Part 2 - Mencari Alana

1080 Words
Praank!! Nampan yang berisi jus alpukat yang dibawa Maria jatuh. Ia menimpa "Pah? Gimana, Pah? Dimana Alana?" Tanya Maria cemas. "Yaudah, Mamah tenang, yah. Biar Papah cari." "Mamah ikut, Pah." "Jangan. Mamah disini aja. Jaga Villa baik-baik. Siapa tau Alana kembali kesini. Ok?" "Tapi, Pah." "Mamah tenang, yah. Papah pergi dulu." Wira pun segera mengambil kunci mobil. "Pah... hati-hati. Lekas kembali bersama Alana." Wira tersenyum menenangkan. Tak berapa lama, ia pun melesat bersama mobilnya. "Ya Tuhan... kenapa ini harus terjadi di annviersary pernikahan kami?" Gumam Maria. Wira menuju perkampungan. Ia bertanya dari satu orang ke orang lainnya. Menunjukkan foto Alana lewat ponselnya. "Bapak yakim gak ngeliat? Coba dilihat lagi." "Benar, Pak. Saya juga baru pulang dari ladang. Coba Bapak tanya sama Ibu yang di warung sana." "Baik, Pak. Terima kasih." Wira pun segera menemui salah seorang Ibu penjual aneka makanan di sebuah warung. "Permisi, Bu. Maaf saya mau tanya." "Iya, Pak? Ada apa?" "Ini... anak saya tadi tiba-tiba ndak ada. Barangkali Ibu lihat sekitaran sini. Ini fotonya." Wira kembali menunjukkan foto Alana di ponselnya. Ibu di warung itu terdiam beberapa saat. "Gimana, Bu? Ibu tahu anak saya dimana? Ibu lihat?" "Ehmm... Enggak, Pak. Saya nggak liat." "Ibu yakin nggak lihat hal yang mencurigakan? Atau anak saya lihat dibawa orang, mungkin?" "Beneran, Pak. Saya nggak lihat." "Hmm... yasudah. Terima kasih, Bu." Wajah Wira lesu. Rasa bersalah seperti menyelimutinya seketika. "Seharusnya aku tak membiarkannya sendirian di luar rumah." Gumamnya. "Pak... tunggu, Pak." Tiba-tiba Ibu penjaga warung itu memanggilnya kembali. "Maaf, saya mau tanya itu beneran anak Bapak?" "Iya, Bu. Itu anak saya satu-satunya." "Kalau boleh tahu berapa usianya?" "Masuk tujuh belas tahun, Bu. Kenapa? Ibu ingat sesuatu? Ibu lihat anak saya?" "Bapak silakan duduk dulu." "Ada apa, Bu?" "Di sekitaran sini rentan penculikan anak remaja. Itu sudah marak sekali. Makanya tiap menjelang maghrib, kampung hampir semuanya langsung sepi. Mereka memastikan anak-anaknya. Terutama perempuannya, tidak keluar malam. Bahkan, sebelum maghrib harus di rumah." "Memangnya kenapa, Bu?" "Bapak lihat rumah di ujung sana?" "Yang paling besar itu?" "Iyah. Itu. Itu adalah rumah kosong yang diduga dulunya adalah Villa pemilik remaja tanggung seusia anak Bapak." "Lalu?" "Kabarnya anak itu hilang diculik. Dan saat ditemukan, kondisinya mengenaskan." "Dia disiksa?" "Lebih tepatnya karena melawan komplotan penculik itu. Makanya disiksa." "Tapi berhasil selamat?" "Alhamdulillahnya berhasil. Sekarang Villa itu kosong. Entah apakah sudah benar-benar tak dikunjungi lagi atau gimana." "Jadi Ibu paham di kampung ini ada sekelompok komplotan penculik?" "Ssstt... Bapak jangan keras-keras ngomongnya." "Sebenernya ini hal tabu. Saya takut berkata seperti ini karena tidak tahu apakah ada orang lain yang memata-matai saya. Saya takut disiksa." "Makanya tadi saya nanya Bapak beneran orangtuanya anak yang di foto atau bukan." "Iyah, Bu. Saya beneran orangtuanya. Ibunya di Villa. Karena saya pikir, anak saya pasti akan pulang. Biar saat dia ke Villa, istri saya bisa berkabar." "Saya nggak yakin anak Bapak tersesat. Kemungkinan memang diculik." "Kenapa Ibu bisa begitu percaya?" "Kejadiannya hampir persis saat anak remaja itu diculik. Bahkan waktunya sama." "Ibu tahu penculik itu dari kampung sini?" "Saya tidak tahu persis, Pak. Tapi disini ada satu orang yang ditakuti warga. Ia diduga sebagai penjual remaja perempuan untuk dieksploitasi. Entahlah saya ndak begitu paham." "Astaghfirulloh. Lalu kemana saya harus mencarinya, Bu?" "Jangan sampai anak saya kenapa-napa." "Nah, selain Villa di ujung sana kosong, kabarnya juga seringkali jadi persembunyian komplotan itu, Pak. Kalau Bapak berani, coba saja datangi tempatnya." "Ibu yakin?" "Setahu saya itu, Pak. Sudah dulu ya, Pak. Saya mau pulang. Semoga anaknya baik-baik saja." "Baiklah. Terima kasih infonya, Bu." Wira mulau cemas mendengar kabar itu. Di sisi lain, ia berusaha tenang menghadapinya. Ponselnya berdering. "Pah, gimana? Alana sudah ketemu?" "Belum, Mah. Papah masih nyari. Doain biar Alana ketemu. Mamah juga jaga baik di sana. Siapa tahu Alana cuma tersesat dan pulang kembali." "Iya, Pah. Hati-hati. Lekas kembali bersama Alana, yah." "Iya, Mah. Papah lanjutin nyari dulu, yah." Klik. Wira segera melaju kembali. Memutar balik laju mobilnya. Menuju sebuah Villa nan megah. Villa itu nampak sepi dari luar. Tapi tak tahu apakah ada kehidupan di dalamnya. Dengan berani, Wira membuka gerbangnya. "Ya Tuhan, semoga kamu baik-baik saja, Nak." Lirih Wira. Langkahnya mulai terdengar sunyi. Semakin ia melangkah, ia makin mendengar bunyi sepatunya kian terdengar nyaring di telinganya. Ia buka pintu utamanya. Karena beberapa kali bel dibunyikan, tak ada yang menjawabnya. "Permisi.... apa rumah ini sepi? Maaf, saya ijin masuk." "Ehmm... sepertinya Ibu penjaga warung itu salah. Disini tidak ada siapa-siapa." Gumam Wira. Ia terus melangkah menuju ruang tamu. Berlanjut ke ruang tengah. Disana ada sebuah taman kecil dengan gemericik airnya yang masih mengalir. Seperti ada yang menempati Villa itu. "Air ini tak mungkin mengalir sendiri. Berarti ada orang di Villa ini. Permisi..." "Apakah mungkin pemilik Villa ini kembali? Tapi tak ada satu mobil atau kendaraan lain di luar." Wira terus bertanya-tanya. "Heh!! Siapa kamu?!" Tiba-tiba terdengar suara keras memanggilnya. "Maaf, Saya Wira." Salah seorang Bapak bertubuh tinggi, cukup gemuk dan berkumis mendekati Wira. "Siapa kamu? Ada perlu apa ke Villa ini?" "Sebelumnya saya minta maaf. Saya coba pencet bel tapi tak ada yang menjawab. Karena pintu terbuka, jadi saya masuk." "Ada perlu apa memangnya?" "Begini.... putri saya hilang tiba-tiba dari Villa. Karena saya pikir ini Villa kosong, siapa tahu putri saya nyasar kesini." "Anda menuduh saya penculiknya? Hah?" Bapak berkumis itu melantangkan suaranya seraya membentak Wira. "Tidak begitu, Pak. Saya hanya berusaha mencari putri saya satu-satunya." "Ini Villa milik saudara saya. Jadi saya berhak kesini kapan saja. Sedangkan saya tidak kenal Anda sama sekali. Saya tidak tahu menahu urusan Anda kesini. Saya juga tidak kenal. Jadi, sebaiknya Anda pulang." "Silakan cari di tempat lain." Bentaknya. "Baik, Pak. Saya permisi. Saya minta maaf." Wira berbalik arah. Ia mulai melangkah ke pintu utama. Bersiap keluar dari Villa itu. "Kenapa saya masih yakin perkataan Ibu penjaga warung itu benar?" Gumam Wira. "Ada apa lagi, hah?" Bentak Bapak berkumis itu. Hampir saja langkahnya sampai ke ujung pintu, Wira mendengar sesuatu. "Tolongg!! Tolong!! Papah!!" "Alana? Itu suara Alana!!" Wira melangkah kembali ke sumber suara. Hampir saja ia ke ruang tengah, suara peluru menyasarnya. Duarr!!! Darah mengalir seketika. Peluru itu tepat menyasar ke jantung Wira. "Papaaaah!!!" "Paaah!!" Teriak Alana. "Diam!!!" Bentak dua orang laki-laki bertopeng yang memegang Alana. "b**o kamu!! Kenapa tembak dia hah?!" Bentak Bapak berkumis itu pada salah seorang anak buahnya. "Saya kawatir dia melapor, Bos. Villa ini masih dekat dengan rumah warga." "Justru suara ledakan pistol itu bisa mencurigakan warga. Bodoh, kamu!!" "Sudah, sekarang bersihkan! Kita bawa lari anak ini!!" "Pa--pa---paaah!" Alana terbata mengucapkannya—karena mulutnya kembali ditutup kain. Air mata mengalir seketika.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD