MENJAGA HATI

1082 Words
Salman meninggalkan dapur menuju kamar dan Selo berlari kecil di belakang mengikutinya. Rasa penasaran dia akan Tia dan Bless harus dituntaskan. Meski bukan dari keluarga kaya, namun urusan wanita Selo adalah ahlinya. “Salman, kau tau tentang Bless? Apakah Tia adalah Bless?” tanya Selo sambil berjalan mengiring Salman. Dan Salman hanya tersenyum melirik Selo untuk langsung menuju kamar. Dia berpura-pura menutup pintu dan membiarkan Selo tertinggal di luar. Namun Selo menahan dengan tangannya dan ikut masuk ke kamar Salman. “Hey! Katakan sesuatu, jika dia memang gadismu aku akan mundur!” ujar Selo mulai tidak sabar melihat sikap Salman yang hanya tersenyum dan diam. “Selo, aku sudah bilang, carilah gadis lain. Lagi pula dia di tempat jauh. Kau tidak ingin kan memiliki pacar yang tidak bisa kau sentuh? Dia lebih dewasa juga dalam bayak hal dia adalah wanita yang tidak bisa kau ajak sekedar bersenang-senang.” Selo diam seolah tidak mendengar Salman. Dia sedang melihat sebuah notifikasi pesan masuk di messenger-nya. Dari Bless. “Hi, Selo. Kau berhasil menemukan akunku? Dari akun Salman? Apa kabar?” “Yeay!!!!” Selo melonjak bahagia. Salman menatap sahabatnya bingung. Selo memang selalu ekspresif dalam memperlihatkan diri dan emosinya. Dia mengerut sambil menggaruk sebelah kening. “Dia membalas pesanku!” seru Selo sambil tertawa. “Siapa?” Salman semakin bingung. “Tia! Aku akan berkomunikasi langsung dengannya. Aku ke kamarku dulu ya!” Selo bergegas keluar dari kamar Salman sambil mengetik di ponselnya tanpa memperhatikan lantai dan langkah kaki. “Tia! Kabarku baik, bagaimana denganmu?” “Aku baik. Sedang apa?” pertanyaan basa basi yang tidak pernah Tia ajukan kepada Salman. Dia menanggapi Selo sekedar rasa hormat karena Selo adalah sahabat Salman. Tanpa penjelasan pun, Tia paham bahwa Selo adalah pemain wanita. Selo tiba di kamar, dan merebahkan diri di kasur dengan kaki menggantung ke lantai. Dia tidak ingin Tia menunggu balasannya walau sedetik saja. “Aku sedang menunggu pesanmu. Terima kasih sudah membalasku. Aku melihat banyak promosi buku di akunmu. Apa pekerjaanmu?” “Aku seorang penulis. Tentu aku mempromosikan buku dan bukan obat.” Selo tersenyum mendengar candaan Tia. Wanita yang menarik, cantik dan seorang penulis. “Candaan yang manis. Apa kau sangat dekat dengan Salman?” “Ya, lebih dari yang kau tahu mungkin.” jawab Tia. “Jadi, tidak ada peluang untukku?” Selo bertanya dengan rasa penasaran. “Peluang untuk?” “Lebih dekat denganmu.” Selo menunggu jawabannya dengan d**a berdebar. Ditolak oleh wanita adalah hal yang biasa bagi Selo. Namun kali ini entah kenapa dia tidak ingin sebuah penolakan. Sebuah panggilan masuk dari messenger berbunyi di ponselnya. Tia! Selo mengusap layar untuk menjawab panggilan Tia dengan d**a berdebar. Dan semakin kencang ketika wajah cantik itu muncul di layar ponselnya. Tia memakai baju hitam berenda di leher namun tanpa lengan. Kulit putihnya kontras dengan baju yang dia gunakan. Sementara Selo sudah di posisi duduk di tepi ranjang. Menatap Tia lekat, mengatur irama untuk mampu berbicara. “Hai, cantik,….” Sapa Selo berusaha manis dan sopan. Tia menelponnya, itu kemungkinan Tia memiliki ketertarikan pada Selo meski sedikit saja. “Hai, Selo. Coba ulangi pertanyaanmu,” pinta Tia sambil tersenyum rahasia. “Apakah karena kau dekat dengan Salman lalu aku tidak memiliki peluang?” “Peluang untuk?” “Untuk dekat dan menempati hatimu,….” ujar Selo dengan wajah serius. Tia tertawa renyah, tawanya berhasil mengalihkan dunia Selo dan membuatnya terbang. Belum pernah dia menemukan wanita semenarik ini. Terlihat sangat cerdas, tegas dan ramah. “Selo, apakah Salman memberitahumu berapa usiaku?” “Ya, tapi apa masalahnya dengan usia? Hanya beda sedikit saja,” Selo berusaha menyangkal. “Tidak sedikit, banyak! Hampir sepuluh tahun. Aku lebih cocok menjadi kakak atau bahkan ibu kalian.” “Kau berlebihan!” ujar Selo mulai merajuk. “Lupakan! Kita bisa menjadi sahabat baik. Seperti aku menjadi sahabat bagi Salman. Sekarang katakan padaku kapan ujian akan berlangsung?” “Minggu depan, dan semoga kami bisa lulus. Tia, apakah menyenangkan menjadi seorang penulis?” “Ya, kau bisa menuangkan isi kepalamu melalui kata untuk dibaca oleh banyak orang. Itu sangat menyenangkan. Dan lebih menyenangkan lagi ketika tulisanmu berhasil menyentuh banyak hati.” “Kau masih single?” tanya Selo perlahan tanpa dapat mengendalikan rasa penasarannya. “Aku tidak punya suami. Tapi aku punya seorang putri.” “Hmm … apa yang terjadi?” Selo mengejar Tia dengan keingin tahuannya. Tia terdiam menatap Selo. “Hari ini kita teman, aku harap itu cukup. Tidak perlu saling mencari tahu tentang masa lalu.” Selo terhenyak oleh pernyataan Tia. Dia merasa telah sedikit tidak sopan. “Oh, tentu Tia. Maafkan aku,” ujar Selo menyesal. Senyum yang terukir di wajah Tia kemudian sedikit melegakan perasaan Selo. “Nggak apa, sampai ketemu lagi ya. Aku akan menghubungi Salman sekarang. Sebelum aku mulai bekerja.” “Tentu, tunggu! Boleh aku punya nomor whatsappmu?” “Oh, ya. Aku akan meminta Salman mengirim padamu ya. Sampai jumpa, Selo!” Tia memutuskan sambungan sebelum Selo sempat menjawab. Selo menatap kosong layar ponselnya yang telah kembali ke menu semula. “Dia memang menarik, tapi mungkin Salman juga mencintainya. Aku tidak boleh gegabah dan menyakiti hati sahabatku,” ujar Selo dalam hati. Sambil mendekap ponsel di d**a, Selo memejamkan mata. Menarik nafas dalam, menahan diri agar dia tidak menyakiti sahabatnya. Berusaha mengikis bayangan Tia sedikit demi sedikit. Dan, Salman di kamarnya sedang merasakan percikan rasa cemburu. Mendengar Tia memberikan balasan pada Selo. Cemburu yang tidak beralasan karena Tia bukan kekasihnya. Entah bagaimana, semakin hari perasaan Salman pada Tia semakin dalam. Meski dia melihat bentangan yang sangat panjang antara dirinya dan Tia. Namun rasa itu begitu dekat untuk dilihat tanpa bisa di pegang. Selama ini Salman hanya mengenal Miranha sebagai cinta pertama yang telah membuat dia kecewa. Salman mencintainya karena Miranha cantik dan juga selalu bisa menyenangkan hati Salman. Namun bersama Tia, Salman mendapati nilai lain dari seorang wanita. Sebuah kekuatan dalam kesendirian. Dia belajar mencinta dalam luka juga memaafkan dalam kesakitan. Sesuatu yang tidak pernah Salman tahu sebelumnya. Selama ini penolakan dan kandas cintanya dengan Miranha telah Salman jadikan bara bagi sebuah pijakan. Untuk mencapai sesuatu sebagai balas dendam. Namun sejak dia bertemu Tia, semua itu menjadi sangat berbeda. Tia membuat Salman mampu berdamai dengan hatinya sendiri. Dan berusaha mencapai mimpi untuk orang-orang yang dia cintai bukan orang yang dia benci. Bahkan ketika dia menghadapi masalah dengan penghinaan Maria. Tia membawa Salman keluar. Bukan hanya dari kesulitan keuangan namun juga dari perasaan terhina dan lemah tidak berdaya. Ponsel Salman berdering! Tia!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD