Perlahan aku mengeluarkan tangan kanan yang kusembunyikan di balik badan. “Nggak ada apa-apa, kan?” kataku terbata. Ia nampak tertegun ketika melihat cincin yang tempo hari ia berikan, tersemat di jari manis kananku. “Cincin itu kamu pakai?” tanyanya yang hanya kujawab dengan anggukan kepala. Nampak sedikit ragu, ia menoleh ke arahku. “Apa itu artinya ….” “Iya,” jawabku tanpa menunggunya menyelesaikan pertanyaan. Sebenarnya, aku mau menjawab lamaran Arman lewat Mama. Tapi karena Arman terlanjur melihatku memakai cincin ini duluan, ya sudahlah, kujawab sekalian sekarang. “Iya apa?” tanyanya yang masih nampak belum yakin. “Iya, aku terima lamaran kamu,” jawabku lirih namun tegas. Selama di rumah Bulik kemarin, aku mempertimbangkan masak-masak mengenai lamaran Arman. Sesuai saran Bulik,

