"Sayang, siap-siap ya, sebentar lagi aku jemput," ucap suamiku dari sambungan telepon. "Mau ke mana, Mas?" Aku menengok jam di dinding. Baru pukul sembilan, kami juga tidak ada rencana mau ke mana-mana sebelumnya. "Antar Hani." Hani lagi! Geram rasanya. Hampir satu bulan dia di rumah Mama, selalu saja ada alasannya untuk merepotkan Arman. Seperti kemarin, baru saja ia merengek minta diajak ke Kota Tua yang sedang hits. Aku yang sebenarnya sedang lelah, malas ke mana-mana terpaksa ikut, daripada dia hanya pergi berdua dengan suamiku, tentu aku lebih tak rela lagi. "Tante Sovia baru saja menghubungi, papanya Hani tiba-tiba kena serangan jantung," terang Arman, tepat saat baru saja aku hendak meluapkan kekesalanku. "Aku sudah cari tiket pesawat ke Singapura, sayangnya tinggal tersedia sa

