Aku menghela napas panjang, memandang rumahku dan Mas Arya yang akan kutinggalkan. Hari ini aku datang ke rumah untuk mengemasi barang, lalu membawanya ke rumah baru yang sudah dipersiapkan Arman untuk tempat tinggal kami. “Kenapa, Sayang?” Arman mengelus pundakku. “Man, aku kok sedih mau meninggalkan rumah ini.” Aku menjawab jujur. “Apa kamu ingin kita tinggal di sini saja?” Aku menoleh menatap wajah tulus suamiku “Nggak Man. Kita tetap tinggal di rumahmu.” Tinggal di rumah ini bersama Arman kurasa bukan keputusan yang bijak. Disamping aku harus menghargainya yang sudah mempersiapkan tempat tinggal kami, di rumah ini terlalu banyak kenangan bersama Mas Arya. Aku takut malah tak bisa move on. “Rumah kita sayang, bukan rumahku.” Arman meralat. “Iya rumah kita.” Aku tersenyum seraya m

