“Lihat, Pi, perutnya Mama benjol!” seru Rania begitu melihat ada bagian perutku yang bergerak membentuk tonjolan kecil. “Ini kayaknya kakinya adek,” jawab Arman sambil mengusap perutku. “Beneran Pi?” Rania ikut memegang perutku. “Ayo Dek, mana kakinya, kok diem aja.” Ia kecewa saat bayi di perutku tak lagi bergerak. “Adek bayinya capek Sayang, mungkin sekarang lagi bobo,” ucapku menghibur hatinya. “Mama juga bisa masuk angin nih, kalo lama-lama perutnya terbuka begini.” Arman tertawa seraya menurunkan baju yang kukenakan hingga menutup bagian perut. “Udah, ya, Ran. Nanti lagi lihat adeknya.” Aku pun kembali dengan aktifitas semula, melipat pakaian bayi. “Yuk kita lanjut beberesnya. Ran bantu lipat-lipat juga, ya.” Kuberikan beberapa lembar pakaian bayi pada anak sulungku itu. Melipatn
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


