Setelah menanti waktu yang tepat, akhirnya hari yang dia tunggu tiba. Anil duduk di meja makan dan beberapa pelayan sedang menghampiri meja untuk menata makanan. Ayahnya, Akash baru saja memasuki meja makan yang terletak di udara terbuka di tengah kebun belakang rumah keluarga mereka.
“Dimana Maria, Ayah?” tanya Anil berbasa basi karena dia tahu dimana wanita itu.
“Pergi keluar bersama temannya. Untuk sebuah acara sosial atau apa, entah.” Sahu Akash singkat sambil menyendok beberapa makanan ke piringnya.
“Hidangan hari ini nampak special, aromanya menggodaku sejak tadi juru masak mulai mengolahnya. Hari ini aku memesan semua yang menjadi menu favorit ayah.”
Akash melihat ke atas meja makan, dan baru dia menyadari bahwa semua makanan itu adalah kesukaannya. Selama dia menikah dengan Maria, makanan seperti ini jarang tersaji di meja. Lebih sering makanan modern ala Eropa.
Dia meihat ke arah Anil.
“Hanya kau dan ibumu yang tahu semua kesukaanku. Kata-katamu dan semua hidangan lezat ini, membuatku rindu pada ibumu.”
Anil tersenyum, rencananya nampak akan berjalan mulus. Mereka mulai memasukkan makanan ke mulut. Paduan sempurna antara makanan hangat dengan cira rasa istimewa dan udara dingin di tengah kebun milik Akash. Meski tidak tampak bunga-bunga namun semua tanaman disana tertata rapi.
Sesekali terdengar tawa diantara pembicaraan Anil dan ayahnya. Pemandangan yang jarang terlihat semenjak Akash menikah dengan Maria. Seolah ada jarak diantara mereka.
“Ayah, aku sangat merindukanmu. Aku rindu masa lima tahun lalu, ketika kita masih sering bepergian bersama. Kemana pun ayah pergi, kau selalu membawaku. Ayah ingat?”
“Ya, waktu itu kau masih kecil. Dan lihat dirimu sekarang, kau sudah besar. sebentar lagi kau akan bepergian keluar negeri dengan gadis-gadismu. Ha … ha … ha …!” Akash tertawa lebar mengiring candanya.
“Boleh aku mengatakan sesuatu?” tanya Anil ragu.
Suasana diantara mereka sedang baik. Namun Anil perlu menyampaikan pada ayahnya. Dan segera menuntaskan masalah diantara mereka.
“Tentu, katakan! Kau ingin mobil baru?”
Anil menggeleng, meletakkan sendok dan garpu di piringnya, meneguk air dari gelasnya yang mulai dingin. Menyandarkan punggung dan menarik nafas, membiarkan apa yang harus terjadi.
“Aku ingin memperlihatkan padamu sesuatu.”
Anil mengeluarkan ponsel dan membuka sebuah video. Rekaman CCTV lengkap kejadian di rumah mereka ketika Salman dituduh sebagai pencuri. Mulai sejak Maria mempersilahkan masuk sampai dia memberikan minuman yang menghilangkan akal sehat Salman.
Wajah Akash membiru melihat semua kejadian itu. Sambil Anil menjelaskan runutan kejadian.
“Kenapa baru sekarang kau katakan ini pada ayah?!” Akash berseru marah dan emosi.
“Ayah, aku perlu memberikan banyak bukti agar kau percaya. Dan … sebenarnya,….”
Akash meneguk minumannya dengan tidak sabar, menunggu anil menjelaskan hal lain.
“Maria juga marayuku. Sejak beberapa tahun Ayah dinyatakan sakit. Namun aku adalah anak ayah, tidak mungkin mengkhianatimu.”
Tangan Akash terkepal di meja. Mulutnya terkatup rapat dan wajah memerah karena amarah.
“Salman juga tahu tentang sakit yang ayah derita, karena Maria mengatakan padanya. Saat ayah mengirimkan polisi, aku meminta Salman untuk mengatakan pada ayah tentang kebenarannya. Namun, dia menolak. Dia tidak ingin menjatuhkan dirimu meski hanya di hadapannya. Dan aku juga tidak tahu, dari mana Salman mendapatkan uang untuk membayar hutang pada ayah. Hatiku sedih, tapi tanpa bukti aku tidak bisa mengatakan apa pun padamu.”
Mata Akash mulai berkabut, oleh kemarahan.
“Anil! Apa yang kau lakukan, kau putraku. Harusnya sejak awal kau selamatkan aku dari kebodohan!”
“Ayah … tenanglah. Masalahnya aku tahu kau sangat mencintai Maria. Mustahil bagimu percaya tanpa bukti.”
Anil benar, Akash tidak akan mempercayai Anil tanpa bukti.
“Sebenarnya sejak lama kabar simang siur tentang Maria yang bertemu pria-pria muda untuk bersenang-senang sampai di telingaku. Namun begitu, aku tidak mempercayai semua itu. Memang aku tiak lagi bisa menunaikan kewajibanku sebagai suami di ranjang bersama Maria. Maka aku menutup mata. Namun ketika anakku yang menjadi korban dari kebodohan ini, tidak akan aku maafkan!”
Akash berdiri, masuk ke dalam rumah dan menuju kamar. Sementara Anil tetap duduk di tempatnya. Semua keputusan ada di tangan ayahnya, apa yang ingin dia putuskan untuk semua orang. Setidaknya Anil merasa lega bahwa semua telah dia sampaikan kepada ayahnya.
Sebelum tiba di kamar, Akash memanggil dua orang pembantu untuk ikut serta dengannya ke kamar. Lalu membuka lemari pakaian Maria dan mengeluarkan dua buah koper.
“Kemasi semua baju Maria. Ingat! Hanya baju. Jangan masukkan benda lain ke dalamnya!”
Dengan cekatan dua pmbantu Akash memasukkan baju-baju Maria ke dalam koper. Lalu membawanya ke depan pintu utama rumah Akash. Sesaat terdengar suara mobil memasuki lobby rumah. Dan pintu terbuka.
Maria dengan baju seksi, perhiasan lengkap dan sepatu hak tinggi, masuk melihat Akash berdiri disamping kedua koper besar miliknya.
“Kau akan pergi lagi?” tanyanya heran.
Karena Akash baru saja kembali dari Polandia kemarin. Biasanya setelah dari luar negeri dia akan tinggal satu dua bulan di Nepal sebelum perjalanan selanjutnya.
“Maria! Aku mencoba percaya bahwa masih ada wanita yang bisa aku cinta. Meski kau dari lain negara aku tidak pernah mempermasalahkan itu. Dan juga, lihatlah bagaimana kau merendahkan dirimu sendiri. Aku angkat kau menjadi istriku, sebagai istri pejabat dengan kemewahan hidup yang luar biasa. Tanpa aku peduli dengan masa lalumu. Tapi, kau telah memperlihatkan wajah aslimu yang luar biasa buruk!”
Maria mendekat ke arah Akash dengan reaksi bingung.
“Ada apa ini? Apa yang terjadi?”
“Tinggalkan rumah ini dan keluargaku sekarang! Aku akan mengirimkan surat perceraian ita ke negaramu. Semua dokumen dan passpormu telah aku masukkan ke dalam koper. Kau akan mendapatkan surat deportasimu besok!”
“Apa-apaan ini? Apa yang terjadi? kau baik-baik saja?” Maria dengan lembut gemulai seolah tidak bersalah mendekat pada Akash.
“Aku beri kau kesempatan untuk mengakui. Apa yang kau lakukan pada Salman? Apa yang kau lakukan pada Anil? Dasar wanita tidak tahu di untung!”
Wajah Maria seketika pucat. Akash telah mengetahui semuanya. Namun satu sisi, dia juga tidak ingin kehilangan hidup mewahnya.
“Tunggu! Aku bisa jelaskan semuanya. Jangan kau begitu mudah mempercayai anak-anak kecil itu. Mereka hanya sedang berupaya menjauhkanmu dariku,….” Maria berusaha tenang dengan suara lemah lembutnya.
“Keluar! Kau hanya berhal atas baju-baju yang tidak berguna ini. Tanpa sepeser pun hartaku yang boleh ikut serta bersamamu. Pergi!”
Dua pembantu Akash bergegas mengeluarkan dua koper Maria keluar pintu dan mengunci pintunya rapat. Akash kembali ke kamar tanpa memperdulikan teriakan Maria yang menggema di luar pintu.