“Silakan duduk.”
Suara Alessa terdengar tenang, namun memiliki tekanan yang cukup untuk membuat seluruh ruangan segera mengikuti instruksinya. Para partner senior dan associate perlahan kembali ke kursi masing-masing, meskipun sorot mata mereka masih tertuju padanya dengan penuh perhatian.
Ruangan rapat itu luas dan elegan, didominasi warna gelap dengan meja panjang di tengah yang mencerminkan kekuasaan dan keputusan besar yang sering lahir di dalamnya. Di ujung meja, kursi utama kini ditempati oleh Alessa, posisi yang dulu ditempati papanya kini menjadi miliknya.
Ia meletakkan map di atas meja dengan gerakan terukur. Tidak tergesa, tidak ragu.
“Saya tidak akan bertele-tele,” lanjutnya, menatap satu per satu wajah di hadapannya.
Beberapa partner saling bertukar pandang, mencoba membaca arah kepemimpinan barunya. Mereka tahu hari ini bukan sekadar perkenalan. Ini adalah penentuan.
Alessa membuka dokumen di hadapannya, lalu menyandarkan punggung dengan sikap tegap.
“Saya tahu posisi saya di sini tidak datang dari nol,” ucapnya, suaranya stabil. “Saya membawa nama Wiranata. Tapi mulai hari ini, saya ingin berdiri bukan karena nama itu melainkan karena kemampuan saya.”
Sejenak ruangan hening. Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk mengubah atmosfer.
Salah satu partner senior, pria berusia lima puluhan, sedikit mengangguk.
“Kami menantikan itu, Bu Alessa,” jawabnya.
Alessa membalas dengan senyum tipis. Bukan senyum ramah, tapi profesional.
“Saya juga berharap begitu.”
Ia lalu mulai menjelaskan agenda kerja, perubahan struktur tim, hingga beberapa kasus besar yang akan menjadi fokus utama firma ke depan. Cara bicaranya jelas, tegas, dan tidak menyisakan ruang untuk meremehkan.
Tidak ada lagi Alessa yang dulu.
“Kasus Ardhana Group akan saya ambil langsung,” katanya di tengah penjelasan.
Beberapa orang langsung menatapnya, sedikit terkejut.
“Itu kasus besar, Bu,” ujar salah satu associate. “Kliennya cukup kompleks.”
Alessa tidak terlihat goyah.
“Justru karena itu,” jawabnya singkat.
Tatapannya lurus, penuh keyakinan.
“Kalau kita ingin mempertahankan reputasi firma ini, kita tidak bisa memilih jalan yang mudah.”
Di luar ruangan, kehidupan kantor tetap berjalan seperti biasa. Namun bagi mereka yang berada di dalam, jelas terasa bahwa sesuatu telah berubah.
Kepemimpinan baru telah dimulai.
Alessa kembali ke ruangan kerjanya Ruang kerja itu masih terasa seperti milik ayahnya di beberapa sudutnya, aroma kayu jati dari rak buku, foto-foto dokumentasi kasus bersejarah yang terpasang di dinding, piala penghargaan yang berdiri rapi di lemari kaca. Namun Alessa sudah mulai menaruh jejaknya sendiri. Tumpukan buku hukum internasional dari Leiden. Sebuah tanaman kecil di sudut meja. Dan satu bingkai foto kecil dirinya di podium wisuda Academiegebouw, dengan Stefan dan Seraphina di kiri kanannya, Ray yang berdiri di belakang dengan senyum yang tidak ia usahakan untuk tampak biasa namun gagal total.
Ia menatap foto itu sebentar. Lalu kembali ke berkasnya. "Konsentrasi," bisiknya kepada dirinya sendiri.
Siang itu Hana datang tidak dengan perjanjian, sebuah kebiasaan yang tidak pernah berubah dalam sepuluh tahun persahabatan mereka.
"Aku bawa soto Betawi dari warung Pak Haji yang dekat kampus kita dulu," ucap Hana, meletakkan kantong plastik di meja tanpa izin, lalu duduk di kursi tamu dengan cara seseorang yang merasa kursi itu sudah menjadi haknya. "Kamu sudah makan?"
Alessa melirik jam di pojok layar komputernya. Pukul dua belas lewat empat puluh. "Belum."
"Tentu saja belum." Hana mulai mengeluarkan kotak-kotak makanan. "Aku sudah kenal kamu sepuluh tahun, Al. Kalau tidak dijemput atau didatangi, kamu bisa lupa makan."
"Itu lebay."
"Itu fakta yang sudah terbukti berulang kali." Hana mendorong kotak soto ke arah Alessa. "Makan dulu baru cerita."
Mereka makan dalam keheningan yang nyaman selama beberapa menit. Di luar jendela, The Business District berdenyut dalam ritme tengah harinya. Mobil-mobil yang bergerak, orang-orang yang berlalu, kehidupan yang tidak berhenti.
"Gimana rasanya?" tanya Hana akhirnya, menyendok kuahnya.
"Rasanya apa?"
"Duduk di kursi itu." Hana mengangguk ke arah kursi kerja Alessa. "Dua tahun lalu kamu pergi dari kota ini. Sekarang kamu kembali dan langsung menjadi pimpinan tertinggi di firma hukum paling berpengaruh di J-City."
Alessa meletakkan sendoknya sebentar. Memikirkan pertanyaan itu dengan cara yang serius, bukan asal menjawab.
"Aneh," ucapnya akhirnya. "Tapi bukan aneh yang tidak nyaman. Lebih seperti aneh yang benar." Ia menatap mejanya. "Seperti sepatu yang ukurannya pas tapi baru pertama kali dipakai butuh waktu untuk benar-benar terasa milik sendiri."
Hana mengangguk pelan. "Itu sudah jauh lebih baik dari jawaban yang aku bayangkan."
"Kamu tidak takut?" tanya Hana lagi, lebih pelan kali ini.
Alessa menatap sahabatnya. "Takut apa?"
"Ketemu orang-orang yang masih ingat kejadian itu." Hana tidak perlu menyebut nama, dan keduanya tahu itu. "J-City bukan kota yang pelupa, Al."
Alessa tersenyum tipis. Senyum yang berbeda dari senyum-senyum lamanya, tidak ada usaha di dalamnya, tidak ada sesuatu yang perlu dipertahankan. Hanya tenang.
"Biar mereka ingat," ucapnya. "Mereka ingat perempuan yang dulu. Sekarang mereka akan melihat yang ini." Ia mengetuk meja di depannya ringan. "Dan aku tidak akan melmbuang waktu untuk memikirkan perbedaannya."
Hana menatapnya lama. Lalu tersenyum, senyum yang lebar dan tulus dan sedikit berkaca-kaca di ujungnya.
"Dua tahun di Holland benar-benar mengubahmu."
"Holland memberiku ruang untuk menemukan yang sudah ada." Alessa mengoreksi. "Bedanya tipis tapi penting."
Sore itu, setelah Hana pergi dan tumpukan berkas di mejanya berkurang setengah, Alessa menerima tamu yang tidak ia duga.
Ketukan di pintu. Lalu masuk seorang pria setengah baya yang Alessa kenali sebagai Pak Rendy, salah satu partner senior yang sudah berada di firma ini sejak sebelum Alessa lahir, dengan rambut yang sudah separuh putih dan kacamata baca yang selalu berada di ujung hidungnya.
"Alessa." Ia duduk tanpa dipersilakan, kebiasaan orang yang sudah terlalu lama merasa memiliki tempat di mana pun ia berada.
"Atau saya harus mulai memanggil Bu Alessa?"
"Bu Alessa terdengar terlalu tua untuk saya." Alessa menutup berkasnya, memberikan perhatian penuh. "Alessa saja, Pak Rendy."
Pak Rendy tertawa kecil. "Seperti ayahmu. Stefan juga tidak mau dipanggil Pak Stefan di tahun-tahun pertamanya." Ia menyilangkan tangannya di d**a. "Saya hanya ingin mampir. Melihat langsung apakah kabar dari Holland itu benar."
"Kabar apa?"
"Bahwa Alessa Wiranata pulang bukan untuk mengisi jabatan." Matanya yang tua itu tajam namun tidak tidak ramah. "Tapi untuk memimpin."
Alessa menatapnya sebentar. Lalu mengangguk, satu kali, dengan cara yang ia pelajari dari ayahnya tidak terlalu banyak, tidak terlalu sedikit. Cukup untuk menyampaikan bahwa ia mendengar dan tidak meremehkan.
"Saya harap dalam enam bulan ke depan, Pak Rendy bisa menilai sendiri apakah kabar itu benar atau tidak."
Pak Rendy mengangguk, puas dengan jawaban itu. Ia berdiri, merapikan jasnya, lalu berhenti di ambang pintu.
"Satu hal, Alessa." Ia berbalik. "Firma ini penuh dengan orang-orang yang sangat pandai membaca karakter. Mereka akan menguji kamu, tidak secara langsung, tapi terus-menerus." Tatapannya serius. "Jangan tunjukkan keraguan. Tapi juga jangan pura-pura tidak memilikinya."
Alessa menatapnya. "Bedanya?"
"Pemimpin yang tidak pernah ragu itu menakutkan." Pak Rendy tersenyum tipis. "Pemimpin yang ragu namun tetap bergerak, itu yang dipercaya orang."
Ia keluar. Pintu tertutup pelan.
Alessa menatap pintu yang tertutup itu beberapa detik. Lalu perlahan, sudut bibirnya terangkat.
Bukan senyum untuk siapa pun. Hanya untuk dirinya sendiri, untuk perempuan yang dua tahun lalu pergi dari kota ini dengan luka yang tidak terlihat dan hari ini duduk di kursi ini dengan pemahaman yang tidak bisa dibeli dari mana pun selain dari perjalanan yang menyakitkan.
"Ragu namun tetap bergerak," ulangnya pelan, seperti mencatat sesuatu di tempat yang tidak butuh kertas.
Ia membuka kembali berkasnya. Matanya fokus, pikirannya jernih.
Di luar jendela, J-City berdenyut dalam ritme sorenya yang tidak pernah berhenti dan Alessandra Kayla Wiranata, untuk pertama kalinya, merasa benar-benar berada di tempat yang tepat.