Bab 12 Pulang dengan Kepala Tegak

1081 Words
Pagi di J-City terasa berbeda bagi Alessa. Udara yang dulu terasa menyesakkan kini justru terasa ringan saat ia berdiri di depan cermin kamar lamanya, mengenakan setelan formal berwarna krem dengan potongan tegas yang mencerminkan siapa dirinya sekarang. Tidak ada lagi gadis yang runtuh di altar. Yang berdiri di sana adalah seorang perempuan yang telah melewati kehancuran dan memilih bangkit. “Kamu sudah siap?” suara Stefan terdengar dari pintu. Alessa menoleh, lalu tersenyum kecil. “Sangat siap, Pa.” Stefan mengangguk pelan, tatapannya menilai bukan hanya sebagai ayah, tetapi sebagai profesional yang melihat calon pemimpin di hadapannya. Tanpa banyak kata, mereka berjalan berdampingan menuju mobil, keheningan di antara mereka kini terasa penuh pengertian. Mobil hitam itu melaju menuju kawasan elit The Business District, tempat berdirinya Wiranata & Partners Law Firm yang dulu hanya ia kenal sebagai warisan keluarga, namun hari ini ia datangi sebagai bagian dari masa depannya. “Ini bukan sekadar kantor, Alessa,” ucap Stefan di dalam mobil. Alessa menatap ke depan. “Aku tahu, Pa. Ini tanggung jawab.” Gedung tinggi itu berdiri megah, kaca-kaca reflektifnya memantulkan cahaya pagi, dengan logo Wiranata & Partners terpampang jelas di lantai atas. Dulu hanya simbol keluarga, kini menjadi tempatnya berdiri. Saat pintu lift terbuka di lantai utama, suasana seketika berubah, dan semua mata langsung tertuju padanya. “Selamat pagi, Nona Alessa,” suara seorang staf terdengar pertama kali. Alessa mengangguk ringan. “Selamat pagi.” Namun itu baru awal. Satu per satu staf berdiri, diikuti para associate dan bahkan beberapa partner senior. Senyum, anggukan hormat, dan sorot mata penuh harapan menyambutnya. Tidak ada lagi tatapan iba, yang ada hanyalah pengakuan. “Selamat datang kembali, Bu Alessa,” ujar salah satu partner senior. Alessa berhenti sejenak. “Terima kasih. Saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik.” Stefan memperhatikan dari belakang tanpa interupsi. Untuk pertama kalinya, ia tidak perlu memperkenalkan putrinya kepada siapa pun. Alessa sudah berdiri dengan namanya sendiri. Ruang kerja utama yang dulu ditempati Stefan terbuka di hadapan mereka, meja besar, rak penuh dokumen hukum, dan jendela tinggi menghadap seluruh kota. Alessa melangkah masuk perlahan, seolah memastikan bahwa semua ini nyata. “Ini milikmu sekarang,” ucap Stefan pelan. Alessa menoleh. “Ini amanah, Pa. Bukan milik.” Stefan tersenyum tipis. Dan itu lebih dari cukup. Di sisi lain kota, pagi yang sama terasa sangat berbeda. Xavier duduk di ruang kerjanya di Cakrawala Grand Hotels Group, namun pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana. Dokumen di depannya terbuka, tetapi tidak satu pun benar-benar ia baca. Keputusan yang ia buat semalam masih berputar di kepalanya dan ia sudah memilih. “Aku akan tetap menikahinya.” Natasha yang duduk di depannya tersenyum, namun hanya sekilas. Ada sesuatu yang bergerak di balik ekspresinya, sesuatu yang tidak sepenuhnya tulus. Ia tidak menyangka Xavier akan sejauh ini. “Xav… kamu serius?” suaranya dibuat lembut. Xavier menatapnya. “Aku sudah memutuskan.” Ia bangkit dari kursinya, berjalan mendekat, lalu menggenggam tangan Natasha seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri. “Aku tidak peduli apa kata mereka,” lanjutnya. Namun Natasha justru menarik napas pelan, sementara di dalam hatinya mulai tumbuh rasa takut. Sebab semuanya tidak berjalan seperti yang ia rencanakan. “Tapi orang tuamu, mereka tidak setuju,” ucapnya hati-hati. Xavier mengeraskan rahangnya. “Kalau aku harus memilih, aku akan memilihmu.” Kalimat itu seharusnya terdengar romantis, namun bagi Natasha justru seperti alarm yang mengusik. Karena yang ia inginkan bukan hanya Xavier, melainkan seluruh fasilitas mewah yang ada di balik nama Keluarga Cakrawala. “Jangan bilang begitu,” jawabnya cepat, berpura-pura terkejut. Ia berdiri, lalu menyentuh lengan Xavier dengan lembut, memainkan peran yang selama ini ia kuasai dengan sempurna. “Aku tidak mau kamu bertengkar dengan keluargamu karena aku.” Xavier menatapnya, sedikit terkejut. “Natasha…” Padahal di dalam kepalanya, Natasha sedang menghitung. Jika Xavier benar-benar kehilangan semuanya… Maka ia juga kehilangan alasan untuk tetap tinggal. “Kita bisa menunda dulu,” lanjut Natasha pelan. Xavier mengernyit. “Menunda?” Natasha mengangguk, matanya dibuat lembut, penuh pengertian yang dibuat-buat. “Kita tunggu sampai mereka benar-benar menerima aku.” Xavier menatapnya dalam diam. Untuk sesaat, ia merasa tersentuh. Tidak tahu bahwa di balik kata-kata itu, ada kepentingan yang jauh lebih besar. “Aku tidak ingin kamu menjadi anak durhaka karena aku,” tambah Natasha. Xavier menghela napas panjang saat konflik itu kembali muncul, dan kali ini ia sedikit goyah. Di sisi lain, Alessa berdiri di depan jendela kantornya, memandang J-City kota yang pernah menghancurkannya dan kini menjadi tempat ia kembali sebagai seseorang yang berbeda. “Selamat datang kembali, Alessa,” bisiknya pelan pada dirinya sendiri. Ia tidak tahu bahwa di kota yang sama, seseorang yang pernah menghancurkannya sedang berjalan menuju kehancurannya sendiri. Dan takdir akan segera mempertemukan mereka kembali. “Aku tidak akan mundur, Natasha.” Suara Xavier terdengar lebih tegas dari sebelumnya, seolah ia sedang meyakinkan dirinya sendiri lebih daripada meyakinkan perempuan di hadapannya. Tatapannya lurus, penuh keyakinan yang tampak kuat di permukaan, namun sebenarnya rapuh di dalam. Natasha tersenyum tipis, menutupi kegelisahan yang mulai merambat di dadanya. Ia tidak bisa membiarkan situasi ini lepas dari kendali. Tidak sekarang, tidak setelah ia sudah sedekat ini dengan semua yang ia inginkan. “Aku tahu kamu keras mencintaiku,” ucapnya lembut, jemarinya kembali menyentuh lengan Xavier dengan gerakan halus. “Tapi doa restu dari orang tua sangat penting.” Xavier menatapnya, sedikit bingung dengan sikap Natasha yang tiba-tiba berubah lebih menahan diri. Baginya, ini adalah bentuk pengertian. Namun bagi Natasha, ini adalah strategi. “Tapi Nat… apa kamu yakin mau menunda?” tanya Xavier mencoba memastikan. “Aku sangat yakin, Xav.” Natasha menatapnya dalam-dalam, menyembunyikan kegelisahan yang semakin nyata. Xavier justru menggenggam tangannya lebih erat, seolah itu jawaban atas segalanya. Di sisi lain kota, Alessa menarik napas panjang sebelum akhirnya berbalik dari jendela. Cahaya pagi yang tadi terasa hangat kini berubah menjadi pengingat bahwa ia tidak datang ke sini untuk bernostalgia. Ia datang untuk mengambil alih. “Semua partner sudah menunggu di ruang rapat, Bu,” ujar sekretarisnya. Alessa mengangguk. “Baik, saya ke sana sekarang.” Langkahnya mantap saat menyusuri koridor kantor. Setiap langkah terasa seperti penegasan bahwa ia tidak lagi berada di masa lalu. Tidak ada lagi ruang untuk ragu. Dan tanpa ia sadari, di kota yang sama, seseorang sedang berjalan menuju keputusan yang akan mengubah segalanya. Dua jalan yang pernah terputus, kini perlahan kembali mendekat. “Aku pasti bisa menjalankan amanah ini,” gumam Alessa di depan pintu ruangan rapat. Alessa membuka pintu dan untuk pertama kalinya, semua orang berdiri menyambut pemimpin baru mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD