Part 3 - Kehilangan

2010 Words
Drrtttt Ponsel Wira bergetar. Panggilan tak terjawab dari Maria. Maria mulai cemas menantinya di Villa. Udara dingin dan gelap malam mulai menyelimutinya. Kini, ia sendiri yang takut. Aroma tanah setelah hujan yang biasa orang suka, berubah menjadi nuansa yang kian menakutkan bagi Maria. "Papah... kenapa sebenarnya, Pah? Ada apa di sana?" Lirihnya. Tak berapa lama, ada panggilan masuk dari nomor tak dikenal. Semakin larut, Maria makin cemas. Namun, ia tak bisa tak menjaga amanah suaminya untuk tetap tinggal di Villa. Meskipun kekawatiran menggelayuti hatinya. Matanya memandangi foto-fotonya bersama Wira dan Alana. Bulir mata pun menetes seketika. "Apa yang sebenernya terjadi, Tuhan?" "Jagalah anak kami satu-satunya." Maria terus menunggu di sofa ruang tamu. Sesekali membuka pintu. Namun, tak ada siapapun di sana. Sesekali juga mengintip lewar jendela, kembali—tak ada siapapun di baliknya. "Papah... kamu juga baik-baik saja 'kan?" Maria kembali duduk. Menahan kantuk yang mulai memanggilnya. Tak sadari, detik kian berjalan dan Maria tertidur di sofa ruang tamu. Drrrrtttt Getar ponsel Maria mengagetkan tidurnya. Pendar sinar matahari yang menerangi lewat jendela juga turut membuatnya tersadar. Ada yang tidak baik-baik saja. "Ouh... ada panggilan." "Selamat pagi, Bu Maria. Benar ini dengan Bu Maria Christine?" "Maaf, dengan siapa yah?" "Kami dari rumah sakit kasih bunda, mau memberi kabar bahwa pasien atas nama Adiwira Pandhega sedang dirawat di sini. Silakan anggota keluarganya bisa ke sini." "Astaghfirulloh... suami saya kenapa?" "Suami saya kenapa?" "Sebaiknya Ibu langsung ke sini saja. Karena ada beberapa persyaratan yang harus disetujui pihak keluarga. Pasien harus dioperasi." "Operasi?" "Baik. Saya segera ke sana." Maria masih bingung bagaimana dia akan mendapatkan kendaraan ke rumah sakit. Tak ada sinyal di sana. Maria masuk kembali ke dalam Villa. Ia berlarian membuka tiap ruangan di sana. Tibalah ia ke ruangan yang seperti gudang. Untungnya, ada sebuah sepeda di idalamnya. Tanpa menunggu lagi, Maria mengambil sepeda itu. Dengan mengendarai sepeda, Maria pergi ke perkampungan warga terdekat. Jaket lupa dikenakannya. Udara dingin yang kian menusuk kulit, tak dihiraukannyannya. Cemas sudah jadi jaket tebalnya kala itu. "Alana sayang, kamu baik-baik saja 'kan?" "Pah... kamu juga baik-baik saja 'kan? Aku akan kesana." Mata Maria terbelalak. Melihat berbagai kerumunan orang di sebuah Villa yang baru ditemuinya. "Maaf, Pak. Bu. Ada apa yah? Kok rame?" Maria menghentikan sepedanya. Ia bertanya pada beberapa orang dari kerumunan itu. "Itu, Bu. Ada pembunuhan di Villa kosong itu." "Pembunuhan?" "Iya. Kabarnya korbannya Bapak-bapak. Tapi sudah dibawa ke rumah sakit." "Bapak tau siapa namanya?" "Wahh kalau itu saya kurang tau, Bu." "Oh iya..." Maria hampir lupa menanyakan sesuatu. Ia sedang mencari mobil atau sepeda motor yang bisa disewa. "Oh iya, Pak. Apakah di sini ada tempat sewa mobil atau sepeda motor? Saya sedang darurat ingin menjenguk suami saya di rumah sakit." "Oh ada, Bu. Mari saya tunjukkan." Bapak itu mengantar Maria. Sampailah di sebuah warung. "Warung?" "Bukan, Bu. Rumahnya masuk ke dalam. Warung ini juga milik yang punya rumah." Maria mengikuti langkah Bapak itu. "Assalamualaikum... Pak." "Waalaikumsalam, kenapa?" "Ini ada Ibu-ibu yang perlu bantuan kendaraan buat ke rumah sakit. Kasian, suaminya dirawat di sana. Nyari kendaraan disini jam segini kan cukup susah. Makanya saya antar kesini." "Ouh, begitu. Silakan duduk dulu. Saya ijin sama istri saya." "Iya, Pak. Terima kasih." Tak berapa lama, istri penjaga warung itu pun datang. Maria tak mengenalinya. Hanya suaminya yang pernah berjumpa dengannya. Tak perlu menunggu lama, Maria bersama suami penjaga warung itu pun pergi ke rumah sakit. "Kalau boleh tau, suaminya kenapa, Bu?" "Saya juga belum tau, Pak. Barusan dikabarin rumah sakit saja saya kaget." "Dari rumah sakit bilang apa emangnya?" "Cuma bilang dirawat di IGD." "Semoga gak kenapa-napa ya, Bu." "Aamiin, Pak." Sekitar empat puluh menit perjalanan, akhirnya sampailah di rumah sakit. Tanpa menunggu lama, Maria berjalan setengah berlari. "Sus, pasien atas nama Adiwira Pandhega di ruang mana? Saya istrinya." "Ouh... Ibu istrinya. Pak Adiwira Pandhega masih di ruang IGD, Bu." "Baik. Terima kasih, Sus." "Oh ya, terima kasih, Pak sudah bisa mengantar. Ini." Maria mengulurkan beberapa lembar rupiah. "Ndak usah, Bu. Niat saya ikhlas kok." "Ndak, Pak. Buat bensin. Nanti saya pulang naik driver online aja. Disini pasti lebih mudah dicari. Skali lagi terima kasih, Pak." "Saya buru-buru. Tolong terima, ya. Terima kasih." Maria memaksakan lembaran rupiah itu di genggaman orang yang mengantarnya. "Hati-hati, Bu." Maria tak begitu memedulikannya. Ia berlari terburu menuju ruang IGD. Napasnya tersengal karena berlarian sepanjang koridor rumah sakit. Seorang dokter keluar dari ruang IGD. "Dok, gimana keadaan suami saya, Dok? Dia baik-baik saja 'kan?" "Dok... jawab, Dok." Maria mulai emosi melihat wajah sedih dokter yang keluar dari IGD. "Dok, di dalam IGD itu suami saya. Saya berhak tahu. Katakan, Dok!!" "Ibu... Ibu yang sabar, ya. Tenang dulu. Saya gak akan jawab kalau Ibu gak tenang seperti ini." Maria mencoba mengatur napasnya kembali. Ia menarik napas panjang. Lalu mengeluarkannya. Sampai tiga kali. Drrtttt Ponsel Wira bergetar. Panggilan tak terjawab daru Maria. Maria mulai cemas menantinya di Villa. Udara dingin dan gelap malam mulai menyelimutinya. Kini, ia sendiri yang takut. Aroma tanah setelah hujan yang biasa orang suka, berubah menjadi nuansa yang kian menakutkan bagi Maria. "Papah... kenapa sebenarnya, Pah? Ada apa di sana?" Lirihnya. Tak berapa lama, ada panggilan masuk dari nomor tak dikenal. Semakin larut, Maria makin cemas. Namun, ia tak bisa tak menjaga amanah suaminya untuk tetap tinggal di Villa. Meskipun kekawatiran menggelayuti hatinya. Matanya memandangi foto-fotonya bersama Wira dan Alana. Bulir mata pun menetes seketika. "Apa yang sebenernya terjadi, Tuhan?" "Jagalah anak kami satu-satunya." Maria terus menunggu di sofa ruang tamu. Sesekali membuka pintu. Namun, tak ada siapapun di sana. Sesekali juga mengintip lewar jendela, kembali—tak ada siapapun di baliknya. "Papah... kamu juga baik-baik saja 'kan?" Maria kembali duduk. Menahan kantuk yang mulai memanggilnya. Tak sadari, detik kian berjalan dan Maria tertidur di sofa ruang tamu. Drrrrtttt Getar ponsel Maria mengagetkan tidurnya. Pendar sinar matahari yang menerangi lewat jendela juga turut membuatnya tersadar. Ada yang tidak baik-baik saja. "Ouh... ada panggilan." "Selamat pagi, Bu Maria. Benar ini dengan Bu Maria Christine?" "Maaf, dengan siapa yah?" "Kami dari rumah sakit kasih bunda, mau memberi kabar bahwa pasien atas nama Adiwira Pandhega sedang dirawat di sini. Silakan anggota keluarganya bisa ke sini." "Astaghfirulloh... suami saya kenapa?" "Suami saya kenapa?" "Sebaiknya Ibu langsung ke sini saja. Karena ada beberapa persyaratan yang harus disetujui pihak keluarga. Pasien harus dioperasi." "Operasi?" "Baik. Saya segera ke sana." Maria masih bingung bagaimana dia akan mendapatkan kendaraan ke rumah sakit. Tak ada sinyal di sana. Maria masuk kembali ke dalam Villa. Ia berlarian membuka tiap ruangan di sana. Tibalah ia ke ruangan yang seperti gudang. Untungnya, ada sebuah sepeda di idalamnya. Tanpa menunggu lagi, Maria mengambil sepeda itu. Dengan mengendarai sepeda, Maria pergi ke perkampungan warga terdekat. Jaket lupa dikenakannya. Udara dingin yang kian menusuk kulit, tak dihiraukannyannya. Cemas sudah jadi jaket tebalnya kala itu. "Alana sayang, kamu baik-baik saja 'kan?" "Pah... kamu juga baik-baik saja 'kan? Aku akan kesana." Mata Maria terbelalak. Melihat berbagai kerumunan orang di sebuah Villa yang baru ditemuinya. "Maaf, Pak. Bu. Ada apa yah? Kok rame?" Maria menghentikan sepedanya. Ia bertanya pada beberapa orang dari kerumunan itu. "Itu, Bu. Ada pembunuhan di Villa kosong itu." "Pembunuhan?" "Iya. Kabarnya korbannya Bapak-bapak. Tapi sudah dibawa ke rumah sakit." "Bapak tau siapa namanya?" "Wahh kalau itu saya kurang tau, Bu." "Oh iya..." Maria hampir lupa menanyakan sesuatu. Ia sedang mencari mobil atau sepeda motor yang bisa disewa. "Oh iya, Pak. Apakah di sini ada tempat sewa mobil atau sepeda motor? Saya sedang darurat ingin menjenguk suami saya di rumah sakit." "Oh ada, Bu. Mari saya tunjukkan." Bapak itu mengantar Maria. Sampailah di sebuah warung. "Warung?" "Bukan, Bu. Rumahnya masuk ke dalam. Warung ini juga milik yang punya rumah." Maria mengikuti langkah Bapak itu. "Assalamualaikum... Pak." "Waalaikumsalam, kenapa?" "Ini ada Ibu-ibu yang perlu bantuan kendaraan buat ke rumah sakit. Kasian, suaminya dirawat di sana. Nyari kendaraan disini jam segini kan cukup susah. Makanya saya antar kesini." "Ouh, begitu. Silakan duduk dulu. Saya ijin sama istri saya." "Iya, Pak. Terima kasih." Tak berapa lama, istri penjaga warung itu pun datang. Maria tak mengenalinya. Hanya suaminya yang pernah berjumpa dengannya. Tak perlu menunggu lama, Maria bersama suami penjaga warung itu pun pergi ke rumah sakit. "Kalau boleh tau, suaminya kenapa, Bu?" "Saya juga belum tau, Pak. Barusan dikabarin rumah sakit saja saya kaget." "Dari rumah sakit bilang apa emangnya?" "Cuma bilang dirawat di IGD." "Semoga gak kenapa-napa ya, Bu." "Aamiin, Pak." Sekitar empat puluh menit perjalanan, akhirnya sampailah di rumah sakit. Tanpa menunggu lama, Maria berjalan setengah berlari. "Sus, pasien atas nama Adiwira Pandhega di ruang mana? Saya istrinya." "Ouh... Ibu istrinya. Pak Adiwira Pandhega masih di ruang IGD, Bu." "Baik. Terima kasih, Sus." "Oh ya, terima kasih, Pak sudah bisa mengantar. Ini." Maria mengulurkan beberapa lembar rupiah. "Ndak usah, Bu. Niat saya ikhlas kok." "Ndak, Pak. Buat bensin. Nanti saya pulang naik driver online aja. Disini pasti lebih mudah dicari. Skali lagi terima kasih, Pak." "Saya buru-buru. Tolong terima, ya. Terima kasih." Maria memaksakan lembaran rupiah itu di genggaman orang yang mengantarnya. "Hati-hati, Bu." Maria tak begitu memedulikannya. Ia berlari terburu menuju ruang IGD. Napasnya tersengal karena berlarian sepanjang koridor rumah sakit. Seorang dokter keluar dari ruang IGD. "Dok, gimana keadaan suami saya, Dok? Dia baik-baik saja 'kan?" "Dok... jawab, Dok." Maria mulai emosi melihat wajah sedih dokter yang keluar dari IGD. "Dok, di dalam IGD itu suami saya. Saya berhak tahu. Katakan, Dok!!" "Ibu... Ibu yang sabar, ya. Tenang dulu. Saya gak akan jawab kalau Ibu gak tenang seperti ini." Maria mencoba mengatur napasnya kembali. Ia menarik napas panjang. Lalu mengeluarkannya. Sampai tiga kali. "Huuuh. Ayo, Dok. Katakan." Maria bertanya lagi. "Begini, Bu. Dengan Ibu siapa?" "Saya Maria, Dok. Istri Wira. Adiwira Pandhega." "Pak Wira mengalami pendarahan hebat. Peluru yang menyasat tepat di jantungnya menyebabkan kesulitan pernapasan." "Peluru? Suami saya ditembak?" "Memang Ibu belum tahu? Kabar dari polisi suami Ibu adalah salah satu korban pembunuhan. Pelakunya masih dicari." "Hah? Dibunuh? Gak mungkin." "Suami saya salah apa? Seumur hidupnya dia orang baik, Dok." "Ibu yang sabar, yah. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin." "Maksud Dokter?" "Mohon maaf, saya turut berduka cita. Pak Wira tak bisa diselamatkan. Ia berpulang ke Tuhan. Ibu yang sabar, yah." "Gak mungkin, Dok. Dokter bercanda 'kan?" "Suami saya gak mungkin pergi secepat ini. Ini hari anniversary pernikahan kami, Dok. Dia gak mungkin pergi dengan cara seperti ini." "Dokter bercanda kan? Hah?" Maria sedikit menarik kerah Dokter itu. Emosi mulai menguasainya kembali. "Ibu Maria... tolong, sabar. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi kehendak Tuhan kita tak tahu." "Tidak!! Ini bukan kehendak Tuhan! Suami saya gak bersalah! Kenapa harus dibunuh?!" Maria berlari ke ruang IGD. Isak tangisnya beradu dengan segala kecamuk kekecewaannya. "Pah... bangun, Pah. Ini anniversary pernikahan kita. Kamu harus bangun, Pah. Ayo, cari Alana lalu kita kembali ke Villa." "Pah..." Maria akhirnya tertunduk lemas di hadapan suaminya yang terbaring. Isak tangis bercampur kekecewaan kian tak tertahankan lagi. "Huuuh. Ayo, Dok. Katakan." Maria bertanya lagi. "Begini, Bu. Dengan Ibu siapa?" "Saya Maria, Dok. Istri Wira. Adiwira Pandhega." "Pak Wira mengalami pendarahan hebat. Peluru yang menyasat tepat di jantungnya menyebabkan kesulitan pernapasan." "Peluru? Suami saya ditembak?" "Memang Ibu belum tahu? Kabar dari polisi suami Ibu adalah salah satu korban pembunuhan. Pelakunya masih dicari." "Hah? Dibunuh? Gak mungkin." "Suami saya salah apa? Seumur hidupnya dia orang baik, Dok." "Ibu yang sabar, yah. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin." "Maksud Dokter?" "Mohon maaf, saya turut berduka cita. Pak Wira tak bisa diselamatkan. Ia berpulang ke Tuhan. Ibu yang sabar, yah." "Gak mungkin, Dok. Dokter bercanda 'kan?" "Suami saya gak mungkin pergi secepat ini. Ini hari anniversary pernikahan kami, Dok. Dia gak mungkin pergi dengan cara seperti ini." "Dokter bercanda kan? Hah?" Maria sedikit menarik kerah Dokter itu. Emosi mulai menguasainya kembali. "Ibu Maria... tolong, sabar. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi kehendak Tuhan kita tak tahu." "Tidak!! Ini bukan kehendak Tuhan! Suami saya gak bersalah! Kenapa harus dibunuh?!" Maria berlari ke ruang IGD. Isak tangisnya beradu dengan segala kecamuk kekecewaannya. "Pah... bangun, Pah. Ini anniversary pernikahan kita. Kamu harus bangun, Pah. Ayo, cari Alana lalu kita kembali ke Villa." "Pah..." Maria akhirnya tertunduk lemas di hadapan suaminya yang terbaring. Isak tangis bercampur kekecewaan kian tak tertahankan lagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD