HATI YANG MENGAGUMI

1106 Words
Selo menggulirkan jari dengan perlahan di ponselnya. Dia sedang mencari lebih tahu lebih banyak tentang Bless. Disebuah laman f*******: dan i********:. Nampaknya Bless bukan penulis sekedar. Ratusan novel telah dihasilkan dan puluhan buku. Namun begitu Selo tidak bisa menemukan data pribadi tentang Bless. Wanita itu memang cantik dan misterius. Dia masih tidak habis pikir bagaimana Salman begitu beruntung terkoneksi dengan Tia. Salman adalah sosok pendiam yang sangat menjaga jarak dengan wanita. Hembusan angin dingin masuk dari jendela kamar Selo. Meski hari menjelang siang namun udara Khatmandu lebih dingin dari tengah malam. Dia tahu kedekatan Salman dan Tia, namun mereka bukan sepasang kekasih. Tentang usia yang terpaut jauh bagi Selo bukan sebuah masalah. Sedikit rasa minder di hatinya bahwa Tia bukan wanita biasa. Terlalu hebat dan Selo memuja serta mengaguminya. Sebaris pesan Selo kirimkan pada Tia, “Hi, apa kabarmu. Tia?” Beruntung Selo, Sang pemilik ponsel sedang online. Dan mendapat balasan segera. “Hi, Selo. Aku baik, bagaimana denganmu?” “Tia, apakah kau seorang lajang?” tanpa ragu Selo menanyakan status Tia. Sebelum bertanya lebih jauh. Selo ingin memastikan bahwa dia sedang mendekat pada wanita yang bebas. Selo memang pemain cinta, namun dia tidak ingin bersama wanita yang sudah memiliki pria. “Maksudmu?” “Hanya memastikan bahwa tidak ada yang marah jika aku menghubungimu.” “Aww … baiklah. Aku adalah seorang single mom. Jika itu bukan sebuah masalah untukmu.” Membaca pesan Tia, membuat Selo melompat bahagia di dalam hati. Senyum merekah lebar di wajahnya. “Kau punya pacar?” Selo kembali bertanya. “Mungkin ya, mungkin tidak. Pertanyaanmu terlalu dalam.” “Oh, maaf. Baiklah, kita ganti. Kemana ayah dari anakmu?” Pertanyaan Selo membuat Tia tidak sabar dan merasa membuang waktu. Dia menghubungi Selo secara langsung lewat panggilan suara di w******p. Ponsel Selo berdering dan diangkat dengan segera. “Tia!” “Selo … bisa kita berbicara hal lain?” Sejenak Selo diam, ada nada kesal dalam suara Tia. “Kau keberatan aku bertanya tentang hal pribadimu?” tanya Selo. “Tentu, kita baru mulai mengenal dan kau bertanya hal-hal pribadi?” suara Tia terdengar tegas. Namun di telinga Selo nada suara menggambarkan seorang wanita yang sangat seksi. “Ah, Baiklah. Maaf ya,” lirih Selo meminta. “Ha … ha … ha … Its ok, Selo. Jadi kau tinggal di asrama yang sama dengan Salman?” “Ya, aku di lantai tiga dan Salman di lantai dua.” “Katakan, seberapa dekat hubunganmu dengan Salman?” “Sangat dekat, aku mengenal semua keluarganya. Beberapa kali aku menginap di rumah Salman dan dia juga di rumahku. Kami kenal sejak masih duduk di bangku SMA.” “Ceritakan tentang Salman yang kau tahu,” pinta Tia pada Selo. Seketika membuat Selo kecewa. Ternyata Tia lebih tertarik untuk tahu tentang Salman dan mengabaikannya. Meski mereka tidak menjalin cinta, namun sepertinya kedekatan Tia dan Salman cukup dalam. Membuat Selo berhati-hati menjaga hatinya. “Tia, kau tidak ingin tahu tentang aku. Sepertinya Salman sangat istimewa bagimu.” Tia menyadari kesalahannya mengabaikan Selo. Sementara Selo berharap untuk mengenal Tia lebih dekat. “Maaf ya. Oh , iya! Bagaimana hasil ujianmu?” Tia mencoba mengalihkan pembicaraan. “Aku lulus meski tidak sebaik Salman.” Selo mengatakan dengan nada datar untuk memperlihatkan kemarahannya. “Baiklah, jadi kalian akan berangkat ke UK segera. Selain belajar, apa yang ingin kau lakukan disana?” “Entahlah!” Mendengar nada bicara yang datar, Selo nampaknya marah pada Tia. “Ok, Selo. Nampaknya seseorang sangat marah padaku. Jadi bagaimana aku harus memperbaiki hatinya sekarang?” Nada bicara Tia yang manis membuat Selo kembali tersenyum. Dia menyadari bahwa Tia memiliki kedekatan lebih dengan Salman. Nampaknya tidak ada peluang bagi Selo untuk lebih dekat lagi padanya. Namun memiliki teman dengan nama besar, pemikiran cerdas dan baik adalah sebuah keberuntungan. “Ha … ha … ha … aku tidak marah,Tia. Jangan khawatir, aku mengerti tentang hubunganmu dengan Salman.” “Hubungan apa?!” Tia terdengar terkejut. “Entahlah! Ha … ha … ha …!” “Ok, Selo bisa kirimkan aku alamat detail asrama kalian?” “Untuk?” “Mungkin aku akan datang!” “Sungguh?” “Tentu saja tidak. Ha … ha … ha ... aku menang Selo. Tapi sungguh aku senang jika kau mau mengirimkan alamat padaku.” “Tentu Tia, akan aku kirim lewat pesan w******p ya.” Setelah pembicaraan singkat dengan Tia, Selo semakin mengagumi wanita itu. Namun begitu, Selo merasa tidak sepadan untuk jatuh hati dan keinginan memiliki hubungan. Selo mengetikkan alamat detail asrama mereka. Lalu mengirimkan pada Tia. Selo adalah pemain wanita. Dia tidak mudah untuk percaya begitu saja. Namun dengan Tia, semua terasa berbeda. Dia menuruni tangga menuju dapur untuk makan siang. Melewati kamar Salman yang terbuka. Selo mengintip untuk memastikan tidak ada Firoz di dalamnya. “Salman!” “Selo! Selalu saja kau masuk tanpa mengetuk pintu.” Salman memicingkan mata dari posisinya di tempat tidur. Setelah beberapa hari penuh ketegangan. Hari ini Salman ingin menghabiskan hari dengan bersantai di kamar. Dengan gangguan dari Selo tentunya! Tawa ringan mengiring Selo masuk ke ruangan Salman. “Karena aku tahu tidak ada Tuan Firoz di dalam.” Selo duduk di sebuah kursi kecil dekat jendela kamar Salman. Melihat temannya yang tengah asik tersenyum memandang ponselnya. “Aku baru selesai bicara dengan wanitamu,” ucap Selo sambil mengeluarkan ponselnya dari balik saku kemeja. “Siapa?” “Siapa lagi? Berapa banyak koleksi wanitamu?” Salman tertawa, pertanyaan bodoh memang. Karena hanya Tia wanita yang dekat dengan Salman saat ini. “Oh, apa katanya?” “Dia meminta alamat asrama,” sahut Selo datar. “Dan kau berikan?” “Ya, aku berikan,” Selo semakin datar. “Kenapa kau berikan?!” Salman bangkit dari posisi tidurnya dan duduk di bibir ranjang menghadap Selo yang sedang duduk membelakangi jendela. “Kenapa tidak boleh kuberikan? Kita bukan penjahat!” “Maksudku, kenapa dia meminta alamat kita?” “Mungkin dia akan datang.” Tidak mungkin! Tia tahu mereka akan segera keluar dari Khatmandu karena hasil beasiswa sudah diterima. Mereka akan kembali ke desa untuk mengambil perlengkapan tambahan sebelum pergi ke UK. Dan untuk berpamitan dengan keluarga. Dalam satu dua hari sesuai mengajukan aplikasi visa, Salman dan Selo berencana untuk meninggalkan Khatmandu. Lebih dari tiga bulan Salman tinggal di Khatmandu. Rindu seringkali menyapa di hati akan keluarganya. Namun semenjak Tia hadir, hari-hari Salman menjadi berwarna. Kerinduan akan keluarga sedikit terlupakan. Berganti dengan rasa baru yang tidak bisa Salman ungkapkan tentang Tia. Ada cinta, kekaguman, keterikatan dan harapan yang Salman rasakan. Namun tidak berani untuk Salman ungkapkan. Tia selalu ada untuk Salman, itu saja yang Salman inginkan. Sampai semua menjadi lebih nyata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD