersama pihak corporate akan diadakan pukul 5 sore, tepatnya 2 jam lagi. Bapak sudah melihat berkasnya?” seorang Wanita cantik dengan memakai pakaian yang sedikit ketat, kancing baju yang sengaja dibuka karena tidak cukup dengan rok span diatas lutut memasuki ruangan Sabian. Wanita itu adalah sekertaris Sabian yang sudah 3 tahun bekerja dengannya.                 “ck, kamu batalkan dulu saja dan jadwalkan besok. Aku akan menandatangani beberapa file lalu segera pulang” jawab Sabian kesal.                 “ah begitu, baik pak” jawab sekertaris Sabian dan pergi meninggalkannya. Sabian mulai mengerjakan beberapa pekerjaannya tak berselang lama mengambil kunci mobilnya dan pergi. Dalam perjalanan menuju tempat parkirnya, Sabian terus menerus menelfon Asya dan lagi lagi tak dijawab. Kesal dengan hal itu Sabian bergegas menuju mobilnya dan pergi mengendarai mobilnya menuju Apartemen Asya tinggal.   Dikantornya, Asya terlihat sedang mebereskan berkas berkas dan bersiap untuk pulang. Asya mengecek ponselnya dan terkejut, terdapat 45 kali panggilan tak terjawab diponselnya dari Sabian.                 “Astaga, kenapa dia spam telfon seperti ini? Apa dia sudah gila?” bola mata Asya membulat. Ia segera meletakkan poselnya tak peduli dan berjalan menuju motornya untuk pulang. Sesampainya Asya di basement apartemennya, ia memarkirkan motornya dan menaiki lift yang tersedia. Ia menekan tombol lantai dimana ia tinggal. Asya berjalan malas menyusuri lorong apartemen miliknya, rasa Lelah ia rasakan disekujur tubuhnya saat itu. saat hampir sampai, langkah Asya terhenti dan iapun terkejut melihat Sabian sedang berada didepan pintu Apartemennya. Sabian yang mengetahui Asya pulang berlari menuju kearah Asya dan langsung memeluknya dengan erat.                 “emmph” pekik Asya saat tubuh Sabian meraih tubuhnya dan memeluk dirinya sangat erat. Hangat tubuh Sabian menyelimuti tubuh Asya. Rasa yang lama hilang, rasa yang sama pernah ia rasakan ketika Alvian kekasih lalunya memeluk dirinya. Asya mulai larut dalam pelukan Sabian mulai menitikkan air mata. Tangannya kini membalas pelukan Sabian tanpa ia sadari. Kenapa aku merasa gelisah melihatnya bersama Wanita lain? Kenapa aku tidak mau pelukan ini berakhir? Kenapa aku suka saat Sabian memelukku? Sabian memeluk Asya dengan erat, menghirup dalam dalam aroma tubuh Asya. Rasanya ia tak ingin melepaskan pelukannya itu. Tangan Sabian mulai membelai rambut Asya dengan penuh kasih. Rasa amarahnya mereda seketika saat ia melihat Wanita idamannya kini berada dipelukannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD