Part 4 - Penangkapan

1364 Words
Alana masih dalam penjagaan dua anak buah penculik itu. Wajahnya mulai cemas, karena beberapa warga mencurigainya. Bahkan, memang sudah ada yang tahu, tapi ditutup mulut dengan uang. Alias disuap. "Awas kamu kalau laporin polisi! Saya gak segan-segan bunuh suami kamu! Paham?!!" "I-i-iya, Pak. Saya paham." Perempuan itu memandang dari kejauhan. Wajahnya memangku cemas dan ketakutan. Namun, setelah tahu yang diculiknya adalah persis dari anak Wira, ia merasa was-was. Perasaan bersalah sempat menggelayutinya. Perempuan itu tak lain adalah ibu penjaga warung yang tak jauh dari Villa itu. "Deuh, Bapak kenapa gak pulang-pulang. Masa dari rumah sakit belum pulang juga si?" Gumamnya. "Ditelpon juga nggak diangkat-angkat lagi. Bapak..." Perempuan berdaster bunga mawar itu mondar-mandir di depan pintu. Sesekali memagut bibir. Menggigit ujung telunjuknya. Was-was. Kawatir apa yang dibilang penculik itu benar. Akhirnya, mobil suaminya datang. Perasaan lega tergambar dari wajahnya. "Alhamdulillah, akhirnya pulang. Kamu kemana aja, Mas? Kenapa lama sekali?" "Iya, tadi sempat macet. Makanya lama." "Kamu kenapa, Sayang? Kok kayak takut gitu." Suaminya heran. Namun, mata perempuan itu melihat curiga ke sekelilingnya. Takut ada seseorang yang mencurigakan. Dengan buru-buru, ia menarik tangan suaminya. Memaksanya segera masuk. "Kamu kenapa, Sayang? Kangen yah?" Istrinya terdiam. Wajahnya tak tersirat perasaan gembira seperti sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Justru kebalikannya. Sekarang, justru terlihat tampak ketakutan. "Kamu kenapa? Ayo cerita." "Mas, aku takut." "Aku takuttt, Mas." Sambil terisak, perempuan itu menyandarkan kepalanya di pundak suaminya. "Sssst, tenang, yah. Coba ceritakan pelan-pelan. Memangnya ada apa? Apa yang bikin takut?" "Aku takut kamu kenapa-napa, Mas." "Hum? Lihat, Mas sudah pulang. Gak kenapa-napa, 'kan?" "Tapi..." "Ayo, ceritakan kamu sebenernya kenapa?" "Laki-laki tinggi besar dan berkumis yang masuk Villa itu, Mas. Tadi aku bertemu dengannya setelah polisi dan kerumunan warga reda." "Hum? Lalu?" "Aku takut dia memang benar pelakunya, Mas." "Kenapa kamu bisa yakin begitu?" "Dia mengancam aku, Mas. Kalau melaporkan, dia gak akan segan membunuh kamu, Mas. Makanya aku takut setengah mati." Isak tangisnya kian tak terbendung lagi. "Ssst, tenang, yah. Tenang. Jadi, kamu melihat dia bersama korban lainnya atau sendirian?" "Aku gak tahu, Mas. Tapi sempat melihat dari kaca jendela kamar lantai atasnya, ada bayangan perempuan. Aku lihat, mirip sekali dengan foto salah seorang Bapak yang sempat mencari anaknya yang katanya hilang itu, Mas." "Kamu tahu siapa yang dibunuh?" "Tidak ada yang tahu, Mas. Cuma tau yang dibunuh Bapak-bapak juga. Polisi langsung membawanya ke rumah sakit." "Ya Tuhan... semoga anak dari bapak itu segera bertemu. Dan semoga keluarga yang ditinggalkan, bisa dikuatkan." "Aamiin, Mas. Kamu lebih hati-hati, yah. Aku takut, Mas." "Iya, sayang." "Aku buatin Teh dulu ya, Mas. Kamu pasti capek. Maaf, gasempet bikinij dulu. Tadi takut banget." "Iya, gapapa sayang." Beberapa menit kemudian, perempuan itu membawa secangkir teh hangat. "Sayang..." "Iya, Mas." "Untuk besok, kamu jangan jualan dulu di warung, yah." "Kenapa, Mas?" "Mas justru kawatirin kamu. Selama Mas kerja, kamu sendirian di warung. Mas takut orang itu nyamperin kamu lagi. Untuk beberapa hari aja. Yah?" "Nanti urusan belanja harian, biar Mas anterin ke pasar. Yah?" "Iya, Mas. Apa baiknya." "Sudah... kamu tenang, yah." "Mas justru kepikiran." "Apa, Mas?" "Kepikiran bagaimana dengan keluarga bapak yang dibunuh itu? Atau kalaupun benar anak perempuan yang kamu bilang tadi diculik, bagaimana nasibnya sekarang? Dan kita sebagai orang yang sudah tahu, apa pantas melihat semua ini diam saja?" "Aku juga sempat mikir gitu, Mas." "Kita harus benar-benar pastiin." "Hati-hati. Jangan nekad." "Gak. Mas akan coba komunikasikan ini dengan Pak RT di sini. Setidaknya, mereka adalah pimpinan dan berhak dipercaya. Mas harus bantu, Sayang." "Iya, tapi hati-hati. Penculik itu bisa aja nglakuin hal semuanya dia, Mas." "Kamu masih percaya Tuhan bersama orang yang baik kan, Sayang?" Istrinya mengangguk. Keesokan harinya, suaminya pergi menemui ketua RT. Disana ia menuturkan segala awal mulanya. "Kamu yakin, Mas?" "Iya. Makanya untuk makin membuktikan saya perlu kerjasama dengan orang lain. Kita harus bantu anak perempuan itu, kalaupun benar ada." "Saya harus lapor polisi." "Sebelum lapor polisi, kita juga harus punya rencana, Pak." Dengan persetujuan saat itu, ketua RT melaporkan saksi baru kasus pembunuhan itu. Memang, belum ada bukti kasat mata. Namun, mereka berdua percaya apa yang dikatakan istri dari pemilik penjaga warung itu adalah benar. Atas inisiatifnya, mereka berniat menjebak penculik itu. Malam harinya, mereka berdua pura-pura bertamu. Namun, tak ada jawaban. Bel sudah berkali-kali dibunyikan, tapi tak ada jawaban. Lampu Villa menyala. Mereka berdua berpikir pasti ada orang yang menempatinya. Saat melihat pintu utama tak dikunci, mereka berdua akhirnya masuk. "Permisi... maaf saya ada perlu dengan Villa ini. Apa di dalam ada orang?" Tutur Ketua RT itu. Sampilah mereka di ruang tengah. Masuk lagi, sampai juga di sebuah ruangan yang disana juga ada sebuah taman dengan gemericik airnya yang mengalir. "Air di tamannya menyala. Mustahil kalau tidak ada orang Pak RT. Sekarang yakin, kan?" "Iya, saya yakin pasti ada orang di dalam." "Permisi..." Braaak!!! "Ada apa kalian kemari, hah?"! Tiba-tiba muncul dari entah ruangan apa, seorang laki-laki bertubuh besar dan tinggi serta berkumis itu. "Pak RT, mungkin ini orang yang dimaksud istri saya." "Tenang, Mas. Kita harus tenang dulu." "Ada apa cepat!! Katakan!!" "Eh, begini Pak. Saya ketua RT di dusun ini. Saya mendengar ada kasus pembunuhan kemarin. Garis polisi pun masih dilihat di depan Villa ini." "Saat melihat lampu Villa masih menyala, saya heran. Biar tak ada kekawatiran dan kecurigaan makanya saya masuk ke Villa ini. Ternyata memang ada orang di dalamnya." "Bapak nuduh saya pelakunya, hah?!" Hardik laki-laki berkumis itu. "Eh, bukan, Pak. Saya cuma memastikan di sini tak ada orang dahulu. Karena masih jadi tempat penyelidikan. Biar tak terjadi kecurigaan warga. Karena kenyamanan warga bagian dari tugas saya, Pak." "Asal Bapak tahu, ini adalah Villa sodara saya. Wajar, sesekali saya kesini. Seperti halnya kalian berdua yang nylonong aja ke Villa orang." "Maaf sebelumnya. Kami berdua tidak bermaksud kurang sopan." "Saya di sini mau ambil beberapa barang sodara saya yang tertinggal. Beliau memerintahkan untuk saya ambil dan mengantarnya. Jelas 'kan?!" "Syukurlah kalau begitu. Yasudah, kami berdua pamit dulu ya, Pak. Assalamualaikum." Laki-laki itu tak menjawab salam mereka. Hanya memandang curiga dan raut kemarahan dari kejauhan. "Tolo-ong!!" Hampir menyentuh bibir pintu, terdengar suara perempuan meminta tolong. "Bapak dengar itu, Pak?! Telinga saya tidak salah 'kan? Ada yang minta tolong! Itu terdengar dari dalam Villa ini." "Iya, Mas. Saya juga dengar." "Kenapa masih di sana 'hah?! Cepat keluar!! Kalian tak ada urusan lagi di sini! Kalian mengganggu privasi saya!" Bentak laki-laki berkumis itu dengan suara beratnya. "Gimana ini, Pak?!" "Kita harus lapor polisi untuk segera datang." "Heh!! Jadi kalian mata-matain saya? Berani sama saya?" Suara berat itu mendekat. Saat mereka berbalik badan, sudah ada pistol di tangan kanan laki-laki berkumis itu. "Kalian sudah siap mati?!" "E-e... jangan, Pak. Kami bukan mata-mata." "Iya, Pak. Saya dan Pak RT hanya memastikan keamanan warga sekitar sini." "Alasan!!! Silakan menemui ajal kalian sekarang! Bersiaplah!!" Peluru siap meluncur. Bersamaan, terdengar tembakan dari berbeda arah. Duarrr!! "Angkat tangan!!" Kawanan polisi datang menyerbu Villa. Beberapa polisi menyelidiki seluruh isi Villa. Beberapa di antaranya menggerbol tangan laki-laki berkumis itu. Pistol yang awalnya bersiap untuk menembak pun disita polisi segera. "Terima kasih kerjasamanya, Pak, Mas." "Sama-sama, Pak. Semoga kasus ini segera terpecahkan." "Benar, Komandan. Di suatu ruangan atas ada suara perempuan. Terkunci. Ayo kira ke atas." Mereka berdua pun penasaran. Ikut memenuhi arahan polisi itu. "Kalian berdua di sini saja, ya. Ini biar tugas kami." "Tolooong!! Tolong!!" Suara Alana kian melemah. "Diam kau!! Diam!!" "Gimana ini?! Pintu sedang didobrak!!" Ucap kedua anak buah laki-laki berkumis itu. "Lo mau mati apa hidup?! Ya kabur lah." "Bos gimana?" "Emang Bos pernah mikiran kita 'hah? Di mata Bos kita cuma alatnya buat cari uang saja." "Udah brisik lu! Kita tinggalin aja cewek ini. Daripada kita kena!" "Lu mau dipenjara?!!" "Gak. Yaudah buruan kabur!! Kita lewat pintu rahasia!" "Tau dari mana ada pintu rahasia!?" "Ini cuma gue yang tahu. Bos pun gatau. Sengaja. Buat nyawa cadangan. Ayo!! Buruan!!" Dua anak buah itu lompat lewat jendela. Namun, dibalik jendela itu seperti ada ruangan lain yang entah apa. Nampaknya, kedua anak buah itu pun tak begitu suka dengan bosnya. Tak ada cuaca kesetiakawanan. Braaaak!!! Begitu pintu dibuka, Alana sudah kehilangan tenaga. Ia pingsan. "Itu dia anak perempuan itu, Pak!" "Ayo, kita bawa ke rumah sakit." Beberapa saat kemudian, mobil ambulans datang. Villa yang barusaja ramai karena kasus pembunuhan pun kembali ramai dengan kerumunan warga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD