Aku terkejut ketika seseorang tiba-tiba memeluk pundakku dan mencium pucuk kepalaku dari belakang. "Eh, A-Arman," ujarku gugup saat menoleh. Bikin malu saja, memperlihatkan kemesraan di depan umum, apalagi ini di depan Galang. Ehm. "Pak Galang habis ada acara di Solo terus mampir nengok kafe." Aku menjelaskan tanpa diminta. Rania yang semula duduk di pangkuan Galang melompat turun. Berlari kecil menuju papinya, gadis kecil itu menunjukkan boneka dino berwara hijau. "Papiii, boneka Lan baluu. Bagus nggak? Dari Om Alang!" Kulihat Arman tersenyum samar. "Bagus," jawabnya lalu melirik ke arahku. "Pulang sekarang, Sayang?" "Oh, iya acaranya udah selesai, kok." Aku beranjak dari kursiku. "Pak, saya pulang." Galang yang kupamiti tersenyum lalu ikut berdiri. "Silakan Nadia, weekend memang se

