Abrina menatap lekat banner di hadapannya. Gadis itu tentu tergiur dengan hadiah yang ditawarkan. Untuk saat ini uang sepuluh juta tentu sangat berarti untuk kehidupannya bersama sang Ibu.
Belum lagi salah satu jurinya adalah seorang produser musik. Jadi besar kemungkinan jika pemenangnya bisa ditawari masuk ke dapur rekaman. Lalu masuk ke industri musik dan menjadi penyanyi profesional seperti impian Abrina selama ini.
"Tapi, Mah, biaya pendaftarannya lumayan mahal," keluh Abrina sedikit memanyunkan mulutnya, "lima ratus ribu sendiri."
"Gak papa, Bina. Kan kalo kamu menang kans kamu meraih cita-cita menjadi penyanyi jadi terbuka lebar," sahut Miranti terus mendukung. "Lagian kamu kan habis dapat rezeki dari Gibran lima juta itu. Masih sisa banyak kok, Bi."
"Benar sih, tapi uangnya mau buat bayar kontrakan rumah kita, Mah," tutur Abrina terus merasa dilema, "ingat kita sudah nunggak sampai tiga bulan, Mah."
Miranti membingkai wajah sang putri. "Uangnya masih sisa banyak, Nak," tuturnya meyakinkan, "lagian biar nanti kita bayar dua bulan dulu, pasti Ibu Nani pengertian."
"Masalahnya kata dokter Mamah harus bedrest dulu di rumah sampai kondisi Mamah benar-benar pulih," ujar Abrina masih bimbang, "belum lagi Mamah sudah dapat surat peringatan yang kedua karena sering absen. Aku takut Mamah nanti kena pecat jadi--"
"Sttt!" Miranti meletakkan telunjuknya di bibir Abrina. Otomatis gadis itu pun menutup mulutnya. "Rezeki itu sudah ada yang ngatur dan gak akan tertukar, Bina. Kamu gak usah khawatir memikirkan sesuatu yang belum terjadi. Itu cuma akan membuatmu stress," nasihatnya lembut.
Abrina menatap ibunya lekat.
"Dengan mengikuti lomba menyanyi itu sama artinya kamu sedang ikhtiar untuk mewujudkan cita-cita kamu," lanjut Miranti lagi, "sekarang sebaiknya kamu ikut mendaftar, lalu latihan yang serius. Masalah hasil serahkan saja sama yang di atas. Insya Allah kalo kamu serius dan bersungguh-sungguh, usaha tidak akan mengkhianati hasil."
"Baiklah, Mah." Abrina mengangguk setuju.
Karena terus mendapatkan dukungan dari sang ibu, Abrina pun memberanikan diri untuk mendaftar. Gadis itu membayar uang pendaftaran. Panitia pendaftaran pun memberikan nomor untuknya. Sedangkan acara perlombaan akan dilaksanakan satu minggu lagi.
"Nomor tujuh. Nomor keberuntungan," ujar Miranti dengan menyematkan bibir. "Semoga kamu beruntung di acara lombanya nanti, Bina."
"Aamiin." Aprina mengamini harapan ibunya sambil meraup kan kedua tangannya ke wajah. "Kita belanja sebentar yuk, Mah, buat isi kulkas," ajaknya kemudian.
"Ayo."
Miranti mengangguk setuju. Seminggu lebih dirawat di rumah sakit, perempuan itu yakin jika tidak ada persediaan di rumah. Dirinya pun mengikuti langkah sang putri ke lantai underground. Tempat supermarket berada.
Miranti dan Abrina bukan tipe wanita yang hobi berbelanja. Keduanya hanya membeli kebutuhan sehari-hari yang memang diperlukan. Namun, harga barang-barang yang memang tengah pada naik membuat pengeluarannya menjadi besar.
Untuk ongkos taksi, beli es krim, daftar lomba, sampai belanja semua habis satu juta lima ratus rupiah. Sisa tiga juta lima ratus lagi uang pemberian dari Gibran. Abrina akan menghemat uang tersebut untuk keperluan yang lain.
Usai membayar semua belanja, Miranti dan Abrina meninggalkan mall. Kali ini Abrina memilih menggunakan bajaj untuk tumpangannya demi menghemat uang.
Dua puluh menit perjalanan, tibalah keduanya di tempat tujuan. Turun dari bajaj Abrina lekas membayar ongkosnya. Ketika akan memasuki rumah sudah ada seseorang yang menunggu di teras rumah.
"Kebetulan sekali nih Mbak Ranti dan Bina sudah balik," ujar perempuan seumuran Ranti itu lekas bangkit dari duduknya. "Gimana kabarnya, Mbak Ranti? Sudah sehat?" tanyanya datar.
"Alhamdulillah, Bu Dewi, saya sudah mendingan," balas Miranti sopan.
"Langsung saja ya gak usah basa-basi lagi," ujar Ibu Dewi masih dengan tatapan datar. "Rumah ini sudah ada yang mau mengontrak. Karena kalian telat bayarnya, maka saya minta kalian tinggalkan rumah ini," suruhnya tanpa senyum.
"Mohon maaf, Bu Dewi, karena kami sudah telat bayar," ucap Miranti langsung, "tapi hari ini saya akan bayar sewa rumah ini."
"Tiga bulan ya tungggakan kalian," balas Ibu Dewi mengingatkan.
"Untuk saat ini saya baru bisa membayar--"
"Kalau tidak bisa membayar 3 bulan langsung, saya minta kalian keluar dari sini," sela Ibu Dewi tegas.
Abrina memandang sang ibu. Tidak mau diusir, Miranti pun mengangguk. Dia memberi kode pada anaknya untuk membayar semua tungggakan sewa rumah.
Abrina mengeluarkan amplop dari dalam kantong celananya. Gadis itu menyerahkan tiga puluh lembar uang ratusan ribu pada Ibu Dewi. Hati remaja itu sedikit bimbang karena saat ini sisa uangnya tinggal empat ratus enam puluh ribu.
Ibu Dewi sendiri lekas menghitung uang yang Abrina berikan. Setelah meresa pas perempuan itu pun pamit pulang. Wajah datarnya perlahan sedikit berubah menjadi semringah.
"Sudah, pasti akan ada rezeki lain yang akan kita dapatkan nanti," kata Miranti begitu melihat wajah murung sang putri. Dia menepuk pundak gadis itu dengan hangat, "udah ayo kita masuk, yuk," ajaknya kemudian.
Satu minggu tidak ditempati membuat rumah itu terlihat cukup kotor. Selama Miranti dirawat di rumah sakit Sabrina memang menghabiskan waktunya untuk menjaga sang ibu. Sehingga rumah pun menjadi terbengkalai.
Gadis itu memutuskan untuk bersih-bersih. Abrina tidak mengizinkan saat Miranti ingin membantu. Dirinya benar-benar memainkan sang ibu untuk bedrest total.
Sore harinya rumah Abrina kembali kedatangan tamu. Kali ini yang datang adalah Anggini. Gadis itu menyampaikan pesan dari wali kelas mereka.
"Kamu harus berangkat, Bi. Sudah mau dua minggu kamu bolos dan gak ada keterangan. Nanti poin kamu banyak. Bisa dikeluarkan nanti kamu dari sekolah," saran Anggini penuh dengan kepedulian.
"Iya besok aku akan berangkat, sekalian mau pamit pindah sekolah," tutur Abrina terlihat sedih.
"Pindah?" Mata Anggini membulat, "emang kamu mau pindah ke mana?"
"Entahlah." Abrina menggelengkan kepalanya dengan pelan, "pastinya ke sekolah negeri biasa yang biayanya terjangkau."
"Plis, Abrina, jangan pindah," mohon Anggini langsung meraih tangan sahabatnya. "kalau kamu pindah nanti di sekolah sama siapa? Tahu sendiri kan teman-teman kita pada suka ngegeng. Kalo gak selevel, kita gak bisa diajak main."
Abrina menghela napasnya dengan berat. "Aku juga ingin bertahan di sekolah itu, tapi kamu tahu sendiri kan kondisi perekonomian keluargaku sekarang?"
"Gini aja, kamu terus terang saja sama Pak wali tentang kondisi ekonomi keluargamu. Terus kamu daftar beasiswa seperti aku," saran Anggini serius.
Seperti yang kita tahu Anggini bisa masuk ke sekolah Abrina memang karena mendapatkan beasiswa. Kecerdasan otak remaja itu membuatnya mendapatkan peringkat pertama. Mengalahkan Abrina yang harus puas ada di posisi dua. Terlebih dua tahun ini konsetrasi belajar Abrina memang terganggu semenjak badai menghantam rumah tangga Ayah dan Ibunya.
Di sisi lain tujuan Anggini masuk ke sekolah favorit tersebut adalah agar demi bisa dekat dengan Gavin. Anak bos di tempat ibunya bekerja. Memang selama ini gadis itu selalu berujar jika Gavin naksir Abrina.
Padahal sebenarnya dirinya sendiri yang naksir Gavin. Hanya saja dirinya belum ada keberanian untuk mengungkapkan. Sehingga Anggini lebih senang berpura-pura mendukung Abrina jadian dengan Gavin.
Berbanding terbalik, Abrina justru membenci Gavin. Dirinya merasa jika pemuda itu terlampau tengil, sok kaya, dan sok bossy. Abrina tidak menyukai sikap Gavin yang usil. Terlebih keduanya sama-sama memiliki karakter yang sama yakni keras kepala.
Abrina justru lebih mengagumi sikap kalemnya Gibran. Di matanya perangai Gibran mirip dengan sang ayah. Di mana saat ini sejujurnya gadis itu sangat mendambakan kehangatan seorang ayah.
"Gmana Bina? Kamu mau kan menurut saran dari aku?" tanya Anggini ketika melihat sang kawan justru termenung, "aku yakin kamu pasti akan dapat beasiswa karena nilai kamu juga selalu bagus," lanjutnya terus meyakinkan.
"Baiklah besok aku akan mencoba," balas Abrina kemudian.
Anggini yang senang mendengar keputusan Abrina langsung memeluk gadis itu dengan bahagia.
***
Keesokan harinya Abrina memutuskan untuk mengikuti saran dari Anggini. Terlebih sang ibu juga mendukungnya. Gadis itu kembali berangkat ke sekolah.
Kehadiran Abrina di sekolah diabaikan oleh teman-temannya. Karena memang dia tidak mempunyai banyak teman. Terlebih semenjak ibunya jatuh miskin kian membuatnya dijauhi kawan.
Hanya Anggini yang tampak senang melihat kehadiran Abrina. Sama satu orang lagi. Dia tak lain dan tak bukan adalah Gavin.
Pemuda yang memang sudah menaruh rasa pada Abrina dari semenjak satu kelas itu lekas mendekati bangku sang gadis. Seperti biasa dia diikuti oleh kedua anak buahnya.
Sama satu pemuda lagi. Dilihat dari parasnya, Abrina merasa asing. Sepertinya cowok itu murid baru di sini.
"Masih ingat masuk sekolah lu?" sindir Gavin begitu mendekat. Dia yang usil lekas menarik ikatan rambut Abrina.
Abrina yang enggan menanggapi Gavin hanya membuang muka.
"Oh iya kata Anggi lu mau pindah, ya? Kok gak jadi? Kangen berantem sama gue, ya?" ledek Gavin tampak percaya diri.
Abrina menatap Gavin dengan bete. "Eh, Vin, ada kepala sekolah tuh!"
Gavin sontak menoleh ke arah pintu.
"Tapi bo'ong," lanjut Abrina merasa puas telah memperdaya. Di sebelahnya Anggini pun ikut tersenyum geli.
"Berani lu ye ngerjain gue," kecam Gavin kesal. Dengan yang memang sedikit kasar dan gemasan lekas menarik kembali rambutnya Gavin.
"Aw aw aw! Sakit, Vin," keluh Abrina sembari meringis, "lepasin dong."
"Gak akan gue lepasin sebelum lu minta maaf."
"Minta maaf untuk apa? Emang aku salah apa?" tukas Abrina keki.
"Kalo gitu tangan ini gak akan pernah lepas dari rambut elu," balas Gavin sembari menyeringai senang.
"Gavin sakiit," keluh Abrina sembari mendesis.
"Gavin!" Suara berat itu membuat Gavin menoleh. Guru matematika yang terkenal killer itu menatapnya dengan tajam. "Sedang apa kamu sama rambutnya Abrina?"
Sontak Gavin melepas cekalannya pada rambut Abrina. "E anu, Pak. Saya cuma lagi mengagumi rambut Abrina yang hitam berkilau," dalihnya sembari meringis.
Pak guru yang tidak percaya dengan alasan Gavin terus mendelik. "Kembali ke tempatmu!" suruhnya galak.
"Ah iya, Pak."
Gavin and the genk pun bergegas menuju mejanya di pojok ruangan kelas.
"Cowok yang duduk di belakangnya Gavin siapa?" tanya Abrina begitu Gavin dan genknya berlalu dari hadapan.
Anggini menoleh ke belakang sebentar. "Oh dia namanya Leon. Anak pindahan dari SMA Depok. Baru seminggu di sini."
"Oh."
Abrina membulatkan mulutnya. Gadis itu kembali menoleh ke belakang. Di saat yang bersamaan Gavin pun tengah menatapnya. Akhirnya pandangan kedua remaja itu saling bersirobok.
Keduanya sama-sama merasa salting. Sehingga Abrina dan Gavin memilih untuk buang muka. Sementara itu Leon justru menatap Abrina dengan selidik.
Pelajaran pun dimulai. Pada saat istirahat siang, Abrina dipanggil ke ruang kepala sekolah. Di kesempatan itu Abrina mengungkapkan kondisi keuangannya dengan jujur. Gadis itu juga mengutarakan niatnya untuk mengajukan beasiswa atau keringanan biaya.
Kepala sekolah dan wali kelas Abrina berunding sesaat. Saat wali kelas membeberkan prestasi belajar dan bakat menyanyinya, proposal Abrina pun disetujui oleh Pak kepala sekolah. Terlebih gadis itu sudah dua kali menyumbangkan tropi untuk sekolah pada kejuaraan musik.
Abrina yang bahagia mengucapkan kalimat terima kasih berulang kali pada wali kelas serta kepala sekolah. Terharu membuat air matanya merebak. Namun, kebahagiaan itu tidak mau dia rusak.
Abrina lekas menghapus air matanya.
Tidak ingin kebahagiaan dirasakan sendiri, Abrina pun pamit dari ruang kepala sekolah tersebut. Sedikit tergesa-gesa gadis itu melangkah menuju kantin. Tempat di mana Anggini sahabatnya sedang beristirahat.
"Gimana, Bi?" todong Andini begitu Abrina mendekat.
Abrina pun langsung memeluk Anggini. "Alhamdulillah proposal aku diterima, Nggi. Aku dapat beasiswa di sini alias sekolah aku gratis," tuturnya terharu.
"Alhamdulillah." Abrina ikut bersyukur bahagia.
"Habis menang lotre, ya?"
Abrina dan Anggini sontak menoleh. Seperti biasa Gavin datang dengan gaya sok iye nya. Dia mendekat bersama anak buahnya. Termasuk si Leon.
"Aduh, Gavin, bisa gak sih sehari gak kepo sama kehidupan kami?" ujar Anggini pura-pura bete. Padahal dalam hati dia senang kalau Gavin mendekat.
"Eh gue gak bicara sama elu. Gue ngomongnya sama teman lu yang sama-sama miskin itu," oceh Gavin dengan entengnya.
"Tahu kita sok miskin ngapain juga dekat-dekat?"
"Dibilang gue nggak ngedeketin lu kok, jadi nggak usah sok kegeeran deh," tukas Gavin kesal.
Abrina menghela napasnya dalam. "Kamu mau tahu kenapa aku kelihatan bahagia?" tanyanya sembari mendongak. Pasalnya tubuh Gavin menjulang cukup tinggi di hadapannya.
"Iya, heran aja lihat kamu ketawa gitu. Biasanya kan murung terus," kilah Gavin jujur.
"Iya nih, Vin, aku habis dapat beasiswa dari kepala sekolah. Makanya bahagia."
Ada rasa bahagia menjalari hati Gavin. "Jadi kamu nggak jadi pindah nantinya?
Ketika Abrina menggeleng hati kecil Gavin, kian bersorak bahagia.
"Oh iya jika kamu menganggap aku ini kawanmu, bisa gak aku mintai tolong?"
"Apa?" tanya Gavin antusias. Karena sesungguhnya Gavin sangat senang jika bisa direpoti oleh Abrina.
"Hari minggu besok aku mau ikut lomba menyanyi di Chitose. Kalian datang ya buat kasih dukungan untuk aku," pinta Abrina serius.
"Itu pasti, Bina," sahut Anggini semangat.
Sementara Gavin hanya berpura-pura mengangguk. Padahal dalam hati dia pun sangat bersemangat untuk mendukung.
Di belakang Gavin, Leon mendengarkan dengan seksama.
"Ini berita yang cukup bagus, aku bisa dapat duit banyak dari Mbak Lusi dengan ngasih kabar ini. Abrina tidak jadi pindah dan akan ikut lomba menyanyi," kata pemuda itu dalam batin.
Bibir Leon menyeringai. Dirinya sudah membayangkan berapa banyak uang yang akan dia dapatkan dari Lusi.