Dua tahun yang lalu.
Siang itu Miranti tengah sibuk membuat menu makan malam. Dia berkutat di dapur dibantu oleh Bi Sarti. Meski mempunyai tenaga asisten rumah tangga, tapi perempuan itu lebih suka membuat menu makanan sendiri. Terlebih anak dan suaminya memang menyukai masakan olahannya.
Bahkan setiap jam makan siang, Miranti akan selalu mengunjungi kantor Haris untuk mengantarkan makanan. Sang suami lebih suka makan makanan buatan sang istri ketimbang jajan di luar. Selain lebih hemat juga lebih higienis tentunya.
Haris sendiri adalah seorang pengusaha ayam pedaging. Dia memperternak ribuan ayam pedaging. Lalu menyalurkannya ke resto-resto yang mengolah daging ayam seperti gerai ayam geprek, ayam bakar, ayam penyet dan lain sebagainya.
"Aduuuh!" Miranti yang tengah menumis sayur tiba-tiba mengeluh.
Bi Sarti yang tengah mengupas bumbu langsung menoleh. "Ibu kenapa?" tanyanya peduli.
Miranti tidak langsung menyahut. Perempuan itu hanya meringis sembari meremas perutnya yang terasa melilit. Desisan kesakitan terdengar dari mulutnya.
"To-tolong selesaikan ma-masaknya, Bi. Sa-saya mau ke-ke kamar," pinta Miranti sembari menahan rasa sakit.
"Eh iya, Bu." Bi Sarti langsung mengangguk.
Miranti sendiri lekas melangkah pergi. Namun, rasa sakit yang menggebat membuatnya harus membungkuk. Perempuan itu memang selalu merasakan kesakitan di hari pertama menstruasi.
"Akhhhh!"
Miranti mengerang. Perempuan itu menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Sembari terus mengerang dirinya berguling-guling ke kanan dan kiri saking sakitnya.
"Ibu Ranti." Bi Sarti yang melihat sang nyonya terkapar langsung bergerak menolong. "Ibu kenapa?" tanyanya cukup khawatir.
"To-tolong ambilkan ... o-obat pe-peredam ... ra-rasa nyeri di ko-kotak," pinta Ranti dengan terbata. Dirinya terus saja berguling-guling di lantai.
"Baik, Bu." Bi Sarti mengangguk paham.
Wanita itu lekas setengah berlari menuju kamar sang nyonya di lantai atas. Bi Sarti sendiri sudah paham. Sang nyonya akan sangat kelabakan setiap kali haid di hari pertama.
Dirinya pun sudah hapal obat mana yang mesti harus diambil. Namun, perempuan setengah baya itu dibuat terkejut melihat sang majikan diam tidak sadarkan diri.
"Bu, Bu Ranti," panggil Bi Sarti terlihat panik. Wanita itu terus menepuk pipi sang nyonya, tapi Miranti tetap saja menutup matanya.
Saat ini di rumah hanya ada Bi Sarti dan Miranti saja. Haris tentu saja sedang sibuk di kantornya. Sementara Pak Nono sang sopir tengah sibuk mengantar Abrina.
Kala itu Abrina masih duduk di bangku akhir sekolah menengah pertama.
Anak itu mempunyai kesibukan yang seabrek. Ada banyak kursus dan les yang ia ikuti mulai dari les matematika, bahasa Inggris, dan juga les vokal.
Abrina memang ada bakat untuk menyanyi. Remaja itu mempunyai suara khas yang merdu. Mirantilah yang menyarankan sang putri untuk mengasah bakatnya di sekolah musik.
"Aduh bagaimana ini?" keluh Bi Sarti bingung.
Perempuan itu segera menoleh ke arah pesawat telepon. Tanpa berpikir lama Bi Sarti lekas menghubungi nomor kantornya Haris.
"Ada apa, Bi Sarti?" tanya Haris begitu mengangkat teleponnya.
"Ibu Ranti jatuh pingsan, Pak."
"Astaghfirullah! Kenapa, Bi?" Haris terperanjat seketika.
"Ibu hari ini menstruasi, Pak."
"Ya sudah kamu tenang, saya akan segera pulang."
"Iya, Pak."
Sembari menunggu kedatangan sang majikan, Bi Sarti berusaha membangunkan Miranti. Wanita itu mengoleskan minyak kayu putih ke seluruh tubuh sang nyonya. Hingga akhirnya Miranti pun tersadar.
Tiga puluh menit kemudian, Haris datang. Melihat sang istri terlihat pucat pasi dan lemah dia langsung berinisiatif membawanya ke rumah sakit. Tiba di sana Miranti langsung mendapatkan penanganan.
Haris sendiri menceritakan kondisi sang istri yang selalu mengeluh kesakitan yang menghebat tiap kali haid. Wanita itu juga sering merasakan sakit di daerah panggul. Tidak hanya itu Miranti juga kerap mengeluh sakit saat berhubungan suami istri.
Dokter pun menyuruh Miranti untuk melakukan USG karena dikhawatirkan ada sesuatu yang tidak beres pada perempuan tersebut. Benar adanya setelah hasil pemeriksaan keluar ternyata ada kista di rahim perempuan itu.
"Kistanya harus segera diangkat karena ukurannya sudah cukup besar," saran Bu dokter pada Haris.
"Apakah istri saya masih bisa hamil lagi, Dok?" tanya Haris bimbang.
Dokter berhijab biru muda itu menatap Haris dengan seksama. "Istri Bapak masih bisa hamil hanya saja kemungkinannya kecil. Terlebih salah satu ovariumnya harus diangkat."
Haris menunduk. Pria itu cukup sedih. Dirinya sangat menginginkan keturunan laki-laki.
"Jika tidak segera dioperasi maka istri Anda akan terus dirasa sakit yang parah. Bahkan bisa dikhawatirkan kista itu berubah menjadi ganas dan menuju kanker," jelas Bu dokter serius.
Mendengar itu Haris hanya bisa mengangguk. Kendati sesungguhnya dia tidak begitu setuju salah satu indung telur istrinya diangkat. Namun, demi keselamatan sang istri, pria itu terpaksa bersedia.
*
Keesokan harinya Miranti pun menjalani operasi. Haris dan Abrina menunggui dengan hati yang was-was. Dua jam berlalu, operasi pun berakhir.
Miranti lekas ditempatkan di ruang pemulihan. Sebenarnya Haris ingin menempatkan sang istri di kamar VIP. Sayangnya saat itu semua kamar VIP tengah penuh.
Tidak ada yang kosong. Sehingga Miranti terpaksa dirawat di kamar kelas satu. Di kamar tersebutlah untuk pertama kalinya Miranti dan Haris mengenal Lusi.
Kamar yang dipilih Haris berisi dua ranjang. Sudah ada pasien yang menempati kamar tersebut. Tetangga pasien Miranti adalah seorang wanita yang sudah sepuh.
Lusi sendiri adalah seorang perawat home care. Perempuan itu bertugas merawat si nenek, tetangga pasien Miranti. Suatu pagi perempuan tersebut yang kala itu masih gadis mendapat omelan dari anak si nenek. Karena melakukan kesalahan yang cukup fatal.
"Gob lok banget sih kamu!" kecam perempuan berambut pendek itu pada Lusi, "bisa-bisanya kamu salah ngasih obat. Sengaja mau mem bu nuh mamah aku?" cecarnya dengan mata yang mendelik. Perempuan itu pantas marah karena akibat kecerobohan yang Lusi lakukan, ibunya sampai keracunan obat.
"Maafkan saya, Bu, saya gak sengaja," mohon Lusi dengan air mata yang berlinang.
"Kalau sampai mamah aku kenapa-napa, saya akan laporkan kamu ke polisi karena udah lalai," kecam anak si nenek serius.
Lusi menangis. Perempuan muda itu tentu ketakutan mendengarnya.
Di tempatnya Miranti yang berhati lembut merasa iba melihatnya. Namun, dia tidak bisa berbuat banyak. Terlebih Lusi memang melakukan kecerobohan.
Keesokan harinya Miranti mendengar keributan lagi. Si nenek berhasil keluar dari maut. Namun, anaknya tetap memberikan hukuman Lusi.
"Tolong jangan pecat saya, Bu," mohon Lusi dengan menghiba. "Kasihani saya. Saya adalah tulang punggung keluarga, Bu. Bagaimana nasib adik-adik kalau saya menganggur," tuturnya dengan air mata membasahi pipi.
"Saya gak peduli. Saya tetap akan balikin kamu ke yayasan," putus anak si nenek tegas. Tekadnya bulat meski Lusi memohon-mohon.
"Kasihan gadis itu ya, Mas," ujar Miranti melihat nasib Lusi.
"Ya gadis itu harus menerima konsekuensi atas perbuatan yang telah ia lakukan," tanggap Haris santai.
"Aku seperti melihat diriku pada gadis itu," ujar Miranti tulus, "tolong kasihlah dia pekerjaan."
Haris menggeleng. "Aku nggak akan ngasih pekerjaan untuk orang ceroboh seperti dia," tegasnya tenang.
Sayang nasib berkata lain. Lima hari sejak kejadian di rumah sakit, nasib mempertemukan kembali Lusi dengan keluarga Haris. Kali ini bukan dengan Miranti, melainkan Abrina.
Sore itu seperti biasa, Abrina pergi les vokal. Pukul setengah lima sore seharusnya Pak Nono sudah datang menjemput. Namun, pria itu sedang bertugas mengantarkan Miranti ke rumah sakit untuk kontrol.
Haris sendiri sedang pergi mengunjungi perternakan. Sehingga Abrina tidak ada yang menjemput. Gadis itu terkatung-katung di depan tempat les menunggu kedatangan Pak Nono.
Sembari menanti jemputan, Abrina memainkan ponselnya. Asyik berselancar di dunia maya membuat gadis itu tidak menyadari jika ada bahaya yang sedang mengintai. Tiba-tiba ada seorang jambret yang merebut ponsel serta tasnya.
Abrina berteriak minta tolong. Lusi yang kebetulan lewat mendengar teriakan remaja itu. Lusi sendiri masih mengingat Abrina sebagai anak dari tetangga pasien yang ia rawat. Lusi tahu jika anak itu mempunyai orang tua yang cukup kaya.
Tanpa berpikir panjang, perempuan itu lekas mengejar si jambret. Perempuan itu melepas heelsnya untuk dilemparkan pada si bandit. Sepatu berhak itu pun tepat mengenai kepala si jambret.
Lusi melepas sepatuyang sebelahnya lagi. Kembali lemparannya mengenai sasaran. Hingga akhirnya dirinya bisa menghajar si jambret dengan tas yang ia bawa hingga babak belur. Jambret itu pun dibawa oleh dua orang sekuriti untuk diamankan.
"Terima kasih banyak, Kak," ucap Abrina kala itu polos.
"Sama-sama." Lusi tersenyum manis.
Saat Miranti datang bersama Pak Nono, Abrina menceritakan kejadian yang baru menimpanya. Termasuk tentang pertolongan Lusi padanya.
"Terima kasih banyak ya, Mbak, udah nolongin anak saya," ucap Miranti pada Lusi merasa berhutang budi.
"Sama-sama, Bu," jawab Lusi bersikap manis.
"Apa yang bisa saya lakukan untuk membalas kebaikan, Mbak?" tanya Miranti dengan tulus.
"Kasih saya pekerjaan," jawab Lusi serius. "Saya sangat butuh pekerjaan."
Yuk komentarnya mana?