“Arman, tunggu!” panggilku saat ia sampai di ujung pintu, membuat langkahnya terhenti. “Aku pengen ke rumah Bulik!” Ah, mengapa juga aku harus melapor padanya tentang apa yang ingin kulakukan. Aku jadi merasa malu sendiri hingga menundukkan wajah saat ia menoleh padaku. “Aku sudah lama nggak ke rumah Bulik, aku kangen.” Padahal alasan yang paling utama, karena aku butuh menenangkan diri di tempat lain. Jauh dari Arman, juga jauh dari kafenya Galang. Ya, meski kota Kudus, tempat Bulik tinggal, jaraknya tidak jauh-jauh amat dari kota ini. Untungnya, pekerjaanku juga bisa ku-handle dari mana pun. Bahkan Pak Wira sendiri yang mengatakan padaku untuk sementara jangan ke kantor dulu. Aku bisa minta materi foto atau video pendek untuk diunggah di socmed dari Fira, Fabian, atau teman-teman yang

