Hatiku bergetar saat Arman menjabat tangan Paklik dan mengucapkan kalimat akad dengan lancar. “Hadirin Sah?” tanya penghulu. “Sah .…” “Sah .…” “Sah .…” “Alhamdulilillah.” Dari tempat dudukku kulihat Arman mengusap muka dengan kedua tangannya. Di wajahnya terpancar kelegaan yang luar biasa. “Silakan Mas Arman, cincinnya dipakaikan,” ucap sang pembawa acara akad. Mama menggandeng tanganku dan membimbingku maju menuju tempat Arman berada. Lelaki yang kini menjadi suamiku itu berdiri menyambut. Kami berhadapan sekarang. Ia tampan dengan mengenakan kemeja putih dan jas berwarna abu-abu tua. Tangan kirinya meraih tanganku, disematkan cincin emas dengan berat sekitar lima gram itu pada jari manis kananku. Setelahnya ia terdiam sejenak sambil tetap mengenggam ujung jariku, membiarkan fotog

