9. Iri Hati

1021 Words
"Pekerjaan?" Alis Miranti bertemu. "Benar, Bu, saya sangat butuh pekerjaan," balas Lusi langsung memasang wajah yang menghiba, "saya adalah tulang punggung untuk adik-adik saya," tuturnya terus berlagak sedih. "Orang tua saya sudah gak ada dan saya yang harus menghidupi biaya kedua adik saya," lanjut gadis itu sambil memohon. Untuk menarik simpati Miranti, Lusi berpura-pura menangis. "Saat ini saya sedang butuh uang yang cukup banyak untuk biaya wisuda adik perempuan saya. Belum lagi adik laki-laki saya yang bungsu juga sebentar lagi akan masuk SMA. Pastinya saya memerlukan banyak uang untuk biaya pendaftarannya," bebernya sambil terisak. Miranti yang berhati lembut iba mendengarnya. "Saya ini cuma seorang ibu rumah tangga yang lebih bisa ngasih solusi apa-apa buat kamu," ungkapnya jujur. Mendengar penuturan Miranti, Lusi mengeraskan isak tangisnya. Membuat Miranti, Abrina, dan Pak Nono tidak tega melihatnya. "Begini Mbak ...." "Nama saya Lusi." Tangan Lusi langsung terulur. "Ah iya, Mbak Lusi." Miranti pun lekas membalas jabatan tangan Lusi, "suami saya seorang pengusaha, saya coba akan tanyakan sama dia. Semoga saja ada lowongan buat kamu, ya," tuturnya tulus. "Tolong usahakan lah, Bu," mohon Lusi langsung menggengam jemari Miranti. Miranti mengangguk canggung. "Eum coba minta nomor hapenya biar saya gampang hubungi," katanya kemudian. Lusi langsung menghapus air mata buayanya dengan cepat. Senyum semringahnya kini terbit di bibir. Wanita perempuan itu lekas menyebut deretan angka ponselnya. Usai berbasa-basi sebentar Miranti pun berpamitan kepada Lusi. Pak Nono sendiri lekas menyalakan mesin mobilnya. Jalanan yang tidak terlalu padat kendaraan membuat mobil Miranti cepat tiba di rumah. Malam harinya ketika makan malam, Miranti menceritakan pertemuan keduanya dengan Lusi. Abrina pun turut bertutur tentang pertolongan perempuan itu pada saat dirinya dijambret. Hingga akhirnya Miranti menyampaikan keinginan Lusi yang ingin dicarikan pekerjaan pada sang suami. "Di kantor Papah lagi gak butuh orang, Mah," kata Haris menanggapi cerita sang istri, "semua bagian sudah ada yang handle. Masa iya aku suruh dia jadi office girl." Miranti menghela napas bingung. "Gimana ya? Dia kayaknya sudah berharap banget sama Mamah." Haris meneguk minumannya sebelum menjawab. "Ya sudah gini saja. Kata dokter Mamah kan harus bedrest, terus gadis itu juga aslinya adalah seorang home care. Ya sudah papah sewa jasa dia buat jagain mamah saja," putusnya kemudian. "Itu ide yang baik," sahut Miranti sembari menarik napas lega. Keesokan harinya, Miranti langsung menghubungi Lusi. Lusi tentu senang bukan kepalang karena tidak lama lagi dirinya akan bekerja kembali. Benar saja hari itu juga Haris dan Miranti datang ke yayasan tempatnya bernaung. Kedua orang itu memilih Lusi sebagai tenaga home care. Haris yang tidak begitu suka berbicara hanya mengajukan beberapa pertanyaan pada Lusi seperti pendidikan gadis itu serta pengalaman kerjanya. "Saya lulusan D3 keperawatan, Pak. Dan sudah dua tahun menjalani profesi sebagai home care ini," papar Lusi dengan bibir yang terus tersungging senyum. Pasalnya baru kali ini dirinya merasakan nyamannya naik mobil bagus. Lusi kian dibuat terpukau saat tiba di rumah Haris. Seumur-umur baru kali ini gadis itu melihat ada rumah sebesar itu. Bosnya yang kemarin saja tidak sekaya Haris. "Tolong kamu jaga dan rawat istri saya dengan baik, ya," pesan Haris pada Lusi. "Iya, Pak," jawab Lusi sambil melemparkan senyum manis. Entah kenapa hatinya selalu berdesir tiap kali bertatap mata dengan Haris. Bagi Lusi Haris mempunyai paras yang sedap dipandang mata kendati usianya sudah tidak muda lagi. Bahkan tatapan pria itu yang tegas dan berwibawa membuatnya merasa jatuh hati saat itu juga. Haris melemparkan senyum datar. Pria itu lantas menghadap sang istri untuk berpamitan. Penuh kasih sayang dirinya menge cup pipi Miranti sebelum berangkat kerja kembali. Dari tempatnya Lusi membayangkan jika dirinyalah yang dicium oleh Haris. "Andai bisa," gumamnya dengan mata yang terus tertuju pada keduanya. Miranti mendatangi Lusi usai mengantar suaminya sampai ke halaman. Perempuan itu menunjukkan kamar untuk Lusi. "Ini kamar kamu, semoga kamu betah di sini," ujar Miranti begitu membukakan pintu kamar untuk Lusi. "Iya, Bu, terima kasih," ucapn Lusi sopan. Dia menatap ruangan yang akan menjadi kamar pribadinya. Kamarnya cukup nyaman bahkan sudah ada mesin pedingin. Gadis itu merasa cukup beruntung. ** Waktu pun bergulir dengan cepatnya. Tidak terasa sudah satu bulan Lusi berkerja merawat Miranti. Tugasnya seperti menyiapkan obat-obatan, menemani perempuan itu pergi kontrol, Serta menjadi teman berbincang Miranti ia kerjakan dengan baik. Lusi benar-benar merasa betah dan kerasan bekerja di rumah Miranti. Terlebih Haris tidak hanya memberinya gaji. Perempuan itu juga mendapatkan banyak bonus dari Haris ataupun Miranti. Sehingga dia bisa membiayai kebutuhan kedua adiknya dengan baik. Rasanya Lusi ingin terus bekerja di situ. Sayang kesehatan Miranti kian hari makin pulih. Lusi takut tenaganya tidak dibutuhkan lagi oleh Haris dan sang istri. "Kalo aku ke luar dari sini, akan lebih susah untuk menjangkau Pak Haris," gumam Lusi saat merenung di kamar sendiri. "Aku harus mencari cara agar bisa terus bertahan di rumah ini," tekad Lusi serius. Akhirnya wanita itu menyusun rencana yang licik. Kebaikan Miranti tidak menyurutkan niatnya untuk berbuat jahat. Pagi itu Lusi sengaja menyiram minyak goreng di anak tangga yang biasa dilewati Miranti. Rencananya pun berhasil. Miranti terpeleset saat akan turun ke lantai bawah. Wanita itu mengalami patah tulang pada tungkainya. Sehingga untuk beberapa saat tidak dirinya bisa berjalan. Sehingga tenaga Lusi masih dibutuhkan untuk kembali merawat Miranti. Di saat Miranti tengah terpuruk dengan kondisinya pasca jatuh dari lantai atas, Lusi mengambil alih peranan perempuan itu. Dirinya selalu mengantarkan makan siang untuk Haris dengan maksud untuk menarik perhatian. Atau juga menyajikan minuman setiap kali Haris tengah menyelesaikan pekerjaan di rumah. Rasa kagumnya pada ketampanan, kesuksesan, dan kebaikan Haris telah naik level menjadi cinta. Ada keinginan yang kuat di hati Lusi untuk memiliki Haris. Terlebih dia merasa lebih segalanya dari Miranti. "Aku jauh lebih muda dari Ranti, lebih cantik dan juga lebih cerdas," puji Lusi pada diri sendiri. Gadis itu tengah menatap pantulan wajahnya di cermin, "tapi kenapa ya Pak Haris sama sekali tidak tertarik sama aku?" Lusi terus menatap parasnya di cermin. "Kayaknya aku harus buat drama yang bisa bikin Mas Haris benci banget sama Ranti deh." Lusi yang berhati culas tidak butuh waktu lama untuk berpikir. Bibirnya mulai menyeringai miring begitu mendapatkan ide. "Aku yakin Pak Haris pasti akan langsung mengusir Ranti kalo rencana aku berhasil. Ha ... ha ... ha!" tawa Lusi membahana. Kira-kira apa rencana busuk si Lusi ya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD