Bab 12

1907 Words
Pukul setengah dua siang bel pulang sekolah berbunyi. Anak-anak bersorak gembira. Mereka lekas membenahi mejanya dan bersiap pulang. Hal yang sama juga dilakukan oleh Abrina dan juga Anggini. Keduanya berbenah lantas melangkah beriringan ke luar kelas. Kalau dulu Abrina masih ada kesibukan sehabis pulang sekolah yakni mengikuti les dan bimbel. Sekarang tidak. Gadis itu akan memilih langsung pulang. Seperti biasa naik bus sudah menjadi langganannya selama satu tahun ini. Berdesak-desakan di dalam bus sudah menjadi makanannya sehari-hari. Berbeda dengan Gavin dan gengnya. Seperti biasa pulang sekolah mereka gunakan untuk main basket, futsal, game, nonton, atau sekedar nongkrong di warung. Gavin anak brokenhome juga sama seperti Abrina. Pemuda itu sudah merasakan sakitnya perpisahan orang tuanya dari waktu SD. Abrina masih beruntung karena kedua orang tuanya merebutkan hak asuhnya. Gavin tidak. Orang tua Gavin dan Gibran sudah menikah dan punya keluarga masing-masing. Ibu mereka pergi ke luar negeri mengikuti suami barunya. Sedangkan sang ayah menikah lagi dengan wanita muda. Di mana istri barunya keberatan kalau Gavin dan Gibran tinggal bersama. Akhirnya Gavin dan Gibran tinggal bersama neneknya dari pihak sang ayah. Sayangnya sang nenek pun pergi untuk selamanya lima tahun yang lalu. Perhatian yang kurang dari kedua orang tuanya membuat Gavin tumbuh menjadi pemuda yang pemurung, sensitif, dan susah mengendalikan emosi. "Bro!" Gavin dan kawan-kawannya menoleh. Leon yang datang. Dari awal masuk Leon memang sengaja mendekati Gavin. Tentu saja di sekolah barunya, dirinya memang ingin mendompleng popularitas pada siswa-siswi popular macam Gavin. "Sore ini gue gak ikut main futsal ya, Bro," izin Leon pada Gavin. "Oke." Gavin hanya mengangguk datar. Sejujurnya dirinya juga tidak begitu peduli pada Leon. Hanya saja anak itu terus mendekati dan minta bergabung. Gavin yang pada dasarnya anaknya chill, tanpa berpikir panjang menerima Leon gabung ke dalam gengnya. Leon lantas bertos pada Gavin serta keempat kawannya yang lain. Usai berpamitan dirinya lekas menuju gerbang sekolah. Tempat di mana Pak Nono sudah menunggu. Semenjak sekolah di situ, Lusi menitahkan Pak Nono untuk antar jemput Leon dan juga Livia. Lusi benar-benar memperlakukan kedua adiknya bak putri dan pangeran. "Woiii! Bengong aja," tegur Leon sembari menggebrak kap mobil. Pak Nono yang tengah memperhatikan Abrina tentu terkejut. "Lagi ngeliatin siapa?" cecar Leon songong. Pemuda itu lekas memasuki sedan BMW tersebut dan duduk di jok belakang. "Pasti lagi ngeliatin anaknya Mas Haris, ya?" tebaknya begitu mengikuti arah pandangan Pak Nono. "Eh iya, Mas Leon. Saya kangen sama Neng Bina," jawab Pak Nono jujur. Pria itu lekas menyalakan mesin mobil. "Dulu saya yang anter jemput dia. Sekarang sedih ngeliat Neng Abrina harus panas-panasan nunggu bis," tuturnya sambil terus memandangi Abrina. "Ngapain kasihan? Toh itu sudah menjadi pilihan dia," sahut Leon cuek, "dikasih kenyamanan malah milih kemiskinan, ya syukurin deh." Pak Nono memilih untuk tidak menanggapi. "Ayo jalan!" perintah Leon sembari menendang jok tempat duduk Pak Nono. Tentu saja Pak Nono terkejut. Pria itu ingin marah karena di pelabuhan tidak sopan. Namun, dia takut kena marah balik oleh Lusi atas pengaduan Leon. Sebab itulah Pak Nono memilih untuk tidak membalas. Pri itu menjalankan mobilnya sesuai arah Leon. Pemuda kemarin sore yang kini berlagak seperti bosnya. Sifat Leon sama buruknya dengan Lusi. Sombong, pelit, dan suka memerintah. Hanya Livia saja yang sedikit baik. Gadis itu lebih lembut dibandingkan Lusi dan Leon. Tiba di rumah Leon langsung ke luar dari mobil. Pemuda itu sedikit berlari memasuki rumah. Rasanya tidak sabar ingin segera bertemu dengan Lusi sang kakak. "Mbak Lusi!" panggilnya begitu masuk. Namun, orang yang dicari tidak tampak batang hidungnya. Kaki Leon bergerak menuju ruang keluarga. Di situ pun nihil. Akhirnya dengan santainya dia menuju kamar pribadinya Lusi. Benar saja sang kakak tengah santai di atas kasur. Perempuan dengan perut membuncit itu terlihat sedang membuka beberapa boks yang isinya ternyata tas-tas bermerek. "Belanja mulu!" tegur Leon sembari mencolek pundak Lusi. "Yah namanya juga orang kaya," sahut Lusi tanpa memandang sang adik. Leon lekas menjatuhkan tubuhnya pada ranjang super besar itu. "Aku aja kabar penting buat kamu nih?" "Apa?" tanya Lusi masih fokus pada tas dengan logo huruf H di tangan. "Anaknya Mas Haris sudah berangkat ke sekolah." Pandangan Lusi langsung beralih kepada Leon. "Abrina?" "Siapa lagi? Kan anaknya baru dia doang." Mata Lusi menyipit. "Duit dari mana sampai dia bisa bertahan di sekolah elite itu?" "Aku dengar dia habis ngajuin beasiswa dan dapat." Lusi menatap Leon dengan serius. "Ya udah seperti yang udah Mbak bilang, buat dia tidak betah di sekolah itu," titahnya dengan seringnya licik. "Sama satu lagi, minggu besok Abrina mau ikutan lomba. Dia minta dukungan dari teman-temannya," jelas Leon serius, "kayaknya Mbak Lusi bisa ngerjain Abrina di kontes itu." Usai memberi saran pemuda itu tergelak licik. Mata Lusi langsung membulat. " Ya kamu benar," sahutnya bahagia. "Memang lombanya di mana?" "Kalau gak salah di Chitose deh." "Oke, Mbak akan buat gadis keras kepala itu malu seumur hidup," janji Lusi sembari tersenyum. "Ya udah sini beliin aku motor karna udah ngasih info penting, Mbak," tagih Leon kemudian. "Gampang ... kita akan pergi ke showroom motor kalo rencana kita berhasil," janji Lusi cuek. Kali ini dia membuka kotak satu lagi yang ternyata isinya dompet. "Beneran, ya? Awas kalo enggak!" ujar Leon memastikan. Pemuda itu pun turun dari ranjang dan berlalu meninggalkan kamarnya Lusi. *** Sementara itu tiga hari setelah ke luar dari rumah sakit, salah seorang teman Miranti datang untuk menengok. Sayangnya Miranti tidak bahagia dengan hadirnya sang kawan. Karena temannya itu membawa kabar yang cukup membuatnya sedih. Teman Miranti membawa surat PHK untuknya. Meski mendapatkan uang pesangon, tetap saja Miranti dilanda bingung. Karena harus mulai dari nol untuk mencari pekerjaan lagi. Sedangkan usianya sudah tidak muda lagi. "Mamah, gak usah sedih. Aku akan bantu Mamah untuk cari uang," tutur Abrina saat melihat kesedihan di wajahnya Miranti. "Kamu masih kecil, tugas kamu adalah belajar, Bi. Bukan mencari uang," balas Miranti bimbang. "Gak, Mah, umur aku mau tujuh belas tahun. Sudah pantas untuk membantu meringankan, Mamah." Abrina lantas memeluk Miranti dengan lembut, "do'akan ya, Mah. Kontesnya aku berhasil." "Tentu, Sayang." Miranti balas memeluk putrinya dengan erat. * Lomba menyanyi yang diikuti Abrina tinggal empat hari lagi. Gadis itu berlatih siang malam agar penampilannya maksimal. Karena dirinya mengincar hadiah perlombaan tersebut. Uang sepuluh juta tersebut rencananya akan Abrina serahkan pada sang Ibu. Miranti yang cukup lihai membuat kue membuat Abrina berkeinginan agar sang ibu membuka usaha jualan kue. Jadi Abrina sangat berharap dirinya bisa menang. Akhirnya setelah satu minggu berlatih, hari H itu pun tiba. Abrina datang ke Chitose didampingi oleh Miranti. Gadis itu kian bahagia saat melihat teman-temannya seperti Anggini, Gavin n the geng turut datang untuk memberikan dukungan. Di sisi lain Leon juga turut hadir. Tentunya dia berpura-pura ingin mendukung Abrina juga. "Kayaknya kamu tegang gitu, Bi," ujar Leon pada Abrina pura-pura peduli. Perlombaan akan dimulai setengah jam lagi. Abrina masih berada di bangku penonton bersama dengan teman-temannya. "Nih aku punya cokelat." Leon mengulurkan sebuah cokelat batangan untuk Abrina, "cokelat itu dipercaya bisa menenangkan pikiran," tuturnya meyakinkan. "Terima kasih." Abrina pun menerima cokelat tersebut. "Ayo makan biar kamu rileks," suruh Leon mempersilakan. "Waduh ada yang lagi nikung elu dari belakang nih, Vin," celetuk salah seorang kawannya Gavin begitu melihat perhatian Leon pada Abrina. Leon yang langsung peka dengan sindiran itu langsung tersenyum simpul. "Enggak lah, Jo. Gue mana mau nikung sahabat sendiri," elaknya santai. "Tadi nggak sengaja aja beli coklat dua batang. Satu udah dimakan, satu lagi gue kasih buat Abrina," kilahnya dusta. "Ya udah yuk aku ke belakang panggung, ya," pamit Abrina sembari mengunyah cokelat dari Leon. "Semangat ya, Bi, aku yakin kamu menang," support Anggini sambil mengepalkan tangannya ke atas. "Aamiin." Abrina menyahut. Gadis itu lantas meninggalkan teman-temannya. Abrina melangkah menuju backstage. Dirinya menghabiskan cokelat pemberian dari Leon, lantas membuang bungkusnya ke tempat sampah. Di belakang panggung Abrina berkumpul dengan peserta yang lain. Total ada lima belas peserta yang ikut lomba. Sebelum acara dimulai ada panitia yang arahan dan briefing. Agar perfom mereka bagus. Para juri sudah datang dan menempati tempat duduknya di depan panggung. Acara pun dimulai. Peserta pertama pun dipanggil untuk unjuk gigi. Abrina sendiri mendapat urutan nomor tujuh. Selama menunggu gadis itu berlatih diiringi doa. Namun, tiba-tiba dirinya merasa sesuatu yang tidak enak. Perut Abrina terasa mulas. Beruntung baru dua peserta yang tampil dan mendapatkan penilaian. Gadis itu pun buru-buru berlari ke kamar mandi untuk menunaikan hajatnya. Abrina merasa ada yang salah. Lima menit setelah ke kamar mandi, dirinya merasa ingin buang air besar lagi. Seperti itu terus sampai akhirnya nomornya dipanggil. Bahkan sampai namanya dipanggil, Abrina masih di kamar mandi. "Abrina ke mana sih? Kok gak keluar-keluar?" keluh Anggini cemas. Miranti pun ikut khawatir. "Sekali lagi saya panggil peserta nomor tujuh dengan nama Abrina Nayanika," ujar MC pada mikrofon, "kalo tidak keluar juga maka akan kami diskualifikasi," putusnya tegas. "Biar gue liat," ujar Gavin ikut cemas. Sementara di sampingnya Leon menipiskan bibir. Dalam hati dirinya bersorak. Karena yakin Abrina pasti tengah mondar-mandir di kamar mandi. Namun, baru juga akan berdiri Abrina muncul dari belakang panggung. Wajah gadis itu tampak pucat. Meski begitu Abrina berusaha menyanyi secara optimal. Dia mengabaikan rasa mulas pada perutnya. Dalam hati Abrina bertekad harus bisa menyelesaikan lagu. Sayangnya menahan rasa sakit di perut membuat penampilannya tidak maksimal. Ada di beberapa part nadanya goyang. Bahkan Abrina tidak sempat mendengarkan penilaian juri. Dirinya keburu berlari ke kamar mandi. Tentu saja itu membuat nilai performanya buruk. Hingga akhirnya Abrina gagal meraih juara. Gadis itu menangis pilu di pelukan ibunya. "Aku gak tahu kenapa tiba-tiba perut aku jadi melilit terus," isak Abrina dengan sedih. "Apa mungkin kamu jajan sembarangan?" tebak Anggini ikut iba melihat kondisi Abrina. "Enggak." Abrina langsung membantah, "aku cuma makan siang di rumah sama coklat dari Leon." Anggini, Gavin dan teman-temannya hanya bisa menghela napasnya dengan berat. Sedangkan Miranti terus memberikan kata-kata penenang untuk sang putri. Sementara itu Leon sudah meninggalkan acara begitu Abrina selesai perfom. Pemuda itu ingin cepat sampai di rumah. Dia akan menunjukkan video penampilan Abrina pada sang kakak. "Ha ... Ha ... Ha!" Leo Lusi terbahak melihat video yang ditunjukkan oleh Leon. "Kamu memang adikku yang paling hebat," pujinya sembari menarik pipi Leon saking gemasnya. "Ya udah, Mbak, ayo kita ke showroom buat beli motornya," tagih Leon langsung, "mumpung showroom masih buka nih." "Ya udah kakak ganti baju sebentar, ya." Meskipun lekas mengganti baju rumahannya dengan dress hamil yang bagus. Perempuan itu juga mengenakan tas, sepatu, serta dompet branded yang baru dibelinya beberapa hari yang lalu. Pada Pak Nono dirinya minta diantarkan ke showroom motor. Tiba di showroom, Leon langsung menunjuk sebuah motor besar sesuai dengan impiannya. Motor CBR 250 RR warna hitam dengan bandrol harga sebesar tujuh puluh tujuh juta rupiah. Kendaraan tersebut dibayar oleh Lusi secara kontan. "Terima kasih banyak ya, Mbak," ucap Leon begitu Lusi menyelesaikan transaksi. "Sama-sama, pokoknya selama kamu bisa membuat Abrina menderita maka Mbak akan kasih kamu banyak hadiah," janji Lusi serius, "dia yang nyumpahin aku dan Mas Haris, tapi akan aku buat dia yang sengsara." "Siap, Mbak. Serahkan saja itu padaku." Lusi tersenyum manis. " Ya udah kita test drive, yuk!" Dahi Leon berkerut. "Maksudnya Mbak Lusi pengen ikutan naik motor ini?" "Iya dong, Mbak kan juga pengen nyobain motor baru ini." "Tapi Mbak lagi hamil besar lho--" "Udah, ayo!" ajak Lusi ngeyel. Karena terus didesak, Leon pun setuju. Pemuda itu mulai menyalakan motor barunya. Dia menyuruh Lusi untuk berpegangan. Tadinya Leon melajukan motornya dengan kecepatan pelan. Namun, Lusi meminta untuk ditambah. Sehingga motor pun melaju kencang. Sayangnya pada jalan yang berlubang, Leon tidak bisa menghindar. Brakkk! Kakak adik itu pun terjerembab jatuh dari motornya dan masuk kubangan. Komen dong biar akunya semangat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD