LULUS DENGAN SEMPURNA

1153 Words
Anil mengantarkan Salman dan Selo ke asrama mereka. Keduanya langsung menuju kamar masing-masing untuk berlindung di balik selimut. Dinginnya udara Khatmandu membuat tulang mereka terasa ngilu. Sesampainya di kamar, Salman masih sendiri. Firoz belum kembali ke ruangan. Dia melepas sepatu dan meletakkan di rak sepatu di sudut ruangan. Melepaskan baju hangatnya dan segera berlindung di balik selimut. Sambil menekan nomor di ponselnya. “Halo, ayah … aku lulus ujian!” ucap Salman pada ayahnya di telepon. “Bagus sekali putra Khan … aku tahu kau akan selalu bisa kuandalkan. Kapan kalian akan berangkat ke UK?” “Besok aku akan ke kampus untuk menanyakan pada Tuan Firoz dan juga mulai pengurusan visa ke konselor.” “Jaga dirimu baik-baik Salman, dan segera hubungi ibumu. Aku rasa dia juga sedang cemas menunggu.” “Tentu, ayah.” Salman menutup panggilan telepon dengan ayahnya dan menyambung kembali dengan nomor ibunya di Ittahari. “Halo!” terdengar suara seorang gadis kecil di seberang sana menjawab panggilannya. “Nitish … apa kabarmu?” “Kakak! Kenapa baru menghubungi? Kenapa tidak pernah menelponku?” rengek Nitish mendengar suara Salman. “Aku sering menelpon, tapi kau selalu saja sedang main di luar bersama teman,” Salman mencoba membujuk Nitish. “Lain kali, teleponlah di malam hari. Saat aku ada di rumah!” Nitish melanjutkan protesnya. “Ok Nitish baik nyonya kecil. Sekarang berikan teleponnya pada Ibu, aku ingin bicara dengannya.” “Ibu!!! Kakak menelpon dari Khatmandu!!!” Nitish berteriak tanpa menjauhkan telepon dari wajahnya. Membuat suaranya memekakkan telinga Salman. Dia menggeser sedikit ponselnya, agar suara Nitish tidak langsung masuk ke telinganya. “Halo,” terdengar suara wanita dengan lembut di seberang. “Ibu, aku lulus ujian! Aku akan pergi ke UK segera.” “Ah! Salman! Ibu senang sekali mendengarnya!” Ibu Salman turut berseru. Suaranya bergetar menandakan dia sedang menangis. “Aku akan pergi ke UK, Bu. Memenuhi semua mimpi dan harapan Ayah juga Ibu. Aku akan berangkat untuk kebahagiaan kalian bukan semata sakit hatiku pada Miranha. Aku akan menunaikan kewajibanku sebagai putra pertama keluarga Khan.” Terdengar isak tangis dari seberang sana. Sebuah kebahagiaan, haru yang bercampur jadi satu dalam doa seorang ibu. “Doa ibu selalu bersamamu, Salman.” “Tentu, Bu. Dan itulah senjata terbaik untukku berani menghadapi dunia.” Setelah beberapa perbincangan, Salman mengakhiri panggilan pada ibunya. Dan beralih pada wanita lain yang telah menjadi bagian penting hidupnya akhir-akhir ini. Namun panggilan tidak dijawab. Mungkin Tia sedang sibuk bekerja atau jauh dari ponselnya, pikir Salman. Dia memutuskan untuk mengirim pesan. “Tia, aku lulus ujian. Dan aku akan segera berangkat ke UK.” *** Firoz menunggu Salman di ruang kerjanya. Kampu sepi, hanya beberapa mahasiswa nampak lalu dengan tergesa. Udara dingin semakin terasa memasuki puncak musim dingin di Khatmansu. Tok! Tok! Tok! “Masuk!” “Anda memanggilku, Tuan?” “Ya, masuklah!” Salman mengambil duduk di depan meja Firoz. Di sebuah kursi dengan sandaran ringan. Semalam Frioz meminta Salman datang ke kampus pagi ini. “Meskipun kita bertemu setiap hari di kamar tapi aku ingin menyampaikan ini secara resmi. Karena di kamar, aku adalah temanmu.” Salman mengangguk setuju. “Sesuai prediksiku, kau adalah siswa dengan nilai terbaik untuk angkatan ini. Jadi, konselor memberikanmu kesempatan. Untuk bekerja paruh waktu di sebuah rumah sakit. Selain menambah keuanganmu juga mempraktekkan ilmu yang kau pelajari. Kau akan bekerja sebagai asisten salah satu dokter bedah disana. Jika kau setuju maka, aku akan sampaikan pada mereka.” Hati Salman melonjak dengan tawaran Firoz. Dia berharap dengan tawaran ini, maka semua kebutuhannya selama di UK bisa di penuhi sendiri. Sehingga uang ayahnya bisa dia berikan untuk pendidikan adik-adiknya yang masih tertunda. “Tentu, tuan aku akan mengambil pekerjaan itu.” “Baik, aku akan menyampaikan kepada konselor. Dan sebagai dosen pembimbingmu, perlu aku ingatkan untuk tetap fokus pada harapan utamamu yaitu gelar dokter. Pekerjaan ini penting, tapi setelah kau menghasilkan uang jangan buat studymu berantakan. Sekarang kau boleh pergi.” Setelah mengangguk, Salman keluar ruangan Firoz dengan hati bahagia. Sebuah panggilan masuk di ponselnya. “Tia, selamat pagi,” sapa Salman. Setiap kali berbicara dengan Tia, Salman merasa pelangi selalu datang mewarnai hatinya. Sesuatu yang bukan hanya sekear cinta. Jauh berbeda dengan rasa yang dulu di miliki bersama Miranha. Bukan sesuatu yang menggebu, bukan sesuatu dengan keinginan tinggi. Sesuatu yang lebih dalam dan tenang. Sampai sekarang Salman masih belum mendapatkan definisi yang tepat untuk perasaannya. “Selamat pagi, Salman. Semalam kau menghubungiku?” sapa Tia ceria. Meski telah membaca pesan dari Slaman, namun Tia ingin mendengar langsung dari Salman. “Ya, aku lulus ujian Tia! Dan hari ini kabar baik lain datang. Aku mendapatkan promosi untuk pekerjaan paruh waktu di sebuah rumah sakit!” Salman mengatakan dengan berapi-api.” Sementara di seberang sana Tia menyambut dengan diam. Menunggu Salman reda dengan emosinya yang bergejolak. “Tia … kau disana? Kau mendengarku?” “Iya, aku mendengarmu. Selamat ya untuk kelulusanmu.” Salman mulai tenang dan membaca nada sambutan kurang baik dari Tia. “Apa yang kau pikirkan?” “Ini adalah kali pertamamu ke UK dan untuk belajar. Sebenarnya pilihan terbaik adalah untuk fokus pada studymu. Karena setelah kau tiba disana, serangkaian adaptasi dengan keadaan akan kau perlukan. Dan cuaca juga.” “Hmm … Tia, pekerjaan ini akan meringankan beban biaya ayahku. Sangat baik jika aku bisa menghidupi diriku sendiri. Adik-adikku akan bisa bersekolah dengan segera.” “Ya, betul tapi memulai semua secara bersamaan. Belajar, adaptasi dan bekerja?” Sejenak mereka terdiam memikirkan solusi untuk mendapatkan semuanya. “Tia, aku akan meminta konselor memberiku waktu. Mungkin satu atau dua bulan setelah aku tiba di UK baru aku mulai pekerjaan itu. Saat itu aku harap sudah beradaptasi dan bisa mengatur waktu dengan baik.” “Ya, ide bagus. Kau sudah mengatakan semua ini pada ayah dan ibumu? Mintalah persetujuan mereka juga.” “Tentang kelulusan aku sudah memberitahu mereka tapi tentang pekerjaan, baru saja aku dapatkan infonya. Aku masih di depan kantor Tuan Firoz.” Salman berjalan di koridor kampus yang kosong dan dingin. Berbagai rasa muncul di hatinya. Bersyukur, harapan. Kekhawatiran dan sedikit cemas dengan hal-hal baru yang akan disambutnya. Semua jalan menuju impian untuk diwujudkan itu telah ada di depan mata. Jawaban atas doa ayah dan ibunya. Bahkan Tuhan memberikan Salman lengkap dengan seorang dewi untuk membimbingnya. Membuat jiwa Salman hidup. Salman tiba di ujung lorong kampus. Sebuah tangga besar untuk dituruni dan pemandangan Khatmandu yang mulai membeku. Meski udara terasa dingin namun jiwa Salman terasa hangat oleh harapan dan masa depan yang siap diukir dengan indah. Langkah kakinya terasa ringan mengayun kembali ke asrama. Dalam waktu singkat segala tentang hidupnya berubah. Dari Salman, yang ditolak. Dari bukan siapa-siapa menjadi pria dengan banyak harapan dan masa depan gemilang. Dulu dia berangkat ke Khatmandu dengan penuh luka, sekarang dia disini bukan lagi untuk memperlihatkan pada dunia. Tia telah mengajarkan Salman untuk meraih mimpi karena hati. Dan banyak lagi misteri hidup yang akan terus Salman lalui.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD