Bab 13

1634 Words
"Argghhh!" Leon dan Lusi mengerang bersamaan. Leon sendiri harus merasakan sakit di kaki karena tertindih badan motor. Sementara Lusi yang membonceng terpental satu meter dari motor. "Sa-sakiiit!" erang Lusi dengan berlinang air mata. "To-tolooong!" teriak Leon meminta bantuan. Karena dia sendiri juga merasakan sakit yang luar biasa menimpa kakinya. Leon melihat ada beberapa warga yang bergerak mendekat. Mereka ada yang langsung mengangkat motor baru Leon dan segera mengevakuasi Pemuda tersebut. Ada juga yang menolong Lusi. Keduanya dievakuasi ke tempat yang lebih aman. Tidak di tengah jalan seperti itu. Lusi dan Leon di bawah pohon tepi jalan. Salah Seorang warga yang menolong bekas menghubungi pihak ambulans. "Ya ampun kenapa di pahaku ada darah?" Lusi yang memang mengenakan midi dress cukup panik saat menyaksikan ada darah mengalir dari pangkal pahanya. "Oh tidak tidak! Bagaimana nasib anakku?" rengeknya ketakutan. "Sabar ya, Mbak, ambulans sedang dalam perjalanan ke sini," tutur warga yang tadi habis menghubungi ambulans. "Aku gak mau hal buruk terjadi pada putra mahkotaku. Tidak!" rengek Lusi terus merasa ketakutan. Tidak jauh darinya Leon terkapar. Pemuda itu masih terus mendesis menahan rasa sakit. Hingga akhirnya mobil ambulans yang dinanti pun tiba. Dua orang petugas medis turun dari mobil berwarna putih tersebut. Mereka mengeluarkan dua buah brankar. Dibantu warga mereka mengangkat Lusi dan Leon ke ranjang beroda itu masing-masing. Ada dua orang warga yang diminta petugas medis untuk mendampingi korban kecelakaan tersebut. Sementara warga yang lain mengevakuasi motor cukup parah rusaknya. Selama dalam perjalanan bibir Lusi terus mengoceh. Wanita itu sangat takut bayinya kenapa-napa. Terlebih darah terus mengalir dari pangkal pahanya. Karena terus menggomel dan menangis, salah satu petugas medis yang mendampingi menyuntikkan obat penenang pada lengan Lusi. Perlahan-lahan perempuan itu pun terlelap. Sedangkan Leon masih konsisten meringik. Sebagai bagaimana pun juga saat ini dirinya tengah merasakan sakit yang menghebat. Sirine yang meraung membuat ambulans tersebut bisa menembus jalanan ibu kota tanpa terjebak macet. Mereka tiba di rumah sakit tepat waktu. Lusi dan Leon pun langsung dilarikan ke dalam unit gawat darurat. "Sebaiknya kamu hubungi keluarga mereka," saran seorang warga yang ikut mendampingi Lusi dan Leon di rumah sakit. "Iya." Pria yang usianya lebih muda itu mengangguk. Kebetulan dia yang mengamankan tas Lusi. Dirinya pun lekas mengambil iPhone milik perempuan tersebut. "Waduuh hapenya pake password nih," keluh pria itu sambil berdecak. "Gak bisa saya. Gimana mau hubungi keluarganya?" ujarnya bingung. "Coba cek dompetnya, siapa tahu ada kartu nama atau apa yang bisa telepon," saran si bapak lagi. Pria yang lebih muda itu kembali mengangguk. Dia membuka dompet Lusi yang berwarna hitam tersebut. Ada banyak kartu yang terselip di dalamnya. Mulai dari KTP, ATM, kartu kredit, serta beberapa kartu nama. Lelaki itu memilih mengambil KTP Lusi. Dia mengeja nama dan alamat perempuan tersebut. Lalu mulai meneliti kartu nama yang lain. "Aduh saya bingung ini, gak ada petunjuk nama nomor keluarga yang bisa dihubungi," ujarnya jujur. "Coba buka hape si cowoknya," saran si bapak lagi. "Sama, Pak. Sama-sama dikunci." Si bapak ikut mendesah bingung. "Ya sudah kamu datangi alamat rumah si Mbaknya. Biar saya yang jaga disini," suruhnya kemudian. "Ya sudah kalo begitu." Pria muda itu mengangguk, "saya pamit ya, Pak." "Iya, hati-hati di jalan." Lelaki muda itu kembali menatap KTP-nya Lusi. Dia mengulang membaca alamat wanita itu. Setelahnya baru melangkah pergi menuju tempat motornya diparkir. Dirinya mulai menyalakan mesin motor usai mengenakan helm. Motor pun melaju dengan kecepatan yang sedang. Jika sedang sepi maka orang itu menambah kecepatannya. Hingga akhirnya sampailah dia di rumah Lusi. Bi Sarti yang membukakan pintu untuknya. "Permisi Bu Apa benar ini rumahnya Mbak Lusiana Sari?" tanya si pria itu sopan. "Benar, ada apa perlu apa yah dengan Ibu Lusi?" sahut Bi Sarti ramah. Tanpa banyak bicara pria yang mengaku bernama Ardi itu menceritakan kecelakaan yang menimpa Lusi dan adiknya. Dia juga menuturkan kondisi keduanya yang sedang ditangani oleh tim dokter. "Astaghfirullah hal adzim!" Bi Sarti cukup terperanjat mendengarnya. "Baik saya akan segera hubungi suaminya Bu Lusi," putusnya cepat. Wanita itu lekas menuju pesawat telepon. Nomor kantor Haris pun cepat-cepat ia hubungi. Di tempatnya Haris tengah sibuk dengan pekerjaannya. Pria baru berhenti memeriksa file saat sekretarisnya memberi tahu jika ada telepon dari Bi Sarti. Haris mengangguk. "Ya sudah sambungkan segera." "Baik, Pak." Perempuan seusia Lusi itu mengangguk lantas berlalu menuju tempatnya sendiri. Sesuai dengan perintah dia menyambungkan panggilan Bi Sarti langsung ke telepon Haris. "Ya, Bi Sarti, ada apa?" tanya Haris masih fokus pada file di hadapannya. Di seberang sana Bi Sarti menjelaskan kondisi Lusi dan Leon sesuai cerita pria yang bernama Ardi. "Apahhh?" Kaget membuat Haris langsung bangkit dari kursi singgasananya. "Sekarang mereka lagi ada di rumah sakit apa?" "Rumah sakit Puri Indah, Pak. Kata Masnya lagi ada di kamar UGD," terang Bi Sarti di tempatnya. "Ya sudah saya akan segera ke sana," tukas Haris khawatir. Pria itu pun memutuskan sambungan. Dirinya bergegas menggunakan jasnya yang tersampir di sandaran kursi. Haris segera meninggalkan uang kerjanya begitu menyambar kunci mobil dan ponselnya. Cemas membuat Haris mempercepat laju mobilnya. Selama dalam perjalanan, hatinya dipenuhi tanya. "Kok bisa Lusi dan Leon naik motor?" batinnya heran. Karena setahu Haris, Leon memang tidak punya motor. "Apa mereka pinjam punya orang? Gak mungkin! Lusi pasti gak sudi pinjam punya orang," gumamnya bingung sendiri. "Lusi juga ceroboh, lagi hamil besar bisa-bisa membonceng motor," omel Haris kesal. Dia bahkan sempat mukul setir mobil saking kesalnya pada kecerobohan Lusi. "Kalau sampai terjadi saat apa-apa sama anakku bagaimana?" keluh Haris panik, " selamatkan keduanya," harapnya serius. Tidak terasa mobil Haris telah memasuki parkiran rumah sakit. Pria itu lekas ke luar dari mobil usai menepikan kendaraannya dengan rapi. Langkahnya cukup terburu saat menuju ke rumah sakit. Hingga akhirnya tibalah Haris di depan ruang UGD. Pada bapak yang menunggu, dia mengenalkan diri sebagai suami dari Lusi. Sepuluh menit menunggu pintu ruangan pun terbuka. "Keluarga pasien yang bernama Ibu Lusi?" tanya seorang dokter pada Haris dan si bapak. "Iya, saya suaminya, Dok," balas Haris sigap lekas bangkit dari duduknya. "Mari ikut saya sebentar," ajak dokter perempuan itu ramah. Harus mengangguk. Laki-laki itu mengikuti langkah Bu dokter menuju ruang kerjanya. Dirinya duduk begitu dipersilahkan oleh si pemilik ruangan. "Begini Pak ...." "Saya Haris, Dok," sahut Haris memperkenalkan diri. "Oke, Pak Haris. Kami butuh persetujuan dari Anda untuk melakukan tindakan." Dokter sudah memegang berkas. "Memang apa yang terjadi dengan Haris, Dok?" tanya Haris kian khawatir. "Kondisi pasien dan calon bayinya dalam bahaya." Jantung Haris seolah berhenti berdetak. "Ibu Lusi mengalami benturan yang cukup keras pada perutnya. Hal itu menyebabkan pendarahan yang lumayan parah." Dokter menerangkan secara hati-hati. "Kami harus segera melakukan tindakan operasi." "Lakukan apapun yang terbaik untuk anak dan istri saya, Dok," putus Haris was-was. "Ibu Lusi mengalami stress yang mendadak. Kontraksi yang tidak biasa. Dan itu membahayakan ibu dan bayi. Siapakah yang akan Anda prioritaskan jika terjadi hal di luar kemampuan kami?" tanya Bu dokter dengan sangat hati-hati. Haris tercekat. Sungguh dia tidak menyangka akan serumit ini. "Pak Haris, saya tanya sekali lagi. Siapa yang akan Anda prioritaskan. Ibu Lusi atau bayinya?" "Bagaimana ini?" keluh Haris bingung. Pria itu terdiam cukup lama. Dirinya tengah menimbang keputusan yang tepat untuk kedua orang yang sangat disayanginya tersebut. Sementara bu dokter diam menunggu. Perempuan itu paham dilema yang sedang dihadapi oleh Haris. "Menurut Dokter, pilihan mana yang mesti saya ambil?" tanya Haris dengan suara lemah, "lima belas tahun saya sangat mendambakan kehadiran anak laki-laki, Dok. Rasanya sulit kalau saya harus melepas dia," tuturnya dengan suara yang bergetar karena menahan sesak di d**a. Dokter berkacamata itu membetulkan letak kacamatanya tersebut. "Saya mengerti perasaan Pak Haris yang sangat mendambakan anak laki-laki. Tapi di sini kondisi Ibu Lusi akan terancam, jika Anda memprioritaskan si bayi. Lagian Bu Lusi kan masih muda. Baru dua puluh enam tahun. Banyak banyak kesempatan bagi Bu Lusi untuk hamil kembali," tuturnya sedikit memberi nasihat. "Iya, Dok. Anda benar." Haris pun mengangguk setuju. "Kalau begitu tolong selamatkan Lusi." Akhirnya laki-laki itu membuat keputusan. Dokter di hadapannya pun tersenyum. Wanita itu mengambil gagang telepon. Dirinya memanggil perawat pendampingnya. Selang lima menit kemudian, seorang perawat muncul. Perempuan muda itu menyerahkan sebuah kertas yang harus Haris tanda tangani. Haris menerima surat persetujuan operasi tersebut. Tanpa banyak berpikir dia mulai membubuhkan tanda tangannya pada kertas tersebut. "Baik, operasi Ibu Lusi akan segera dilaksanakan," ujar Bu dokter pada Haris. Haris mengangguk lemah. Pria itu melangkah ke luar bersama dokter dan perawat. Hanya saja saat dipersimpangan, Haris memilih untuk menuju mushola rumah sakit ketimbang kamar operasi sang istri. Pria itu akan melaksanakan sholat ashar. Rasanya sudah lama sekali dirinya tidak menghadap Tuhan. Jika dulu saat masih bersama Miranti, perempuan itu akan selalu mengingatkan dirinya pada kewajiban lima waktu. Namun, berbeda ketika sudah menikah dengan Lusi. Perempuan itu sama sekali tidak peduli pada agama. Boro-boro mengingatkan untuk sholat, dirinya saja tidak mengindahkan perintah Allah tersebut. Di tengah doa khusyuk nya, mendadak Haris teringat Abrina sang putri. Sumpah anak itu juga kembali terngiang di telinganya. "Ya Allah, tolong selamatkan istri dan anakku," doa Haris sungguh-sungguh. Usai berdoa, Haris menuju ruang operasi Lusi. Pada kedua orang yang sudah menolong istrinya dia mengucapkan terima kasih. Tidak lupa dirinya juga memberikan uang pada kedua orang tersebut sebagai ucapan terima kasih. Setelah kepergian kedua orang itu, Haris menghubungi Pak Nono. Dia butuh teman selagi menunggu operasi Lusi. Pikirannya yang kalut membuatnya lupa pada kondisi Leon. Satu jam berlalu. Lampu di atas pintu kamar operasi telah padam. Pertanda jika operasi telah usai. Hati ini kian dag dig dug rasanya. Harap-harap cemas. Ketika pintu terbuka, Haris dan Pak Nono langsung bangkit berdiri. Keduanya lekas beranjak menemui bu dokter yang sedang membuka masker wajahnya. "Dok, bagaimana keadaan istri saya?" Haris bertanya dengan penasaran. "Seperti yang sudah sangat saya jelaskan. Ibu dan anak sama-sama dalam keadaan bahaya," tutur Bu Dokter terdengar hati-hati. "Dan sesuai persetujuan jika kami harus memprioritaskan ibunya dulu--" "Jadi anak saya gak selamat?" Haris menyambar karena takut. Rasanya tubuh pria itu terasa lemas. Syok, kalut, dan belum makan membuat dirinya jatuh pingsan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD