“Apa itu, Mbak?” Rupanya Fabian melihat ketika aku membuang surat pengunduran diri ke tong sampah. Aku gelagapan. Terdiam sejenak dan menimbang-nimbang, harus kujawab jujur atau bohong. “Surat pengunduran diri,” kataku akhirnya. “Hah, Mbak juga mau pindah ke resto itu?” “Oh, bukan!” Aku menggeleng. “Aku memang ditawari juga bekerja di resto itu, tapi aku menolak. Hanya ingin resign saja.” Sedetik hening, aku menarik napas, menghembuskannya perlahan, lalu menyandarkan badanku ke meja dapur. “Tadinya …,” sambungku. “Tapi tak jadi. Nggak tega rasanya ninggalin Pak Galang dan Pak Wira dalam kondisi begini.” Fabian menghempaskan badannya ke kursi, sepertinya ia lelah sekali menghadapi hari ini. Tentu saja aku paham, dia yang tugasnya sebagai penyanyi kafé, akhirnya harus alih profesi m

