10. Lomba Menyanyi

1280 Words
Sudah lebih dari tiga minggu pasca jatuhnya Miranti dari tangga. Perempuan itu masih belum mampu berjalan. Sehari-harinya hanya bisa duduk di kursi roda. Miranti sendiri tidak hanya patah tulang. Menurut dokter yang menangani perempuan itu juga mengalami trauma pada tulang belakangnya. Makanya perlu waktu lama untuk sembuh. Di lain pihak Lusi yang jahat justru menganti obat-obatan yang dokter berikan dengan vitamin biasa. Hal tersebut kian memperparah kondisi Miranti. Sehingga sakit wanita itu tidak kunjung sembuh. "Mah, Pah, aku ditunjuk sama wali kelas untuk mewakili sekolah pada perlombaan tarik suara," ujar Abrina suatu malam saat sedang makan bersama. Haris dan Miranti sontak saling melempar pandang. Keduanya tampak begitu senang mendengarnya. "Oh ya?" sahut keduanya pun serempak. "Iya nih, lomba nyanyi tingkat nasional. Karena pesertanya dari beberapa sekolah SMP di Indonesia," tutur Abrina semringah. "Wahhh selamat ya, Sayang," ucap Miranti seraya mengelus rambut panjang Abrina dengan lembut. "Belum juga lomba kok udah ngasih selamat dulu," timpal Abrina merasa geli. "Gak papa Mamah bangga aja sama kamu," balas Miranti tetap lembut. "Memang kapan lombanya dimulai?" tanyanya kemudian. "Tiga bulan lagi, Mah," balas Abrina seraya mengunyah makanannya. "Kalu gitu kamu harus lebih rajin latihan vokal, biar suara kamu lebih terasah," saran Haris bijak. "Iya, Pah, itu pasti. Masalahnya aku pengen pas lomba itu Mamah dan Papah hadir buat ngasih support." "Itu pasti dong, Sayang," sahut Miranti dan Haris bersamaan. "Aku juga berharap, pas acara lomba itu Mama udah bisa jalan. Jadi nggak perlu lagi duduk di kursi roda," ungkap Abrina jujur. "Semoga, Nak," balas Miranti lirih. Perempuan itu sedikit ragu dengan ucapannya sendiri. "Besok kita konsultasi lagi ke dokter mengenai sakit kamu, Mah," saran Haris peduli, "semoga ada cara untuk kamu agar bisa cepat jalan." "Aamiin," doa Miranti dan Abrina bersamaan. * Biasanya saat kontrol Haris jarang menemani. Seabrek kesibukan adalah alasannya. Pria itu selalu mempercayakan tugas itu pada Lusi. Namun, tidak dengan hari itu. Haris ikut mendampingi sang istri saat kontrol kondisi kakinya. Sebagai perawatnya, Lusi juga turut serta. Haris sendiri sengaja meluangkan waktunya demi kesembuhan Miranti. Terlebih dia sudah berjanji pada Abrina bahwa Miranti akan sudah bisa berjalan di hari perlombaan sang anak. "Untuk kasusnya Ibu Miranti jujur saya agak heran," ujar Ibu dokter ketika Miranti dan Haris datang menghadap. "Heran kenapa, Dok?" tanya Miranti dan Haris bersamaan. "Begini." Bu dokter menatap Miranti dengan seksama. "Ibu Miranti memang mengalami trauma pada tulang belakangnya. Namun, tidak begitu parah. Seharusnya jika Ibu rajin meminum obat yang saya resepkan, Ibu Miranti sudah bisa berjalan sedikit-dikit," terangnya cukup heran. Wanita pertama berkacamata itu lantas mengalihkan pandangannya pada Lusi yang berdiri di belakang Haris dan Miranti. "Kamu sebagai home care dari Ibu Ranti, sudah ngasih obatnya dengan benar kan?" tanya Bu dokter selidik. Lusi sendiri terlihat cukup kikuk saat Bu dokter mencecarnya dengan tatapan intens. "Tentu dong, Dok, saya ngasih obatnya dengan benar. Sesuai dosis dan teratur," jawabnya mengarang. "Aneh, ya," timpal Bu dokter heran, "kamu juga rajin kan menstimulasi Ibu Ranti dengan terapi yang sudah kamu pelajari?" Muka Lusi merah seketika. Terlebih saat Haris dan Miranti ikut menatapnya dengan serius. Karena sesungguhnya Lusi jarang memberikan terapi pada Miranti. "Dok, bagaimana kalo saya sewa terapis dari rumah sakit sini saja yang lebih profesional daripada perawat kami?" tanya Haris serius. "Itu ide yang bagus. Nanti saya akan rekomendasi fisioterapi untuk Bapak." "Kalo bisa yang fisioterapinya yang datang ke rumah saja," usul Miranti ikut bicara. "Benar, biar saya sedikit-dikit ikut belajar," timpal Haris serius. "Iya, akan saya carikan," sanggup Bu dokter dengan anggukan. Di tempatnya Lusi tidak bisa menunjukkan wajahnya. Gadis itu terus menunduk. Dia merasa malu pada Miranti dan Haris karena selama ini tidak pernah menterapis Miranti. Untungnya Miranti dan Haris tidak begitu mempermasalahkan. Mereka tetap berbuat baik pada Lusi dengan terus memperkerjakan gadis itu. Beberapa hari kemudian, seorang pria dengan paras yang lumayan menawan datang ke rumah. Lelaki dewasa yang usianya lima tahun lebih muda dari Miranti. Dia mengaku sebagai seorang fisioterapis yang direkomendasikan oleh dokternya Miranti. "Mari silakan masuk," ajak Haris berwibawa. Pria itu sengaja meluangkan waktunya untuk melihat terapis itu bekerja. Terapis tersebut pun bekerja dengan baik. Pria yang bernama Arman itu memberikan edukasi berupa pengetahuan umum mengenai hal-hal yang dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Arman juga memberikan latihan dan gerak untuk memberikan kekuatan otot dan sendi pada Miranti. Dia juga menggunakan tangannya untuk menghilangkan rasa sakit dan kekakuan pada kaki Miranti. Alhasil dalam jangka waktu satu bulan, proges kesembuhan Miranti mengalami kemajuan yang signifikan. Terlebih Haris sendiri memang ikut turun tangan pada waktu pemberian obat. Hal tersebut tentu membuat kekhawatiran pada diri Lusi. Dia tidak mau posisinya terancam. Terlebih Haris terang-terangan justru lebih sering memuji kinerja Arman di depannya. "Aku akan buat Pak Haris membenci Arman sekaligus mendepak Miranti," tekadnya busuk. Mulailah Lusi menjalankan misi busuknya. Beberapa kali perempuan itu mencoba menghasut Haris dengan membuat gosip kalau Miranti ada hubungan dengan Arman. Perempuan itu bahkan bisa menunjukkan foto-foto kedekatan keduanya. Lusi yang licik bisa menangkap angle yang pas pada saat Arman sedang memberikan terapis pada Miranti. Sehingga dalam foto terlihat adegan yang mesra antara Arman dan Miranti. Beruntung Haris tidak langsung termakan hasutan Lusi. Hal tersebut tentu membuat Lusi geram. Akhirnya dia membuat konspirasi jahat. Dengan akal liciknya perempuan itu membubuhkan obat perangsang pada minuman Miranti dan Arman. Wanita itu sengaja menyuruh Bi Sarti untuk pergi berbelanja. Sehingga saat itu hanya ada Miranti dan Arman saja yang di rumah. Lusi yang licik bisa menggiring Arman memasuki kamar Miranti, lalu menguncinya dari luar. Perempuan itu lantas menghubungi Haris saat Arman dan Miranti tengah sa nge akibat minuman perangsang tersebut. Dirinya membuka kunci begitu mendengar mobil Haris pulang. Rencana jahat Lusi berhasil. Arman yang sa nge tidak bisa menahan has ratnya untuk menyentuh Miranti. Sama halnya dengan Miranti. Meski hatinya menjerit dan menolak. Namun, tubuhnya berkata lain. Ketika Arman akan mencium bibir Miranti, Haris membuka pintu kamar. Pria itu marah bukan kepalang melihat pemandangan yang ada. Arman terlihat memeluk Miranti dan akan menyentuh wanita itu. Tanpa ba bi bu dirinya langsung menghajar Arman. Amarah dan cemburu membutakan mata Haris. Dia yang sangat marah kelepasan menjatuhkan talak pada Miranti dan mengusirnya pergi. Hasutan dari Lusi membuat Haris mantap menggugat cerai. Dengan alasan telah berzina maka Miranti tidak mendapatkan harta gono gini sepersen pun. Kebetulan juga dia termasuk perempuan yang tidak memikirkan harta. Sehingga semua kekayaan bersama kebanyakan atas nama Haris. *** "Mamah kenapa menangis?" tegur Abrina saat melihat Miranti berlinang air mata. Saat ini mereka tengah dalam perjalanan pulang. "Mamah gak papa, Bina," balas Miranti parau. Perempuan itu lekas menghapus air matanya. "Mamah pasti ingat papah dan perempuan jahat itu kan?" tebak Abrina ikut sedih. "Sudah Mamah gak usah mikirin mereka. Tanpa Papah kita pasti bisa hidup bahagia," ujarnya menenangkan. Miranti hanya mengangguk. Perempuan itu memeluk Abrina penuh kasih. Satu-satunya harta yang ia punya. "Biar sedihnya Mamah hilang, kita mampir mall yuk buat cari angin dan makan es krim," usul Abrina lembut. "Naik taksi saja sudah pemborosan, Bina" "Enggak setiap hari ini kok," tukas Abrina langsung. Gadis itu lantas merogoh saku celananya. Sebuah amplop putih ia keluarkan. Amplop yang diberikan Gavin sehabis beli baju. "Kak Gibran ngasih ini," kata Abrina menunjukkan amplop tersebut pada sang ibu. Dia lantas menghitung isinya. "Lima juta rupiah, Mah," tuturnya semringah. "Itu buat bayar sekolah kamu saja, Bina." "Iya, Mah. Tapi aku pengen makan es krim juga." Tidak mau membuat anaknya sedih, Miranti mengalah. Perempuan itu manut diajak ke sebuah mall. Saat tengah berjalan menyusuri mall, Miranti melihat pengumuman. "Bina, lihat!" Miranti menunjuk iklan pengumuman lomba menyanyi. Abrina menatap banner lomba menyanyi tersebut. Hadiah utamanya uang sebesar sepuluh juta rupiah. Hal yang menggembirakan lainnya adalah acara tersebut nanti akan diliput televisi. Dan salah satu jurinya adalah seorang produser musik. "Kamu ikut kan, Bina?" tanya Miranti memastikan, "semoga ada jalan rezekinya kamu di sini."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD